Lili yang tadinya berniat ingin merebahkan diri pun malah tidak bisa tidur, padahal niatnya ia ingin tidur siang serta mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Otaknya masih terus terngiang tentang sikap Jaden dan Wiliam, kedua pria yang akhir-akhir ini sering berseliweran dalam pikirannya.
Lili mendudukkan dirinya seraya menyenderkan tubuh pada kepala ranjang, ia baru tahu tentang Jaden dan Wiliam yang saling mengenal. Untuk apa Jaden merasa cemburu dengan Wiliam, toh ia dan Wiliam tidak memiliki hubungan apa-apa.
Yah, meskipun Lili tahu bagaimana sifat serta perangai Jaden sedari dulu. Pria itu sangat protektif serta terobsesi pada Lili. Dulu Lili seringkali ingin lepas dari Jaden karena tidak tahan dengan sifatnya, tapi Jaden pula selalu menahannya, Lili tidak bisa pergi dari sisi pria itu. Hingga puncaknya adalah ketika malam itu.
Satu tahun yang lalu... Lili saat itu sedang asyik menikmati makan malamnya dengan tenang, ia baru saja pergi bertemu dengan Jaden di pagi hari, pria itu mengatakan akan membawanya ke taman hiburan untuk refreshing minggu depan. Tentu saja Lili senang, tepat pukul delapan malam, ia mendengar pintu rumah sewaannya diketuk dari luar.
Lili sempat tidak ingin membukakan pintu karena untuk antisipasi, siapa tahu di depan sana ada orang jahat kan?
Namun, pintunya masih terus diketuk semakin tak sabaran, bahkan hingga gedoran. Alhasil, Lili pun membukakan pintunya dan menemukan ada seorang pria berpenampilan carut marut.
Pria itu berkata agar Lili segera menemui Jaden yang akan berkelahi dengan musuhnya, Lili diminta untuk menghentikan Jaden dan merayunya agar tidak jadi berkelahi. Lili terdiam, Jaden memang pernah berkata pada dirinya bahwa memiliki banyak musuh, tapi Lili tetap saja terkejut.
Nial, nama pria yang menemui Lili. Saat itu entah bagaimana Lili percaya pada pria tersebut padahal ia hanya pernah bertemu dengannya satu kali sebelumnya, Lili pernah diperkenalkan oleh Jaden dengan Nial, Jaden hanya bilang bahwa Nial adalah salah satu temannya. Hanya Nial, tidak ada teman Jaden lainnya yang Lili ketahui, pria itu tetap dengan prinsip kemisteriusannya. Bahkan saat keduanya menjalin hubungan, Lili tidak tahu tentang kehidupan Jaden yang sebenarnya, keluarga Jaden pun Lili tidak tahu, karena Jaden tidak pernah membahasnya.
Saat itu dengan segera Lili menyambar asal tasnya dan meninggalkan sepiring makan malamnya yang belum habis. Nial membawa Lili ke sebuah bangunan tua, tampak depan memang terlihat sangat tidak terawat. Akan tetapi, didalamnya terlihat rapi dan bersih.
Nial berkata akan mengurus urusan lain demi mencegah musuh Jaden yang akan datang dan Lili diminta untuk mencari
Lili menelusuri lorong bangunan itu, langkah Lili terhenti saat mendengar suara-suara desahan. Dengan langkah hati-hati serta jantung yang berdegup kencang, Lili mengikuti arah suara itu. Kakinya telah sampai di depan sebuah pintu ruangan, Lili membukanya dengan hati-hati. Hatinya mencelos saat melihat Jaden yang naked sedang berada disebuah ranjang bersama wanita lain, pria itu menindihnya lalu memberinya ciuman-ciuman mesra. Air mata Lili tak terbendung, ia langsung menutup pintu dengan cepat, ia tidak ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Tangan dan kaki Lili gemetar, lututnya terasa lemas. Jaden mengkhianatinya, padahal pria itu sudah menjanjikan kesetiaan serta ketulusan padanya, tapi apa ini? Lili merasa dibohongi oleh Nial, bukan bertengkar dengan musuhnya, tapi Jaden malah bermesraan dengan wanita lain. Sudah seharusnya Lili tidak mempercayai kata-kata manis yang Jaden janjikan dulu, pada faktanya Jaden memang seorang b******n.
Baru saja ia ingin keluar dari bangunan tua tersebut, suara bedemum keras terdengar, disusul dengan suara tembakan yang nyaring. Lili mulai panik, ia memang sudah sering mendengar tembakan pistol ketika dirinya diculik oleh rekan bisnis Daddy-nya dulu. Tapi ini berbeda, Lili yang tidak siap karena hatinya terasa sakit serta hancur pun hanya bisa memilih untuk menyembunyikan diri. Bisa saja ia ikut membantu Jaden dan Nial untuk melawan mereka, tapi gadis itu tidak peduli. Hatinya sudah terlanjur kecewa karena pengkhianatan Jaden, biarkan saja pria itu saling bunuh dengan musuhnya.
Lili langsung mencari tempat perlindungan diri, ia bersembunyi di balik lemari kayu usang yang dengan sekali tendang bisa rapuh. Hanya itu yang bisa digunakan Lili untuk sembunyi, terlebih lagi sekelompok orang mulai berdatangan dan menyerbu bangunan itu. Yang Lili ingat mereka tampak mengenakan pakaian berwarna coklat tua dengan lambang tengkorak di bahu kanannya, mereka semua membawa senjata.
Lili meringkuk di sudut lemari, ia menekan lututnya kuat-kuat serta berusaha untuk tidak menciptakan suara. Di antara celah lemari tersebut, Lili bisa melihat aktivitas mereka yang memang saling melempar tembakan pistol. Lili hanya bisa berdoa semoga saja posisi keberadaannya tidak diendus oleh mereka. Lili tidak mau mati konyol, sudah susah payah ia kemari tapi malah yang ia dapatkan berupa pengkhianatan Jaden.
Gadis itu menyimak dari balik celah-celah lemari, di sana ia melihat Jaden yang berjalan dengan sempoyongan, tampak pakaiannya tidak beraturan. Lili berdecih, sekuat tenaga menahan air matanya yang akan meluncur. Di tangan Jaden sudah membawa dua pistol sekaligus, pria itu menembak asal-asalan agar semua musuhnya langsung mati seketika.
Bahkan ada satu peluru Jaden melesat ke arah lemari yang Lili gunakan untuk bersembunyi. Lili memekik tertahan, peluru itu mengenai jari kaki kirinya. Sebisa mungkin ia menekan mulutnya agar tidak menghasilkan suara rintihan, syukurnya suara kegaduhan mereka mampu meredam isak Lili.
Dalam gelap, Lili berusaha meneliti jari kaki kirinya, tentu saja darah mengucur dari luka itu. Lili keringat dingin, tubuhnya sangat pucat, tapi ia masih berusaha mempertahankan kesadarannya.
Suara adu tembak sudah tak terdengar lagi, Lili mendongakkan kepala memfokuskan penglihatannya. Jaden berdiri dengan nyalang di hadapan tiga orang pria yang masih hidup, pria itu tersenyum menyeringai. Jaden yang menang!
Ketiga pria itu tak mendapatkan luka tembakan seperti yang lain, Lili berpikir bahwa pria-pria itu memiliki jabatan yang lebih tinggi dari yang lainnya. Jaden menyeret mereka dan melemparkannya dengan kasar, ketiga pria itu pun tersungkur di lantai yang tergenangi darah.
Nial datang dari arah yang tak terduga, pria itu membawa tas hitam besar. Jaden mengkode Nial untuk segera mendekat, ternyata di dalam tas itu berisi alat-alat tajam. Mata Lili membulat sempurna saat melihat Jaden mengambil satu pria dan menyiksanya secara perlahan, Jaden menyayat kulit wajah pria itu dengan pisaunya.
Napas Lili terhenti untuk beberapa saat, erangan pria itu terdengar sangat keras hingga membuatnya merinding. Ya, Jaden yang menyiksanya dengan brutal. Lili meneguk ludahnya susah payah, Jaden seperti pembunuh berdarah dingin.
Genangan darah semakin banyak hingga pria itu benar-benar meninggal, menyisakan dua orang lainnya.
Dari yang Lili dengar, salah satu pria itu berkata bahwa riwayat Jaden tak lama lagi, bisnis gelapnya akan segera diendus pihak berwajib. Lagi-lagi Lili tercengang saat mengetahui bahwa Jaden memiliki bisnis senjata dan obat-obatan terlarang, bahkan dari mulut Jaden sendiri ia akan menjual organ pria yang telah dibunuhnya saat itu.
Keterlaluan! Jadi, selama ini seperti itu sifat pria yang menjadi kekasihnya?
Lili ingin keluar dari persembunyiannya dan memaki-maki Jaden, tapi urung dilakukan. Ia memiliki rencana lain, kesempatan ini akan ia gunakan untuk pergi menjauh dari hidup Jaden, Lili akan pulang ke rumahnya saja.
Lili memejamkan mata selama Jaden menyiksa orang-orang itu dengan kejam, ia tidak tega mendengar teriak kesakitan mereka. Dalam hati Lili bertanya-tanya, apakah Jaden menyiksa mereka lebih kejam dan tidak memberikan kematian yang muda? Dua orang pria yang bernasib sama dengan pria pertama atau bahkan lebih.
Setelah suara kesakitan tidak terdengar lagi, Lili membuka matanya, ia mengintip di celah lemari. Hal yang lebih menyeramkan merasuk pada mata Lili, Jaden mengambil orang-organ penting di tubuh pria-pria tadi dan meletakkannya di dalam toples. Sekujur tubuh Jaden terciprat oleh darah segar, tapi pria itu bahkan tidak merasa jijik, Jaden terlihat menyeramkan dengan penampilan seperti itu.
Lili tidak menyangka bahwa Jaden akan sekejam itu, tak sengaja mata Lili menangkap korban Jaden. Perutnya terasa mual saat melihat seonggok tubuh tanpa kulit. Jaden benar-benar biadap, pria gila!
Wajahnya semakin pucat ketika Lili merasa pusing karena engap di dalam lemari, belum lagi darah dari kakinya yang tertembak serta melihat kejadian mencengangkan beberapa saat lalu, semuanya merangsek masuk di otak gadis itu hingga membuatnya berpikir banyak. Rasa bersalah menyelinap di hatinya, kenapa ia tidak menghentikan kegiatan Jaden tadi? Kenapa Lili membiarkan Jaden menyiksa serta mengambil nyawa manusia dengan keji.
Ia menggeleng pelan, Lili menangkup wajahnya dengan gemetar. Jiwa kemanusiaan Lili seolah memaksanya untuk menyesali serta meraung-raung.
Di sela-sela penyesalannya, Lili mendengar Nial mengatakan bahwa dirinya ada di sana. Lili panik dan berharap agar Jaden tidak mengetahui keberadaannya. Bisa ia lihat wajah Jaden seketika memucat, tubuhnya mematung dan terkejut.
Jaden terdengar marah-marah pada Nial, kenapa membiarkan dirinya datang ke tempat ini. Lili tersenyum kecut, Jaden pasti merasa terganggu jika kegiatan mesranya dengan wanita lain terbongkar dengan mata kepala Lili sendiri.
Dasar pria licik nan kejam! Dengan kesadaran yang semakin menipis, Lili menunggu Jaden serta Nial pergi dari sana. Dan benar saja, Jaden langsung kalang kabut mencari keberadaannya. Kesempatan itu Lili gunakan untuk keluar dari lemari, dan ia berjalan tertarih-tatih mencari kendaraan di tengah malam larut.
Lili tidak pulang ke rumahnya karena ia yakin bahwa Jaden akan mencarinya ke sana. Lili memilih hotel untuk tempatnya berlindung selama semalaman itu, dan paginya Lili melaporkan Jaden pada polisi.
Lili tidak tahu pasti bagaimana kasus itu ditindak, siangnya ia langsung mencari data-data pentingnya dan pergi dari Seattle. Dari yang Lili ketahui dengan singkat, Jaden sempat ditangkap serta dimintai keterangan.
Lili benar-benar meninggalkan Seattle, meninggalkan Jaden beserta kenangan dan masa-masa buruknya, ia ingin memperbaiki hidupnya. Langkahnya untuk menuntut pendidikan di negeri orang ternyata tak semulus yang ia kira, di sana ia bertemu Jaden dengan segala sisi negatifnya.
Untuk sesaat Lili bisa lega, ia melanjutkan hidupnya di kota tempat kelahirannya, London. Orangtuanya sempat bertanya-tanya kenapa Lili memutuskan pindah, Lili hanya beralasan bahwa ia tidak nyaman hidup di negeri orang. Untung saja orangtuanya tidak curiga, mereka siap membantu Lili berpindah kampus.
Lili hidup dengan nyaman, ia merasa lebih bebas dan tidak terbebani dengan Jaden. Pria itu pastinya sudah dipenjara atas kesalahannya, Lili melanjutkan hidupnya dengan bahagia seta dikelilingi orang-orang baik. Gadis itu juga menjadi relawan di panti asuhan, jiwa sosialitas serta kemanusiaannya semakin tinggi. Di sana, berkumpul dengan orang-orang yang kurang beruntung ternyata merupakan titik bahagia dihidupnya, Lili bisa mengerti apa itu kesederhanaan tapi juga bisa menjadi kebahagiaan.
Orangtua Lili malah senang melihat sang anak yang memiliki kepedulian dengan sesama manusia, mereka bahkan siap menyetor dana untuk membantu keperluan panti asuhan.
Hingga satu tahun yang tenang itu sudah berlalu...
Lili dikejutkan dengan kemunculan Jaden dihidupnya lagi. Ya, Jaden yang datang ke dalam hidupnya semenjak satu tahun kejadian malam itu.
Jaden datang dengan membawa cinta yang masih melekat pada diri Lili.
Lili tersadar dari lamunannya, tak terasa air matanya meluruh saat memutar memori kelam di masa lalu. Di detik ini, Lili masih merasa ragu dengan perasaannya.. Apakah ia masih memiliki rasa cinta untuk Jaden?
Hmm entahlah.
Jaden masih belum berubah sampai sekarang, pria itu malah lebih menyebalkan dari dulu. Lili masih belum tahu bagaimana caranya Jaden bisa lepas dari tuduhannya dulu? Apa Jaden juga tahu bahwa dirinya yang melaporkannya ke polisi?
Jika, ya. Apa Jaden memiliki dendam pada Lili dan ingin membalasnya? Lili harus berhati-hati dengan pria itu, ia tidak boleh asal percaya dengan Jaden. Bagaimana pun juga Jaden adalah seorang pria yang kejam.
Lili tidak mau terperangkap ke lubang yang sama, sudah cukup ia termakan rayuan ulung Jaden, sekarang tidak lagi.