2. Tatap Aku!

1215 Words
Kenop pintu bergerak turun sempurna. Tidak lama kemudian, daun pintu terdorong ke dalam hingga terpampang sosok tampan Ikosagon yang terlihat sangat asing di mata Theona. "Ada apa? Kenapa kau seperti melihat hantu?" tanya Ikosagon dingin melihat ekspresi terkejut Theona. "Se-seharusnya ak-aku yang tanya kenapa kau ada di sini?" Theona balas bertanya dengan nada suara tergagap. "Tentu saja karena aku pemilik kamar ini," sahut Ikosagon malas. "Tidak mungkin. Ini kamar calon suamiku dan bukan kamarmu," sergah Theona menggebu. Ikosagon menatap Theona sekilas sambil menunjukkan seringaiannya. Kemudian, pria itu menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam. Ia melepas jasnya dan melemparnya ke sofa. Kemudian, ia melepaskan dasi dan bergerak melepaskan kancing teratas. "A-apa ya-yang kau lakukan?" tanya Theona tergagap dengan raut ketakutan. "Memangnya apa yang ingin aku lakukan?" Ikosagon tersenyum nakal sengaja ingin membuat Theona ketakutan, "Aku hanya ingin mengganti baju saja," imbuhnya malas. Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum pada wanita. Padahal sebelumnya, ia termasuk pria yang sangat irit tersenyum. Bahkan hampir tidak pernah tersenyum. "Ganti baju? Di sini? Di kamar orang lain? Astaga! Mimpi apa aku semalam sampai-sampai bertemu dengan orang tidak tahu malu sepertimu?" Theona menepuk dahinya tidak habis pikir. "Sudah kubilang kalau ini kamarku. Seharusnya kau bisa menebak kenapa aku ada di sini, bodoh!" geram Ikosagon. Bagaimana bisa ia dipaksa menikah dengan wanita bodoh seperti Theona? Andai ia tidak diancam akan kehilangan seluruh harta warisan. Mungkin saat ini ia sedang bersenang-senang bersama seorang wanita di kamar hotel. "Bodoh kau bilang?" Theona tidak kalah kesal dibandingkan dengan Ikosagon. "Ya, kau memang bodoh. Kau pikir saja sendiri alasan kenapa aku menyebutmu bodoh." Ikosagon menatap Theona meremehkan, "Mana mungkin aku masuk ke kamar orang lain. Sudah jelas-jelas, sejak dulu ini kamarku. Dasar wanita bodoh!" imbuhnya sambil melirik Theona sinis. Pria itu melanjutkan aktivitasnya dengan melepas satu per satu kancing kemejanya. Sedangkan Theona sibuk berpikir berusaha mengartikan ucapan Ikosagon. "Apa jangan-jangan dia calon suamiku?" Theona mencuri pandang ke arah Ikosagon sekilas. Kemudian, ia kembali berpikir, "Bukankah calon suamiku pria tua berusia enam puluh lima tahun?" Theona memijit pelipisnya yang terasa sangat pening, "Tidak-tidak. Aku yakin ada yang salah atau mungkin aku dimasukkan ke dalam kamar yang salah?" "Kenapa kau bengong di situ, bodoh?" tanya Ikosagon kesal. Theona mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ikosagon. Namun, ia dikejutkan dengan penampilan pria itu yang hanya mengenakan celana boxer saja. "Aaa! Kau yang bodoh! Dasar pria m***m!" teriak Theona terkejut sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Pria m***m kau bilang?" Ikosagon melangkah mendekat ke arah Theona. Tubuh atletisnya dan seluruh otot-otot yang ada di tubuhnya terlihat sangat menawan. Namun, beraninya wanita itu menyembunyikan wajahnya, sementara semua wanita begitu tergila-gila pada tubuhnya. "Tatap aku, bodoh!" seru Ikosagon. Pria itu menarik tangan Theona agar mau menatapnya. Namun sayangnya, Theona menundukkan pandangan. "Kau berani menundukkan kepalamu?" geram Ikosagon. "Kenapa tidak berani? Aku tidak akan sudi menatap pria gila yang m***m sepertimu?" Tanpa sadar, Theona mengangkat kepalanya dan menatap tajam Ikosagon. Kemudian, ia menunduk menatap tubuh atletis pria itu, "Aaaaa!" teriaknya sambil menutup matanya erat. Entah apa yang membuatnya begitu bodoh sampai-sampai menatap tubuh menggoda pria itu. Padahal beberapa detik yang lalu ia berkata tidak sudi. Terlanjur kesal, Ikosagon meremas dagu Theona. "Tatap aku! Tatap suamimu ini, bodoh!" seru Ikosagon emosi. Mendengar kata suami membuat Theona terbelalak. "Su-suami? Suami kau bilang? Ha-ha-ha!" Setelah itu, ia tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa ia percaya bahwa ia memiliki suami yang tampan dan muda, sedangkan ia belum menikah? Kalaupun sudah, pasti suaminya seorang pria tua. "Diam!" bentak Ikosagon membuat Theona berhenti tertawa secara mendadak. "Iya, ini aku diam." Theona mengerucutkan bibirnya sambil menatap tajam Ikosagon, "Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku? Siapa kau sebenarnya? Katakan alasan kenapa kau ada di kamar calon suamiku dan alasan kau berkata bahwa kau suamiku?" pinta wanita itu. "Aku, Osa, pemilik kamar ini dan aku memang suamimu karena beberapa menit yang lalu kau sah menjadi istriku," jelas Ikosagon. "Tunggu! Siapa nama lengkapmu dan berapa usiamu?" tanya Theona ingin memastikan lebih dulu. "Ikosagon dan usiaku dua puluh sembilan tahun." Ikosagon menjawab sambil menggertakkan giginya, "Astaga, Tuhan! Kenapa aku dinikahkan dengan wanita bodoh seperti dia? Bagaimana bisa aku diinterogasi seperti ini? Memangnya aku mau melamar pekerjaan apa," batin Ikosagon frustasi. Untuk pertama kalinya Ikosagon diperlakukan seperti itu. Padahal biasanya ia selalu dipuja-puja banyak wanita dan tidak pernah didiamkan dalam keadaan tanpa pakaian seperti itu. "Kenapa pula dengan jantungku? Bagaimana bisa jantungku berdetak sangat cepat hanya karena wanita bodoh sepertinya?" bisik Ikosagon berkecamuk. "Benar bukan? Kau itu memang bukan calon suamiku karena yang aku tahu calon suamiku bernama Lakeswara dan usianya enam puluh lima tahun," ujar Theona sambil menghempaskan tangan Ikosagon yang sedari tadi meremas dagunya. "Astaga, Tuhan! Lakeswara itu ayahku, bodoh! Dan aku, dipaksa menikah denganmu, Theona bodoh!" balas Ikosagon frustasi. "Jadi, aku tidak akan menikah dengan pria tua?" tanya Theona takut-takut. "Tidak, bodoh. Kau dinikahkan denganku, pria tampan yang banyak digilai banyak wanita dan kau harus bersyukur," balas Ikosagon, tetapi tidak dihiraukan sama sekali oleh Theona. "Tapi, bagaimana bisa kita sudah sah menikah sedangkan aku tidak melakukan apa pun?" tanya Theona bingung. Melihat ekspresi dan sikap yang Theona tunjukkan sejak tadi membuat Ikosagon yakin, bahwa sang ayah tidak memberitahukan pada Theona bahwa dirinyalah yang dinikahkan dengan wanita itu. Jadi, bukan karena ketampanan yang membuat wanita itu mau dijodohkan dengannya. "Karena prosesnya dilakukan tanpamu, bodoh," sahut Ikosagon malas sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Theona berusaha mencerna kata-kata Ikosagon, tetapi tidak menemukan jawabannya. "Osa?" panggil seseorang dari luar. "Astaga! Kenapa, sih, tidak ada satu orang pun yang mau membiarkanku beristirahat," keluh Ikosagon beranjak duduk. Pria itu lekas berdiri dan berjalan ke arah pintu. Sepersekian detik kemudian, ia membukanya. "Apa, sih, Kak?" tanya pria itu dengan nada kesal. "Mana Theo? Kenapa kau tidak juga kembali?" Nonagon berusaha mengintip ke dalam, tetapi mendapati tubuh polos adiknya, "Astaga, Osa! Tamu undangan belum melihat mempelai wanitanya dan kau sudah mau unboxing?" Wanita itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Sebelumnya, Ikosagon bersikeras menolak perjodohan itu. Pria itu sampai berjanji akan berhenti bermain wanita, tetapi sang ayah tetap bersikeras menolaknya. Namun, apa ini? Pria itu sangat bersemangat untuk melakukan proses malam pertama dengan Theona. Sebenarnya, alasan sang ayah sampai menjodohkannya dengan Theona karena ia sering sekali keluar masuk hotel dengan wanita yang berbeda-beda. Dan, alasan mengapa Theona yang dijodohkan dengan Ikosagon karena Lakeswara yakin wanita baik seperti Theona akan mampu membuat putranya berubah. Ikosagon menoleh ke belakang mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat. "Kau mau ke mana?" tanya Ikosagon dingin. "Aku ingin memastikan sesuatu," sahut wanita itu. Pada kesempatan itu, Nonagon mendorong pintu lebar-lebar karena sejak tadi sang adik hanya membukanya sedikit. "Hai, Theo. Aku Nona, kakaknya Osa," sapa Nonagon sambil melambaikan tangannya. "Hai." Theona balas menyapa, tetapi raut wajahnya berubah tidak enak, "Apa aku boleh tanya sesuatu?" "Tentu saja, Adik ipar. Memangnya kau mau tanya apa?" sahut Nonagon dengan senang hati. Wanita itu langsung mengalungkan lengannya di lengan Theona. Wanita itu bersikap seolah sudah lama sekali mengenal Theona, padahal baru pertama kali bertemu. "Apa Tuan Lakeswara ayah kalian?" tanya Theona masih meragukan jawaban Ikosagon sebelumnya. "Tentu saja," balas Nonagon mengangguk. "Lalu, apa benar aku dan Osa sudah sah menjadi suami istri?" tanyanya lagi. "Iya, Adik ipar. Jadi, kau dan Osa harus turun untuk menemui tamu undangan." Nonagon semakin mengeratkan tangannya, "Aku dan Theo turun lebih dulu dan kau harus segera menyusul," imbuh wanita itu sambil menatap tajam adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD