Keesokan harinya. Cahaya menatap bayi mungil di depannya dengan tatapan sendu. Matanya berkaca-kaca setiap menatap bayi tersebut. Rasa bersalahnya semakin besar ketika mengingat kesalahannya waktu itu. Ia tidak bisa mengendalikan amarahnya membuat bayi itu kehilangan orang tua satu-satunya. “Hikss..” “Maafin aunty ya, sayang! Aunty tidak bermaksud melakukan hal itu.” ujar Cahaya dengan suara bergetar Cahaya menghapus air matanya. Sebagai calon Ibu ia merasa sangat terpukul dengan perbuatannya sendiri. Bayi tidak berdosa itu harus kehilangan Ibunya karena perbuatannya. “Hikss..” isak tangis Cahaya “Sayang, kenapa?” Naufal terkejut melihat istrinya menangis sesenggukkan. Ketika membuka pintu ia dikejutkan dengan suara tangis istrinya. Naufal menarik tubuh Cahaya ke dalam peluka

