"Lama tidak bertemu, Yao."
Yao mendongak ketika mendengar suara berat yang amat dikenalnya. Liu Yantsui datang dengan senyum lebar bersama Akiyama Toshiro yang memandanginya dengan wajah dingin. Ternyata memang benar, Liu Yantsui benar-benar bekerja sama dengan seorang yakuza terkenal dari Kobe. Yao mengenal wajah pria Jepang itu, yang selalu tampil dengan ekspresi dingin dan tatapan mata begitu tajam, seorang pria yang juga disukai oleh Bosnya sendiri. Sampai saat ini Yao masih tidak bisa berpikir bagian mana dari Akiyama Toshiro yang menarik perhatian Liu Jia Li selain wajah tampannya. Jika yang dilihat oleh Liu Jia Li hanyalah penampilan fisik, maka ada banyak pria yang akan mengantre untuk mendapatkannya. Pasti ada alasan lain yang tidak diketahui oleh Yao mengapa Liu Jia Li yang memiliki harga diri tinggi bisa menyukai Akiyama Toshiro.
"Selamat malam, Master Yantsui." Sapa Yao datar.
"Aku tidak mengira tangan kanan setia Jia Li datang sendirian kemari. Apa dia sudah tidak bisa memimpinmu dan orang-orang yang ikut dengannya sehingga kau datang kemari? Atau...." Liu Yantsui menyeringai. ".... Kau mencari Tuan Puteri yang hilang?"
Yao mendesah pelan. Liu Yantsui tampaknya tidak berniat menutupi fakta bahwa mereka yang mencúlik Nadia. Pria di hadapannya bisa dengan santai mengatakan hal itu. Mungkin juga Liu Yantsui sudah tahu bahwa kehadirannya kemari untuk mencari Nadia.
"Ternyata benar ya, anda yang mencúlik Nona Nadia."
Liu Yantsui tertawa. "Mencúlik? Ah, kata itu rasanya terlalu kasar untukku. Sebut saja jika aku sedang mengajaknya mampir ke markas Dragon's Claws. Dia sudah lama tidak datang ke Hong Kong bukan?"
Yao tidak berselera dengan percakapan tidak penting, tetapi ia butuh mengulur waktu sampai orang-orang Bratva yang bersamanya berhasil menemukan Nadia. Jujur saja, meladeni pembicaraan Liu Yantsui sama dengan menyiksa jiwa Yao. Ia benar-benar tidak suka dengan apapun yang keluar dari mulut Kakak tiri Liu Jia Li itu. Mengapa pula orang yang telah dikabarkan meninggal di Taiwan tiba-tiba datang kembali dalam keadaan segar bugar kemudian merebut segalanya.
"Apa yang anda inginkan dari Nona Nadia, Master Yantsui?"
"Yang kuinginkan? Benar, aku memintanya untuk menyerahkan Liu Jia Li kepadaku."
"Dan apakah anda pikir Nona Nadia akan menyerahkannya seperti yang anda pinta?"
Liu Yantsui menggeleng sembari mengangkat bahu. "Nadezhda sangat keras kepala, tidak jauh berbeda dengan Nikolai, jadi Akiyama memberinya sedikit pelajaran."
Yao melebarkan matanya. Ia tahu definisi ‘pelajaran’ jika itu menyangkut tentang Akiyama Toshiro. Pria kejam itu selalu memakai kekerasan untuk mendapatkan sesuatu. Yao sudah sangat tahu bagaimana sifatnya.
“Ada apa Yao? Tidak biasanya ekspresimu berubah. Kau terbiasa memasang ekspresi datar dalam kondisi apapun.”
Yao menggigit bibirnya pelan. “Master Yantsui, apa yang sudah anda lakukan kepada Nona Nadia?”
Liu Yantsui tertawa. “Aku? Aku tidak melakukan apa-apa.” Jawabnya santai.
Yao benar-benar merasa ingin muntah mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Liu Yantsui. Tidak hanya dia bermulut sampah, tetapi semua yang dikatakannya adalah kenistaan. Yao jadi mengerti mengapa Liu Fei Long, Tuannya yang terdahulu dan merupakan Ayah kandung Liu Yantsui lebih memihak anak angkatnya daripada Liu Yantsui sendiri. Bahkan jika Yao berfantasi menjadi seorang Ayah pun, ia tidak akan mau memiliki anak seperti Liu Yantsui. Yao tidak munafik, ia sudah sangat tahu bagaimana cara kerja orang-orang di dunia yang sama sepertinya. Tetapi selalu ada batas dan aturan untuk segala hal. Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro mengabaikan batas dan aturan itu. Mereka menerobos segalanya, bahkan jika tindakan mereka itu benar-benar tidak bermoral.
“Yao, apa kau pikir akan berhasil dengan datang sendirian ke markas Dragon’s Claws? Apakah Nikolai menuntutmu untuk menyelamatkan Nadezhda karena dia menyelamatkan Jia Li?”
Yao menggeleng pelan. “Saya memutuskannya sendiri. Sekadar informasi saja, Tuan Nikolai tidak pernah memaksakan kehendak kepada bawahannya, bahkan untuk orang yang berhutang budi seperti saya.”
Liu Yantsui menaikkan sebelah alisnya. “Kau membandingkanku dengan anak itu?”
Yao mengangguk. Suasananya benar-benar buruk. Liu Yantsui terus berceloteh banyak hal sementara Yao harus bersabar meladeninya. Ia tidak bisa memperkirakan apakah para bawahan Nikolai telah berhasil menyelamatkan Nadia atau tidak. Yao juga tidak tahu sampai kapan ia harus bertahan pada situasi memuakkan seperti ini.
Liu Yantsui maju dan menepuk bahu Yao pelan. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga kiri Yao dengan seringai kecil.
“Sayang sekali Yao, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Orang sepertimu tidak mungkin datang sendiri ke area musuh. Kau mengajakku berbicara di sini untuk mengalihkan perhatianku. Benar ‘kan?”
Yao merasakan jantungnya seperti memompa lebih kuat. Situasi yang ia kira sudah cukup buruk ternyata belum cukup buruk. Liu Yantsui tidak terjebak oleh tipuannya, tetapi ia sudah tahu segalanya dan tetap meladeni Yao. Ah sial, Yao merasa benar-benar seperti orang bodoh yang mengira segalanya berhasil padahal jauh dari hal itu.
Liu Yantsui menyeringai. “Lain kali, pikirkan cara yang lebih cerdas, Yao.” Pria itu kemudian menggerakkan kepalanya dan beberapa orang yang sebelumnya berjaga di sana langsung menendang kaki Yao hingga ia terpaksa berlutut. Tidak ada harapan dalam kondisi seperti ini meski Yao berusaha melawan.
“Bawa dia ke hadapan Tuan Puteri yang diinginkannya.”
Yao menggerakkan kakinya, menendang dua orang yang menahan kedua lengannya. Ia hanya bisa menyerang dengan kaki karena kedua tangannya yang diborgol. Dua pria yang sebelumnya memegangi lengannya jatuh terkapar dengan memegangi d**a mereka. Yao meloncat mundur. Satu per satu orang yang ada di ruangan itu terus menyerangnya. Yao hanya bisa berkali-kali berusaha menghindar. Yang bisa ia andalkan hanya kedua kakinya. Sangat sulit menghadapi sekian orang dalam sekali waktu ketika kedua tangannya tidak bisa ikut andil dalam menyerang. Yao juga bukannya tidak berlatih hanya menggunakan kakinya. Ia selalu melatih kekuatan seluruh tubuhnya untuk saat-saat darurat seperti ini. Namun, kembali lagi bahwa realita selalu lebih kejam daripada latihan. Kenyataannya Yao benar-benar kesulitan bertahan hanya dengan kakinya.
“Berhentilah membuang-buang tenagamu, Yao. Menurutlah dan temui Tuan Puteri yang kau rindukan.” Seru Liu Yantsui disertai tawa keras.
Yao menggertakkan giginya. Ia melirik ke arah Liu Yantsui yang sedang bersantai duduk bersebelahan dengan Akiyama Toshiro, memandanginya diserang oleh para bawahannya bak mangsa empuk. Yao tahu apa yang ia lakukan dengan melawan orang-orang yang sebelumnya adalah rekannya sendiri adalah sia-sia. Secara teknis, Yao sudah kalah dengan kedua pergelangan tangannya yang diborgol oleh pihak Liu Yantsui. Sekarang, mantan rekan-rekannya itu terus mengeroyoknya, berusaha melumpuhkannya. Apa yang Yao lakukan saat ini tidak lebih hanya sekadar mengulur-ulur waktu dan membiarkan dirinya dijadikan tontonan oleh Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro. Karena dengan begitu, orang-orang Bratva yang bersamanya, yang sebenarnya sudah ketahuan masih bisa bertahan karena tidak perlu berhadapan dengan Si Yakuza kejam Akiyama Toshiro.
**
Nadia mengedipkan matanya lemah ketika mendengar suara langkah kaki terburu-buru dari luar ruangannya. Tubuhnya masih menggantung pada rantai. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya tertidur setelah berbicara dengan Liu Yantsui sebelumnya. Kepalanya terasa amat pusing, dan lengannya terasa mati rasa. Nadia tidak tahu apa yang terjadi di luar, tetapi jika itu berkaitan dengan Bratva, ia hanya berharap seseorang segera menyelamatkan dirinya. Kali ini adalah yang terparah. Nadia tidak pernah bergantung untuk diselamatkan orang lain selama hidupnya hingga saat ini, tetapi apa yang dilakukan Liu Yantsui dan Akiyama Toshiro benar-benar jauh dari kata manusiawi. Nadia tidak bisa melawan mereka sama sekali.
Brak!
"Nona Nadia!"
Nadia mengerjapkan matanya ketika mendengar beberapa orang memanggilnya. Ia berusaha untuk memfokuskan pandangannya, melihat siapa orang-orang yang ada di hadapannya. Orang-orang yang memanggilnya dengan nama 'Nadia' hanya anggota Bratva, Liu Jia Li, Liu Tao, dan Yao Wang. Orang asing akan memanggil dengan nama aslinya seperti Liu Yantsui, yaitu Nadezhda. Mendengar panggilan itu, Nadia merasa lega meski tidak sepenuhnya, karena itu tandanya seseorang yang datang bukanlah dari pihak musuh.
"Nona Nadia, Nona Nadia, sadarlah, kami datang."
Nadia tersenyum kecil. "Yeah, turunkan aku karena tubuhku rasanya seperti hancur."
Orang-orang di depannya panik dan segera memanjat untuk meraih kaitan rantai yang digantung di atas. Dua orang lainnya menangkap tubuh Nadia yang terjun usai kaitan rantai itu dilepaskan. Mereka tidak memiliki kuncinya, sehingga Nadia tetap berada pada posisi terlilit rantai dan dengan pergelangan terbelenggu borgol.
"Apa kalian datang kemari hanya berempat?"
"Tidak, salah satu dari kami berjaga di mobil untuk meminta bantuan kalau-kalau keadaan menjadi genting, lalu Yao bersama kami, tetapi ia sedang berada di depan mengalihkan perhatian Liu Yantsui dan orang-orangnya. Kami tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semoga Yao baik-baik saja."
Nadia melebarkan matanya. "Yao berhadapan dengan Liu Yantsui? Ka-Kalian harus segera menolongnya!"
"Tapi Nona Nadia harus—"
Nadia menggeleng. "Liu Yantsui bukan seseorang yang bisa kau hadapi sendirian! Kau tidak lihat apa yang terjadi padaku hah? Aku tahu Yao jauh lebih kuat dariku dan mungkin lebih kuat dari Yantsui juga, tetapi sekarang ini Yantsui bersama dengan Akiyama Toshiro! Pria itu bisa melakukan apapun yang tidak kalian bayangkan." Nadia merinding ketika menyebut nama yakuza itu. Apa yang pria itu lakukan benar-benar membawa trauma. Nadia mungkin tidak akan berani berhadapan dengan Akiyama Toshiro untuk kedua kalinya.
Empat orang anggota Bratva yang menolong Nadia kemudian membagi tim menjadi dua. Nadia akan dibawa keluar oleh dua orang, dan sisanya akan menolong Yao. Cara ini sebenarnya bukanlah cara yang bagus. Mereka sama saja sedang menunjukkan kalau sedang menyusup. Nadia tidak bisa berpikir lebih baik lagi untuk memberikan ide. Kepalanya benar-benar pusing, tubuhnya sakit nyaris keseluruhan. Bahkan untuk berdiri saat ini, kakinya terasa sangat sakit. Entah seberapa banyak Akiyama Toshiro menendang dan memukulnya. Belum lagi lilitan rantai besi yang ketat di sekitar tubuhnya. Nadia benar-benar tidak dalam kondisi yang baik untuk berpikir.
Tidak ada jalan yang mudah dalam pelarian. Nadia pikir hal itu adalah kenyataan. Ketika ia dan dua orang lainnya baru saja keluar dari ruangan penyekapan itu, orang-orang Liu Yantsui dan beberapa yakuza anggota Akiyama Toshiro langsung menghadang di hadapan mereka. Nadia tahu, sekali berurusan dengan Liu Yantsui, maka akan sangat sulit untuk membebaskan diri.
Akiyama Toshiro datang tidak lama setelah dua orang anggota Bratva yang bersama Nadia ditembak mati di kepala mereka. Nadia merasakan getaran aneh ketika melihat Akiyama Toshiro mendekat. Merinding, tegang, dan ketakutan yang tidak bisa Nadia jelaskan. Nadia tidak sekali dua kali mengalami kekerasan. Lagipula, apa yang diharapkan dari hidup di lingkungan mafia selain kekerasan? Nadia sudah terbiasa dengan hal itu karena ia memang harus terbiasa ketika takdir membuatnya terlahir sebagai seorang puteri mafia berkuasa.
“Akiyama…” Gumam Nadia pelan.
Akiyama menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jari-jarinya. Ekspresinya tidak berubah, hanya tatapan dingin dan raut datar tak tertebak. Sorot mata dari iris kelam itu selalu membuat Nadia tercekat.
“Usahamu belum cukup Nadezhda.”
Nadia mundur perlahan ketika Akiyama mendekat. Bagaimana caranya ia melawan? Atau setidaknya, bagaimana caranya ia melindungi dirinya sendiri dalam kondisi terbelenggu rantai dan borgol sementara ketika ia dalam keadaan bebas pun tidak ada kesempatan sama sekali untuk bertahan. Nadia merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Akiyama Toshiro yang berdiri di hadapannya benar-benar tampak bagaikan dewa kematian yang siap membawanya ke neraka.
***