6. Diperlakukan Dengan Tidak Baik

1026 Words
"Yang benar saja, Pi. Meskipun sebelumnya Osa sering sekali keluar masuk hotel bersama wanita, tapi sekarang sudah tidak lagi. Osa sudah menikah dan tidak berencana untuk melakukannya lagi," sergah Ikosagon jujur. Ikosagon pikir, untuk apa ia keluar masuk hotel sedangkan ia memiliki istri di rumah yang siap melayaninya. Ya, meskipun ia tahu kenyataannya seperti apa. Namun, ia bertekad untuk tidak akan menyerahkan hatinya pada Theona. Ia sudah memutuskan untuk menyerahkan hatinya pada wanita di hotel waktu itu. "Lalu, apa alasanmu meminta pindah?" tanya Lakeswara menatap putranya serius. "Osa sudah menikah, Papi. Selain ingin hidup mandiri, Osa dan Theo juga butuh privasi. Jadi, pindah dari rumah ini adalah pilihan kami yang paling tepat. Papi tidak ingin Theo merasa tidak nyaman, bukan? Tidak ada menantu di luaran sana yang mau tinggal satu atap dengan mertuanya, begitu juga dengan Theo," jelas Ikosagon beralasan. Padahal Theona sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Apa yang Ikosagon katakan memang benar. Di luaran sana, hampir tidak ada yang ingin tinggal bersama mertuanya. Apalagi sampai tinggal di rumah mertuanya. Namun jika mertuanya seperti Lakeswara dan Hexagon, mungkin tidak akan ada satu menantu pun yang menolak untuk tinggal bersama mereka. Selain baik, mereka perhatian dan penyayang. Jadi, Theona bisa merasakan kehangatan kedua orang tua yang sangat ia rindukan. Lakeswara nampak berpikir. Pria itu terlihat sedang menimbang-nimbang. "Apa Theo benar-benar merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini? Papi sama Daddy Raga saja nyaman-nyaman saja tinggal di rumah mertua. Istrinya Sky, Athena juga tinggal di rumah mertuanya dan baik-baik saja," tanya Lakeswara ragu. "Itu 'kan Papi sama Daddy Raga, bukan Theo." Ikosagon melirik takut-takut ke arah ayahnya, "Itu karena Sky yang memutuskan tidak ingin jauh dari Daddy Raga sama Mommy Oza. Lagian Ice sama Clover juga tinggal di rumah mereka sendiri. Masa Osa sama Theo tidak boleh," imbuhnya menggebu. Pria dua anak itu kembali berpikir. Sebenarnya bukan maksud Lakeswara ingin menolak keinginan putranya untuk tinggal di rumahnya sendiri. Ia hanya takut Theona akan diperlakukan dengan tidak baik oleh putranya. "Memangnya kalau papi izinkan, kau akan tinggal di rumah yang mana?" tanya Lakeswara. Ada dua rumah yang sudah ia persiapkan untuk putra dan putrinya setelah menikah. Yang satu masih di area rumahnya dan satu lagi di area rumah kakaknya, di mana rumah turun-temurun keluarga Candramawa. "Osa sama Theo mau tinggal di apartemen saja, Pi. Sudah lama sekali apartemen kosong karena Osa tidak pernah menginap lagi di sana," sahut Ikosagon mantap. "Tidak bisa. Jika kau mau, tinggal di rumah yang sudah papi sediakan untukmu. Kalau tidak, tetap tinggal di sini saja," ujar Lakeswara tegas. "Baiklah, Osa tinggal di rumah yang sudah Papi siapkan," balas Ikosagon menyerah. "Bagus. Kau boleh ajak Theo pindah tiga hari lagi," kata Lakeswara. Ia hanya ingin memastikan sikap putranya dulu terhadap Theona. Jadi, ia akan merasa tenang nantinya. "Apa? Tiga hari? Kenapa tidak hari ini saja atau besok?" tanya Ikosagon terkejut. "Baiklah, kau boleh pindah satu Minggu lagi," balas Lakeswara malas. "Astaga, Papi! Ya sudah iya, tiga hari lagi," ketus Ikosagon menyerah. Ia tahu seperti apa ayahnya. Jika ia terus