"Papa, bagaimana bisa Abra tahu semua ini?" tanya John dengan wajahnya yang pucat dan keringat dingin yang sudah keluar di kepalanya. Setelah menggretak Hasan, Abra seketika berbalik dan pergi dengan membanting pintu ruangan Hasan dengan keras. Sekretaris Hasan pun sampai kaget dibuatnya. Tapi Abra tak peduli sama sekali, dengan cepat ia meninggalkan wilayah itu untuk kembali ke ruangannya. John masih diam, ia benar-benar takut masuk penjara. Penembakan yang terjadi pada Abra tujuh tahun silam itu ia juga turut andil. Sedangkan Hasan diam ditempatnya duduk, berpikir dengan keras. Ia pikir semua yang ia lakukan untuk menghancurkan Abra tak terendus, sekalipun terendus Abra, ia yakin Abra tak sepintar dirinya. Tapi jika Abra bahkan telah menyebut nama si penembak jitu di hadapannya, bukanka

