Tidak pernah terbesit dalam pikiran Marsha, jika ia harus berhadapan kembali dengan masa lalunya. Sudah sepuluh menit berlalu, sejak Andrean mengatakan ingin bicara. Namun, sampai detik ini tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Marsha berusaha acuh tak acuh. Ia tetap memainkan jari lihainya untuk bekerja. Meski jauh dalam lubuk hatinya merasa tak nyaman. Jantungnya berdegup, menunggu Andrean berbicara. "Apa yang kau sembunyikan dariku?" Marsha melirik Andrean dari balik bulu mata lentiknya tanpa mau melihat. "Tidak ada." "Mereka bertiga anakku?" Marsha tersenyum miris. Tatapan yang sama. Tajam dan suka mengintimidasi. "Kau yakin? Bukankah aku wanita licik?" Andrean menipiskan bibir, mengamati wanita di depannya yang masih asyik bergelut dengan pekerjaannya. Wani

