CANDY Papa mengantarkan aku dan Nada sekolah sekaligus berangkat ke kantornya. Nada kelihatan senang berjalan beriringan denganku. Bahkan aku harus tahan banting mendengar curhatannya tentang Dirga. Dia menceritakan segala hal tentang Dirga. Tentu saja aku sudah mengenal Dirga dan tahu segala hal tentang sahabatku itu. Tapi aku hanya mengangguk-anggukkan kepala antusias mendengar celotehan Nada. Belum beberapa lama, orang yang dijadikan topik perbincangan muncul dengan beats terpasang di telinganya sambil menyunggingkan senyuman khas yang aku suka. Nada berlari menghampirinya dan aku hanya terdiam di tempatku sambil membalas senyuman itu. “Wow, ada angin apa nih sepasang kakak-adik kelihatan akur banget nggak kayak biasanya?” celotehnya. Aku mengerutkan dahi dan memutar bola mata ke

