19

1641 Words
Lili sudah mengantarkan Margrit sampai ke rumahnya tadi, ia sempat ditawarkan untuk mampir tapi Lili menolak karena tubuhnya sedang lelah. Kini gadis itu membelokkan kendaraannya untuk masuk ke dalam real estate tempat tinggalnya, Lili melihat-lihat ke sekitar, di sana ada beberapa orang yang berjalan santai karena sore hari ini udara terasa sejuk. Lili juga ingin melakukannya, tapi tubuhnya meminta untuk segera direbahkan ke ranjang. Akhirnya ia sampai juga di rumah. Lili turun dari kendaraan untuk membuka pintu garasi, sepertinya Anderson masih belum pulang karena tidak ada tanda-tanda keberadaan sang kakak. Mengingat Anderson tadi membuatnya terkekeh geli, ternyata kakaknya bisa mati kutu di hadapan seorang gadis. Lili malah berharap jika Anderson pulang malam sekalian, ia ingin melihat perkembangan hubungan kakaknya dengan Ester. Lili memasuki lagi mobilnya lalu membawanya masuk ke dalam garasi, setelah di rasa pas, ia turun segera turun untuk beristirahat. Baru saja ia akan menutup pintu garasi, deru mobil lain menginterupsi. Lili kira itu adalah Anderson, tapi ternyata bukan. Ia menautkan keningnya merasa asing dengan kendaraan itu, tapi ketika si pemilik turun dari mobilnya. Lili paham betul pria itu. "Jaden?" Gumam Lili. Ya, pria itu adalah Jaden, ia berjalan dengan cepat untuk mendekati Lili. Rahangnya yang tegas nampak mengetat, pandangannya menatap Lili tajam, oh jangan lupakan map yang ada di tangan kiri pria itu. Lili masih berdiri di antara pintu garasi, ia bingung melihat keadaan Jaden yang terlihat marah. Ada apa dengan pria itu? Langkah Jaden semakin cepat, tiba-tiba saja Lili merasa atmosfer menjadi panas. Setibanya tepat di depan Lili, Jaden langsung merengkuh pinggang gadis itu dengan sekali sentakan kasar. Lili memekik terkejut atas sikap Jaden yang secara mendadak itu. Pandangan mata Jaden dan Lili saling bertemu, dengan jarak sedekat ini Lili semakin yakin bahwa Jaden sedang marah. "Katakan, darimana saja kau dari tadi?" Tanya Jaden, bola matanya masih fokus menatap Lili dengan pandangan menyelidik. "Kenapa kau bertanya begitu?" Lili mengerjap-ngerjapkan matanya, otaknya belum bisa fokus dan mencerna keadaan. "KATAKAN!" Suara Jaden meninggi, refleks Lili mengencangkan pegangannya erat. Ini adalah pertama kalinya Lili melihat Jaden berteriak padanya, ia nampak mengerikan. "Katakan, Lili." Jaden semakin mendekatkan tubuhnya, ia merengkuh tubuh Lili. Jika dilihat dari kejauhan, posisi mereka seperti sedang berpelukan mesra. "Aku pergi ke tempat pelatihan." Ujar Lili dengan benar, Jaden juga pasti tahu apa yang dimaksud tempat pelatihan. Namun, pria itu menggeleng pelan, bibirnya bergerak menggumamkan kata-kata yang tidak bisa Lili pahami. "Kau berbohong! Katakan yang sejujurnya." Mata Jaden berkilat-kilat marah, ia tak mau dibohongi. Sebelah tangan Jaden mengapit rahang Lili dengan keras seakan ingin menghancurkannya, Lili mendesis kesakitan, Jaden sudah mulai mengeluarkan mode iblisnya. Satu hal yang dibenci Lili dari Jaden, yakni seringnya melakukan hal-hal kasar meski dalam skala kecil. Entah dari menggenggam tangan Lili erat hingga memar kebiruan dan mencengkram rahang Lili seperti saat ini. Jaden memang tidak pernah menampar atau memukulnya, tapi tetap saja Lili merasa khawatir jika suatu waktu Jaden melakukan itu, terlebih lagi ia tipe pria yang mudah terpancing emosi. Lili langsung melepaskan rengkuhan Jaden dengan sepihak, ia memundurkan langkahnya untuk memberinya jarak. Rahangnya terasa ngilu, Lili menatap Jaden dengan pandangan bertanya-tanya, kenapa Jaden tiba-tiba saja datang dengan marah-marah seperti ini. "Aku berkata dengan sebenarnya, aku tidak berbohong." Tandas Lili. Jaden membuka map yang ia bawa dan menunjukkan lembaran demi lembaran foto yang berisi tentang Lili sedang tertangkap kamera saat berada di apartemen Bougenville beberapa saat lalu. Foto itu sepertinya diambil saat security dan Samuel sudah pergi, posisi itu saat Lili berjalan masuk ke dalam dan muncul Wiliam secara tiba-tiba. Dan hanya ada satu pose yang mana ia dan Wiliam saling berhadapan, tak ada pose lain. Sepertinya si pengambil foto sengaja ingin menjebaknya kan. "Apa ini 'hah? Sedang apa kau berada di apartment Bougenville dan masuk ke unit Wiliam? Asal kau tahu, aku dan Wiliam saling mengenal dengan baik, kau tidak boleh dekat dengannya." Jaden menggerakkan foto demi foto itu di depan wajah Lili. Lili terdiam, ia tidak menyangka bahwa Jaden masih menguntit dirinya sama seperti dulu tatkala mereka baru kenal untuk pertama kalinya. Kebiasaan Jaden belum berubah, pria itu masih egois dan tidak bisa menaruh kepercayaan pada orang yang dikasihinya. Melihat keterdiaman Lili membuat Jaden semakin terpancing emosi, hatinya panas melihat gadisnya berada satu ruangan tertutup dengan pria lain, ia cemburu dengan sangat. "Jawab aku! Apa yang telah kau lakukan bersama Wiliam? Kau sudah melakukan apa dengannya." Pertanyaan Jaden semakin tidak mendasar, Lili seolah-olah dituduh untuk mengakui apa yang tidak ia perbuat. "Jaga pikiran kotormu itu, Jaden! Entah siapa mata-matamu itu tapi pastikan bahwa dia memang dapat dipercaya, aku berada di sana bahkan tidak lebih dari 3 menit. Apa yang bisa aku lakukan dengan waktu sesingkat itu 'hah? Berciuman, berpelukan atau bercinta?! Kau tidak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana bisa kau menuduhku yang tidak-tidak." Tukas Lili dengan nada menggebu-gebu. Jaden terlihat ingin menyela, tapi Lili langsung meneruskan ucapannya tanpa mau dipotong. "Aku kecewa padamu, ku pikir setelah satu tahun berlalu sifat egoismu itu bisa berubah, nyatanya malah semakin menjadi. Kau tidak bisa memiliki kepercayaan pada orang yang kau kasihi, kau selalu merasa curiga dan protektif. Lalu, bagaimana dengan perasaanku ketika melihatmu berbagi ranjang serta kehangatan dengan wanita lain di malam itu? Dan biar ku ingatkan sekali lagi, didetik ini hubungan kita masih menggantung, aku belum menerimamu lagi sepenuhnya. Jadi, jangan recoki kehidupanku lagi. Apapun yang kulakukan kau tidak berhak melarangku." Lanjut Lili setelahnya, ia merasa puas karena telah mengatakan unek-unek hatinya. Biarlah Jaden merasa terpuruk akibat perkataan Lili, gadis itu sudah muak pada tingkah Jaden yang menurutnya sangat keterlaluan. Jaden terpaku di tempat, ia merasa gelagapan. Apa yang dikatakan Lili memang bennar, tidak seharusnya dia langsung percaya pada foto-foto itu dan menuduh Lili sembarangan. Jaden tahu bahwa Lili adalah gadis yang baik-baik, meskipun kini dirinya sedang tidak menjalin hubungan serius pada Jaden. Namun, sejauh yang Jaden tahu Lili tidak akan melakukan hal-hal yang rendahan. Seumur hidup Lili, Jaden adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah mencium bibirnya. Jaden juga tahu tentang fakta itu, jadi mana mungkin Lili berbuat aneh-aneh dengan Wiliam. Ini karena emosinya yang mudah tersulut dan rasa cintanya pada sang gadis hingga membuat Jaden gelap mata dan mengedepankan amarah. Mengungkit kejadian di masa lalu membuat hati Jaden merasa tersayat, di malam itu ia dijebak oleh seorang wanita yang tergila-gila padanya. Jaden tidak sadar jika pria itu telah melakukan hal tak senonoh, ia juga baru sadar jika di sana ada gadisnya yang menatap dengan penuh kekecewaan. Tanpa disadari Lili meneteskan air matanya, hatinya mencelos saat Jaden menuduhnya, ia bukan wanita seperti itu. "Maafkan aku, sayang. A- aku tidak bermaksud menyinggungmu..." Ucapan Jaden terputus saat Lili mengangkat tangannya, menyuruh Jaden berhenti bicara. "Sudah cukup, aku tidak mau melihatmu lagi. Sekarang pergilah dari rumahku." Lili menggerakkan dagunya ke arah gerbang