Hasan balas memandang Abra. Ia menarik serbet makannya dan melap bibirnya. Semua orang masih tegang, apalagi ulah John yang tanpa sengaja menjatuhkan sendok itu membuat semuanya menatap ke arahnya dengan tatapan 'Demi Tuhan!' "Siapa Parman?" tanya Hasan pura-pura tak paham. Air mukanya sama sekali tak memperlihatkan bahwa Abra berhasil mengintimidasinya, sebaliknya air mukanya terlihat sangat tenang. Abra kembali menatap kedua mata Hasan, ia tahu kalau saat ini Hasan sedang bermain-main dengannya. Diliriknya sekilas Claire yang nampak berulang-ulang kali membelai perutnya yang sudah terlihat buncit. Abra kemudin menarik napas. "Aku pikir Papa kenal Parman, si pengulah, data yang kudapat sementara ini menunjukkan bahwa Parman dan Papa dari daerah yang sama." kata Abra. Sekali lagi, semua

