10. Kedua Kalinya

1568 Words
Sesuai dugaan Sean. Para wartawan bergerombol di lantai lobby. Mereka semua menunggu kedatangan Ana. Untungnya Sean sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Di perjalanan tadi dia mampir ke sebuah toko membeli masker, topi dan kaca mata hitam. Melihat banyak wartawan, Ana panik. “Shittt, mereka mengejarku sampai sini. Bagaimana ini?” “Aku yang akan mengatasi mereka,” ucap Sean menenangkan. “Atasi masalah yang baru saja kau timbulkan. Bersihkan namaku dan jauhkan para pemburu berita itu dariku.” Perintahnya bernada sarkastik. Mengabaikan apa pun yang Ana katakan. Sean sedang memasang masker, kaca hitam juga topi. “Miss Ross, coba perhatikan bagaimana penampilanku. Apakah mereka masih mengenaliku sebagai, Mr. Benedic?” “Tidak.” “Kalau begitu, ayo kita masuk.” “Tunggu.” Sean mendongakkan wajahnya ke bawah. Matanya berbicara. Apa? “Di balik kaca mata hitam, masker juga topi. Kau bisa menyembunyikan identitasmu. Sementara aku, mereka akan tetap mengenalimu sebagai Anastasia Ross.” “Percayakan semuanya padaku.” Langkah tegas terlihat lebar menuju lift. “Cih, percaya padamu? Tidak sudi.” “Harus, Miss Ross, atau masalah ini akan berlarut-larut.” Garis bibir membentuk senyum sinis. “Bagaimana caraku mempercayaimu? Buktinya saja kau menyeretku ke dalam masalah besar.” “Masalah besar tersebut akan segera terselesaikan.” Mendongakkan wajahnya ke bawah. Matanya menahan mata Ana. “Para wartawan akan mengambil gambarmu. Pastikan ekspresimu biasa-biasa saja. Jika tidak, mereka akan menuliskan berbagai gosip dan hal tersebut akan mempengaruhi karirmu, mengerti?” “Kau yang menciptakan masalah dan kau juga yang mengaturku. Dasar gila.” Maki Ana. “Dan yang membuatku gila adalah kau, Anastasia Ross.” Gumamnya dengan memasang wajah dingin. Melihat Ana. Para wartawan langsung menyerbu. Wanita berambut lurus bertanya. “Miss Ross, siapa laki-laki ini?” Wanita bertubuh montok menambahkan. “Di mana, Mr. Benedic?” Laki-laki kurus kerempeng menyahut. “Miss Ross, apa hubungan Anda dengan laki-laki ini?” Wanita berambut ikal ikut-ikutan menyahut. “Apakah laki-laki ini kekasih Anda?” Laki-laki bertubuh gendut mencondongkan speaker ke depan Sean. “Sir, tolong tunjukkan wajah Anda.” Ana geram. Ingin mengamuk saja rasanya. “Turunkan aku. Biar aku atasi mereka.” “Jangan memancing mereka menuliskan berbagai gosip tentangmu.” Matanya sibuk menatap para wartawan yang berjumlah lebih dari 15 orang, masing-masing dari mereka dia tandai. “Saya tahu memburu berita adalah tugas kalian, tapi Miss Ross sedang sakit. Beri kami akses masuk.” Wanita berambut ikal menghadang di depan pintu lift. “Jawab dulu pertanyaan saya. Siapa Anda dan apa hubungan Anda dengan, Miss Ross?” “Saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan, Miss Ross.” “Kalau begitu Anda ini siapanya, Miss Ross? Kenapa Anda menggendongnya?” “Saya bodyguard nya. Beri kami akses masuk.” “Sejak kapan Miss Ross memiliki bodyguard? Selama ini Miss Ross tidak mau di kawal. Ini aneh.” Menoleh ke sesama rekan wartawan. “Iya, kan?” “Ya, itu benar.” “Miss Ross, sengaja tidak mau mempublikasikan para bodyguard nya. Berhubung kakinya sakit dan tidak bisa berjalan-” “Lalu di mana yang lain? Kenapa hanya Anda yang menemani, Miss Ross?” Wanita berambut ikal bertanya. “Yang lain berjaga di depan kamar.” Ana menggeram kesal. “Mr. Benedic, apa yang kau katakan?” Mengabaikan pertanyaan Ana. Sean masuk ke dalam lift lalu memencet angka 12. Lift bergerak naik dan terdengar suara ting, pertanda lift sudah sampai pada lantai yang di tuju. Pintu lift terbuka sempurna. “Turunkan aku.” “Nanti setelah sampai di kamarmu.” Kali ini, Ana benar-benar kesal. Dia menggigit lengan kekar. Refleks Sean mengaduh kesakitan. “Auch, jangan di gigit, Ana. Ehm, maksud saya ... Miss Ross.” “Turunkan aku!” Bentak Ana. “Tapi kamarmu masih ada di depan sana.” “Turunkan aku, Mr. Benedic!” “Tidak.” “Kalau begitu terima gigitanku.” “Ya, lakukan.” Ana tahu semua itu akan percuma. Akhirnya, ia menyerah dan pasrah sampai Sean membawanya pada pintu kamar. Lelaki tersebut memintanya segera menekan pasword. Ana melirik ke atas meyakinkan bahwa Sean tidak melihatnya. Sejujurnya, Sean melihat dan berusaha mengingatnya, akan tetapi tatapan mengancam dari sepasang manik biru memaksanya membuang pandangannya ke arah lain. Pintu terbuka sempurna. Sean bertanya. “Kau mau duduk di sofa atau langsung ke kamar saja?” “Turunkan aku di sini.” “Dengarkan saran dari dokter supaya kakimu yang mengembung itu kembali mengecil.” Bagi Ana, percuma saja mendebat Sean. Lelaki ini super keras kepala dan tak terbantahkan. Di embuskannya napas panjang. “Bawa aku ke sofa.” Dengan hati-hati mendudukkan Ana kemudian hendak membantunya menselonjorkan kaki sebelah kanan, akan tetapi di hunjam tatapan mematikan. “Kakimu kan masih sakit. Bagaimana kalau kupesankan menu makan malam? Apakah kau setuju?” “Segera tinggalkan apartement-ku.” “Mulai detik ini aku bodyguard mu. Jadi aku akan di sini, mengawalmu selama 24 jam.” Kali ini, Ana tidak dapat mengontrol emosinya. “KELUAR!” Jari telunjuk mengarah ke pintu berselimut tatapan nyalang. Sean bergeming. Dengan kasar menyentak lengan kekar. Sial, Sean kehilangan keseimbangan mengakibatkan tubuh kekar menimpa tubuhnya, dan bibirnya mencium bibir Ana. Ciuman tanpa di sengaja ini pun terjadi untuk kedua kalinya. Sean memejamkan matanya. Ingin rasanya melumat, melesakkan lidahnya masuk menyalurkan kerinduan yang selama 2 tahun terpendam. Akan tetapi dorongan keras pada d**a bidang membawa kesadarannya kembali. Dengan segera beranjak dari tubuh ramping. “Sorry.” “Apalagi yang kau tunggu, hah? Pergilah.” Usir Ana tanpa mau melihat wajah Sean. Jujur, ia gugup. Sikap Sean berubah dingin. “Sebagai bodyguard Anda. Saya akan tetap di sini, melindungi Anda dari mata jahat.” “Aku tidak butuh perlindungan.” “Mr. Hitman, Paman Anda menyetujui bahwa Anda akan di kawal oleh saya selama 24 jam.” Pandangannya berubah sinis. “Kau sudah merencanakan hal ini dengan matang, hah?” “Itu tidak benar.” “Omong kosong. Keluar atau kupanggilkan security supaya menyeretmu dari apartement-ku.” “Sesuai janji saya pada Mr. Hitman, saya tidak akan meninggalkan Anda sendirian, Miss Ross.” Dada Ana naik turun menahan amarah. “DAN KAU AKAN TINGGAL DI APARTEMENT-KU JUGA, HAH?” “Ya, jika hal tersebut memang di butuhkan.” “Sekalian saja kau mengikutiku ke kamar mandi.” Sinis Ana. “Dengan senang hati, Miss Ross.” Dalam hati bersorak gembira. Dan kita bisa mandi bersama. Mengulang masa-masa indah dulu. Lanjutnya dalam hati. Sorot mata Ana mengancam. “Jangan pernah bermimpi melakukannya karena aku sendiri yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku, Mr. Benedic.” “Cukup panggil saya, Sean. Karena nama Benedic akan saya sematkan pada wanita istimewa yang nantinya bersedia menua bersama.” “Hanya wanita bodoh yang mau melakukannya.” “Buktinya dua tahun silam kau bersedia melakukannya hingga pesta pertunangan di gelar. Namun, malam itu berubah mencekam dan menakdirkan kita berpisah. Sekarang, tak akan kubiarkan takdir mempermainkan cinta kita dengan sangat kejam, Anastasia Ross.” Gumamnya. Ana menangkap rahang tegas mengeras, sorot mata menggelap, kedua tangan mengepal erat. Apakah dia tersinggung oleh perkataanku? Pikirnya. “Sekali lagi, aku jelaskan. Aku tidak menerimamu sebagai bodyguard-ku.” “Saya tekankan. Di sini, saya bekerja pada, Mr. Hitman.” “Kau ini seorang CEO. Kenapa kau memaksakan diri menjadi bodyguard-ku, hah?” Suasana hening sesaat. “Aku tidak bisa menerima pria asing sepertimu mengawalku selama 24 jam.” Mereka baru di pertemukan dalam beberapa hari terakhir semenjak Ana menjadi brand ambasaddor Sapphire dan iRhone. Sejauh ini yang dekat dengannya adalah Luke Drawis. “Saya akan menunggu di luar. Jika membutuhkan sesuatu-” menjeda kalimat lalu merebut ponsel Ana, dan memasukkan nomornya ke ponsel bermerk iPhone tersebut. “Hubungi saja saya.” “Sampai meregang nyawa sekali pun. Aku tidak sudi meminta bantuanmu, Benedic.” -- Sean berjaga di depan pintu. Dia menangkap lelaki tampan berjalan ke arahnya. Lelaki tersebut mengernyit padanya. “Siapa kau dan apa yang kau lakukan di depan kamar Ana?” “Saya bodyguard nya.” Menyelidik penampilan Sean. Bodyguard nya Ana. Sejak kapan Ana memiliki bodyguard? Tanyanya dalam hati. “Sekarang ini, Miss Ross, sedang istirahat. Apabila Anda ingin bertemu dengannya. Silakan kembali lagi besok.” Selama ada aku di sisi Ana. Tak akan kubiarkan siapa pun mendekatinya termasuk kau. “Berani sekali kau memberiku perintah, hah.” Bentak Nick. “Sorry, Mr. Nick. Saya hanya menjalankan perintah dari CEO Enstein Group.” “Siapa nama CEO mu?” “Mr. Benedic.” Mendengar nama Benedic yang sangat berpengaruh di Dunia bisnis. Nick bergetar. Akhirnya dia memutuskan pergi karena tidak mau berurusan dengan Enstein Group yang akan berakibat fatal pada bisnis kecil-kecilan yang baru saja dia rintis. Sean membuka masker juga kaca mata hitam. Dia tampak memijat kedua alis di antara pangkal hidung kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding. “Seandainya saja malam mencekam itu tidak terjadi. Sekarang ini, kita sudah bersama sebagai sepasang kekasih mengiringi kuncup bunga yang mulai bermekaran, Ana.” Ada panggilan masuk. Sean mengira Ana yang meneleponnya ternyata Freddy. “Hello, Freddy.” “Malam ini, apartement di sebelah Miss Ross akan di kosongkan dan besok pagi sudah bisa Anda tempati.” “Terima kasih, Freddy.” “Sama-sama, Sir.” Mendengar suara langkah kaki mendekat. Sean memutuskan memakai kembali masker dan kaca mata hitam. Laki-laki dan perempuan yang terlihat seperti sepasang kekasih menatapnya penuh selidik lalu masuk ke dalam kamar. Sean kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding, kepala mendongak ke atas menatap langit-langit. “Ana, apakah kau sudah tidur?” Tanyanya entah pada siapa karena nyatanya dia sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD