Theona terpaku beberapa saat. Ia memicingkan matanya melihat wajah Ikosagon yang kian mendekat. Apalagi dengan manik mata yang terpejam sempurna. Namun, semburan nafas hangat beraroma khas itu langsung menyeruak ke dalam indera penciumannya membuatnya ikut memejamkan matanya. Hingga sepersekian detik kemudian, ia merasakan sesuatu yang lembut dan lembab mendarat di bibirnya.
Perlahan, lumatan-lumatan lembut hingga pada akhirnya ia merasakan gigitan di area bibir bawahnya. Sontak, Theona membuka mulutnya dan memberi akses bagi Ikosagon menelusupkan lidahnya. Rasanya sangat asing dan aneh. Meskipun ia pernah berciuman dengan mendiang kekasihnya dulu. Akan tetapi, hanya ciuman biasa yang sekedar menempelkan bibirnya satu sama lain. Tidak seperti yang Ikosagon lakukan. Rasanya begitu menggebu dan menggairahkan.
Merasakan kekakuan, sontak Ikosagon membuka mata dan sedikit menjauhkan kepalanya. "Apa kau sedang berpura-pura tidak pernah berciuman?" tanya pria itu mengejek.
Mendengar pertanyaan itu, jantung Theona seolah ingin keluar. Ia pikir, Ikosagon mau menyentuhnya karena sudah mau menerimanya. Namun kenyataannya, pria itu hanya ingin menuduh dan merendahkannya saja.
"Kenapa kau selalu berpikir negatif tentangku, Osa? Sumpah aku belum pernah berciuman seperti itu. Aku hanya pernah berciuman sekedar menempelkan bibir saja," tanya Theona kecewa. Ia bahkan berusaha menjelaskan berharap sang suami akan percaya.
"Cih! Mana mungkin wanita yang sering bermain-main di luar dengan pria, tapi belum pernah berciuman. Kalau mau membual masuk akal sedikit. Kau pikir aku anak kecil yang bisa dibodoh-bodohi?" sanggah Ikosagon sinis.
"Sudah kubilang kalau aku tidak seperti yang kau pikirkan. Selaput daraku robek karena aku diperkosa," kata Theona berusaha menjelaskan. Air mukanya sudah memerah dan air matanya langsung mengembun. Hampir saja tumpah ruah membanjiri wajahnya.
"Terserah kau mau mengelak seperti apa. Pokoknya sampai dunia kiamat pun aku tidak akan pernah percaya," balas Ikosagon malas.
Pria itu berbalik dan masuk ke dalam kamar. Sementara Theona hanya bisa menangis sesenggukan. Menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu. Tubuhnya sudah meluruh dan duduk terjerambah di lantai.
"Kenapa harus sesakit ini?" Theona meremas dadanya kuat-kuat diiringi bulir-bulir bening yang terus mengalir membasahi pipinya.
Jantungnya merasakan kebahagiaan yang teramat jika Theona berada di dekat Ikosagon. Namun, jantungnya terasa sangat sakit jika mendengar kata-kata buruk terlontar dari mulut pria itu. Andai pada pandangan pertama jantungnya tidak langsung jatuh hati pada Ikosagon. Andai setelah mengetahui pria itu adalah suaminya ia tidak memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya. Akankah rasanya tidak akan sesakit itu?
"Tidak, aku tidak boleh cengeng. Aku harus kuat. Bukankah selama ini kau wanita yang kuat, Theo? Yah, tetaplah menjadi Theo yang kuat."
Theona baru tersadar telah menjadi wanita lemah semenjak mengenal Ikosagon. Sudah dua kali ia menangis karena ucapan pria itu. Ia lekas menghapus air matanya dan berusaha menguatkan dirinya sendiri. Bertahun-tahun ibunya meninggal, bertahun-tahun selalu diperlakukan tidak adil oleh keluarganya, bahkan belum lama ini kekasihnya juga tiada. Ia tidak pernah sekalipun meneteskan air matanya. Jadi, ia bertekad untuk menjadi Theona yang dulu. Theona yang tahan akan badai api sekalipun.
"Baiklah, selamat datang hidup baru," lirih Theona beranjak berdiri sambil mengulas senyum. Mau tidak mau, ia tetap harus menyambut kehidupan barunya.
Dulu, cobaannya dengan ayah dan ibu tiri juga saudara tirinya. Sekarang di saat sudah menikah, ia mendapatkan ayah dan ibu mertua yang baik, kakak ipar yang baik, tetapi mendapat suami yang tidak mencintainya. Terlebih dengan sikap dan tutur kata yang selalu menyakitkan hatinya. Namun yang paling menyakitkan hatinya adalah mengetahui sang suami mencintai wanita lain.
"Ingat! Kita tetap satu kamar," ujar Ikosagon tiba-tiba.
Entah sejak kapan pria itu berdiri di depan pintu. Bahkan Theona sendiri tidak sadar pintu telah dibuka.
"Ah, iya," terkejut Theona.
Ikosagon mengernyitkan dahinya melihat raut wajah Theona yang bersinar. Padahal sebelumnya terlihat sedih dan basah akan air mata.
"Kenapa ekspresi wajahnya cepat sekali berubah?" batin Ikosagon sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia kembali masuk ke dalam kamar diikuti oleh Theona.
Ikosagon merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memalingkan wajahnya dan menatap Theona yang duduk di sofa.
"Mulai malam ini kau tidak perlu tidur di sofa lagi," kata pria itu.
"Kalau bukan di sofa, lalu aku tidur di mana?" tanya Theona sambil mengerutkan keningnya.
Tidur di atas tempat tidur tidak diizinkan dan tidur di sofa pun tidak diperbolehkan. Lalu, ia harus tidur di mana? Di kamar mandi?
"Tidur di sini bersamaku." Ikosagon menepuk-nepuk kasur dan melanjutkan kata-katanya, "Tapi kau jangan salah paham dulu. Aku mengizinkanmu tidur bersamaku di sini bukan karena aku menyukaimu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu. Di hatiku cuma ada satu nama yang akan selalu memenuhi hatiku," imbuhnya menggebu.
Awalnya, manik mata Theona berbinar. Sudut bibirnya perlahan naik ke atas. Jantungnya berdegup kencang merasakan kebahagiaan. Namun, mendengar Ikosagon berkata bahwa ia mencintai wanita lain membuat semangatnya kembali runtuh. Hidupnya serasa hancur dalam sekejap mata.
"Kenapa? Apa kau kecewa?" tanya Ikosagon melihat Theona hanya melamun.
"Ti-tidak. Aku sama sekali tidak kecewa," sahut Theona menyangkal.
"Baguslah kalau kau tidak kecewa. Lagi pula, meskipun kau kecewa sekalipun aku tetap tidak peduli," ujar Ikosagon malas.
"Aku berjanji, aku akan merebut hatimu, membuatmu mencintaiku, dan membuatmu melupakannya," tekad Theona dalam hati.
Ia hanya perlu bersabar dan berusaha keras agar Ikosagon mau melihatnya. Bahkan batu yang sangat keras jika terus-menerus diterpa air hujan akan hancur. Begitu juga dengan hati Ikosagon. Ia yakin seiring berjalannya waktu sang suami akan berubah mencintainya.
"Kau mau ke mana?" tanya Ikosagon melihat Theona beranjak berdiri. Padahal wanita itu baru saja duduk.
"Aku lapar. Apa kau tidak lapar?" sahut Theona balik bertanya.
"Lapar, tapi di rumah ini tidak ada bahan makanan apa pun," balas Ikosagon sambil menyentuh perutnya yang sedikit keroncongan.
Semua barang-barang memang sudah dipindahkan sebelum mereka datang ke rumah itu. Namun, hanya bahan makanan saja yang tidak ada di sana. Theona sama sekali tidak terpikirkan akan hal itu karena proses pindah yang tiba-tiba.
"Kalau mie instan ada tidak?" tanya Theona ragu.
Satu menit yang lalu ia berpikir untuk memesan makanan siap antar. Namun, akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan ia tidak berpikir sanggup menahannya.
"Aku tidak tahu, tapi kau coba periksa saja. Barangkali saja penjaga rumah menyimpannya," balas Ikosagon.
"Baiklah, tapi kalau ada kau mau tidak? Kalau mau, biar aku buatkan sekalian,"tawar Theona.
Meskipun ia tidak yakin Ikosagon mau, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Lagi pula, meskipun konglomerat seperti Ikosagon tidak terlihat pernah memakan mie instan. Namun, dalam keadaan lapar seperti ini tidak memungkinkan untuk tidak menolak.
"Bo-leh," sahut Ikosagon mengangguk ragu.
Jujur, ia jarang sekali makan mie instan. Mungkin satu banding seribu selama hidupnya. Padahal bagi sebagian banyak penduduk di muka bumi ini sangat menyukai mie instan.
"Oke, aku coba cek dulu." Theona melangkah keluar kamar dan tidak sadar bahwa Ikosagon juga ikut berjalan di belakangnya, "Astaga! Aaa!"
Theona terkejut dengan kehadiran Ikosagon yang tiba-tiba. Tubuh wanita itu menjadi tidak seimbang sehingga ia terjatuh ke belakang. Namun belum sempat mendaratkan tubuhnya di lantai, Ikosagon sudah menangkapnya.
Perlahan, Theona membuka mata dan melihat Ikosagon sedang menatapnya lekat. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya dengan detak jantung pria itu saling bersahutan.