bc

Terperangkap Dalam Dunia Sang Mafia

book_age18+
24
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
arrogant
heir/heiress
bxg
bold
city
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Demi pengobatan neneknya, Ayana nekat mendatangi ayahnya di kota Bandung—pria yang telah membuangnya demi kehidupan baru. Namun, kota besar justru menyambutnya dengan maut.

Di sebuah terminal, ia terjebak dalam perburuan berdarah penguasa gelap bernama Altarez Atmaja, pria yang dijuluki "Si Mata Elang".​

Dalam kepanikan, Ayana melakukan kebohongan gila: mengaku sebagai istri sang Mata Elang untuk melindungi dirinya dari gangguan lelaki jalanan. Ia tidak sadar, pria yang ia klaim sebagai suaminya sedang berdiri tepat di hadapannya dengan luka menganga.​

Satu balutan sapu tangan dari Ayana ternyata memicu obsesi gelap dalam diri Altarez. Di saat yang sama, pengkhianatan kekasih dan keluarganya mulai terungkap. Ayana terjepit di antara cinta masa lalu yang penuh dusta dan perlindungan dari seorang pria kejam yang ternyata menyimpan rahasia tentang nyawanya sejak belasan tahun silam.​

Siapakah pahlawan yang sebenarnya? Dan mampukah Ayana selamat ketika Si Mata Elang mulai mengklaim kebohongannya sebagai kenyataan?

chap-preview
Free preview
Pengakuan Dadakan
"Selamat Datang di Terminal Kota Bandung Raya. Harap periksa kembali barang bawaan Anda..." Seruan dari pengeras suara terminal berdengung, membelah kebisingan mesin bus yang baru saja berhenti sempurna. Ayana Septia menarik napas dalam-dalam. Aroma asap knalpot yang bercampur dengan debu menyambut indra penciumannya. Ia mengeratkan pegangan pada tas selempang lusuhnya. Rambut panjangnya yang hitam legam tertiup angin sepoi-sepoi, membingkai wajah cantiknya yang tampak lelah namun penuh tekad. Selamat datang Bandung, Tolong ramahlah sedikit padaku kali ini bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Pikiran Ayana melayang pada sang Nenek di desa. Bayangan wajah tua yang kian pucat karena penyakit itu menjadi semangat tersendiri baginya. Sebenarnya, Ayana sangat membenci kota ini. Baginya, Bandung adalah tempat yang telah menculik ayahnya, Baskoro. Sejak ayahnya menikah lagi dengan wanita kota dan memiliki keluarga baru, pria itu tak pernah sekali pun menanyakan kabarnya. Namun, biaya rumah sakit yang cukup mahal tak memberinya pilihan lain. Harga dirinya harus ia rendahkan demi sang nenek. Langkah kaki Ayana saat turun dari tangga bus dengan sedikit gemetar. Sepatu sneakernya yang sederhana menapak di lantai semen yang retak. Ia merasa kecil di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang. Di kota ini, ia tahu ada Angga Nugraha, kekasihnya yang sudah lebih dulu mengadu nasib di sebuah perusahaan elit. Angga adalah secercah harapannya, satu-satunya orang yang ia percayai bisa membantunya melawan kekejaman kota. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. BUGH! BUGH! BUGH! Suara benturan keras dan langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah belakang terminal, tepatnya di area dekat toilet umum. Kerumunan orang yang tadinya acuh tak acuh tiba-tiba berubah menjadi gerombolan manusia yang panik. Mereka berlarian menjauh, wajah-wajah mereka dipenuhi ketakutan. "Ayo, cepat pergi! Menjauh dari sini jika masih sayang nyawa! Ada Si Mata Elang di sana!" teriak seorang pria paruh baya sambil menarik lengan istrinya. Ayana terpaku. Si Mata Elang? Nama itu terdengar seperti julukan dalam film aksi yang pernah ia tonton di televisi. "Mata Elang? Maksudmu Altarez Atmaja?" tanya pria lain yang berlari bersisian dengan mereka. Suaranya gemetar hebat saat menyebut nama itu. "Siapa lagi kalau bukan dia! Dia sedang mengamuk! Ayo cepat!" Ayana membeku di tempatnya. otaknya menyuruhnya ikut berlari, namun rasa ingin tahunya tertahan oleh pemandangan di depannya. Di saat semua orang menjauh, seorang pria muncul dari balik pilar beton. Pria itu bertubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam yang kini sobek di bagian lengan. Cairan merah kental mengalir deras dari sana, menetes di lantai terminal yang berdebu. Pria itu tampak melemah. Tatapan matanya yang tajam mulai meredup. Ia jatuh terduduk, menyandarkan punggungnya pada dinding yang penuh coretan grafiti. Tidak ada satu pun orang yang berani mendekat. Semua orang menunduk. Ayana tidak tahu siapa itu Altarez Atmaja. Di telinganya, nama itu hanya sekadar nama penguasa yang ditakuti, bukan sosok yang mematikan. Yang ia lihat saat ini hanyalah manusia yang sedang kehabisan darah. Hati nuraninya terketuk. Dengan langkah yang mantap, Ayana berjalan mendekat. Ia berlutut di depan pria itu, mengabaikan aura dingin yang memancar dari tubuh sang pria. Ayana merogoh saku kemejanya, mengambil sapu tangan putih bersih miliknya. Tanpa ragu, ia merobek kain itu menjadi beberapa bagian panjang. "Maaf, kamu terluka parah. Biar aku balut lukamu agar darahnya berhenti," ucap Ayana lembut, nyaris seperti bisikan. Altarez Atmaja, sang penguasa gelap yang ditakuti seluruh penjuru Bandung, tersentak. Ia mendongak, menatap gadis yang berani menyentuhnya. Baru kali ini, ada sepasang mata jernih yang menatapnya dengan rasa prihatin yang tulus. "Tahan sebentar, ini akan sedikit sakit," lanjut Ayana. Alta terdiam. Ia merekam setiap detail wajah gadis itu—bulu mata yang lentik, hidung yang kecil, dan bibir merah muda yang bergerak-gerak kecil karena konsentrasi. Namun, kekaguman itu buyar saat Ayana menarik simpul kain itu terlalu kencang. "Au.. akh!" ringis Alta, suaranya berat dan serak. Ayana terkesiap, wajahnya memucat karena rasa bersalah. "Ah! Maaf, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin darahnya berhenti merembes. Tahanlah, sebentar lagi selesai." Ayana memegang punggung tangan Alta dengan tangan kirinya, mencoba memberikan kekuatan. Orang-orang di luar sana sangat menginginkan aku mati, tetapi gadis asing ini malah begitu peduli padaku, batin Alta. Sesuatu yang asing mulai tumbuh di rongga dadanya—sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Obsesi. "Sudah siap. Sebaiknya kamu segera ke rumah sakit. Luka ini butuh jahitan," ucap Ayana sambil berdiri. Ia memberikan senyum kecil yang sopan, berniat melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Namun, sebelum Ayana sempat berbalik, sebuah tangan besar yang kuat menyambar lengannya. Alta menariknya dengan satu sentakan. Tubuh Ayana yang mungil kehilangan keseimbangan, ia terjatuh tepat ke dalam pelukan Alta. Sebelum Ayana sempat protes, Alta mencengkeram tengkuknya. Pria itu menunduk dan menyambar bibir Ayana dengan ciuman yang brutal dan penuh tuntutan. "Hmpp.. lepaskan! Lepas!" Ayana memukul d**a Alta, mencoba melepaskan diri dari pagutan itu. Alta melepaskan ciumannya, namun tidak melepaskan dekapannya. Ia menatap Ayana yang kini terengah-engah dengan bibir yang basah dan pipi merah padam. "Kamu ini apa-apaan?! Dasar lelaki gila!" teriak Ayana dengan suara gemetar. Ia merasa terhina sekaligus takut. "Aku menyukaimu," ucap Alta dengan suara rendah. "Mulai sekarang, kau adalah milikku. Jangan pernah berpikir untuk pergi." Ayana merasa dunianya berputar. Lelaki ini pasti sudah gila karena kehilangan terlalu banyak darah. Ia mencoba menggertak, menggunakan nama yang tadi ia dengar sebagai senjata. "Jangan lancang! Kamu tidak tahu siapa aku? Aku... aku adalah istri dari pria paling ditakuti di kota ini!" ancam Ayana, suaranya sedikit melengking karena gugup. Alta menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya berubah menjadi geli yang dingin. "Oh ya? Siapa suami yang hebat itu?" Ayana memutar otak secepat kilat. Ia teringat nama yang membuat semua orang lari kocar-kacir tadi. "Altarez Atmaja! Ya, dia suamiku! Jika kau tidak melepaskanku sekarang, dia akan mencarimu dan menghabisimu!" Keheningan menyelimuti sudut terminal itu. Alta menatap Ayana dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu sebuah seringai muncul di wajah tampannya. Belum sempat Alta membalas ucapan gadis dihadapannya, suara derap langkah sepatu pantofel yang berat mendekat. Sekelompok pria berpakaian hitam-hitam muncul. "Bos! Bos! Maafkan kami terlambat. Kami sudah membereskan orang orang dari keluarga Jaya yang menyerang Anda tadi," ucap seorang pria bernama Devan, orang kepercayaan Alta, sambil membungkuk hormat. Dunia seolah berhenti berputar bagi Ayana. Ia menoleh perlahan ke arah pria yang baru saja ia tolong, lalu ke arah Devan yang memanggil pria itu dengan sebutan bos. "Bo-bos?" gumam Ayana, suaranya nyaris hilang. Devan melirik Ayana dengan bingung, lalu kembali menatap Alta. "Dia bos kami. Altarez Atmaja. Si Mata Elang" Devan menjelaskan kepada Ayana yang dinilainya bukan gadis yang berasal dari kota ini. Pipi Ayana merah padam,Ternyata dia Si Mata Elang itu. gumam Ayana dalam hati. Tanpa membuang waktu, Ayana memutar tubuhnya secepat mungkin. Ia tidak ingin melanjutkan urusannya dengan Alta. Namun, gerakan Ayana terlalu lambat bagi sang Mata Elang. Tangan Alta kembali mencengkeram lengan Ayana. Kali ini lebih kuat, lebih dominan, hingga Ayana tak mampu bergerak. Alta mendekatkan wajahnya ke telinga Ayana, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Ayana berdiri. "Mau kemana, Sayang? Bukankah seorang istri harus ikut suaminya pulang?" Ayana mematung. Jantungnya berdegup begitu kencang. Lidahnya kelu, dan semua rencana untuk menemui ayahnya seolah menguap begitu saja.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.6K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.2K
bc

TERNODA

read
200.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook