BAB 3. Sebaiknya Lupakan Saja?

1207 Words
Bab 3. Sebaiknya Lupakan Saja Aku memilih menikmati seporsi rujak buah dan dawet hitam di sebuah saung dari pada mengikuti beberapa chalenge dan permainan yang memang dimaksudkan untuk mengakrabkan satu sama lain. Mood dan kondisi tubuhku menolak untuk banyak mengeluarkan energi. Di sebuah saung yang berukuran lebih besar, terlihat dua karyawan Mas Dion tengah memandu acara doorprize dan sejenisnya untuk seluruh anggota keluarga karyawan yang bergabung. Dari sini jelas terdengar keriuhan dan senda gurau di kerumunan itu. Sementara itu di kejauhan sana, dua sosok lelaki dengan postur tubuh dan pembawaan yang tidak jauh beda, tengah menjajal arena flying fox. Mereka berdua seakan begitu menikmati semua fasilitas di arena alam yang tersedia di sini. Itu memberi jawaban mengapa dari sederet kegiatan dan tempat wisata yang ada, Mas Dion dan Dave menjatuhkan pilihan ke tempat ini. Bumi yang lebih indah dengan polesan kreatif pengelola tempat ini. Beberapa waktu kemudian, dua lelaki itu telah berpindah spot. Mereka tampaknya sedang bersiap menjajal tebing yang sudah di modifikasi sedemikian rupa menjadi area rock climbing. Mereka berdua sama-sama menggilai alam dan olah raga ekstrim. Pantas saja Mas Dion dan Dave seperti dua teman kecil yang tak bisa terpisahkan. Beberapa menit berikutnya, aku beranjak. Rasanya jenuh sedari tadi hanya berdiam saja. Setelah menikmati pemandangan hamparan teh usia beberapa bulan yang menampilkan warna warna hijau muda, kaki ini terus melangkah karena ingin lebih banyak mengeksplore tempat ini. Sebagai pembatas, tempat ini dikelilingi tebing-tebing batu yang menakjubkan. Surga kecil bagi pecinta alam amatir. Semilir angin siang menjelang sore, membuat langkahku semakin riang untuk berjalan melewati deretan kebun teh dan kopi. Jalan setapak yang berada di sela-sela hamparan hijau itu terlihat membasah karena hujan yang turun semalam. Beberapa kali aku harus menghentikan langkah untuk memilih posisi pijakan kaki yang sempurna. Rasa tertekan yang sejak semalam mendera, perlahan menghilang bersama bau tanah basah dan dedaunan. Ada perasaan nyaman dan lepas yang menyenangkan. "Awwww!" Tak sadar aku terpekik keras saat kurasakan tubuhku yang limbung dan beberapa detik lagi pasti akan mencium permukaan tanah yang becek. Beruntung sebelum ambruk, jemari tangan ini sempat lebih dulu meraih sebatang tanaman teh yang cukup rimbun. Aku bisa bertahan beberapa detik, tetapi lambat laun rasanya genggaman tangan ini semakin melemah. Jurang di bawah sana itu tidak terlalu curam, tetapi jatuh di bawah sana pasti cukup membuat badan remuk redam. "Kamu baik-baik saja, Aysa?" Sebuah lengan kekar sudah lebih dulu menjangkau tangan ini sebelum tubuhku meluncur ke bawah. Betul-betul satu detik yang amat menentukan. Dengan sedikit gerakan dari pemilik lengan berotot itu, tubuhku terangkat sempurna ke permukaan tanah yang lebih datar dan aman. Dave!? Sejak kapan mahluk ini juga berada di sekitar sini. Bukannya ia tadi tengah bersiap-siap beradu ketangkasan dengan Mas Dion? "Kejadian semalam pasti membuatmu tertekan. Jadi kupikir aku harus berjaga-jaga tak jauh darimu." Dave menjelaskan sesuatu tanpa kuminta. Tetapi kata-katanya justru membangkitkan emosiku. "Lalu setelah kejadian semalam, aku harus mengucapkan terimakasih atas pertolonganmu ini?" tanyaku sarkas. "Terserah kamu, Ay. Yang jelas melihatmu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup!" Shit! Manis sekali kata-katanya ckckck .... "Aku tidak peduli semua itu," cibirku sinis sembari membersihkan beberapa area tubuhku yang kotor lalu bersiap menjauh dari sosok yang membuatku didera rasa bersalah terhadap Mas Dion. "Jangan bilang begitu, Ay. Aku peduli padamu. Mohon mengertilah ...." Ia membuatku urung melangkah pergi. Kini kami berdiri berhadap-hadapan. Bisa kulihat raut mukanya yang tenang dan sama sekali tak beriak. Beginikah tabiat lelaki, tetap tenang meski sudah berbuat sesuatu yang tak beradab? Hatiku menyerukan pertanyaan tadi. "Aku seorang perempuan sekaligus seorang istri, Dave! Kau tahu berapa berat beban yang ada di kepalaku?" tanyaku dengan perasaan terluka. "Kau pikir kepala dan hatiku sedang baik-baik saja? Aku juga merasa sangat bersalah, Ayana. Tetapi memang aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku sama sekali tidak ingat detilnya." Dave menyugar rambutnya dengan wajah gusar. Dari balik rerimbunan, aku bisa melihat sosok Mas Dion di kejauhan. Rupanya lelaki itu tetap melanjutkan aktivitasnya meski tak diikuti oleh Dave. Mungkin ini kesempatan terakhir yang akan kugunakan untuk bicara soal ini pada Dave. Aku menghela napas panjang. Tampaknya pembicaraan mengenai peristiwa itu tak akan ada ujungnya. Mungkin memang benar kata Dave lupakan saja semuanya tanpa Mas Dion perlu tahu sedikitpun. "Its okey. Lupakan saja semuanya," desahku lirih, lalu membalik badan. "Tunggu, Aysa ...." Belum sempat aku memutuskan untuk tetap meninggalkan tempat itu atau memberi kesempatan Dave bicara, lelaki itu telah lebih dulu menghadang di depan. Mungkin tidak ada salahnya memberi lelaki ini kesempatan bicara. "Waktumu lima menit." Aku mengalihkan pandangan ke samping. Menghindari tatapan Dave. "Lihat aku, Ayana. Apa kau menilaiku berbohong soal kejadian itu? Coba kau ingat-ingat, apa aku memaksa atau melakukan kekerasan untuk mendapatkan mauku?" Kali ini suaranya meninggi. "Mengapa saat itu kau tidak berontak, tidak melawan? Menurutku kau bahkan---" Ia menjeda kalimatnya. Aku tertegun. Serta merta melihat ke arah Dave dengan kulit wajah yang terasa memanas. "Maksudmu?!" Aku menghunus tatapan tajam. "Maksudku?" Ia menyeringai. "Kau pasti tau maksudku, Aysa. Kenapa kau menekan, bahkan menuduhku menjadi dalang di balik semua ini? Kau menimpakan semua kesalahan ini padaku, sementara kau memilih 'bersih'. Kau tau, ini tidak adil!" Ada geraman dalam suara bariton itu. Aku seperti dipukul mundur dengan telak oleh kalimat-kalimat lelaki itu. "Tapi---" Aku kehilangan kata-kata. Logikaku mulai mencerna kalimat Dave. Dan kebenaran kata-katanya seolah menampar wajah ini. Ya, seingatku, aku sama sekali tidak memberontak atau melawan. Apakah itu artinya aku juga mengingingkan kejadian itu tanpa kusadari. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Itu sangat bertentangan dengan prinsip hidupku. Aku sama sekali tidak ingin jadi penghianat di dalam pernikahanku sendiri. Menjaga kehormatan diri sebagai perempuan bersuami adalah prinsip hidup yang tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi kejadian malam itu seolah anti klimaks dari prinsipku. Apa yang terjadi? "I'm sorry. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Aysa. Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Kejadian itu di luar kendaliku. Dan tidak adil rasanya menimpakan kesalahan itu hanya padaku." Suara Dave yang tadi sempat meninggi, kini perlahan mulai merendah. Seiring dengan wajah dan tatapannya yang melembut. Sikapnya menunjukkan rasa bersalah. "Lalu apa yang terjadi sesungguhnya?" tanyaku dengan suara lemah. Tampaknya aku memang harus menerima semua ini sebagai kejadian yang datang begitu saja. Nyatanya aku tak punya pilihan lain selain menganggap malam itu tidak pernah ada. "Entahlah, Aysa. Aku berpikir ada yang telah mengerjai kita. Entah siapa dan apa motifnya." Kulihat raut wajah Dave begitu serius saat mengucapkan itu. "Aku---entahlah. Mungkin benar katamu, sebaiknya kita melupakan peristiwa itu. Cukup hanya aku kamu dan Tuhan yang tahu." Sampai di sini aku belum mengamini kecurigaan Dave selain bahwa malam itu mungkin kami memang sedang gila. "Its okey. Tampaknya itu sikap yang bijak untuk saat ini meskipun kecurigaanku belum juga lenyap. Aku akan cari tahu adakah sesuatu di balik ini." Di kalimat ini, aku menatap penuh wajah Dave. Kutemukan kejujuran dan kesungguhan di sana. Keyakinanku mulai hadir, berarti pembelaan Dave memang bukan kebohongan. "Tidak perlu, Dave. Tolong tidak usah perpanjang soal ini. Lupakan dan lanjutkan hidup kita masing-masing seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Keingin tahuanmu bukanlah hanya akan membuat Mas Dion akan tahu?" tanyaku gusar. "Hal apa yang aku tidak boleh tahu?!" Suara penuh penekanan itu hadir bersama sosok Mas Dion dari arah belakang. Mataku melotot ke arah Dave. Berharap ia bisa menyelamatkanku di situasi ini. Keringat dingin langsung menyerang, sejak kapan Mas Dion berada di sekitar kami? Apa saja yang sudah ia dengar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD