"Seharusnya kau tahu diri!" kata Liliana tajam. Kali ini ia memilih mengerahkan semua keahliannya dalam menghina. Gadis mendongak mendengarnya. "Aku sudah tahu fakta lain selain kau yatim piatu dan miskin. Kau dikejar para penagih hutang, kan?" tanya Liliana. Gadis cukup kaget mendengarnya, ia sangat paham Abra tak akan membocorkan masalahnya kepada Ibunya. Jadi ketika Ibu Abra tahu kalau Gadis memiliki hutang, ia yakin Ibu Abra tengah menyelidikinya. "Bangunlah nona! Ini bukan dunia mimpi! Lihatlah ke cermin! Siapa kau dan siapa Abra. Menurutmu apa kau pantas berada di sisinya?" tanya Liliana dengan nada mengejeknya. "Atau kau bermimpi menjadi Cinderella?" sindirnya lagi. "Seharusnya kau bersyukur saat Abra sudah melunasi hutangmu. Cukup sampai disitu saja, gak usah ngelunjak minta dinika

