4 WINA RAPANDEY ( A.K.A CIMUT)

973 Words
# CIMUT POV# Gue berusaha keras untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah dan sekali lagi menerima kehangatan keluarga kami yang akhirnya ia sudah tinggalkan dulu. Entah kenapa, dalam beberapa tahun ini, ia berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda bagi gue dan mama. Kak Raga berubah menjadi sesosok pribadi yang sangat dingin dan acuh. Walaupun gue yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih seorang pribadi yang sama. Ragata Saratoga. Satu-satunya kakak laki-laki gue yang paling gue sayang dan hormati. Satu-satunya penopang dan pengganti papa yang meninggal secara mendadak waktu gue berusia 16 tahun dulu. Gue masih inget hari kelabu itu… Hari dimana rasanya dunia kami bertiga hancur berkeping-keping saat mendengar kalau papa tiba-tiba ambruk di perkebunan kopi keluarga kami… Tanpa firasat apapun, kami semua bergegas untuk mengantar papa ke rumah sakit untuk berobat dan selama proses pemeriksaan, kami terus berdoa. Berharap yang terbaik. Berharap agar papa bisa terus ada dan bersama-sama dengan kami. Berharap agar papa bisa terus mendampingi mama. Berharap agar papa bisa melihatku dan Kak Raga lulus wisuda selesai kuliah nanti. Berharap papa bisa mengantarku ke altar saat gue menikah dengan pria yang akan menjadi suamiku. Karena rasa cemas dan panik yang luar biasa, sakit kepala migren mama akhirnya kambuh dan dengan sangat terpaksa, gue akhirnya kembali pulang untuk menemani mama beristirahat. Sementara Kak Raga terus berjaga di rumah sakit sambil menunggu hasil pemeriksaan medis secara menyeluruh dari dokter. Tapi takdir berkata lain… Papa dinyatakan meninggal dunia pada malam itu akibat sakit kanker paru-parunya yang sudah menginjak stadium 4. Maaf, Pa. Kami ga tahu. Kenapa papa ga pernah cerita kalau selama ini papa sakit dan selalu terlihat baik-baik saja di depan mata kami? Banyak sekali pertanyaan di hati dan pikiran gue dan mama saat itu. Tapi kami sama sekali tidak punya kesempatan kedua untuk menanyakan hal tersebut. Di hadapan kami, sudah ada sebuah peti mati berisi jenazah papa yang tidak akan pernah lagi kami lihat secara fisik. Mata kami berdua basah oleh air mata. Mama terus menangis terisak-isak sampai suaranya parau. Kak Raga sibuk menopang tubuh mama yang hampir terjatuh ke liang lahat dengan mata memerah juga. Gue tahu pasti, duka yang dirasakannya juga pasti sama dengan kami. Hanya saja, ia terlihat lebih tegar dan tabah. Sedangkan gue? Gue cuma bisa diam dan mematung saat melihat peti mati papa gue dimasukkan perlahan-lahan ke liang kubur. Mata gue bengkak. Gue pengen banget bisa jerit-jerit waktu itu. Tapi gue bisa apa? Toh, papa gue ga akan balik. Sekilas, gue mengingat semua memori indah yang pernah kami lakukan bersama saat papa masih ada. Kini, tanpa adanya papa, gue merasa kalau separuh jiwa gue ikut lenyap tak berbekas. Menghilang menjadi debu dan abu. Gue menghela nafas panjang sambil memejamkan mata dan membiarkan hujan gerimis membasahi tubuhku. Berharap supaya perasaanku bisa menjadi lebih baik. ………………………………………………………………………………………………………… Mama dan gue masih dirundung duka untuk sebulan setelahnya. Mama malah sering banget sakit waktu itu. Kak Raga-lah yang berubah menjadi kakak siaga untuk kami berdua dan mengurus mama mati-matian. Ia bahkan mengambil cuti kuliah selama 1 semester untuk menjaga kami sampai kami betul-betul rela dan bisa melepas kepergian papa. Gue masih berusia 16 tahun saat itu dan emosiku sangat labil. Sementara Kak Raga sudah berusia 22 tahun, hampir lulus kuliah dan berencana untuk melanjutkan kuliah S2 di jurusan Manajemen Bisnis sambil kerja part time. Dari dulu, gue sangat bangga padanya. Sejak kehadirannya di dalam rumah kami sejak 12 tahun yang lalu, tak pernah sekalipun ia menjadi beban bagi keluarga kami. Kak Raga sangat mandiri dan dewasa. Setelah papa tiada, ia adalah satu-satunya pria dewasa yang kami andalkan setiap waktu. Tapi setelah ulang tahunku yang ke 17 dan pesta prom night di sekolah, Kak Raga mulai berubah. Ia mulai menjaga jarak denganku dan terlihat lebih acuh. Walaupun ia masih terus memperlakukanku seperti biasa, tapi sikapnya tak lagi hangat dan ramah kepadaku. Gue bingung. Sebingung-bingungnya. Dan setiap kali gue tanya, Kak Raga selalu menghindar. Ada saja alasannya sehingga gue tidak bisa mendapat jawaban yang pasti dari mulutnya. Lalu, ketika gue mulai kuliah S1, Kak Raga meninggalkan rumah dengan alasan ingin focus pada kuliah S2 dan kerja part timenya. Mama sedih tapi beliau pun tak bisa berbuat apa-apa. Kak Raga sudah membuat keputusannya sendiri dan kami tak punya hal untuk melarangnya sama sekali. Walaupun sesekali ia masih berkunjung, tapi suasana rumah terasa berbeda. Jauh lebih sepi dan senyap. Untunglah, mama sekarang punya grup arisan dan ikut komunitas berkebun hidroponik sehingga mama tidak merasa terlalu kesepian. Cerita gue berlanjut ketika akhirnya gue memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke Harvard selama 4 tahun. Kak Raga dan mama yang mengantarku ke bandara waktu itu. Gue juga menangis karena gue pasti kangen berat pada mereka berdua nantinya. But life must go on… So, I said good bye… Hal terakhir yang gue inget adalah tatapan mata Kak Raga yang terlihat sangat rumit saat melepas kepergianku. Gue ingin bertanya tapi waktu tak mengijinkan. Terakhir, selama 4 tahun, gue di Harvard, gue seringkali bertukar kabar dengan Kak Tony yang sekarang jadi business partner Kak Raga di usaha cafenya serta teman-temanku dulu saat waktu SMU dan kuliah dulu. Dari merekalah, gue tahu kalau Kak Raga sedang menjalin hubungan dengan salah satu perempuan paling cantik di kampusnya dan usaha café yang dirintisnya perlahan-lahan mulai berkembang pesat. Kak Raga sendiri jarang bercerita kepadaku seputar aktivitas hariannya kalau gue bertanya secara langsung kepadanya. Kak Tony juga sering membagi foto-fotonya kepadaku. Foto-foto café, foto narsisnya, foto Kak Raga saat bersama dengan Nicole, pacarnya dan banyak lagi…. Entah kenapa, hatiku tersayat perih saat melihat foto –foto Kak Raga dengan Nicole. Ada sesuatu yang hilang. Dadaku terasa sesak dan air mataku menetes pelan. Kenapa? Bukannya gue harusnya happy sama hubungan mereka ya? Koq gue bete sih? Tapi, Kak… maaf… Kurasa gue emang ga pantas buat elu….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD