"Kau meminta pindah bukan karena Mami membuat kesalahan 'kan, Theo?"
Mendengar pertanyaan sang ibu membuat manik mata Ikosagon membola. Hampir saja melompat keluar dan menggelinding menyusuri lantai.
"Pi-pindah?" tanya Theona terbata.
Manik mata Theona terbelalak. Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan yang ibu mertuanya lontarkan. Meskipun baru semalam tinggal di rumah itu. Namun, ia langsung merasa nyaman dan merasa memiliki keluarga.
Theona menelan salivanya dengan susah payah. Kemudian, manik matanya bergerak ke arah suaminya. Ia melihat Ikosagon memberi isyarat dengan membulatkan manik matanya. Akhirnya, ia tahu maksud dari pertanyaan ibu mertuanya tentang pindah rumah.
"Iya, pindah. Atau jangan-jangan ini hanya rencana Osa saja dan kau tidak tahu?" balas Hexagon curiga.
Ia lekas menatap putranya yang tiba-tiba tersenyum canggung ke arahnya. Melihat sikap putranya yang mencurigakan membuat Hexagon yakin bahwa Theona sama sekali tidak tahu.
"Tidak, Mi. Rencana kepindahan sudah Osa dan Theo bicarakan matang-matang," timpal Ikosagon menyambar sebelum Theona menjawab yang tidak-tidak.
"Apa benar begitu, Theo?" tanya Hexagon memastikan.
Theona melirik ke arah Ikosagon dan mendapat tatapan tajam. "I-iya, Mi. Theo sama Osa sudah memutuskan untuk pindah agar lebih mandiri."
Awalnya, suara Theona terdengar ragu dan terbata. Kemudian, ia memikirkan hidup berdua saja bersama Ikosagon membuat jantungnya berdebar-debar. Sehingga, ia mengeluarkan kata-kata itu tanpa memikirkan apa pun. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Baiklah, kalau memang ini sudah menjadi keputusan kalian. Mami mengizinkan, tapi kalian tetap harus sering-sering menginap di sini," putus Hexagon.
Meskipun ia belum siap jauh dari putranya. Ia juga sudah merasa sangat nyaman dengan Theona. Namun, ia tidak bisa memaksakan kehendak putra dan menantunya itu. Setelah dipikir-pikir, jarak rumah mereka hanya beberapa blok saja. Jadi, ia bisa sering-sering berkunjung atau sekedar dikunjungi.
"Terimakasih, Mi. Kalau begitu, Osa sama Theo mau siap-siap buat pindah," pamit Ikosagon bersemangat.
Pria itu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya. Theona cukup bingung dan hanya menatap tangan suaminya. Ia tidak tahu maksud dari uluran tangan itu.
"Kenapa bengong?" tanya Ikosagon sambil menggoyangkan tangannya.
"Ah, iya."
Theona terkejut dari lamunannya dan langsung merengkuh tangan suaminya. Rasanya, tangan Ikosagon itu sangat lebar dan hangat. Ia menatap suaminya lekat dan tersenyum lembut. Ia berharap, kejadian ini bukan hanya mimpi.
"Osa sama Theo ke kamar dulu. Sekalian mau bikin cucu buat Mami sama Papi." Ikosagon mengedipkan matanya genit membuat Theona lupa kejadian sebelumnya.
"Ya sudah, cepat sana," kata Hexagon tidak sabaran.
Mendengar ucapan putranya membuat wanita itu senang. Ia menjadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu.
Ikosagon melepaskan tangannya membuat Theona kecewa. Wanita itu benar-benar merasa nyaman dengan tangan yang lebar nan hangat itu. Namun, ia dikejutkan dengan gerakan tangan suaminya yang kini mendarat di bahunya.
"I-ini," terkejut Theona dalam hati.
Jujur, mendapat perlakuan seperti itu membuat Theona merasa melayang. Apalagi senyuman hangat yang terpatri di wajah Ikosagon. Rasanya ia sedang bermimpi indah dan enggan untuk beranjak bangun.
"Ayo, Sayang!" ajak Ikosagon mengurai senyum lembut.
"Jika ini nyata, maka jangan biarkan waktu cepat berlalu. Jika ini mimpi, maka jangan pernah bangunkan aku," bisik Theona dalam hati sambil menatap Ikosagon sendu.
Kini, pria itu membimbing istrinya berjalan ke arah tangga. Sepanjang jalan, Ikosagon selalu tersenyum seolah ia benar-benar bahagia menikahi Theona. Namun setelah sampai di kamar, ia langsung menjauhkan tubuhnya.
"Jangan salah paham! Apa yang aku lakukan tadi hanya sandiwara saja. Aku tidak ingin Mami khawatir dan tidak mengizinkan kita pindah," ujar Ikosagon menjelaskan. Ia tidak ingin Theona salah paham dengan sikap lembutnya.
"Aku tahu," sungut Theona lesu sambil melangkah ke arah sofa dan duduk.
Ia sudah bisa menduga sebelumnya. Tidak mungkin Ikosagon berubah lembut padanya dalam sekejap. Itulah alasan mengapa ia tidak ingin bangun jika itu mimpi.
"Kenapa kau duduk? Ayo bersiap!" tanya Ikosagon.
"Bersiap untuk apa? Aku tidak memiliki barang apa pun di rumah ini." Theona menatap suaminya sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, iya juga." Ikosagon terlihat seperti orang linglung. Kemudian, melangkah masuk ke dalam ruang ganti untuk persiapan pindah rumah.
***
Sore hari, Ikosagon mutuskan untuk pindah. Kedua orang tuanya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena putranya sudah bertekad untuk pindah.
"Ada berapa kamar di rumah ini?" tanya Theona sambil mengedarkan pandangan.
"Yang pasti lebih dari satu kamar," sahut Ikosagon.
"Oke." Theona berjalan menaiki anak tangga mengikuti Ikosagon, "Kamarmu di sebelah mana?" imbuh Theona bertanya.
"Ini kamarku," sahut Ikosagon sambil menyentuh gagang pintu.
"Baiklah. Kalau begitu, aku cari kamar yang lain saja," kata Theona sambil melangkah ke samping kiri.
Ia tahu maksud Ikosagon meminta pindah. Pria itu tidak ingin satu kamar dengannya. Jadi, ia harus tahu diri dan mencari kamar lain sebelum diusir.
"Tidak perlu. Kita tetap satu kamar saja," balas Ikosagon dingin.
"Kenapa tidak perlu? Bukankah alasanmu meminta pindah karena tidak mau satu kamar denganku?" tanya Theona heran.
"Sudah jangan banyak tanya. Pokoknya kalau aku bilang satu kamar ya satu kamar," sergah Ikosagon.
"Tapi aku tidak mau satu kamar denganmu," kata Theona menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Kenapa tidak mau? Apa kau sengaja ingin membuat Papi tahu dan marah padaku?" tanya Ikosagon curiga.
Meskipun ia pindah, ia tetap tidak akan pernah bisa lepas dari pengawasan ayahnya. Meskipun demikian, ia bisa sedikit lebih leluasa bergerak daripada di rumah orang tuanya.
"Bu-bukan, bukan itu maksud aku," balas Theona terbata.
Pria itu melangkah maju dengan raut iblisnya membuat Theona ketakutan dan berjalan mundur.
"Kalau bukan, terus apa?" tanya Ikosagon sambil menggertakkan giginya.
Ia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan langkahnya. Apalagi melihat raut ketakutan di wajah Theona. Rasanya sangat menyenangkan dan pikiran jahat muncul di kepalanya.
"Ak-aku ... Aku hanya tidak mau tidur di sofa. Seluruh tubuhku sakit jika harus tidur di sofa setiap malam. Jadi, biarkan aku tidak di kamar lain saja," sahut Theona sambil menundukkan kepalanya.
Jaraknya yang sangat dekat membuat Theona merasakan hembusan nafas Ikosagon. Aroma mint dan hormon pria itu begitu kuat membuatnya lemah. Rasanya ingin melemparkan tubuhnya ke pelukan Ikosagon.
"Apa yang kau lihat di bawah? Aku di sini dan bukan di bawah." Ikosagon menyentuh dagu Theona dan mengangkatnya diiringi cengkeraman kuat. Suaranya yang terdengar sangat dingin membuat Theona semakin ketakutan.
"A-aku ..."
Theona mengangkat kepalanya bertepatan dengan Ikosagon yang menatapnya. Kemudian, ia kembali menundukkan kepalanya dengan tergesa-gesa.
"Tatap mata aku, Theo!" seru Ikosagon.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Theona menggeleng cepat.
"Tatap aku atau kau akan menyesal," ancam Ikosagon sambil menggertakkan giginya.
Mendengar ancaman yang Ikosagon lontarkan membuat Theona mengangkat kepalanya dan menatap manik mata hitam pria itu. Selain Theona, Ikosagon pun menatap manik mata Theona. Bahkan, tatapan matanya beralih menggerilya di setiap inchi wajah Theona.
Jantungnya serasa akan meledak. Debarannya semakin lama semakin cepat dan tidak bisa dikendalikan. Dan lagi-lagi, ia menyadari akan perubahan jantungnya setiap kali berdekatan dengan Theona. Sampai sepersekian detik kemudian, ia memiringkan kepalanya dan memejamkan matanya erat.