Tina masih terduduk lemas sambil perlahan menaikkan celana dalamnya. Dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Jantungnya berdetak kencang. Keringat membasahi tubuhnya. Dia lega setelah sesuatu membasahi kewanitaannya. Hendi tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, dia bisa menyentuh perempuan yang dia cintai. Menyentuh bagian intimnya. Ini baru permulaan, gumam Hendi. "Aku ke kamar dulu." Kata Tina. Gegas dengan muka memerah dia memasuki kamarnya. Lalu mengambil tisu basah dan mengganti celana dalamnya. Lalu memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Aku pasti sudah gila, gumamnya. Kenapa aku mau saja dipuaskan? Aku merasa bersalah ama Santi. Maafkan teteh, gumam Tina. Akhirnya dia memutuskan untuk mandi, kalo subuh takutnya semua orang curiga. Apalagi suaminya ga ada di sini. Dia pun celingak

