"Sial! Melelahkan sekali," umpat Ikosagon kesal.
Sebenarnya, ia malas sekali harus menemui ribuan tamu undangan, sedangkan ia tidak menikah dengan wanita yang ia pilih sendiri. Namun, apa kau dikata. Ia tidak bisa melawan kehendak ayahnya.
"Rasanya aku ingin membaringkan tubuhku sesegera mungkin."
Pria itu berjalan dengan langkah terhuyung dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kemudian, ia menoleh ke samping mengingat Theona masuk ke kamar bersamanya.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" tanya Ikosagon dingin.
Pria itu melihat Theona meraih resleting baju pengantinnya dan menariknya ke bawah. Berhubung sulit sekali untuk menurunkannya sampai ke bawah. Jadi, wanita itu melepaskan lengan baju bagian kiri terlebih dahulu, dengan maksud ingin menarik resleting sampai ke bawah.
"Aku hanya ingin menurunkan resleting saja. Setelah itu, aku mau membersihkan wajah, mengganti baju, dan tidur," sahut Theona secara rinci.
"Lakukan itu di kamar mandi atau di ruang ganti saja," ujar Ikosagon memerintah.
Melihat punggung mulus Theona membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Apalagi bagian bawah tubuhnya yang langsung menegang sempurna.
"Baiklah, tapi aku akan membersihkan riasanku lebih dulu," balas Theona mengangguk.
Beruntung semua peralatan yang dibutuhkan sudah tersedia di depan meja rias. Jadi, wanita itu bisa langsung membersihkan wajahnya tanpa mencari perlengkapan yang dibutuhkan. Setelah selesai, ia langsung pergi ke ruang ganti. Tidak lama kemudian, ia kembali dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Ikosagon.
"Astaga, Theo! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ikosagon frustasi.
"Aku mau tidur, Osa. Memangnya apa yang akan orang lakukan di atas tempat tidur semalam ini kalau bukan tidur?" sahut Theona heran.
"Aku tahu kau mau tidur, tapi tempat tidurmu bukan di sini melainkan di sana," kata Ikosagon sambil menunjuk ke arah sofa.
Bagaimana bisa pria itu meminta istrinya agar tidur di sofa? Bukankah ia sangat keterlaluan memperlakukan wanita yang baru saja dinikahi itu?
"Aku tidak mau dan aku mau tidur di sini saja," tolak Theona tegas.
Wanita itu merapikan bantal dan menarik selimut sampai sebatas leher. Kemudian, ia memejamkan matanya bersiap untuk tidur.
"Kenapa tidak mau? Ini kamarku, ini tempat tidurku, dan aku tidak ingin orang lain tidur di atas tempat tidurku." Ikosagon beranjak duduk dan menarik selimut yang menutup tubuh Theona.
"Aku tahu ini kamarmu dan kau harus tahu kalau aku ini istrimu. Apa pun yang kau miliki berarti milikku juga. Jadi, aku berhak tidur di atas tempat tidur ini," sergah Theona menggebu.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap konyol Ikosagon. Bagaimana bisa ia tidur di sofa sedangkan pria itu enak-enakan tidur di atas kasur yang empuk dan nyaman?
"Kau?" Ikosagon menggertakkan giginya geram, "Kau mau pindah ke sofa sendiri atau mau aku paksa?" imbuhnya mengancam.
"Nananana ... dudududu ... Syalalala." Theona bersenandung tanpa menghiraukan ancaman suaminya.
Melihat sikap Theona yang sama sekali tidak takut membuat Ikosagon semakin kesal. Pria itu mengulurkan kakinya dan menendang Theona hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Aww! Apa kau gila?!" pekik Theona sambil mengusap pinggulnya.
"Salahmu sendiri mengabaikan peringatanku," sahut Ikosagon malas.
Theona beranjak berdiri sambil berkacak pinggang. "Dasar suami kejam!" umpatnya kesal.
"Tunggu-tunggu! Kenapa kau memakai kemejaku?" imbuhnya baru menyadari pakaian yang Theona kenakan.
"Karena aku tidak memiliki pakaian apa pun di rumah ini," sahut Theona merengkuh bantal dan langsung berbalik menuju sofa.
"Sial! Besok ambil pakaianmu dan jangan pernah memakai pakaianku lagi," dengus Ikosagon kesal.
"Ya, bawel," jawab Theona ketus.
Wanita itu meletakkan bantal dan lekas berbaring. "Apa lihat-lihat?" ketus Theona mendapati sang suami merperhatikannya.
"Dasar bodoh!" umpat Ikosagon.
Theona menjulurkan lidahnya ke arah Ikosagon. Kemudian, ia membenarkan posisinya dan melipat kedua tangannya di atas perut. Awalnya, ia berbaring dengan posisi terlentang dan lama-kelamaan mulai tidak teratur. Paha mulusnya terlihat dan tidak sengaja Ikosagon melihatnya.
"Dasar wanita sialan!" Ikosagon membalikkan tubuhnya sambil bergumam, "Aku tidak boleh terpancing hanya karena paha mulus wanita bodoh itu."
Setelah mengumpat, Ikosagon memejamkan matanya perlahan. Tidak lama kemudian, mulai terdengar suara dengkuran halus yang menandakan bahwa pria itu sudah tertidur pulas.
***
Keesokan harinya, Theona turun ke bawah bersama Ikosagon. Wanita itu memakai gaun hasil pinjam dari kakak iparnya, Nonagon.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Hexagon perhatian.
Sejak tadi, ia melihat wajah menantunya pucat dan tidak bersemangat. Ia pikir, menantunya itu sedang kurang sehat.
"Tidak apa-apa, Mami. Tubuh Theo hanya sedikit pegal," sahut Theona sambil menyentuh bahunya.
"Sepertinya ini ulah Osa, Mi." Nonagon menatap ibu dan adiknya bergantian, "Ternyata Osa hanya berpura-pura menolak waktu dijodohkan dengan Theo. Buktinya tubuh Theo pegal-pegal karena diunboxing berkali-kali sama Osa," imbuhnya sambil tersenyum cengengesan.
"Nona," geram Ikosagon.
"Osa!" bentak Lakeswara.
"Iya, Pi, maaf," ujar Ikosagon menunduk mengakui kesalahannya.
Meskipun ia dan Nonagon dilahirkan hanya berbeda beberapa menit saja. Namun, ayah dan ibunya selalu mengajarkan untuk menghormati kakaknya. Begitu pula dengan Nonagon yang harus menghormati adiknya.
"Lanjutkan proses sarapan kita dan tidak boleh ada yang bersuara," ucap Lakeswara tegas.
Semua orang mulai kembali fokus pada prosesi sarapan mereka. Sedangkan Theona menatap Ikosagon miris. "Diunboxing apanya? Tidak tahu saja, aku pegal-pegal begini karena semalaman tidur di sofa," bisik Theona dalam hati.
Beberapa saat setelah sarapan, Ikosagon beranjak berdiri dan pamit untuk pergi ke kantor. Namun, sang ayah mengikutinya sampai ke pintu utama.
"Semalam kau baru menikah dan sekarang sudah mau pergi bekerja? Astaga, Osa! Kau benar-benar pria pekerja keras," ujar Lakeswara mengejek.
"Dari dulu Osa memang pria pekerja keras, Pi," sanggah Ikosagon bangga.
Pria itu sama sekali tidak sadar bahwa sang ayah sedang mengejeknya. Sebenarnya bukannya tidak sadar, ia hanya berpura-pura tidak tahu saja.
"Pernikahan ini bukan akhir dari rencana papi, Osa. Jika kau tidak memberi papi cucu, maka sia-sia saja pernikahan ini kau lakukan karena semua harta kekayaan keluarga ini akan jatuh ke panti sosial," ancam Lakeswara terlihat sangat serius.
"Maksud Papi apa? Bukankah Papi bilang Osa harus menikah dengan Theo agar Osa mendapat warisan? Lalu, apa ini?" tanya Ikosagon terbelalak.
"Cih! Kau pikir papi tidak tahu akal bulusmu? Tidak, Osa. Pokoknya kau harus memberi papi cucu dari Theo. Kalau tidak, maka tamatlah riwayatmu," sanggah Lakeswara menggebu.
Ia tahu betul seperti apa putranya. Ia tahu rencana apa yang akan Ikosagon lakukan setelah mendapatkan semua aset dan harta kekayaannya. Putranya itu akan meninggalkan Theona dan memilih untuk terus bersenang-senang dengan berbagai wanita di luaran saja.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Ikosagon menjadi pria penggila seks. Pria itu melakukan seks minimal satu Minggu sekali. Tidak jarang ia melakukannya satu bulan sampai dua bulan sekali. Namun, ia tidak sembarang melakukannya karena sebelum melakukan hubungan intim, ia harus pergi konsultasi terlebih dulu ke dokter. Jadi jika kondisinya tidak memungkinkan, maka dokter akan melarangnya.
Ia melakukan hal itu karena sejak kecil sudah mengalami kelainan jantung dan selama hidupnya harus selalu meminum obat. Ia juga merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Jadi, ia merasa perlu menikmati hidupnya sebelum ajal datang menjemput. Namun, siapa sangka diusianya yang ke dua puluh sembilan ia mendapat donor jantung yang cocok.
"Papi benar-benar tidak adil," kesal Ikosagon.
Pria itu melangkah ke depan dan berbalik masuk ke dalam. Sepertinya rencana untuk pergi ke kantor ia batalkan.
Sementara di meja makan, Theona sedang meminta izin pada ibu mertuanya untuk mengambil pakaian di rumah orang tuanya.
"Boleh tidak, Mi, kalau Theo pulang ke rumah Papa sebentar?" izin Theona menatap ibu mertuanya ragu-ragu.
"Untuk apa, Sayang?" balas Hexagon bertanya.
Baru semalam sah menjadi menantu di rumahnya, Theona sudah meminta izin untuk pulang.
"Theo mau ambil pakaian di rumah. Tidak mungkin kalau Theo memakai pakaian Osa atau Kak Nona terus," jelas Theona sambil mencubit ujung bajunya.
"Masalah pakaian tidak perlu kau pikirkan karena Mami sudah menyiapkan segalanya untukmu," timpal Nonagon.
"Maksudnya?" tanya Theona tidak mengerti.
"Maksud aku, Mami sudah memesan ratusan gaun untukmu, Theo," jelas Nonagon.
"Yang Nona katakan benar. Jadi, kau tidak perlu mengambil pakaianmu di rumah orang tuamu," timpal Hexagon mengulas senyuman.
Ketika sang suami mengatakan rencananya untuk menjodohkan Ikosagon dengan Theona. Hexagon sudah membuat banyak rencana. Ia akan memperlakukan Theona layaknya putri kandungnya sendiri.
"Terimakasih, Mami," kata Theona tulus. Ia tidak menyangka akan mendapat kasih sayang dari keluarga suaminya.
Di tengah pembicaraan, tiba-tiba Ikosagon memanggil, "Ikut aku ke kamar, Theo!
Theona menoleh ke belakang dan hanya mendapati punggung suaminya yang menjauh. Ia lekas berpamitan dan menyusul suaminya ke kamar.
"Ada apa? Bukankah tadi kau sudah berpamitan mau pergi ke kantor?" tanya Theona sambil melangkah masuk ke dalam. Ia sama sekali tidak melihat bagaimana ekspresi kesal suaminya.
"Tidak perlu banyak tanya!" seru Ikosagon dingin.
Pria itu membalikkan badannya dan meraih tangan istrinya. Kemudian, ia mendorong tubuh Theona ke atas tempat tidur dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan, Osa?" tanya Theona sambil mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Mari kita lakukan malam pertama yang seharusnya kita lakukan semalam," ajak pria itu.
"Iya, tapi tidak seharusnya kau bersikap kasar seperti ini," sungut Theona kesal. Mana ada suami meminta jatah, tetapi memperlakukannya dengan kasar?
Sepersekian detik kemudian, Ikosagon sudah mengungkung tubuh Theona. Dengan keahliannya membius setiap wanita yang akan ditiduri, Ikosagon sudah bisa membuat Theona terhipnotis.
Pria itu mulai mengecup hingga melumat bibir ranum Theona. Perlahan, ia mulai turun ke bawah dan mengecupi tulang selangka sambil menghirup dalam-dalam aroma shampo bunga lavender. Kemudian, ia mulai melucuti gaun dan pakaian lainnya. Setelah itu, Ikosagon melakukan banyak hal yang membuat Theona melayang.
Permainan Ikosagon benar-benar lihai dan memabukkan. Pria itu tersenyum menyeringai melihat betapa Theona menikmatinya. Setelah merasa puas bermain-main, kini sudah saatnya bagi Ikosagon menuju ke inti dari tujuannya melaksanakan malam pertama yang tertunda yaitu membuat anak.
Alih-alih merasa senang karena bisa memuaskan diri tanpa harus membayar wanita di luaran sana, Ikosagon justru kesal. Pria itu bergegas menyelesaikan aktivitasnya dengan raut kecewa.
"Dasar w************n!" umpat Ikosagon.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Theona kecewa.
Tega-teganya Ikosagon menyebutnya w************n setelah melakukan pagi pertama setelah semalam mereka menikah.
"Kau benar-benar murahan, Theo. Berapa banyak pria yang sudah menidurimu, huh?!" bentak Ikosagon.
Ia pikir, ia bisa memiliki anak dengan Theona yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Selain demi harta warisan, ia juga sudah memutuskan untuk memiliki anak sungguhan dengan Theona. Namun yang tak disangka-sangka, Theona justru sudah tidak perawan lagi.
"Kau salah paham, Osa. Aku ... Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana pun," jelas Theona dengan air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.