Janji Palsu Pak Baskoro

1273 Words
Ketegangan di sudut terminal Bandung itu mulai mereda, berganti dengan ketakutan Ayana terhadap pria di depannya. Lidahnya benar-benar kelu, berhadapan dengan Alta membuatnya mati kutu. Namun, sebisa mungkin Ayana tidak menunjukkan ketakutannya. Ia tahu, jika hal itu terjadi bisa saja Altarez menjadi besar kepala. "Siapa bilang aku istrimu?" tanya Ayana dengan suara yang dibuat tetap stabil, meski pipinya sudah merah padam menahan malu. Tangannya yang mungil mengepal, memukul-mukul d**a bidang Altarez. "Lepaskan! Kau gila ya?" Dekapan tangan Altarez yang besar terlampau kuat untuk Ayana yang dididik secara lembut dan penuh kasih sayang neneknya. Alta tidak merasa sakit sedikit pun oleh pukulan gadis itu. Justru, ia merasa tertantang. Selama hidupnya yang dikelilingi kekerasan, belum pernah ada gadis yang berani menolak setelah ia menunjukkan ketertarikannya. Alta semakin mendekatkan wajahnya. Hidungnya yang mancung bertemu tepat di pangkal hidung Ayana, memaksa gadis itu menatap manik matanya. "Sebentar lagi kau akan benar-benar menjadi istriku. Aku akan menikahimu," jawab Alta tanpa ragu. Bulu kuduk Ayana berdiri tegak. Ia belum pernah bertemu dengan pria yang memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi, meski ia tak bisa menampik bahwa dalam jarak sedekat ini, wajah Alta memang sangat tampan dan gagah dalam aura yang gelap. "Gila! Aku tidak mau! Lepaskan!" rancau Ayana mulai histeris. Karena tidak punya pilihan lain untuk membebaskan diri, Ayana menarik tangannya, dan... PLAK! Satu tamparan mendarat di pipi Altarez. Tamparan itu sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hantaman tinju dari musuh-musuh di dunia gelapnya, namun dampaknya jauh lebih besar. Wajah Alta berpaling perlahan, dan dekapan pada tubuh Ayana mengendur karena rasa terkejut. Saat itulah Ayana melihat celah untuk kabur. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia mendekap tas lusuhnya erat-erat. Devan tertegun melihat pemandangan itu. Matanya membulat tak percaya. Bosnya, penguasa kota yang ditakuti, baru saja ditampar oleh seorang gadis desa yang asing? Ia segera berniat mengejar untuk memberi pelajaran pada gadis itu. "Bos, dia telah lancang menampar Anda! Biarkan saya memberinya pelajaran!" seru Devan geram. "Biarkan dia pergi, dia calon istriku" jawab Alta enteng, tangannya menyentuh bekas tamparan di pipinya . Seringai tipis muncul di wajahnya. "Tapi Bos... Anda bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih segalanya dari dia, lagi pula dia telah berani menampar Anda!" protes Devan yang masih tidak terima. "Dia hanya gugup, Devan" balas Alta dengan nada santai yang membuat Devan semakin melongo. Baru kali ini Altarez Atmaja membiarkan seseorang pergi dalam keadaan sehat setelah menghinanya. Alta menatap ke arah jalan dimana Ayana terakhir kali terlihat. "Aku ingin data diri gadis itu secepatnya!" "Baik, Bos" ***** Penthouse keluarga Baskoro tampak sangat mewah dengan nuansa gold yang mendominasi. Taman yang tertata rapi menjadi pemandangan yang menyambutnya ketika gerbang tinggi yang menjulang di depannya terbuka. "Maaf Nona, Anda mencari siapa?" tanya seorang pelayan wanita dengan tatapan bingung, ia memandangi Ayana dari atas hingga bawah. "A-aku mencari ayahku, Pak Baskoro," ucap Ayana cepat. Pelayan itu tersentak. Gosip tentang anak Baskoro dari desa memang sering terdengar di kalangan pekerja rumah tangga, namun mereka tak menyangka gadis itu benar-benar akan muncul. "Ah... silakan masuk, Nona. Mari saya antar." Ayana mengikuti langkah pelayan itu menyusuri lorong yang dipenuhi lukisan mahal dan guci-guci kristal. Ia sampai di ruang keluarga yang sangat luas. Di sana, Baskoro tengah duduk santai. Di sampingnya ada Vina, ibu tirinya yang tampak modis, dan Jihan, adik tirinya yang sedang asyik memamerkan sebuah tas branded keluaran terbaru. "Ayah, Ibu, lihat! Bagus tidak? Teman-temanku pasti iri!" seru Jihan sambil memutar-mutar tas itu di depan wajahnya. "Sangat bagus, Sayang," jawab Baskoro hangat. Hati Ayana teriris melihat pemandangan itu. Rasa iri yang tak bisa ia bendung menyeruak. Di saat ia harus membantu neneknya berjualan kue basah setiap subuh hanya untuk menyelesaikan sekolah dulu, Jihan bisa mendapatkan kemewahan dengan gampangnya. "Ayana? Ngapain kamu datang kesini?" tanya Jihan dengan nada tidak suka saat menyadari kehadiran kakaknya. "Sudah cukup berani ya kau datang ke kota sendirian," sambung Vina dengan nada bicara yang meremehkan. Ayana menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Aku ke sini karena Nenek sedang sakit parah, Yah. Aku ingin meminta ayah membantuku membayar pengobatan nenek. Aku hanya butuh seratus juta." "Seratus juta?!" jerit Vina, ia langsung berdiri dan melipat tangan di depan dadanya. "Tidak ada, itu banyak sekali, Ayana!" Tolaknya kasar. Ayana melirik tas di depan Jihan. Matanya menangkap tag harga yang belum dilepas. "Tapi Yah... setahuku dulu Kakek mewariskan banyak perusahaan untuk Ibu. Kenapa setelah Ibu tiada, Ayah malah membawa mereka dan menikmati harta Kakek, sementara aku dan Nenek menderita? Aku hanya minta seratus juta untuk pengobatan Nenek, bukan minta tinggal di sini!" Baskoro melihat kemarahan di mata istrinya. Ia segera mendekat ke arah Ayana, mencoba menengahi. "Sudah, sudah. Ayana, Ayah janji akan membantumu. Tapi keuangan perusahaan sedang menurun, ayah tidak bisa janji mampu memberikan sesuai permintaanmu. Sekarang beristirahatlah dulu di sini, Ayah akan urus semuanya. Bilang pada Nenek, kau menginap di sini dua-tiga hari." Ayana sedikit luluh. Ia merasa lelah secara fisik dan mental setelah berhadapan dengan pria gila tadi. Baskoro lalu memanggil pelayan. "Antarkan Nona ke kamarnya." Namun, saat Ayana berjalan menjauh, Vina berbisik pada pelayan itu. "Bawa dia ke kamar pelayan yang kosong." Setelah kepergian Ayana. Baskoro, Jihan dan Vina duduk di sofa kembali. Jihan langsung merapat pada ayahnya. "Yah, ayah benar mau memberikannya 100 juta?" Tanya Jihan khawatir. Bu Vina pun ikut mengangguk dan berbicara, "Benar, nenek tua itu kan sudah sakit parah, jika kita memberinya terlalu banyak juga percuma. Ujungnya dia akan m*ti" Perkataan Bu Vina memang tidak manusiawi, namun Baskoro tidak bisa membantah karena ia sangat mencintai Vina. "Kalian berdua tenang saja, perusahaan kita memang sedang krisis. Ayah sengaja menyuruhnya untuk menginap karena ayah telah memiliki satu rencana. Ada seseorang yang dari dulu sudah menaksirnya karena dia di percaya bisa membawa hoki. Kita akan dapat banyak uang darinya" Ucap Baskoro dengan terkekeh. Mata Jihan dan Bu Vina berbinar senang mendengar rencana Baskoro. Mereka tidak tahu hal ini sebelumnya. **** "Silahkan Nona, Nyonya menyuruhmu untuk tidur di kamar pelayan" Ucap sang pelayan yang mengantarnya tak enak hati. Ayana sedikit keberatan namun ia memilih untuk menerima daripada ia tidak mendapatkan uang sama sekali. Pelayan itu langsung meninggalkan Aya begitu saja setelah mengantarkannya ke kamar. Kamar itu kecil, pengap, dan hanya berisi ranjang tidur single dengan sprei yang sudah mulai lusuh dan nakas kayu yang kusam. Ayana menjatuhkan dirinya di sana. Tubuhnya terasa remuk. Kruyuk... Perutnya berbunyi nyaring. Sejak turun dari bus, ia belum makan apapun selain minum air mineral sisa yang ia bawa dari desa. Ia lapar, sangat lapar. Namun, ponsel jadul di tasnya bergetar membuatnya mengalihkan perhatian pada ponsel itu. Nama sang nenek terpampang di layar. "Nenek?" gumamnya lirih. Ayana segera menjawab panggilan itu. "Halo, Nek?" "Aya... kau sudah sampai?" suara lemah neneknya terdengar dari seberang. "Sudah, Nek! Ayah baik sekali, dia sudah menyiapkan uang untuk Nenek. Sekarang pelayan sedang membuatkan makanan enak untukku. Nenek jangan khawatir ya, aku mungkin akan menginap di sini beberapa hari atas permintaan Ayah," ucap Ayana dengan suara yang dibuat seceria mungkin, meski air matanya hampir jatuh. Diseberang sana, sang nenek menghela napas lega, setidaknya cucunya dalam keadaan baik baik saja. "Syukurlah, setidaknya ayahmu masih punya hati" Setelahnya panggilan terputus secara sepihak, mungkin ponsel sang nenek kehabisan pulsa. Ayana memandangi ponsel di tangannya. Pikirannya melayan jauh pada kondisi kesehatan sang nenek dan juga ucapan sang ayah yang tidak mampu membantu banyak. "Hm, mungkin selama disini aku harus cari kerja sampingan. Aku harus kuat demi Nenek." gumamnya, menyemangati diri sendiri. Cukup lama Ayana diam dalam posisi duduk, ia teringat masih memiliki sepotong roti yang sengaja ia bawa dari desa. Diambilnya roti itu untuk mengganjal perutnya yang lapar. Setelahnya ia akan beristirahat agar bisa mencari pekerjaan sampingan besok. Malam itu, di bawah temaram lampu bohlam, Ayana tertidur lelap, hanyut dalam mimpi indahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD