Saat ini Lili tengah bersiap-saip untuk ikut bersama kakaknya ke kantor, Lili akan menemui Jaden dan menanyakan apa yang ia inginkan, kenapa harus membawa-bawa dirinya pula. Lili sedang bercermin, ia memakai blouse berwarna putih pucat, celana formal dan juga tas jinjing, sepatunya tak terlalu tinggi. Ia berniat dalam hati untuk menyudahi permainan Jaden yang terus menerus mengejar-ngejar dirinya.
Lili ke luar dari kamarnya dan menemukan sang kakak yang tengah mendudukkan diri di sofa ruang keluarga, ia melirik sang adik yang sudah bersiap diri. Anderson langsung beranjak dari duduknya, sedari tadi ia memikirkan tentang nasib Lili, tetap saja Anderson tidak akan tega menyangkutpautkan Lili dengan pria yang susah payah dijauhi. Dulu ketika Lili meminta pinda…
Saat ini Lili tengah bersiap-saip untuk ikut bersama kakaknya ke kantor, Lili akan menemui Jaden dan menanyakan apa yang ia inginkan, kenapa harus membawa-bawa dirinya pula. Lili sedang bercermin, ia memakai blouse berwarna putih pucat, celana formal dan juga tas jinjing, sepatunya tak terlalu tinggi. Ia berniat dalam hati untuk menyudahi permainan Jaden yang terus menerus mengejar-ngejar dirinya.
Lili ke luar dari kamarnya dan menemukan sang kakak yang tengah mendudukkan diri di sofa ruang keluarga, ia melirik sang adik yang sudah bersiap diri. Anderson langsung beranjak dari duduknya, sedari tadi ia memikirkan tentang nasib Lili, tetap saja Anderson tidak akan tega menyangkutpautkan Lili dengan pria yang susah payah dijauhi. Dulu ketika Lili meminta pindah kampus, orangtuanya tidak terlalu memusingkan karena alasan Lili yang berkata bahwa kurang cocok dengan suasana kampus, tapi berbeda dengan Anderson yang langsung menanyakan alasan lain Lili, mau tak mau Lili pun harus jujur, tapi tetap saja Lili masih berusaha menutupi keaslian kejadian, mana mungkin ia membocorkan kejadian dan tragedy berdarah itu. Lili hanya berkata bahwa dirinya sedang menjauh dari kekasihnya yang telah berkhianat, hanya sebatas itu. Bahkan Lili tidak mengatakannya pada Anderson siapa si pria tersebut.
Ternyata, tanpa diketahui Anderson, pria yang menjadi masa lalu Lili adalah Jaden, jika Anderson mengetahui hal ini lebih awal maka ia akan langsung menolak ajakan tersebut. Namun, nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa Anderson lakukan saat ini.
“Kau yakin ingin ikut? Pikirkan sekali lagi, aku tidak ingin kau menyesali pilihanmu, aku yakin jika seorang Petrovski tidak akan menawarkan secara cuma-cuma, dia pasti memiliki rencana untuk membuatmu kembali padanya.” Anderson berujar, ia khawatir jika Lili akan diracuni pikirannya dengan macam-macam.
Lili mengulas senyum manisnya untuk membuat sang kakak tidak perlu khawatir, Lili sudah memutuskan untuk tidak lagi lari atau bersembunyi, toh Jaden tidak akan berani menyakitinya, kemungkinan pria itu hanya akan mengejar-ngejarnya lagi.
“Tidak apa-apa kak, aku sudah memikirkannya, jangan khawatirkan aku.” Lili menganggukkan kepala pelan, symbol bahwa dirinya sedang baik-baik saja.
“Errr kau yakin?” tanya Anderson yang malah terlihat tidak yakin.
“Yakin sekali, Ayolah pergi! Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kantormu yang super bersih itu.” Ucap Lili untuk mencairkan suasana.
Anderson pun mengangguk mengiyakan, keduanya langsung keluar dari rumah dan menguncinya, mobil Anderson yang tampak berubah warna sudah bertengger manis di halaman.
“Waow, cantik sekali warnanya.” Lili terkesima dengan warna mobil kakaknya yang berpaduan antara abu-abu serta merah ceri.
Anderson hanya mengangguk singkat, ia jadi teringat ketika Lili menguncinya dari dalam rumah, terkadang adiknya memang selalu bersikap menyebalkan.
Akhirnya kedua bersaudara itu pun memasuki kendaraan dan mendudukkan diri di sana, butuh waktu lima belas menit untuk sampai di kantor Anderson. Untung saja jalanan tidak begitu ramai karena ini termasuk hari weekend, tapi entah bagaimana para klien Anderson meminta untuk melakukan meeting.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka segera tiba di kantor, jam menunjukkan pukul Sembilan pagi dan di sana sudah ada dua kendaraan yang terparkir di basemen, padahal acara akan dilaksanakan pukl sepuluh nanti.
Lili tahu betul mobil siapa yang bertengger manis di sana, siapa lagi jika bukan Jaden, bahkan pria itu kini terlihat mondar-mandir didepan pintu masuk, sepertinya sengaja untuk menunggu Lilinya. Sedangkan Lili sendiri ia masih diam ditempatnya, ia melihat Jaden dari balik kaca mobil.
Ia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya didepan public seperti ini. “Kak, nanti kau berpura-pura saja tidak mengetahui hubunganku dengannya.”
“Baiklah.” Jawab Anderson sekenanya, padahal dalam hati ia juga merasa sebal pada Jaden yang pernah membuat adiknya sakit hati.
“Ayo, turun!” Seru Lili pada kakaknya. Pertama-tama ia menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan, Lili bisa. Rileks, rileks.
“Ya, Ayo.”
Lili dan Anderson turun dari kendaraannya, mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk perusahaan. Sontak saja detik itu pandangan Jaden langsung menuju ke arah Lili, ada gurat lega dari mata itu. Lili menggenggam tangannya yang agak gemetar, pertemuan ini mungkin akan terasa sangat berat.
“Ekhem! Selamat pagi, Tuan Petrovski. Kenapa anda datang sepagi ini dan juga malah berdiri didepan pintu?” Anderson sengaja mengacaukan fokus Jaden, ia melirik adiknya yang mencebikkan bibir kesal padanya. Oh ayolah, Anderson hanya ingin bermain-main dengan pria yang menjadi masa lalu adiknya, siapa tahu mereka bisa akrab kan?
Jaden langsung melepaskan tatapannya dari Lili meski ada rasa tidak rela, ia menatap Anderson dengan tenang. "Selamat pagi juga, Tuan Anderson. Saya hanya mencari udara segar di luar, hanya itu."
"Benarkah?" Anderson menautkan keningnya, sengaja memancing Jaden.
Lili menyenggol pelan bahu kakaknya, membuat Anderson tertawa geli dalam hatinya. Lihatlah wajah Jaden yang terlihat kuyu, padahal ia pernah mendengar rumor bahwa Jaden orang yang kaku dan sangat galak. Tapi apa ini? pria itu malah seperti orang yang kehilangan arah, apa ini karena sang adik?
"Baiklah baiklah, sekarang mari kita masuk ke dalam." Ajak Anderson setelahnya, ia sudah tidak tega melihat wajah cemberut sang adik.
Anderson mempersilahkan agar Jaden masuk terlebih dulu, tapi pria itu malah diam dengan masih menatap Lili yang merasa tidak nyaman dengan suasana tersebut.
"Bolehkah saya berbicara dengan adik anda? Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya." Kata Jaden pada Anderson.
Lili menatap Jaden dengan pandangan aneh seakan pria itu baru saja turun dari planet lain, sejak kapan Jaden harus meminta izin atas apa yang ingin ia lakukan?
Anderson menatap Lili sekilas, ia terlihat berpikir sejenak. Wajah Jaden terlihat harap-harap cemas dan lagi-lagi Lili memandangnya aneh. Dasar tidak jelas! Batin Lili menggelora.
Bukankah pria itu memiliki andil atas segalanya tentu saja ia bisa melakukan apapun, termasuk membuat Lili berada di sini sekarang.
"Ya, tentu saja karena pria sejati tidak akan mengingkari janjinya. Silahkan berbicara dengannya, anda mempunyai waktu satu jam sebelum acara pertemuan dimulai." Ujar Anderson yang terdengar pedas di telinga.
Lili menahan tawanya karena bisa-bisanya Anderson menyindir Jaden, belum tahu saja dia bahwa Jaden benar-benar orang yang mengerikan, andai saja kau tahu kak, batin Lili. Sedangkan Jaden sendiri merasa bahwa dirinya lah yang dimaksud, ia hanya diam dan mendengarkan karena memang ia merasa bersalah, terlebih lagi Anderson adalah calon kakak iparnya, mana berani ia menantang pria itu didepan Lili sendiri.
"Terimakasih." Ujar Jaden.
Anderson mengangguk singkat dan pergi dari sana meninggalkan Lili dan Jaden yang berdua saja, Jaden menghela napas lega, entah kenapa bertemu dengan anggota keluarga Lili membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Padahal kali ini hanya lah Anderson, belum lagi Ayah Lili suatu saat nanti. Jaden terus berharap agar hubungannya dengan sang gadis pujaan akan terus berlanjut hingga ke pelaminan.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku, apalagi menggunakan Kak Anderson sebagai perantara." Lili membuka percakapan awal, ada nada kesal dalam suaranya.
Satu langkah kaki Jaden menuju ke depan, ia ingin lebih dekat saja dengan kekasihnya.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu secara baik-baik, aku juga ingin meminta izin langsung dari kakakmu." Perkataan Jaden terdengar sangat tulus, tidak ada niat lain yang terselubung.
"Begitu?" Untuk kali ini Lili menghargai niat baik Jaden.
"Ya, Ayo kita bicara di tempat lain, kita butuh waktu untuk membicarakan masalah kita." Jaden mengajak Lili untuk pergi dari sana dan mencari tempat yang lebih cocok untuk saling berbicara, tangan Jaden terulur untuk menyentuh tangan Lili, tapi dengan segera Lili menjauhkan tangannya terlebih dulu.
Raut wajah Jaden terlihat kecewa karena penolakan gadis itu, entahlah hatinya terasa sakit.
"Bicara tentang kita? Apa maksudmu, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Sergah Lili dengan penuh penekanan didalamnya.
Rahang Jaden mengeras karena lagi-lagi gadisnya membangkan, sejujurnya ia tidak memiliki pengendalian kesabaran yang baik, masih syukur ia tidak menyeret gadis itu dan memaksanya untuk kembali padanya.
Dengan segera ia menyambar tangan Lili dengan asal, menariknya ke sebuah taman yang ada di samping perusahaan, taman ini terlihat sepi karena tidak ada karyawan yang masuk di hari Sabtu.
"Hei lepaskan tanganku, Jaden lepaskan tanganku." Lili berontak dan meronta ronta dari cengkraman kuat Jaden. Hingga sampailah ia di sebuah kursi taman, Jaden mendesaknya untuk duduk di sana.
"Duduk!" Perintahnya.
Lili pun menurut saja, ia duduk di kursi taman tersebut, entahlah kali ini ia merasa bahwa Jaden sudah diambang kesabarannya oleh maka dari itu Lili pun mengalah saja.
Tanpa diduga, Jaden langsung bersimpuh dihadapan Lili yang sedang duduk, lutut pria itu ia tekuk ke tanah, membuat celananya yang kotor dan berdebu. Sontak saja Lili terkejut dengan aksi gila pria itu, ia tidak mau di cap sebagai perempuan gila hormat atau apalah itu.
"Jaden, berdiri! Duduk saja di sampingku, jangan bertulut seperti ini." Lili menaruh tangannya ke pundak Jaden untuk membantu pria itu berdiri, tapi Jaden menggelengkan kepala tidak mau.
"Biarkan aku berlutut dihadapanmu, aku pantas melakukan ini karena rasa bersalahku padamu. Maafkan aku telah menyakitimu selama ini." Suara Jaden terdengar sangat frustasi, tangannya meraih tangan Lili dan menggenggamnya dengan lembut, terlihat bekas kemerahan karena perlakuan kasarnya tadi, Jaden merasa bersalah telah melukai gadis yang sangat ia sayangi itu.
Jaden membawa tangan Lili ke bibirnya, ia menciumnya dengan lembut, untuk sejenak darah Lili berdesir, jantungnya terasa berdegup kencang mendapat perlakuan dari Jaden selembut ini.
"Tangan ini memerah karena aku, pukul diriku Lili, ayo pukul!" Jaden menggerakkan tangan Lili agar memukulnya, namun Lili menahan kuat tangannya agar tak melakukan hal tersebut.
"Tidak, shhtt jangan Jaden, aku tidak apa-apa." Lili masih berusaha menahan tangannya agar tidak menampar wajah Jaden, sedangkan Jaden sendiri bersikeras menggerakkan tangan Lili agar mau memukulnya.
"Kenapa?" Jaden menghentikan aksinya, kini matanya teralih sempurna menatap Lili.
Lili mengulas senyumnya, ia berbalik menggenggam erat tangan Jaden, rasanya hangat dan nyaman. "Aku baik-baik saja."
Detik selanjutnya membuat Lili semakin terkejut, Jaden menitikkan air mata. Catat! Hal yang langka.
"Maaf, maafkan aku atas semuanya. Karena hal itu aku sampai membuatmu melihat kejadian mengerikan dan juga kau sempat melihatku bersama dengan perempuan lain."
DEG! Perkataan Jaden yang terakhir rasanya menghantam hati Lili. Selain karena sifat Jaden yang sangat brutal baru terbuka kedoknya di malam itu, Lili juga sempat melihat adegan Jaden yang sedang bermesraan dengan perempuan lain, hatinya terasa hancur karena dibohongi dan dikhianati, itu lah mengapa mati-matian Lili ingin segera pergi dari Seattle.
Lili mengerjapkan matanya untuk menahan air mata yang ingin tumpah, meskipun ia sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu tapi rasanya sangat sulit, tetap saja hatinya masih terasa sakit melihat Jaden berciuman dengan perempuan lain, dan bahkan parahnya lagi mereka saling menikmati satu sama lain.
Jaden yang melihat gadisnya menangis pun semakin dibuat merasa bersalah, ia memang menjadi penyebab kekacauan hati kekasihnya.
"Hukum aku, tapi jangan tinggalkan aku." Lirih Jaden. Bahkan kini ia membenamkan wajahnya di pangkuan Lili.
"Jaden, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, jangan ganggu aku." Lili berkata dengan sangat lirih.
Seketika itu juga Jaden langsung mengangkat kepalanya menatap Lili, ia menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Aku tidak mau, kau adalah milikku dan akan tetap seperti itu." Muncul lah Jaden yang keras kepala.
"Tapi aku tidak mau menjalin hubungan lagi denganmu." Jujur Lili meski hatinya berkata sebaliknya.
"Lihat aku, tatap aku sayang." Jaden meraih wajah Lili untuk menatap pada dirinya, ia mengelus pipi mulus itu dengan sangat lembut bak porselen.
"Kita akan kembali bersama dan mencintai seperti dulu, kau yang sangat mencintaiku. Lupakan masa lalu buruk yang pernah terjadi di antara kita, hanya akan ada kebahagiaan yang selalu menyelimuti hubungan ini." Jaden berkata dengan penuh harap, bahkan tangannya juga sambil gemetar.
Lili menggelengkan kepala pelan, ia juga tersenyum miris. "Untuk itu lah alasanku mau menemui dirimu, aku ingin menyelesaikan hubungan kita dan menjauh lah kau dari diriku. Kita memiliki kehidupan masing-masing, aku akan memaafkanmu, tapi untuk kembali padamu maka aku tidak bisa."
"TIDAK!" Jaden berteriak dengan keras, membuat Lili berjengkit kaget. Dalam situasi seperti ini tiba-tiba ingatan Lili tentang sifat Jaden yang seperti iblis di malam itu kini kembali mencuat, ia takut jika Jaden berbuat hal bodoh dan nekat.
Jaden berdiri dari bersimpuhnya, tubuhnya yang tinggi menjulang berhadapan dengan Lili.
"Kau adalah Liliku, selamanya akan begitu. Kita tidak akan bisa terpisahkan, aku mencintaimu dengan sangat." Desis Jaden dengan nada tajam khasnya.
Lili mulai terpancing emosi, matanya berkilat marah. "Jika begini maka kau tidak benar-benar mencintaiku, kau hanya terobsesi padaku."
"TIDAK! KU KATAKAN TIDAK, JANGAN MENGATAKAN HAL ITU, SANGAT MENYAKITI HATIKU." Jaden semakin berteriak-teriak, Lili meringis pelan, semoga saja para klien kakaknya tidak mendengar perdebatan tak berujung ini.
"Aku menyesal telah menolongmu dan mengenalmu dulu, lebih baik kau mati mengenaskan saja saat itu." Ujar Lili pada akhirnya, ini adalah kalimat paling keramat.
Mata Jaden berkilat kilat merah, ia tidak menyangka dari sekian banyak kata kasar ataupun kata umpatan, kenapa Lilinya menorehkan kalimat itu. Rasanya Jaden memang sudah terbiasa mendengar orang-orang yang menyumpah serapah dirinya agar mati, tapi tidak dengan Lili. Amarahnya memuncak mendengar perkataan Lili yang seolah menyesal karena menolongnya dulu.
Lili meneguk ludahnya dengan kasar, Jaden sangat mengerikan dengan raut marah seperti ini. 'Tamat lah riwayatmu, Lili. Karena telah membangunkan singa yang tertidur.' Jujur saja ia juga tidak berniat mengucapkan kata menyakitkan itu, tapi emosi yang menguasainya.
Pertemuan mereka pertama kali didasari atas pertolongan Lili pada Jaden, saat itu Jaden tengah terluka dan membutuhkan pertolongan, malam yang larut dan sepi membuat pria itu berjalan sempoyongan ke segala arah agar menghindari kejaran para musuhnya.
Saat itu Lili yang sedang menikmati angin malam karena tidak dapat tidur pun memutuskan untuk sekedar duduk-duduk di teras rumah sewaannya selama di Seattle, ia mendengar suara aneh dari belakang rumahnya, dengan segera ia mencari sumber suara itu dan menemukan seorang pria sedang duduk lemah di tanah. Lukanya yang menganga membuat Lili menjadi takut, apa pria itu termasuk komplotan mafia atau penjahat?
Namun, belum sempat Lili memutuskan jawabannya, tiba-tiba saja suara teriakan yang memanggil-manggil sebuah nama terdengar. Lili yakin bahwa sekelompok suara itu sedang mencari pria yang saat itu sangat lemah, tanpa berpikir dua kali, Lili langsung membantu pria itu berdiri dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tatapan keduanya saling beradu sejenak, mengantarkan aliran rasa tak biasa.
Pria tersebut merupakan Jaden, ia yang telah ditolong Lili. Selama dua hari Jaden tinggal dan dirawat oleh Lili di rumahnya, pria itu masih diam dan memperhatikan gerak gerik Lili, ia berpikir bahwa bagaimana mungkin ada orang yang menolong orang asing dan merawatnya sepenuh hati, terlebih lagi Lili tidak mengetahui siapa dia, dan Lili juga sangat tulus merawatnya. Hingga puncaknya saat Jaden sudah sembuh dan ia berniat untuk pergi dari rumah Lili, entahlah ada rasa tidak rela saat Jaden meninggalkan rumah itu.
Jaden membalas semua kebaikan Lili meskipun si empunya terus menolak, Lili berkata bahwa ia menolongnya dengan tulus, tidak mengharapkan imbalan. Jaden memberikan Lili hadiah berupa mobil keluaran terbaru, karena selama Jaden melihat Lili pergi kemana pun menggunakan kendaraan umum. Dengan paksaan luar biasa karena Jaden anti untuk berhutang, Lili pun terpaksa menerimanya. Selama beberapa bulan Lili dan Jaden tidak saling bertemu atau pun berhubungan, tiba-tiba saja Jaden bertemu Lili lagi di sebuah panti asuhan, Jaden tidak sengaja melewati panti tersebut dan melihat Lili tertawa lepas bersama anak-anak, disaat itulah darah Jaden berdesir, ia memang tidak bisa melupakan gadis baik itu.
Semua terjadi begitu saja, Jaden akhirnya bisa menjalin hubungan dengan Lilinya. Meski saat itu ia tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri, apakah cinta atau obsesi. Mereka saling berpacaran dalam kurun waktu enam bulan saja, enam bulan yang penuh dengan lika-liku. Hingga malam itu terjadi, Lili melihat Jaden berselingkuh darinya, Lili juga mengikuti kemana Jaden pergi hingga sampai lah ke sebuah bangunan tua yang tak terawat. Di sana, Lili melihat Jaden begitu brutal membunuh semua musuh-musuhnya, bahkan darah menciprat ke pakaiannya, satu hal yang masih sangat mengguncang hatinya; Jaden meraup darah musuhnya dan meminumnya, saat itu pula Lili merasa mual dan memuntahkan semua isi perutnya. Jaden seperti iblis, bukan manusia.
Selama satu tahun semenjak kejadian berdarah itu Lili terus bersembunyi dengan memilih pergi dari Seattle, ia pulang ke London untuk kembali ke keluarganya dan harus pindah kuliah juga. Hingga pada akhirnya beberapa hari lalu Jaden menemui dirinya lagi, Lili tidak siap.
"Kau menyesal telah menyelamatkan nyawaku?" Nada marah sangat jelas terdengar.
Lili menggigit bibir dalamnya, ia tidak berniat berkata itu. "Ya."
Jaden langsung duduk di samping gadis itu, matanya menatap lekat seseorang yang ia cintai selama ini. Jaden memegang erat dagu Lili dan mengarahkannya tepat ke arahnya.
"Tahukah kau bahwa perkataanmu tadi sangat melukai hatiku, aku sering mendapatkan ucapan semacam itu dari orang lain. Namun, baru kali ini aku sangat sakit karena kau lah yang mengatakannya." Jaden mendesis tepat didepan wajah Lili, membuat gadis itu ciut seketika nyalinya.
Lili mati kutu, ia mati-matian menahan keberaniannya agar tidak menciut.
"Aku benar-benar tidak bisa kembali padamu, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Jee, anggap saja kita tidak pernah bertemu atau pun menjalin sebuah hubungan, kita memiliki jalan hidup masing-masing. Jika maaf yang kau inginkan, maka aku sudah memaafkanmu." Tukas Lili setelah bersusah payah mengumpulkan keberaniannya.
Jaden menggelengkan kepala kasar, ia mengelus rahang mulus Lili, terlihat bekas kemerahan di sana akibat ulahnya. Jaden memajukan posisinya hingga hidung mereka saling bersentuhan, Lili merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut hingga berusaha untuk menjauh, tapi cengkraman tangan Jaden begitu kuat.
"Tidak akan." Dua kata muncul dari bibir pria itu, ada senyuman menyeringai di sana.
Lili seolah lupa bahwa Jaden bukan pria yang baik, ia pria licik dan akan melakukan apapun dengan seenaknya meski hal itu dapat merugikan siapapun. Lili merasa merinding melihat seringaian itu, seolah sedang melihat Jaden di satu tahun yang lalu. Iblis!
Jaden memainkan bibir Lili dengan jari-jarinya, mengusapnya dengan perlahan hingga lipstik Lili menjadi tak karuan, Jaden memperhatikan jarinya yang terdapat bekas lipstik merah mudah dari gadisnya, ia menjilat jarinya sendiri.
"Manis, hahaha." Tawa Jaden menggelegar sesaat setelah menjilat lipstik Lili yang menempel di jarinya.
Lili meneguk ludah susah payah, Jaden mulai terlihat kegilaannya dan ini tidak baik untuknya.
"Lipstikmu sangat manis, sayang! Lalu bagaimana dengan bibirmu sendiri, pastinya terasa sangat nikmat." Jaden masih bermain-main dengan Lilinya, sesungguhnya dalam dirinya ia sudah emosi mendengar perkataan menyakitkan yang dilontarkan gadis itu, tapi sebisa mungkin Jaden menahan amarahnya agar tidak melukai gadisnya. Lili terlalu berharga untuknya.
Melihat Lili yang terdiam dengan wajah pucat pasi membuat Jaden terkekeh geli, tangannya beralih menuju rambut gadis itu dan mengelusnya pelan. Lili menahan napasnya saat Jaden menegapkan tubuhnya dan mencium keningnya, ia membeku ditempat.
Ciuman Jaden pada keningnya terasa hangat, tulus dan penuh akan kasih sayang, Lili bisa merasakan itu. Ia mendongak menatap tepat maka lekat itu, benar saja memang Jaden menatapnya dengan penuh cinta, tak ada lagi amarah dan emosi yang membuncah.
"Aku mencintaimu." Ujar Jaden dengan nada tulusnya.
Lili terdiam, kenapa Jaden membuat semuanya menjadi rumit, kenapa sulit sekali Lili menjauh dari pria itu setelah luka yang ditorehkannya?
"Aku akan membuatmu kembali cinta padaku, aku akan menunggumu menerima diriku lagi. Jangan menyuruhku untuk menjauhimu, karena setiap sudut dirimu berada, maka di sana akan ada aku yang terus mengawasimu." Tukas Jaden dengan pandangan datarnya.
"Jangan coba-coba kabur lagi dariku, my lil." Tambahnya, ia sangat terluka saat Lili menjauhinya. Namun, Jaden menjadikan hal itu sebagai waktu agar Lilinya bisa menenangkan diri. Sudah cukup satu tahun berlalu dan Jaden akan kembali untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi miliknya.
Setelah mengatakan hal itu Jaden berdiri dari duduknya, ia melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu meninggalkan Lili yang terpaku memikirkan perkataan pria itu.