keluar, bahkan matanya tidak ingin bersitatap dengan Jaden. Jaden menggeleng-gelengkan kepala tidak mau, ia harus meminta maaf pada Lili karena telah menuduhnya. Baru saja kemarin ia mendapatkan kesempatan kedua untuk mendekati Lilinya lagi, sekarang kesempatan itu malah ia hancurkan sendiri karena pikiran egoisnya. "Aku akan melakukan apapun yang kau suruh, asalkan dirimu bisa memaafkan aku." Jaden mencoba meraih tangan Lili, tapi Lili segera menepisnya kasar. Jaden yang mendapatkan perlakuan itu pun hanya melihatnya nanar, ia keterlaluan. Bodoh, sungguh bodoh kau Jaden! Lili tersenyum sinis, selalu saja begitu. Jaden akan berjanji dan selalu berjanji ketika ia melakukan kesalahan, tapi kedepannya pria itu akan tetap menyakiti hati Lili. Belum sembuh luka yang telah Jaden torehkan, pengkhianatan, kebohongan, melihat dengan kepala Lili sendiri bahwa Jaden adalah orang bertangan dingin. Jaden bisa saja melakukan kejahatan dengan membunuh banyak nyawa, tapi ia juga dapat bebas dari segala tuntutan. Bukankah ini sangat tidak adil? Bagaimana dengan hak asasi manusia serta rasa kemanusiaan itu sendiri, sepertinya dua hal itu sudah lenyap dari prinsip dasar Jaden sebagai manusia. Lili adalah gadis yang berjiwa sosial tinggi, menghargai sesama manusia. Sifat Jaden dan Lili sangat bertolak belakang, kehidupan Lili selama ini ia dedikasikan untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Saat dirinya tahu bahwa Jaden memiliki bisnis ilegal dibalik perusahaan marketingnya, Lili sangat syok. Jaden sudah terbiasa berkecimpung didunia gelap, sedangkan Lili sangat cerah. "Tidak ada yang bisa kau lakukan, Jade! Aku tidak ingin melihatmu, segera pergi lah." Ujar Lili dengan pelan, tatapan matanya kosong saat menatap Jaden. Ia sudah terlalu banyak dikecewakan, ia butuh mengistirahatkan pikiran serta otaknya. Jaden yang melihat wajah lemas Lili pun tak sampai hati melanjutkan keinginannya, untuk saat ini ia akan mengalah dan memilih pergi saja. Keadaan Lili tidak memungkinkan untuk dipaksa memaafkannya. "Aku akan pergi sekarang, tapi aku akan kembali lagi nanti. Istirahat lah dengan cukup, jangan sampai kau jatuh sakit. Aku mencintaimu, my lil." Jaden melangkah mendekati Lili, Lili hanya diam. Cup! Jaden mengecup dahi Lili, membuat gadis itu menegang kaku. Selalu seperti ini jika keduanya terlibat adu mulut, sebelum Jaden pergi ia akan mencium dahi Lili dengan penuh kelembutan serta kasih sayang. Jaden mengamati wajah gadisnya, ia menyeka sisa-sisa air mata di pipi Lili. "Jangan menangis, sekali lagi aku minta maaf." Mendapat perlakuan hangat membuat jantung Lili berdegup dengan kencang, ia melihat kepergian Jaden yang menuju pada mobilnya. Kendaraan beroda empat itu segera pergi dari rumah Lili, sedangkan sang gadis hanya terdiam melihat mobil itu yang semakin menjauh. "Jee, kenapa kau melakukan ini?" Desahnya pelan. Lili berbalik badan untuk menutup garasi mobilnya, melewati pintu yang terhubung antara rumah dan garasi. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya, pun dengan pikirannya yang terasa rumit. Kenapa masalah tentang Jaden belum juga usai. Lili mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan santainya, ia menyingkap selimut lalu masuk ke dalamnya. Lili menatap ke arah lang-langit kamar, pikirannya melang-lang buana pada kejadian akhir-akhir ini. Di mulai dari Wiliam yang sudah bersikap agak longgar padanya, Wiliam tidak menatapnya sinis seperti dulu lagi. Mungkinkah Wiliam sudah sadar diri, bahkan pria itu tadi mengatakan terimakasih padanya. Lalu Jaden, pria dengan segala keprotektifannya. Tidak hanya hari ini, dulu Lili sering mendapatkan larangan ini itu dari Jaden, pria itu apakah benar-benar mencintainya atau hanya terobsesi padanya. Mungkin saja keduanya, cinta dan obsesi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD