Hari semakin malam dan waktu akan menunjukkan pukul dua belas malam, hebatnya Marsha masih terjaga. Ia masih syok atas berita yang ia baca. Banyak pikiran dalam otaknya? Apa dan mengapa? Griya sahabatnya berlaku sedemikian rupa terhadapnya. Menghela nafas kasar, ia kemudian mengusap wajah peningnya lalu beranjak untuk tidur tapi suara-suara dari arah balkonnya, membuat Marsha urung untuk tidur. Wanita itu tanpa rasa takut, melangkah menuju balkon seraya menggelung rambutnya. Ia membuka penghubung balkon, kemudian kembali melangkah menuju pagar pembatas balkon. Matanya menyipit melihat sebuket bunga besar yang menutupi wajah si pemegang. Tanpa perlu buket bunga itu disingkirkan, Marsha sudah tahu siapa dibalik buket bunga tersebut. Ia bersendekap d**a sembari menggelengkan kepalanya. "Ap

