Bab 2. Apa Yang Terjadi?
Aku bangun dengan kepala pening dan suhu tubuh yang sedikit hangat. Wajar saja, setelah semalaman berada di tengah hutan yang membingungkan dan cukup lama mandi di tengah malam buta, tentu saja tubuh ini tak baik-baik saja. Terlebih aku punya riwayat penyakit atsma kambuhan.
Ketika sepasang mata ini membuka, Mas Dion sudah tidak ada lagi di sisiku. Seketika jantung ini berdegup lebih kencang, ingatan akan peristiwa semalam kembali mendominasi. Tubuhku bergetar, apa yang akan terjadi jika Mas Dion sampai mencurigai sesuatu, bahkan mencium peristiwa nista itu?
Mas Dion pasti akan marah besar bahkan mungkin tak akan memaafkanku selamanya. Apakah ia juga akan bisa menerima pembelaaanku atas kejadian itu? Apakah dia akan percaya bahwa aku sama sekali tidak sadar akan kejadian tersebut? Di balik semua ini, aku yakin Dave lah dalangnya. Boleh jadi selama ini Dave memang sahabat terdekat dan terbaik bagi Mas Dion, tetapi bukan berarti ia tidak bisa merencanakan sebuah maksud jahat bukan?
Terlebih aku tahu, pancaran mata Dave selama ini memang menyiratkan sesuatu. Seperti ada perhatian khusus padaku, hanya saja pasti ia memang berusaha menutupinya dengan sebaik mungkin. Karena jelas-jelas aku adalah istri dari sahabat karibnya sendiri.
"Hey, melamun?" Tiba-tiba Mas Dion sudah berdiri di ambang pintu. Di tangannya ada baki yang dari aromanya aku tahu bahwa ia baru saja membuat sarapan untuk kami. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Ya, sejak bendera CV. Bangun Jaya Semesta semakin berkibar, praktis kesibukan Mas Dion semakin meningkat. Bahkan hal itu membuatku harus rela menutup butik yang kupunya atas permintaannya dan kini full melayani dia.
"Maaf. Aku kesiangan ... dan malah kamu yang bikinin sarapan," sahutku sambil beringsut dari tempat tidur. Memaksakan diri untuk berdiri meski kepala berdenyut.
"Udah, di situ aja. Ayo makan ini, wajahmu pucat dan agaknya kamu demam." Mas Dion
meletakkan nampan berisi beberapa roti panggang dan secangkir kopi s**u.
"Hmm cuma capek sedikit. Kamu?" tanyaku setelah satu kunyahan berhasil membuatku tahu bahwa Mas Rama memang paling jago membuat roti tawar panggang dengan isian telur dan sosis.
"Aku sudah makan duluan di dapur. Semalam karena lama nungguin kamu, aku jadi sangat kelaparan tadi."
Kunyahanku terhenti. Kata-kata lelaki di hadapanku seolah memaksaku mengingat moment yang detailnya hanya bisa kuingat samar-samar itu. Keringat dingin mulai terasa datang. Tubuhku telah ternoda! Ya, tubuh ini telah ternoda oleh tubuh lain selain suamiku.
"Rotinya enak. Aku kangen makanan buatanmu, Mas." Dengan menekan rasa gugup, aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Kulihat Mas Dion tersenyum samar. Suamiku ini memang tak biasa mengumbar senyum dan kata-kata manis. Pembawaannya inilah yang kerap membuatku berhati-hati bicara padanya.
Sejurus kemudian, kulihat tatapan Mas Dion berhenti beberapa saat pada area wajahku. Ia kemudian menyipitkan mata sembari telapak tangan kirinya menyibak rambut sebahuku ke arah belakang telinga.
"Kenapa?" Aku bertanya jengah. Jangan sampai dia 'meminta' di pagi buta begini, saat aku bahkan belum sempat ke kamar mandi apalagi berdandan. Padahal itu mana mungkin rasanya. Mas Dion orang yang sangat perfectionis hampir dalam segala hal. Maka jika ingin bercinta, pertama kali yang ia pastikan adalah aku dalam keadaan wangi dan bersih.
"Ada bercak merah," celetuknya sembari menyentuh satu bagian dari area leherku. Deg! Bercak merah? Jantungku seakan berhenti saat alarm di kepalaku mulai mengaitkan ini dengan peristiwa tadi malam dan sosok Dave. Jangan-jangan bercak merah itu adalah 'kiss mark' yang tak sengaja di tinggalkan oleh bibir Dave? Oh my God ....
bagaimana caranya aku selamat dari keadaan ini?
Bercak apaan?" Suaraku jelas panik meski aku mati-matian berusaha untuk santai. Langkah ini beranjak mendekati cermin besar yang ada di sudut kamar. Benar saja, meski tak begitu kentara dan jelas, tetapi memang ada bercak merah berbentuk cenderung bulat. Sejenak aku seperti berada di ruangan hampa, merasa melayang-layang dalam kebingungan. Sampai akhirnya alarm tanda bahaya di kepalaku kembali menemukan alibi penyelamat.
"Ini ... ini sepertinya alergiku kambuh, Mas. Kamu ingat kan menu makan malam sebelum meeting? Ada tcaptjay yang bumbunya dilengkapi dengan bubuk udang kering. Dan saking enaknya, aku sampe gak ngeh ada kandungan seafoodnya. Jadi ya gini, mulai gatel-gatel nih." Aku sengaja menggaruk-garuk area leherku dengan kedua tangan.
"Ya udah, persediaan obat alergimu masih ada, kan?" Mas Dion memastikan sembari tangannya mengulurkan jas dan dasi yang setiap pagi harus kupasangkan ke tubuhnya. Karena menurut dia, tidak ada yang pas bagi dirinya kecuali lahir dari tanganku. Dalam segala t***k bengeknya.
"Masih, Mas. Tapi masalahnya, obatmu yang justru gagal aku dapatkan tadi malam." Aku menggigit bibir. Kembali mengingat kejadian itu.
"Aku akan suruh Parto yang beli. Oh ya, meeting hari ini cuma beberapa jam saja. Aku sudah menyuruh anak-anak menyiapkan acara outbound kita sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Kamu segera bersiap-siap, jangan ada yang terlewat. Oh ya apa kau benar-benar tak enak badan?" Ia memindai wajahku.
"Aku--baik-baik saja. Nanti menyusul." Entah kenapa kali ini aku memaksakan diri meski rasanya badan sedang tak fit. Sepertinya karena dorongan rasa bersalah yang menyergap sejak semalam. Apa yang terjadi antara aku dan Dave semalam, tentu saja aib yang sangat memalukan.
"Oke. Aku tunggu."
Tanpa menunggu jawabanku, lelaki itu segera beranjak dari hadapanku dengan langkah langkah panjangnya. Kembali aku menghela napas. Sampai di sini, semua masih aman dan terkendali.