Nadia menyadari betapa cepat pikirannya berubah. Beberapa minggu lalu, ia berharap masa-masa sekolahnya tidak segera berakhir karena ia masih tidak rela berpisah dengan Lin Xianming dan beberapa teman-temannya yang lain, namun kali ini ia berharap kelulusan segera tiba agar ia bisa terbebas dari Akiyama Tenzo.
Permasalahan Dragon’s Claws masih terus berlanjut dan tidak ada perkembangan. Liu Yantsui terus mencari rekan bekerja sama agar Dragon’s Claws benar-benar menjadi miliknya. Hingga saat ini, misteri tentang hilangnya Liu Yantsui di Taiwan hingga kabar kematiannya yang ternyata tidak benar masih terus diselidiki oleh anak buah Nikolai. Apa yang sebenarnya terjadi di Taiwan dan mengapa Liu Yantsui yang dikabarkan tewas tiba-tiba kembali ke Hong Kong seolah tidak terjadi apapun. Lebih parah lagi, dia datang hanya untuk mengambil Dragon’s Claws yang sudah susah payah dijalankan oleh Liu Jia Li.
Hingga detik ini, Nikolai masih belum memperbolehkan Nadia terlibat pada apapun pekerjaan Bratva karena dia masih sekolah. Usia delapan belas tahun bukanlah usia yang terlalu muda untuk bergabung dalam bisnis keluarga. Terlebih, Nadia sudah sangat tahu bagaimana seluk-beluk keluarganya yang tidak biasa. Di Rusia, Nikolai sudah bekerja dengan mendiang Ayah mereka ketika dirinya bahkan masih berusia enam belas tahun. Orang-orang Bratva sungguh memperlakukan Nadia bak Tuan Puteri rapuh yang harus dilindungi. Padahal dalam realitanya, Nadia sangat jauh dari kata rapuh. Terlalu banyak pengalaman keras yang ia alami selama menyandang nama keluarga Grigorev di belakang namanya hingga membuat mentalnya tidak sama dengan remaja seusianya.
Bagaimana mungkin ia bisa disebut rapuh atau lemah jika ia bahkan bisa dengan mudah memisahkan sosok dirinya sendiri antara Nadezhda di sekolah dan Nadezhda di markas Bratva. Bertahun-tahun Nadia membuat dirinya menjadi dua orang yang berbeda hanya agar kehidupannya tidak bermasalah. Bahkan untuk Lin Xianming yang begitu dekat dengannya, belum tentu gadis manis itu akan tetap mau berteman dengannya ketika ia tahu siapa Nadezhda Grigorev yang sebenarnya. Dunia itu kejam, dan Nadia hanya harus membiasakan diri.
Mungkin ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Nadia mengenal Yao Wang, ia bisa membawa pria itu mampir ke toko es krim langganannya dan teman-teman sekolahnya. Yao Wang tampak kikuk berada di toko dengan suasana manis dan ornament-ornamen menggemaskan. Nadia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat ekspresi tidak nyaman Yao Wang. Ia yang memakai pakaian rapi dan bersikap sangat sopan tiba-tiba harus masuk ke toko es krim langganan murid-murid sekolah menengah. Slava atau bawahan Bratva lainnya tidak akan tampak konyol jika Nadia mengajak mereka ke toko es krim karena cara berpakaian dan tingkah laku mereka lebih santai dan luwes ketimbang orang-orang Dragon’s Claws. Nadia ingat ia pernah meminta Yao Wang untuk pergi berkencan dengannya ke toko es krim namun tidak pernah terlaksana.
“Tuan Yao Wang, anda tidak pernah datang ke toko seperti ini ya?”
Yao Wang menatap Lin Xianming yang tersenyum kepadanya. Mereka bertiga duduk di salah satu meja dekat jendela dengan tiga cup es krim di atas meja. Yao Wang tidak memilih rasa, dia hanya menerima apa yang dipilihkan oleh Nadia.
“Jangan bertanya, jawabannya jelas tidak. Lihat saja betapa kakunya Yao berada di toko es krim. Dia mungkin lebih memilih datang ke sarang berandalan untuk berkelahi daripada duduk santai sembari menikmati es krim.” Jawab Nadia asal.
“Nona Nadia…”
Nadia tertawa. “Tapi benar ‘kan? Coba hitung berapa kali aku mengajakmu jalan-jalan dan kau menolaknya?”
Senyum di wajah Lin Xianming luntur. Ia menatap Nadia lekat-lekat dan sesekali melirik Yao Wang yang masih setia dengan ekspresi datarnya.
Nadia terdengar sedang bercanda dan mengatakan apapun yang ada di dalam kepalanya dengan santai, namun Lin Xianming yang mendengarnya terasa berbeda. Seperti Nadia sedang berusaha menertawakan lukanya sendiri dan itu menyakitkan.
Nadia melirik Lin Xianming yang tiba-tiba diam. “Kenapa? Es krimnya tidak enak?”
Lin Xianming menggeleng keras. “Enak kok!” ujarnya seraya melahap es krim miliknya dengan terburu-buru.
Kegiatan mereka di toko es krim itu cukup menyenangkan—atau setidaknya itulah yang Nadia pikirkan. Yao Wang juga berusaha untuk beradaptasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Lin Xianming. Nadia sangat salut dengan Lin Xianming. Meski Nadia telah banyak menceritakan tentang perasaannya kepada Yao Wang, Lin Xianming sama sekali tidak mengungkit tentang hal itu dan hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan biasa.
Nadia sempat menawari Lin Xianming tumpangan untuk pulang, namun gadis itu mengatakan bahwa ia telah menghubungi supirnya dan akan datang tidak lama lagi, sehingga Nadia dan Yao Wang pamit untuk pulang terlebih dahulu.
***
Lin Xianming menghela napas. Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang terasa pegal karena berdiri. Lima belas menit sudah berlalu dan mobil jemputannya sama sekali belum terlihat. Biasanya, mobil jemputannya akan datang kurang dari sepuluh menit setelah Lin Xianming menghubungi supirnya. Jika pun ada kendala di jalan, supirnya akan menghubungi Lin Xianming dan menjelaskan masalahnya. Tetapi kali ini tidak ada kabar sama sekali. Lin Xianming mengirimi pesan kepada supirnya entah sudah yang ke berapa kali, namun tidak ada balasan. Lin Xianming juga menelepon supirnya, namun panggilannya tidak dijawab.
Lelah karena terus-terusan berdiri, Lin Xianming menyingkir dan duduk di kursi umum di dekat toko es krim. Ia sebenarnya ingin masuk lagi ke toko es krim, namun perutnya sudah cukup puas dan tidak bisa lagi digunakan untuk menampung es krim. Duduk di dalam toko es krim ketika sebelumnya sudah keluar jelas harus membeli baru lagi. Jika tahu bahwa supirnya akan lama, maka lebih baik Lin Xianming diam di dalam toko es krim saja ketika Nadia dan Yao Wang pulang. Ia juga agak menyesal menolak tawaran Nadia untuk tumpangan pulang.
“Nona Lin Xianming?”
Lin Xianming yang sedang menatap layer ponselnya mendongak ketika mendengar namanya disebut. Seorang pria dewasa yang kemungkinan berusia tiga puluhan berpakaian rapi tersenyum kepadanya.
“Anda siapa?”
Pria itu mengulurkan telapak tangannya. “Perkenalkan, saya Su Weimin. Saya adalah rekan kerja ayahmu.”
Lin Xianming menyambut uluran tangan tersebut meski ia sedikit bingung. Lin Xianming tidak pernah tahu kolega ayahnya. Ia beberapa kali ikut dalam bisnis ayahnya, namun sekali pun tidak pernah hapal dengan orang-orang yang ada. Lagipula, mengapa rekan kerja ayahnya menemui Lin Xianming alih-alih ayahnya?
“Nona Lin Xianming, saya hendak bertemu dengan ayahmu, dan supir yang ditugaskan untuk menjemput anda sedang bermasalah di jalan.”
Lin Xianming mengikuti langkah pria itu. Beberapa langkah awal, Lin Xianming merasa biasa saja meski ia bingung. Tetapi semakin lama ia semakin tidak tenang dan curiga mengenai siapa sebenarnya Su Weimin.
“Maaf, saya rasa lebih baik saya menunggu saja.”
Lin Xianming baru selangkah berbalik, namun sebuah kain hitam tiba-tiba dibekapkan di wajahnya. Lin Xianming berusaha memberontak, namun gerakannya sama sekali tidak mampu untuk melawan Su Weimin. Lin Xianming tidak bisa berteriak karena telapak tangan Su Weimin membekap erat mulutnya. Lin Xianming juga tidak bisa melihat apa-apa karena kain hitam tersebut.
Lin Xianming merasakan tubuhnya diangkat oleh orang itu dan masuk ke dalam mobil. Lengan Su Weimin berada di dekat lehernya dengan sebuah pisau yang ditodongkan di leher. Lin Xianming bisa merasakan ujung tajam pisau yang terasa dingin itu menyentuh kulit lehernya.
“Diam, atau kurobek lehermu.” Bisik Su Weimin tajam.
Lin Xianming yang sebelumnya mengerang dan terus memberontak langsung membeku. Napasnya naik turun seiring dengan rasa panik yang menguasainya. Siapa dia? Mengapa Lin Xianming tiba-tiba diculik? Ia tidak ingat pernah melakukan kesalahan fatal hingga menimbulkan dendam kepada orang lain. Apakah saingan bisnis ayahnya tengah berusaha membalas dendam dengan menculik Lin Xianming?
Isi kepala Lin Xianming benar-benar penuh. Ada banyak kemungkinan mengapa ia berada dalam situasi tersebut, tetapi tak satu pun tampak benar-benar cocok. Meski Lin Xianming berasal dari keluarga kaya raya dan sukses, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan berbahaya seperti ini sejak kecil. Tidak ada pengawasan esktra. Lin Xianming menjalani kesehariannya di luar rumah seperti remaja pada umumnya dan semuanya baik-baik saja. Lantas mengapa?
Lin Xianming tidak tahu berapa lama ia berada di dalam mobil yang membawanya. Jantungnya terus berdetak kencang dan ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melawan mereka. Ia mendengar suara beberapa pria yang berdiskusi, dan itu artinya ada banyak orang di dalam mobil tersebut dan Lin Xianming jelas tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Apakah keterlambatan supirnya datang adalah bagian dari rencana penculikan ini?
Jari-jari Lin Xianming terasa lemas. Detik-detik berlalu terasa sangat lama. Ketika akhirnya mobil tersebut berhenti, Lin Xianming dituntun dengan kasar untuk turun dari mobil masih dengan pisau yang menempel di lehernya. Lin Xianming bisa merasakan seluruh tubuhnya berkeringat karena ketakutan.
“Dia orangnya?”
“Benar, kami melihatnya bersama dengan Grigorev sebelumnya.”
“Bagus. Liu Lobaan pasti akan senang dan membayar mahal kepada kita.”
Kain hitam yang digunakan untuk menutupi wajah Lin Xianming dibuka. Pemandangan di hadapan gadis itu benar-benar asing. Sebuah bangunan yang tampak terbengkalai namun masih cukup bagus. Bangunan tersebut mirip seperti bangunan bekas pabrik yang sudah tidak digunakan. Ada beberapa orang pria dewasa dengan perawakan tinggi besar dan tampak menyeramkan di sekitarnya. Dilihat sekilas pun, Lin Xianming tahu mereka sejenis dengan berandalan kota yang mungkin bekerja untuk seseorang.
Salah seorang dari mereka yang memiliki tubuh gemuk dan tato di lehernya mendekati Lin Xianming dan menarik dagu gadis itu.
“Cantik sekali. Mengapa tidak kita manfaatkan terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada Liu Lobaan?”
“Huh? Kau bernapsu melihat bocah seperti dirinya?”
“Dia bukan bocah. Lihat saja tubuhnya. Tidak ada bocah yang memiliki tubuh seperti itu.”
Lin Xianming bergidik ngeri ketika pria itu mulai meraba beberapa bagian tubuhnya. Sepanjang hidupnya, tidak pernah sekalipun ada orang asing yang berani menyentuh Lin Xianming tanpa izin. Sentuhan tiba-tiba itu jelas membuatnya shock bukan main.
"Berikan dia padaku terlebih dahulu.”
“Kau benar-benar…”
“Tenang saja, Li Lobaan tidak peduli dengannya, dia hanya butuh sosoknya saja. Apapun yang sebelumnya kita lakukan kepadanya tidak akan berpengaruh. Lagipula, kita menjualnya bukan untuk Wanita penghibur, tetapi untuk sandera. Sedikit lecet di tubuhnya tidak akan berpengaruh kepada harga.”
Lin Xianming ditarik paksa oleh pria itu. Ia memberontak, berusaha untuk melepaskan diri namun pisau yang ditodongkan di lehernya tidak sengaja menyayat bagian tersebut karena gerakannya yang tiba-tiba. Darah segar mengalir dari sisi kanan leher Lin Xianming. Sengata rasa perih membuatnya meringis sakit.
“Ah, berhentilah bergerak. Kau melukai dirimu sendiri.”
Lin Xianming menjerit histeris ketika tubuhnya diangkat seperti karung beras. Pria penuh tato dengan tubuh kekar itu membawanya ke salah satu ruangan di dalam bangunan tersebut dan mengunci pintu. Tubuh Lin Xianming dilempar pada sebuah ranjang dengan Kasur tipis yang cukup keras. Pria itu langsung melepaskan pakaiannya, membuat Lin Xianming menatap horror dengan apa yang akan terjadi dengannya.
“Lepaskan aku!” Jerit Lin Xianming pilu. Ia sama sekali tidak bisa melawan ketika tubuh pria itu mengukung tubuh Lin Xianming di bawahnya. Jemari kasar dan besar milik pria itu menyentuh tiap jengkal kulit Lin Xianming dan merobek seragamnya dalam satu tarikan.
Lin Xianming menangis histeris, namun ia tetap berusaha untuk melepaskan diri dengan menendang-nendangkan kakinya dan memukul wajah pria itu. Usahanya memang tidak berbuah hasil yang bagus, karena kekuatannya benar-benar jauh di bawah orang itu. Nadia hanya terus berusaha melepaskan diri sembari menahan rasa jijik karena sentuhan pria itu terus merambat di beberapa area pribadinya.
“Diamlah dan nikmati permainan ini. Tidak akan lama kok.”
“Kau menjijikkan!” Lin Xianming menggertakkan giginya dan menendang bagian pribadi pria itu dengan keras.
Gerakan pria itu yang meraba-raba tubuhnya berhenti ketika tendangan Lin Xianming yang keras tepat mengenai bagian pribadi pria itu. Ia mengerang marah memegangi bagian tersebut, sementara Lin Xianming berusaha bangun dan membenahi pakiannya yang sudah robek di beberapa bagian. Lin Xianming langsung menuju ke pintu, namun bagian itu terkunci dan Lin Xianming tidak bisa mendobraknya.
Keringat bercucuran di wajah Lin Xianming ketika pria itu berdiri dengan wajah memerah murka. Lin Xianming terus berusaha mendobrak pintu namun sama sekali tidak berhasil.
“Seharusnya kau menuruti kata-kataku. Sekarang, aku tidak lagi ingin bersikap lembut kepadamu.”
Rambut Lin Xianming ditarik dengan kasar oleh pria itu, kemudian dilemparkannya Lin Xianming ke lantai hingga tubuhnya membentur kaki ranjang. Rasa nyeri hebat membuat Lin Xianming kesulitan untuk kembali berdiri.
Lin Xianming susah payah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menahan perlakuan kasar yang diberikan oleh pria itu.
“Dasar perempuan bodoh.”
Tubuh Lin Xianming yang sudah memar di beberapa bagian ditendang dengan kuat di bagian dadanya. Lin Xianming mengerang lemah karena rasa sakit yang teramat sangat di bagian dadanya. Pria itu tampaknya sangat murka karena tidak lama setelah tendangan pertama, dia langsung melancarkan tendangan-tendangan lainnya di bagian-bagian vital yang membuat Lin Xianming sekarat karena kesakitan.
Pandangan Lin Xianming semakin kabur seiring dengan tendangan demi tendangan yang ia terima dari pria itu. Rasa sakit yang teramat sangat membuat ia tidak lagi memiliki tenaga untuk menghindar. Setiap jengkal tubuhnya terasa menyakitkan. Susah payah Lin Xianming mempertahankan kesadarannya, namun tubuhnya tidak sekuat itu. Berangsur-angusr, pandangannya yang semakin tidak jelas menggelap.
***