Hadiah Tak Terduga

1086 Words
Lobi hotel yang biasanya tenang dan kondusif, kini berubah menjadi mencekam. Bisik-bisik riuh mulai menjalar di antara para staf dan tamu yang menyaksikan kekacauan yang ada. Semua mata tertuju pada Ayana. Gadis itu kini berada di dekapan erat sang penguasa. "Bu Bos? Yang benar saja..." bisik seorang staf tepat di belakang telinga Angel. Wajah Angel saat itu benar-benar tidak bisa diprediksi. Yang awalnya merah padam karena emosi, kini berubah menjadi pucat pasi. "Diam kau!" bentak Angel pelan dengan suara bergetar, mencoba menutupi ketakutannya. Di sisi lain, Ayana merasa dunianya sangat kacau setelah pertemuannya dengan Alta. Pikirannya dipenuhi kebingungan yang menyesakkan; bagaimana mungkin Altarez bisa tahu di mana dia berada? Bagaimana pria ini bisa muncul tepat pada saat harga dirinya sedang diinjak-injak? Alta, dengan gerakan posesif, semakin menarik pinggang Ayana mendekat ke tubuhnya. Ia tidak peduli pada tatapan orang lain. Matanya menyapu ruangan lobi, menatap satu per satu staf hotel dengan pandangan yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Apa ada yang mengganggumu di sini, Sayang?" tanya Alta, suaranya rendah namun tegas. Para staf hotel serentak menunduk, tak ada satu pun yang berani menatap. "Apa... apa yang harus aku katakan?" Ayana bertanya dengan suara hampir tak terdengar. Ia ingin marah, ingin berontak, tapi aura gelap Alta membuatnya seolah terhipnotis. Alta merasa gemas melihat Ayana yang masih mencoba menunjukkan penolakan padanya. Gadis ini unik, pikirnya. Di saat semua orang bersimpuh di kakinya, Ayana justru terus berusaha menjauh. Alta menoleh, mengalihkan tatapan tajamnya tepat ke wajah Angel yang sudah berkeringat dingin. "Harusnya kau katakan pada mereka semua bahwa suamimu adalah Altarez Atmaja, Sayang. Biar mereka tahu siapa yang mereka usik," ucap Alta dengan nada mengintimidasi. Angel semakin gemetaran. Lututnya terasa lemas saat mendengar dengan lantang dari mulut sang penguasa sendiri bahwa gadis desa yang hampir ia jambak tadi adalah istrinya. Seluruh penghuni kota Bandung tahu, siapapun yang berurusan dengan milik Altarez, tidak akan pernah kembali dalam keadaan baik baik saja. Belum puas mengintimidasi, Alta melanjutkan kalimatnya dengan nada dingin. "Dia memang hanya gadis desa. Tapi yang perlu kalian semua tahu, dia memiliki suami yang selalu mendukungnya!" Mendengar penuturan Alta yang konyol itu, Ayana mencoba melepaskan dekapan Alta di pinggangnya. Ia merasa risih, malu, dan marah karena dijadikan pusat perhatian dengan cara seperti ini. "Lepaskan aku, Alta! Aku bukan istrimu!" bisiknya tajam. Namun, Alta justru mengabaikan protesnya. "Devan!" panggil Alta dengan nada memerintah. Devan, yang sudah sangat paham dengan setiap gestur tuannya, melangkah maju. Tanpa basa-basi, ia meraih tangan Angel. "Akhhh! Ampun! Sakit!" Rintihan kesakitan Angel pecah saat Devan memelintir lengannya ke belakang dengan kasar. Suara itu membuat nyali staf lain benar-benar ciut. Secara serempak, mereka berlutut di atas lantai marmer, bersimpuh di hadapan Alta. "Maafkan kami, Bos! Kami tidak tahu! Mohon maafkan kami!" teriak mereka bersahutan. Alta menatap mereka dengan pandangan remeh. Keadaan semakin kacau hingga direktur hotel datang dengan terengah-engah setelah mendapat laporan dari satpam lobi mengenai masalah besar yang terjadi. Sang direktur, seorang pria paruh baya yang biasanya sangat berwibawa, kini mendekat dengan senyum canggung yang dipaksakan. "Bos Alta," sapanya dengan suara bergetar sopan. "Maaf atas kekacauan ini. Ada yang bisa kami bantu? Apa ada staf kami yang melakukan kesalahan?" Bukannya memberikan penjelasan, Alta justru merangkul bahu Ayana dengan santai, seolah pembicaraan ini bukan hal penting. "Ayo pulang denganku sekarang," bisiknya pada Ayana. "Tidak! Aku masih harus bekerja! Aku butuh uang ini untuk nenekku!" tolak Ayana keras, menatap Alta dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena frustrasi. Melihat keras kepala gadis di sampingnya, Alta merasa kesabarannya mulai menipis. Jika Ayana ingin bekerja di hotel ini, maka dia akan memberikannya. Alta mengalihkan tatapan sedingin esnya pada sang direktur hotel. "Aku akan mengambil alih hotel ini detik ini juga. Siapkan berkas segera!" perintah Alta mutlak, tanpa ada nada negosiasi sedikit pun. Sang direktur tertegun, mulutnya menganga. "Ta-tapi Tuan, hotel ini tidak sedang dijual..." Belum sempat sang direktur menyelesaikan kalimatnya, seorang bodyguard maju membawa sebuah koper hitam. Saat koper itu dibuka, cahaya kuning berkilauan memantul ke seluruh ruangan. Di dalamnya terdapat deretan emas batang 24 karat yang tersusun rapi. Sang direktur melongo tak percaya. Alta telah menyiapkan segalanya dengan sangat detail, seolah ia sudah tahu apa yang akan terjadi. "Kurang?" tanya Alta dingin setelah melihat reaksi diam sang direktur. Satu lagi bodyguard maju dan membuka koper kedua yang berisi tumpukan emas yang sama banyaknya. Kekayaan yang sanggup membeli sepuluh hotel serupa. Devan menunjukkan salah satu batang emas itu kepada direktur, memastikan bahwa itu adalah emas murni asli. "Bagaimana? Jangan membuang waktu Bos kami!" hardik Devan, menyadarkan sang direktur dari diamnya. "Cu-cukup... sangat cukup, Tuan Alta," ucap sang direktur gemetar. Ia segera memerintahkan salah satu staf administrasi untuk membuat surat penyerahan hak milik hotel secara kilat. Hanya butuh sepuluh menit bagi kekuasaan Alta untuk memindahkan kepemilikan bangunan mewah itu. Setelah tanda tangan di atas materai selesai dilakukan, Alta meraih surat resmi tersebut dan menyodorkannya pada Ayana. Ayana hanya menatap tangan Alta yang tergantung di udara dengan perasaan bingung. "Hotel ini sekarang milikmu. Aku berikan padamu sebagai hadiah," ucap Alta, menjawab kebingungan di mata jernih Ayana. "Tidak... aku tidak mau. Aku tidak butuh hotel ini!" Ayana menolak, suaranya sedikit meninggi. "Kenapa? Sekarang kau tidak perlu bekerja pada orang lain. Kau bisa menjadi bos di sini. Kau bisa memecat siapa saja yang menghinamu tadi," tanya Alta lagi, masih mencoba membujuk. Ayana benar-benar lelah. Kepalanya berdenyut hebat. "Sekali aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Berhenti mengatur hidupku seolah kamu tahu segalanya!" teriak Ayana tepat di depan wajah Altarez. Alta menghela napas panjang, matanya menggelap. Ia memberikan kode pada bodyguard di belakangnya. Dengan sigap dan tanpa suara, bodyguard itu mengangkat sebuah sofa mewah dari sudut lobi dan menaruhnya tepat di belakang Ayana. Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Alta menarik bahu Ayana dan menekannya hingga duduk di sofa tersebut. "Aku tidak suka wanitaku harus bekerja pada orang lain. Jika kau tetap bersikeras ingin bekerja, maka bekerjalah untuk dirimu sendiri. Aku sudah membelikan tempat ini untukmu," ucap Alta dengan nada yang tak bisa dibantah. Tanpa aba-aba, sofa yang diduduki Ayana diangkat oleh empat bodyguard kekar, membawanya mendekat ke arah barisan staf yang masih berlutut ketakutan. Mereka semua kini menunduk hormat ke arah Ayana. Ayana semakin kebingungan. Benarkah seberpengaruh itu Altarez terhadap kota ini? Uang seolah tidak ada harganya bagi pria ini jika itu menyangkut keinginannya. Ia menatap deretan emas dan orang-orang yang gemetaran di depannya. Kepalanya terasa pening, pandangannya sedikit kabur. Bagaimana ia bisa menyelamatkan diri dari obsesi gila pria ini? Di tengah kebisingan dan kekacauan itu, Ayana menyadari satu hal: Alta tidak sedang melindunginya, ia sedang mencoba membuatnya bertekut lutut pada obsesi pria gila itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD