9. Kenakalan Sarah

1445 Words
Johnny masih lurus ke depan, dengan rahang yang mengeras sejak tadi. Why? Lagi-lagi Sarah melakukan hal konyol yang mampu membuat Johnny mati depresi. Sarah memberikan sarapan untuk Johnny dengan sepenuh hatinya, Namun Johnny memberikannya pada kedua sahabatnya, Lukas dan Karel. Sarah yang melihat langsung kejadian itu, ia murka pada Johnny dengan menyebutkan bahwa sarapan yang Sarah buat sendiri Sarah lakukan dengan penuh cinta, Namun Johnny tetaplah Johnny ia tidak peduli dengan apa yang Sarah ucapkan dan yang ia rasakan. Sehingga Sarah memilih untuk melampiaskan kemarahannya itu pada kedua teman Johnny. "Sarah! Turunin!" Teriak Lukas"Gak mau!" Lukas dan Karel menatapi sendu karya buatannya untuk dikumpulkan hari ini, sebuah Vas bunga yang berbahan tanah. Sarah hanya menatapi Johnny dari ketinggian sana, tepatnya Sarah sekarang sedang berdiri dimeja guru dan cukup tinggi untuk menghancurkan benda yang mudah pecah ini. "Siniin Sarah!" Teriak Lukas kesal Ananda menggelengkan kepalanya sebal dengan tingkah konyol sahabatnya yang satu ini. "Sarah turunin lah, napa sih malu-maluin gue banget?" "Gue mau sarapan yang gue buatin tadi Johnny yang makan! Kenapa jadi lo berdua yang makan heuh?" Lukas dan Karel menggaruk kepalanya yang tak gatal "Gimana caranya?" "Gue gak mau tau!" "Atau!" "Atau apa?" Semangat kedua teman Johnny, ya ampun kelakuan mereka semakin tak menarik gumam John dalam hatinya. "Gue mau Johnny yang bujuk gue" jawab Sarah cepat sambil menatapi Johnny centil. Lukas dan Karel segera mendekati Johnny, karena ialah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya "John ayolah! Sekali ini aja lo bantuin kita" "Plis John! Ayo dong!" "Gue takut vas bunga gue kenapa-napa!" Johnny menatapi mereka berdua kesal "Lalu? Kalian berdua gak takut gue kenap-napa?" "Ayolah John! Plisss" desis Lukas memasang wajah kasian Johnny sudah mulai sebal dengan keberadaannya, ia memilih berdiri dan langsung menghampiri Sarah. Dari bawah sana Johnnya menatapi Sarah benci sangat benci, berbeda dengan Sarah yang masih tersenyum padanya. "Siniin!" Tegas Johnny, Sarah menggeleng cepat "Lo mau apa sih?" "Nyanyi dulu buat Sarah!" Ujarnya dengan nada dicentil-centilkan "Kembaliin vasnya" tolak Johnny "Gak mau Johnny! Sarah mau Johnny nyanyi dulu!" "Arggghhh!" Johnny murka, ia mendorong meja yang Sarah pijaki itu hingga membuat Sarah kehilangan keseimbangan dan terjatuh, menimpa tubuh Johnny. Lengan kiri Sarah berhasil menyelamatkan vas bunga itu, Johnny menatapi Sarah murka namun entah karena apa ia malah merasa nyaman menatapi Sarah dari kedekatan ini, aroma tubuh Johnny jelas tercium oleh Sarah membuat Sarah merasa lebih nyaman dari pelukan Johnny dihari itu. "Ini yang bikin Sarah nyaman, tubuh hangat Johnny menenangkan hati Sarah dengan baik!" Ucapan Sarah barusan membuat Johnny tersadar akan lamunannya. Johnny berdiri dan langsung menjauhi Sarah. "Cie!" Seru semua murid yang melihatnya "Ekhem! Ko cocok banget ya?" Tambah Lukas dengan senyuman diwajahnya "Diem!" Tegas Johnny lalu pergi meninggalkan kelasnya "Johnny tunggu! Kamu belum nyanyi Johnny!" Johnny duduk menatapi pemandangan dari atas sini, ia lebih nyaman menetap di pepohonan yang rindang tak jauh dari lapangan. "Hah lama-lama gadis itu bikin gue gila!" Desisnya pelan Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi, kadang ia berpikir untuk pindah sekolah saja, namun sanggupkah Johnny ditertawakan oleh kedua orang tuanya? Atau Lukas dan Karel? Ini lelucon bukan? Seorang Sarah cewek hyper aktif mampu membuatnya selemah ini. "Gue harus kasih pelajaran sama dia!" Johnny memejamkan matanya, sepertinya orang-orang tidak menyadari kalau seorang JohnnyJonathan berada diatas pohon, ya ini jauh lebih baik daripada ada di dalam kelas dengan gadis itu. "Omongan gue harus lebih sarkatis!" "Tapi gue gak tega" "Kenapa gak tega? Biasanya juga lo sarkatiskan sama cewek!" "Tapi gue gak mau ngelakuin itu sama dia!" "Lakuin Johnny! Ini mudah kok!" "Gue harus bisa lebih jahat lagi sama dia!" "Ya lo bener johnn-" Seseorang dari bawah sana nampak melihat Johnny "Johnny ya? Ternyata idaman SMA ini gila" Johnny tersentak dan memandangi tak suka gadis-gadis itu "Apa liat-liat? Pergi!" Suruhnya dengan tegas Mereka berdua pun pergi tergesa-gesa karena ketakutan dengan suara Johnny yang alamahoy. "Gue disebut gila, gara-gara orang gila"-_- *** "Ibu rasa pelajaran hari dicukupkan sekian, karena diantara kalian tidak ada yang bertanya! Agus, pimpin doa" suruh bu Entin dengan suaranya yang lemah lembut Agus pun mengangguk "Sebelum pulang, alangkah baiknya kita berdoa! Berdoa dalam hati, Mulai!" Ujarnya Semua murid menunduk mengucap doa sesuai kepercayaan masing-masing. "Selesai, beri salam!" Sontak semua murid pun terbangun dari tundukkannya "Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!" Teriak semua murid "Waalaikum salam" bu Entin pun pergi meninggalkan kelas Mata Sarah menoleh ke belakang, ia menatapi Johnny penuh arti sekali lagi Johnny mengabaikannya dan langsung membawa tas nya yang berada dibelakang tubuhnya, Lukas dan Karel pun mengikuti gerakan Johnny. Mata Sarah masih menatapi Johnny, ia tak berkedip sama sekali, membuat Lukas dan Karel saling bertatapan heran. Johnny melangkahkan kakinya pergi, dengan sigap tubuh Sarah mengejarnya. "Sarah, tas lo!" Teriak Ananda mengingatkan Sarah menoleh ke belakang "Bawain!" Tubuh Sarah masih mengejar langkah Johnny yang kian cepat "Johnny! Tunggu!" Teriak Sarah Gerakan kaki Johnny semakin cepat "Johnny!" Teriak Sarah semakin kencang "Johnny!" Teriaknya lagi, hingga membuat orang-orang di sekelilingnya memperhatikan mereka berdua, Johnny muak ia menghentikan langkahnya. "Mau apa?" Tegasnya, rupanya sekerumunan orang kini semakin banyak berdiri melihat perseteruan antara Johnny dan Sarah. "Gue mau pulang bareng lo!" Desis Sarah pelan dan nampak lembut meski pun sentuhan itu mampu membuat hatinya sedikit terbuka namun Johnny kembali mengelaknya "Gak malu lo?" Matanya memelototiSarah Sarah menelan salivanya sulit, ia rasa ini bukan saatnya untuk mendekati Johnny di tempat umum namun Sarah buang pernyataan itu ia cukup kuat untuk hal itu. "Malu kenapa? Cinta itu emang rumit Johnny! Kenapa aku harus malu? Bahkan aku ngerasa bangga bisa direspons langsung olehmu" Sarah membenarkan posisi berdirinya, nampak nya akan sulit baginya menjalankan ini. "Hah? Gue duluan!" Ujar Johnny "Huhhhh!" Riuh para siswa terdengar begitu nyaring tertuju pada Sarah yang lagi-lagi ditolak. "John kali ini aja!" "Udah gue bilang kan? Jangan ganggu gue lagi!" Tegas Johnny membentak Sarah, membuat mata Sarah berkaca-kaca air matanya yang mampu jatuh kapan saja. "Tapi John!" "Udah, loe bukan cewek baik-baik buat gue!" Bentaknya semakin tegas, murid-murid nampak nya semakin seru melihat perdebatan ini terutama lagi disana terlihat Siska dengan senyuman diwajahnya. "Huhhh!" Suara itu kembali tertuju pada Sarah, mereka semua rata-rata cewek yang ngefans berat ke Johnny dan merupakan hatters Sarah. Mata Johnny terarah ke murid-murid "Pergi lo semua!" Tegasnya membuat semua murid ketakutan dan memilih untuk pergi. "Johnny galak amat!" Gerutu semua murid sambil pergi Johnny melangkahkan kakinya pergi, ia menghilang dari pandangan Sarah, Sarah menunduk menangis rasanya dadanya begitu sangat sesak, seorang pria yang semenjak tadi berdiri dibelakang tembok langsung berlari kearah Sarah ia memegangi bahu Sarah dan berusaha untuk menguatkannya. Sarah sontak kaget "Kakak?" Desisnya pelan, ia langsung memeluk Nando begitu eratnya. "Seandainya gue gak bisa nahan emosi, sejak tadi dia pasti udah babak belur! Sayangnya, lo terlalu menyayangi dia!" Sarah semakin erat memeluk Nando, rasa sakitnya ini terasa semakin besar, Johnny yang membentak Sarah di depan umum dan lagi-lagi Johnny menyebutnya dia bukan gadis baik-baik dan lebih parahnya lagi sekarang ia mengatakannya di depan umum. "Bang, maaf!" "Kenapa minta maaf?” "Aku udah gak punya malu mengejar cowok di depan umum! Dan dihina di depan umum!" Lirih Sarah pelan, air matanya kian banyak "Baru kali ini abang liat lo sesedih ini karena cowok! Apalagi status dia bukan siapa-siapa lo! So, mulai sekarang berhentilah mengejar dia! Paham?" Sarah memandangi Nando serius "Tapi? Bang" "Stop Sarah!" "Bang, kasih kesempatan sekali lagi buat Sarah dapetin dia! Plis bang!" Suara Sarah terbata-bata lalu membuang air mata nya kasar Nando tak sanggup menatapi adiknya yang seperti ini, namun ia juga tak sanggup membiarkan dia kehilangan idaman hatinya. "Bang?" Gemetar Sarah membuat lamunan Nando buyar. "Ya sudah! Tapi lo jangan cengeng!" Ujar Nando lalu tersenyum padanya "Makasih bang! Kadang gue gak ngerti sama kasih sayang loe!" Desis Sarah yang masih dalam pelukannya "Kenapa?" "Kadang abang mengungkapi kasih sayang ke Sarah dengan lemah lembut dan kadang kasarnya bikin gue males denger!" Nando tersenyum "Guekan masih proses hijrah Sarah!" "Aaaaa bang Nando sweet banget sama adeknya, apalagi kalau jadi bebep gue!" "Gak mungkin; dia punya gue!" "Punya gue!" "Gue!" Nando dan Sarah mengalihkan pandangannya terlihat sekerumunan wanita yang tersenyum ria melihat Nando "Bisa gak diem? Gue pacarin aja semuanya mau?" Goda Nando dengan wajahnya yang datar, semua wanita itu berteriak histeris mendengar ucapan Nando barusan. Ananda mendengar itu semua, sebenarnya ia sudah berdiri sedari tadi namun ia enggan mengganggu adik-kakak yang sedang saling menguatkan, ia memberanikan diri melangkahkan kakinya dengan lesu. "Sarah, tas lo!" Sarah meraih tas nya yang diambilkan oleh Ananda, mata Nando terkunci memandangi wajah Ananda "Maaf gue gak bisa jagain loe!" Ananda berusaha untuk mengalihkan pandangannya. "Gapapa ko!" Desis Sarah dengan senyuman tulusnya "Ya sudah gue duluan ya?" Ujar Ananda lalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Nda?" Ujar Sarah membuat tubuh Ananda terhenti sejenak "Apa?" "Kenapa gak nanya abang Nando?" "Hmm, gu-gue buru-buru!" Ujarnya lalu pergi berlarian, lagi-lagi ia kecewa dengan perbuatan Nando
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD