15

2301 Words
Lili duduk manis di lobi menunggu Anderson dan yang lain untuk selesai mengadakan pertemuannya, Lili memang hanya ditugaskan untuk menemui Jaden, bukan ikut ke rapat yang tak ia pahami sama sekali. Ia menggeser layar ponselnya dan memeriksa setiap pesan yang masuk, mata Lili fokus pada pesan dari Margrit yang menyampaikan agar Lili bisa datang ke ujian sabuk tepat waktu, Lili terkekeh pelan, sepertinya Margrit butuh support-nya. Lili berdiri dari duduknya, ia merapikan pakaiannya yang agak kusut karena bergelung di sofa. Tepat saat dirinya menunduk untuk merapikan celananya, ia melihat dua pasang sepatu yang mendakatinya. Lili diam untuk berpikir sejenak, sepertinya itu bukan sepatu milik Jaden ataupun Anderson, lalu siapa? Dengan perlahan Lili mendongakkan kepala ke atas untuk melihat siapa yang datang itu, bagai gerakan slow motion sesekali ia mengerjapkan matanya perlahan, mata Lili menajam seketika ia mendapati pria yang berdiri dihadapannya dengan pandangan menusuk, tak ada raut ramah yang terlihat. "Kau?" Gumam Lili tanpa sadar. Pria itu masih diam, ia melihat respon Lili yang terkejut melihat kedatangannya. "Kenapa kau bisa berada di sini?" Ujar Lili menatap sengit pria itu. "Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kau berada di kantor ini?" Tanyanya balik. Lili menautkan alisnya, ia menatap pria itu dari atas hingga bawah, kemeja yang rapi, dasi yang menggantung, celana yang licin, apakah dia juga merupakan klien kakaknya? Lili membuka mulutnya heran, kenapa harus dia. "Kau salah satu klien Anderson?" Tanya Lili sembari menautkan alisnya. Pria itu terkekeh pelan meski tidak ada yang lucu. "Ya, kau terkejut?" "Ahh, aku lupa bahwa nama akhir kalian sama. Anderson Vasco Nugroho dan Lili Jils Nugroho, biar ku tebak kau adalah adik dari Anderson." Pria itu menjentikkan tangannya lalu tersenyum miring.  "Diam, Will." Sentak Lili agak mengeras, entah mengapa setiap ia melihat Wiliam maka emosinya akan tersulut. "Upss! Untuk apa aku harus diam?" Wiliam memajukan langkahnya untuk mendekati Lili, ia menatap lekat mata indah itu. "Sekarang kau senang karena telah merebut adikku?" Lanjutnya. Lili memundurkan kepalanya sedikit, apa-apaan ini. "Apa maksudmu? Kenapa kau menuduhku merebut Samuel darimu, jangan berpikiran bodoh kau." Wiliam terhenyak, ia menipis jarak yang ada, tangannya ia gunakan untuk menyentuh punggung Lili agar tidak bisa kabur kemana-mana. Untuk sesaat pandangan mereka saling bertemu dan mengunci, entah setan darimana Wiliam malah fokus pada bibir merah Lili yang tampak berantakan lipstiknya, ingin rasanya Wiliam mengecupnya dan membuatnya memerah secara alami. Wiliam semakin memajukan kepalanya, ia bahkan menunduk untuk menyamaratakan tingginya dengan gadis itu, Lili yang mencium aroma-aroma tidak mengenakkan langsung saja mendorong d**a Wiliam untuk menjauh, seketika itu juga Wiliam tersadar dari tindakan bodohnya. 'Dasar bodoh kau, Will. Bisa-bisanya memiliki niat sialan itu.' Wiliam membatin dalam hatinya, ia menggelengkan kepala pelan untuk mengusir pikriran bodohnya. Lili bahkan sampai ngos-ngosan karena menahan napas, ia tidak tahu hal bodoh apa yang akan Wiliam lakukan jika ia tadi tidak segera mendorongnya. Wiliam mendongak menatap Lili yang kini juga menatapnya, suasana canggung terjadi selama beberapa saat. Berusaha Wiliam memegang kendalinya, ia menormalkan ekspresinya agar terlihat wajar. "Jangan mendekati Samuel lagi, aku tidak suka jika dia berdekatan denganmu." Ujar Wiliam terdengar sok keras. Lili terpancing emosinya, ia melangkah mendekati Wiliam, bahkan tangannya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk d**a Wiliam. "Kau keterlaluan, biarkan adikmu melakukan apa yang dia mau, kau bahkan tidak bisa membuatnya bahagia. Lalu kenapa harus memintaku untuk menjauhinya? Samuel lebih nyaman bermain denganku, daripada dengan dirimu." Wiliam juga ikut terpancing amarahnya, ia menggenggam erat kepalan tangannya, lalu setelahnya Lili dibuat terkejut karena Wiliam meremas tangannya hingga terasa nyeri. "Arghh.." Keluh Lili yang merasa tangannya kesakitan. "Will, jangan membuat keributan di kantor orang." Tiba-tiba saja pria yang sedari tadi mengawasi tingkah Wiliam dari kejauhan kini mendekat, ia sudah tidak tahan. Wiliam menyentak tangan Lili dengan kasar, ia mendengus kesal saat seseorang itu menghentikannya. Pria itu menarik Wiliam agar menjauh dari Lili, tatapan pria itu dan Lili saling bertemu, pria tersebut menunduk singkat sebagai rasa salamnya. "Maafkan teman saya yang sudah membuat keributan di sini." Ujar pria itu singkat pada Lili. Tatapannya beralih pada Wiliam, ia menarik tangan Wiliam agar menjauh dari tempat itu. "Ayo, pergi dari sini." Tukasnya. Wiliam merasa belum selesai urusannya dengan Lili pun sempat memberontak, tapi tenaga pria itu lebih kuat. Sesampainya di tempat yang sepi, tangan Wiliam dihempas begitu saja, membuat sang empunya mendesis marah. "Gerald, apa yang kau lakukan? Kenapa mengacaukan tindakanku." Geram Wiliam. "Karena tindakanmu sudah kacau." Balas Gerald sekenanya. "Jadi, itu gadis yang membuat Sam menjadi lebih hidup?" Gerald menambahkan, ia memiringkan kepalanya sembari menatap Wiliam. Tangan Wiliam mengepal, matanya menajam menatap Gerald yang telah lancang mengatakan bahwa sang adilk lebih hidup ketika bersama Lili. Wiliam tidak terima, karena hanya Wiliam lah tempat untuk Samuel pulang. "Tutup mulutmu, Gerald. Aku lah yang paling memahami adikku sendiri, bukan gadis kurang ajar itu." Balas Wiliam dengan sengit. Gerald dan Wiliam sama-sama datang ke perusahaan Anderson, pun dengan Jaden yang akan mendiskusikan mengenai kerja sama. Hanya saja Gerald dan Wiliam masih satu perusahaan, berbeda dengan Jaden yang berdiri sendiri. Nampak Gerald menghela napas panjang, ia menatap salah satu sahabatnya yang kini sedang dikuasai amarah. "Mau ku beritahu sesuatu?" Gerald menaikkan sebelah alisnya menatap Wiliam. Wiliam mengangguk ragu, "Apa?" "Kau salah mencari musuh, gadis itu kekasih sahabat kita. Jadi, jangan macam-macam." Tukas Gerald dengan enteng "Ha?" Wiliam bertanya dengan wajah cengo, tidak mengerti maksud perkataan Gerald. "Jaden menyukai Lili." Jawab Gerald setelahnya. Wiliam menatap Gerald dengan pandangan tak percaya, ia terkejut mendengar fakta itu. Entahlah, rasanya ada yang hilang dari hidup Wiliam. Gerald sudah mengetahui fakta itu semenjak Jaden menggila satu tahun yang lalu, Jaden seperti kehilangan arah karena telah ditinggalkan oleh kekasihnya. Hanya Gerald yang mengetahuinya karena pria itu memang sering mengorek informasi sahabat-sahabatnya, bagi Gerald, circle persahabatan itu tidak boleh hancur karena apapun. Gerald juga sempat melihat interaksi antara Jaden dan Lili tadi pagi, ia melihat semuanya termasuk saat Jaden bersimpuh dihadapan sang gadis. Sejujurnya Gerald tidak suka jika ada sahabatnya yang hancur karena seorang perempuan, dan benar saja Jaden lemah karena gadis itu. "Lalu? apa hubungannya denganku, Lili memang sudah merebut Samuel dariku." Sungut Wiliam. Gerald terkekeh mendengar ucapan Wiliam, ia menggelengkan kepala pelan lalu menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Aku tahu bagaimana arti tatapanmu padanya tadi, jangan berlagak menghindar, Will. Kau lupa siapa aku? Wiliam mematung tatkala mendengarkan jawaban Gerlad. Memang benar, Gerald bisa mengetahui apapun tentang dirinya dan Wiliam tidak dapat membohongi pria itu. Setelah mengatakan hal itu Gerald langsung melenggang pergi dari sana, meninggalkan Wiliam yang memikirkan ulang perkataan pria itu. *** Gerald merapikan pakaiannya sebelum memasuki ruang rapat, tadinya ia memang berniat pergi ke toilet tapi melihat perdebatan Lili dan Wiliam membuatnya terhenti, Gerald lebih memilih mendengarkan apa yang dibicarakan sahabatnya. "Maaf, karena membuat kalian menunggu lama." Ujar Gerald sembari melemparkan senyuman. "Tidak apa-apa, Tuan Gerald." Jawab Anderson. Tapi, tak lama kemudian pintu terbuka kagi memperlihatkan kedatangan Wiliam, mendapatkan tatapan semua orang membuat Wiliam tersenyum canggung. Ia melirik ke arah Gerald yang sudah duduk dengan nyaman di tempatnya, sama sekali tidak melihatnya barang sedikit pun. Jaden melihat ada yang aneh antara Gerald dan Wiliam, kebersamaan selama bertahun-tahun membuat Jaden bisa mengetahui ada yang telah disembunyikan mereka darinya. Gerald melirik Jaden, saat itu pula tatapan keduanya saling bertubrukan. "Baik, kalian sudah berada di sini dengan lengkap. Dengan berdasar pada kajian serta pertimbangan yang telah kita bicarakan tadi, maka saya berniat membuat penawaran kerjasama terhadap para hadirin semuanya, saya sangat berharap bila para hadirin semua berkenan menerima ajakan kerjasama dengan perusahaan Papa saya ini." Jelas Anderson, ia memang mewakili sang Daddy yang saat ini sedang memiliki urusan lain dengan Mamanya. Anderson harap-harap cemas menunggu keputusan mereka, ia berharap jika beberapa di antaranya mau menjalin kerjasama dengan perusahaannya dan mampu membuat perusahannya semakin maju. "Corazo siap menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan anda." Jaden membuka suara pertama kali, tentu saja ia akan langsung menyetujuinya tanpa berpikir dua kali.  Gerald tersenyum miring sembari menatap Wiliam, tentu saja Wiliam bisa menangkap arti senyuman itu yang seolah berkata, 'Lihatlah, dia benar-benar mau melakukan apapun demi gadisnya.' Sebenarnya perusahaan Anderson tidak terlalu memiliki dekengan yang kuat, perusahaannya juga bukan perusahaan besar, tapi bagaimana mungkin Jaden mau menerima kerjasama dengan begitu mudahnya tanpa alasan lain yang mendasari. Seorang Jaden Petrovski tidak akan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak menguntungkannya. Pikir Wiliam. Wiliam menghela napas gusar, entahlah ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Apa ia benar-benar membenci Lili karena telah merebut perhatian adiknya? "Saya juga setuju bergabung dengan anda." Ujar Gerald, Wiliam refleks menatap ke arahnya. Anderson tersenyum lebar, sudah ada dua perusahaan besar yang ingin menjalin kerjasama dengannya, itu artinya Anderson bisa memajukan perusahaan Daddy-nya ini. Ia pikir hanya Jaden saja yang akan mau menjalin kerjasama atas dasar rasa cintanya pada Lili, ternyata Gerald pun ikut setuju. "Saya setuju!" Ujar klien lain. "Saya juga setuju." Tambahnya. Anderson semakin tersenyum cerah, ia segera mengurus berkas-berkas yang harus ditandatangani antara ia dan klien yang setuju. Jaden? Pria itu menyetujui kerjasama ini memang atas dasar rasa cintanya pada Lili, jika ia bisa semakin dekat dengan Anderson, bukankah itu merupakan hal yang bagus. Anderson bisa ia gunakan untuk melancarkan aksinya agar bisa meluluhkan hati Lili lagi. Dua puluh menit mereka gunakan untuk saling menandatangani berkas sebagai tanda bukti atas kerjasamanya. Jaden menjadi orang terakhir yang menyalami Anderson, ia akan melakukan hal terbaik demi Lilinya. "Terimakasih, Tuan Petrovski. Namun, saya tidak akan menukar kerjasama ini dengan adik saya." Bisik Anderson tepat di telinga Jaden. Jaden hanya mengulum senyum, ia tidak perlu aksi apapun dari Anderson untuk membantunya. Yang ada malah Jaden yang akan memperalat Anderson, Jaden pula yang akan memegang kendali. "Saya mengerti." Jaden mengubah raut wajahnya menjadi datar, lalu melenggang pergi dari sana. Tepat saat ia keluar ruang rapat, Jaden melihat Lili yang terlibat pembicaraan dengan Gerald. Hati jaden berdesir melihat pemandangan itu, gadisnya tersenyum pada pria lain, meski pria itu adalah sahabat Jaden sendiri. "Terimakasih telah menerima ajakan kerjasama dengan perusahaan kami." Tukas Lili pada Gerald, Gerald pun mengangguk perlahan lalu permisi dari sana. Sebelum ia benar-benar menuju pintu keluar, ia sempat melirik pada Jaden lalu tersenyum kecil. Jaden menambah laju langkahnya untuk mendekati Lili, sesampainya ia di sana masih melihat Lili yang tersenyum mengantar kepergian Gerald. Tangannya terkepal kuat, ia tidak rela senyuman manis itu dinikmati pria lain. Jaden menyentak tangan Lili hingga membuat gadis itu terkejut. Lili yang melihat Jaden memasang raut emosi pun kebingungan, ada apa dengannya? "Ada apa, Jee?" Tanya Lili pada Jaden. Ia bahkan tidak sadar saat memanggilnya dengan nama spesial, Jee-nya. "Aku tidak suka kau tersenyum pada pria lain." Jawab Jaden dengan to the point. Lili menautkan kedua alisnya bingung, memangnya ia salah tersenyum ramah pada klien kakaknya? "Aku hanya menghormati klien kakakku, dia telah menyetujui untuk bekerjasama dengan perusahaan ini." Balas Lili membela diri, ia tidak habis pikir dengan Jaden yang begitu dikuasai cemburu. "Aku juga menyetujui kerjasama dengan kakakmu, sekarang tersenyum lah padaku." Jaden seperti anak kecil sekarang, Lili melongo tak percaya. "Apa? Ayo, senyum padaku semanis saat kau senyum pada Gerald." Tambah Jaden yang semakin tidak sabaran. Lili mengerjapkan matanya masih tidak bis mencerna keadaan. "Oh, pria tampan tadi namanya Gerald?" Lili mengangguk-anggukkan kepala, ia memang belum berkenalan dengan Gerald tadi. Gerald hanya mengatakan padanya bahwa dirinya dan perusahaan Anderson sudah saling bekerjasama. Melihat Lili mengucapkan Gerald tampan membuat Jaden semakin cemburu, wajahnya berubah merah karena kesal. "Lili, stop! Tidak bisakah kau mengerti keadaanku sekarang?" Jaden berkata dengan nada tajam khasnya. Seketika itu Lili meneguk ludahnya, ia juga menepuk dahinya pelan seolah melupakan sesuatu. Jaden adalah tipe pria pencemburu dan ia telah memuji pria lain dihadapannya. Kasihan sekali nasibmu, Lili. "Kau cemburu, ya?" Tebak Lili dengan nada menggemaskan, ia mencoba mengalihkan emosi Jaden. Menjinakkan amarah Jaden hanya ada satu cara, yakni perlakuan lembut dari Lili. Jaden hanya diam tidak berniat menjawab perkataan Lili, sudah jelas ia cemburu tapi kenapa harus ditanya? Lili memiringkan kepalanya lalu tersenyum sangat lembut dan terlihat menenangkan. "Aku sudah tersenyum padamu, bahkan lebih manis dari senyumanku yang tadi. Apa kau masih parah padaku?" Jujur saja sebenarnya Lili masih sangat kesal dengan Jaden karena kejadian di taman tadi, tapi ia tidak ingin berdebat dengan Jaden saat ini, terlebih lagi sekarang mereka berada didalam lobi. Melihat senyuman manis gadisnya membuat Jaden luluh seketika, lesung pipi di kanan dan kiri Lili membuatnya terlihat amat cantik. Lili tersenyum lega setelahnya, caranya benar-benar berhasil kan. Begitu mudahnya mencairkan api emosi pada pria itu. "Terimakasih telah menerima ajakan kerjasama dengan Kak Anderson." Lili hendak membungkukkan badan sebagai tanda terimakasihnya. Namun, buru-buru Jaden mencegahnya. "Jangan seperti itu, kau tidak boleh melakukannya." Jaden mengelus-elus pundak Lili. Dalam keadaan hening itu keduanya saling tatap menatap, menikmati waktu yang hanya mereka rasakan berdua saja. "Lili, kau mau pulang -- sekarang?" Anderson tiba-tiba saja keluar dari ruangannya, ia melihat adegan Lili dan Jaden. Sontak saja kedua pasangan itu langsung menjauhkan posisinya. Lili terlihat salah tingkah, berbeda dengan Jaden yang hanya menampilkan raut datarnya seolah tak pernah melakukan dosa apapun. "Kakak? Kau sudah selesai?" Tanya Lili untuk mencairkan suasana canggung ini. "Hmm ya." Jawab Anderson sekenanya. "Tuan Petrovski, anda masih di sini?" Tanya Anderson basa basi pada Jaden. "Ya, saya hendak undur diri tapi adik anda sepertinya menghalangi kepergianku." Jaden melemparkan senyuman manisnya pada Lili. Lili melihat Jaden dengan berdecih, bisa-bisanya menjadikan Lili alasan. Enak saja, justru Jaden sendiri yang datang mendekati dirinya. "Baiklah, saya undur diri. Permisi." Tukas Jaden setelahnya. Tersisa Lili dan Anderson yang saling diam, Lili menggelengkan kepalanya pertanda bahwa apa yang dikatakan Jaden tidak benar. "Sudahlah, aku tahu dirimu dengan baik. Jaden memang sengaja membuatmu kembali lagi padanya. Sudah ku katakan padamu tadi agar tidak usah ikut, dia orang yang licik dan kau harus berhati-hati." Nasehat Anderson pada adiknya. "Terimakasih, Kak. Oh ya, tolong jangan katakan apapun mengenai hubunganku pada Mom dan Dad, aku tidak ingin mereka bertanya macam-macam." Lili meminta pada kakaknya. "Iya, aku berjanji padamu. Ya sudah, ayo pulang." Anderson merangkul adiknya dengan segera, Lili pun senang karena memiliki kakak yang begitu pengertian padanya. Mereka berjalan keluar, seorang security datang atas panggilan Anderson untuk mengunci perusahaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD