Identitas Telah Ditangan

1130 Words
Pagi itu, kediaman megah milik Altarez Atmaja tampak begitu sunyi. Di balik pagar keliling yang menjulang tinggi dengan penjagaan ketat para pria berseragam hitam, sang penguasa tengah sibuk menanti kabar dari Devan. Di ruang tamu yang luas dan dingin, Altarez duduk di sofa kulitnya yang mahal. Ia mengenakan setelan kemeja hitam dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka, menampilkan dadanya yang bidang. Jaket kulit hitamnya tersampir asal di pegangan kursi, seolah ia siap pergi kapan saja. Matanya yang tajam terus menatap ke arah jendela besar yang terhubung langsung ke arah gerbang utama. Tak lama, sebuah mobil sedan mengkilap masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Altarez tersenyum senang, sebuah ekspresi yang jarang terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Devan, orang kepercayaannya, melangkah masuk dengan cepat. Ia membawa sebuah map tebal di tangannya. "Ini data diri gadis yang Anda minta, Tuan," ucap Devan seraya menyerahkan map itu dengan rasa hormat. "Gadis itu bernama Ayana Septia," lanjut Devan. Alta membuka map itu dengan gerakan cepat. Ia membaca lembar demi lembar dengan seksama. Alisnya terangkat karena terkejut saat melihat silsilah keluarga gadis itu. Ayana ternyata bukan gadis sembarangan; ia adalah anak dari seorang yang lumayan berpengaruh di sektor perdagangan kota Bandung. "Bagus. Kau sudah mengetahui keberadaannya sekarang?" tanya Alta tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen tersebut. "Informasi yang saya dapatkan mengatakan bahwa Nona Ayana bekerja di sebuah hotel mewah di pusat kota. Baru hari ini dia mulai bekerja," ucap Devan hati-hati. "Kerja? Istri seorang Altarez Atmaja harus bekerja?" Alta menutup map itu dengan keras hingga suaranya menggema di ruangan tersebut. Tanpa membuang waktu, Alta bangkit dari duduknya. Map itu diserahkan kembali ke arah Devan. Dengan langkah lebar dan penuh wibawa, ia berlalu meninggalkan ruangan. "Bos mau ke mana?" tanya Devan yang berusaha mengejar langkah sang bos. "Mencari istriku," jawab Alta asal, namun jawaban itu tidak sepenuhnya asal. Alta memang berniat menghampiri Ayana di tempat kerjanya. Setiap bodyguard yang dilewati Alta di dalam rumah langsung menunduk. Devan yang tertinggal di belakang hanya bisa berlari kecil untuk menyamai langkah Alta, ia merasa bingung dan tak habis pikir bagaimana bosnya yang berdarah dingin bisa tiba-tiba menjadi sangat posesif terhadap seorang gadis desa yang baru ditemuinya kemarin. **** Di sebuah hotel berbintang yang menjadi kebanggaan kota Bandung, Ayana tengah berjuang menjalani hari pertamanya bekerja. Ia berjalan berdampingan dengan seorang kepala kebersihan yang sedang memberinya instruksi. "Baiklah Ayana, ini adalah hari pertamamu bekerja. Kamu bisa mulai membersihkan dari area lobi ini. Pastikan semuanya bersih," ucap petugas itu ramah. Ayana mengangguk dengan semangat. "Baik, Bu. Terima kasih banyak." Ayana mulai bekerja dengan sangat teliti. Di masa training ini, ia diminta untuk membersihkan sebuah guci antik besar yang menjadi pajangan di sudut ruang tunggu lobi. Dengan sebuah lap yang lumayan lusuh namun bersih, Ayana mengusap setiap lekukan guci itu dengan hati-hati. Ia bekerja dengan tulus, membuat kepala kebersihan yang memperhatikannya dari jauh tersenyum puas karena melihat dedikasi gadis muda itu. Namun, ketenangan itu terusik ketika pintu lobi terbuka. Seorang wanita dengan dandanan menor dan pakaian yang sangat minim masuk dengan gaya angkuh. Dia adalah Angel, manajer HRD yang terkenal galak dan hanya menilai orang dari penampilannya saja. Kemarin, saat Ayana mendaftar, ia tidak bertemu dengan Angel melainkan dengan staf lain. Kepala kebersihan yang menyadari kehadiran sang manajer segera menghampiri dan memperkenalkan Ayana. "Eh Bu Angel, oh ya, ini OB baru kita. Dia baru mulai kerja hari ini," ucapnya seraya melambai pada Ayana. "Ayana, kemarilah." Ayana menghentikan pekerjaannya dan mendekat dengan sopan. Namun, Angel menatapnya dengan pandangan jijik dari ujung rambut hingga kaki. "Apa kau berasal dari kampung?" tanya Angel dengan suara meremehkan. "I-iya, Bu. Saya dari desa. Ada yang salah?" tanya Ayana dengan hati-hati. "Sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Di sini hotel elit. Kami tidak menerima karyawan dengan penampilan gembel sepertimu" ucap Angel menghina. Kepala kebersihan mencoba membela. "Maaf Bu Angel, tetapi kinerjanya cukup baik hari ini. Dia sangat telaten dan bisa diandalkan." Namun, para pekerja lain yang berdiri tak nauh dari sana justru ikut menimpali dan memojokkan Ayana agar segera mengundurkan diri. "Hotel ini adalah hotel ternama, Bu. Bagaimana jika ada tamu eksklusif yang datang? Belum tentu dia orang yang jujur. Jangan sampai barang-barang antik di sini hilang karena ulahnya," ucap salah satu staf dengan sinis. Mendengar tuduhan keji itu, d**a Ayana bergemuruh. Ia tidak masalah jika dihina miskin, tapi dituduh sebagai pencuri adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima. Ayana menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang hampir meledak dan menahan air matanya agar tidak jatuh. "Baik, saya akan resign hari ini juga," ucap Ayana dengan nada yang mendadak dingin dan tegas. Ia menatap tepat di mata Angel. "Satu hal yang perlu Anda ingat, Ibu HRD yang terhormat. Tidak sepantasnya Anda memandang rendah orang desa seperti saya. Kami memang kekurangan, tetapi tidak ada niat sedikit pun dalam diri kami untuk mencari nafkah dengan cara yang instan, apalagi mencuri!" Wajah Angel merah padam karena merasa harga dirinya ditantang oleh seorang bawahan. "Berani sekali kau melawanku, orang kampung sialan!" teriak Angel. Ia bergerak maju, tangannya berusaha meraih rambut panjang Ayana yang dikucir kuda. Namun, gerakan Angel terhenti di udara. Derap langkah panjang sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer terdengar menggema ke seluruh lobi. Seorang resepsionis dengan suara gemetar memberitahu melalui pengeras suara lobi: "Tuan Altarez Atmaja telah tiba." Seluruh ruangan mendadak membeku. "Hah? Si Mata Elang datang?" ujar Angel terperangah, ia menurunkan tangannya dengan segera, wajahnya yang tadi penuh amarah berubah menjadi pucat karena ketakutan. Derap langkah itu semakin mendekat. Puluhan bodyguard berpakaian hitam masuk dan langsung berbaris rapi di kiri dan kanan pintu masuk. Di depan lobi, sebuah mobil Rolls Royce hitam mengkilap terparkir. Alta turun dari mobil itu dengan aura gelap yang mendominasi seluruh lobi. "Selamat datang, Bos," sapa satpam di pintu masuk dengan tubuh membungkuk. Alta melewati semua orang seolah tak melihatnya. Pandangannya yang tajam langsung terkunci pada kerumunan di sudut lobi. Di sana, Angel yang panik berusaha mendorong Ayana dengan kasar agar segera meninggalkan tempat itu sebelum Alta melihat ada kekacauan. Dorongan Angel di bahu Ayana begitu kuat hingga membuat Ayana kehilangan keseimbangan dan hampir terjerembab ke lantai . Namun, sebelum tubuh Ayana menyentuh lantai, sepasang tangan kokoh telah menangkap pinggangnya. Ayana terkesiap saat ditarik ke dalam pelukan hangat. "Lain kali hati-hati, Sayang," bisik Alta tepat di telinga Ayana, suaranya rendah namun penuh dengan penekanan. Devan dan rombongan bodyguard baru saja masuk, mereka berdiri tepat di belakang Alta. Tanpa aba-aba, mereka semua membungkuk ke arah Ayana yang masih berada di dekapan Alta. "Selamat pagi, Bu Bos!" ucap mereka serempak, suara berat mereka menggelegar di seluruh penjuru lobi. Seluruh orang di lobi hanya bisa melongo. Lidah mereka kelu. Mereka tidak percaya bahwa di depan mereka, sang penguasa kota tengah memeluk gadis desa sederhana dan bahkan para bodyguardnya sangat menghormati gadis itu. Angel menyadari bahwa mulai saat ini hidupnya berada di ujung tanduk karena telah berani menyentuh milik Si Mata Elang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD