Habis. Apa yang ada di hadapan Abra kini semuanya tinggal beberapa puing. Nilai sahamnya telah turun dan para direksi menginginkan rapat direksi segera. Meski asuransi akan melakukan pekerjaannya dalam musibah ini, tetap saja Abra tak menyukai kecelakaan kerja seperti ini. "Apa ada korban?" tanya Abra ke Adit yang berdiri lesu dan sangat lelah di sampingnya. "Tidak ada, Pak." kata Adit. "Syukurlah, itu yang utama." Kata Abra. "Di mana bapak Samuel?" tanya Abra. "Beliau tadi ada, sekarang entah di mana. Mungkin makan, pak." imbuh Adit. Abra mengangguk-anggukkan kepala. Selain mengerti atas ucapan Adit barusan, kepalanya juga terasa sangat pusing. Ia mengabaikan kalimat Gadis yang memintanya untuk pulang ke rumah dulu dari pada ke Pabrik. Karena tak didengarkan oleh Abra, Gadis pun akh

