Saat tangan Hendi mulai bergerak ke arah dua boba kenyal dan padat milik Santi, refleks Santi mendorong pelan tangan calon suaminya itu, dengan sehalus mungkin. Lalu menghentikan ciuman mereka. "Akang. Please." Pinta Santi. Hendi yang mengerti bahwa dia sudah kelewatan, akhirnya terdiam. Dia menyadari kalo dia sudah melanggar dan melewati batas. "Maafin akang." Kata Hendi. Dia mengecup kening calon istrinya. "Kalo begitu, akang pamit ya. Takutnya akang khilaf dan berbuat hal yang lebih." Kata Hendi. Santi hanya mengangguk lalu keduanya berdiri dan menuju pintu. Santi mengantar Hendi sampai di depan pintu. Lalu dia kecup kembali kening calon istrinya dan berlalu dari sana. Di dalam mobil, Hendi masih membayangkan tubuh molek calon istrinya itu. Dadanya berdebar kencang. Celananya mend