memohon, sang ayah akan memundurkan waktunya semakin lama. Jadi, lebih baik ia mengalah agar cepat selesai. "Pengantin baru, kok, wajahnya kusut sekali," ejek Hexagon tiba-tiba. "Eh, Mami. Ini ulah Papi, Mi," adu Ikosagon. "Kenapa jadi papi?" tanya Lakeswara tidak terima. "Memang salah Papi wajah Osa jadi kusut begini," balas Ikosagon kekeh. "Hei, hei, hie! Sebenarnya ada masalah apa?" seru Hexagon penasaran. Wanita itu lekas mendaratkan tubuhnya di samping sang suami. Melihat suami dan putranya yang terlihat tidak akur membuatnya penasaran akut. "Osa mau ajak Theo pindah ke apartemen. Apa kau setuju, Sayang?" Lakeswara bertanya pada sang istri, tetapi tatapannya tertuju pada putranya. Apalagi dengan seringaian tipisnya yang terlihat sangat menyebalkan bagi Ikosagon. "Apa?!" Hexagon terkejut sambil beranjak berdiri, "Theo harus tetap tinggal di sini menemani mami. Enak saja kau main ajak Theo pindah," imbuhnya menolak dengan tegas keinginan putranya. Lakeswara menahan tawanya karena sudah tahu bahwa sang istri akan menolak. Berani-beraninya Ikosagon melimpahkan kesalahan padanya. Jadi, rasakan sendiri akibatnya. "Ayolah, Mi. Osa sama Theo pindah ke rumah kita di area sini, kok. Lagi pula, jaraknya hanya beberapa blok saja dari sini," bujuk Ikosagon. "Tidak boleh. Mami suka Theo ada di sini jadi mami ada teman," tolak Hexagon tegas. "Osa mohon, Mi. Bukankah Mami sama Papi sudah menyiapkan rumah untuk Osa setelah menikah? Jadi, bisakah Osa dan Theo menempatinya sekarang?" bujuk Ikosagon dengan raut memohon. "Iya, tapi tidak sekarang. Mami belum siap berpisah denganmu, Osa. Apalagi mami sangat menyukai Theo. Mami ingin tinggal lebih lama lagi bersama kalian," sanggah Hexagon dengan berat hati. "Sudahlah, Sayang. Memang sudah saatnya Osa menempati rumahnya. Lagi pula, jaraknya 'kan dekat. Jadi, kita bisa sering-sering menginap di sana atau Osa dan Theo yang berkunjung ke sini," bujuk Lakeswara sambil merangkul bahu istrinya. "Tapi, Lake." Raut wajah Hexagon berubah sendu. Tatapan mata itu terasa seperti tatapan kecewa ketika wanita itu masih muda. "Ya ampun, Sayang. Kau menangis?" Lakeswara mengusap lembut pipi basah istrinya. "Baru juga merasakan memiliki menantu sudah mau pindah saja," ujar Hexagon di tengah isak tangisnya. Selama ini, ia mengidam-idamkan seorang menantu. Melihat kakak ipar sekaligus sahabatnya sudah memiliki tiga menantu membuatnya iri. Sekarang giliran sudah memiliki menantu dan baru semalam tinggal di bawah atap yang sama sudah mau pindah. "Siapa yang mau pindah, Mi?" Mendengar pertanyaan itu, membuat semua orang menoleh ke asal suara. Di sana, tidak jauh dari mereka duduk. Terlihat Theona sedang berdiri menatap Hexagon penasaran. "Kemarilah!" seru Hexagon. Sontak, Theona pun melangkah mendekat. Namun alih-alih duduk, wanita itu hanya berdiri. Sementara Ikosagon meremas jemari tangannya tidak tenang. Ia takut Theona akan berkata yang tidak-tidak dan menggagalkan rencananya untuk pindah. Ya, meskipun ia sempat ragu melihat respon ibunya. Namun, melihat wajah Theona membuatnya semakin yakin untuk pindah rumah. "Duduk," kata Hexagon. "Iya, Mi," balas Theona lekas duduk. "Mami mau tanya sama Theo, boleh?" tanya Hexagon meminta izin. Ikosagon menatap ibunya sambil bersusah payah menelan salivanya untuk sekedar membasahi lehernya yang tiba-tiba terasa kering. "Boleh. Memangnya Mami mau tanya apa?" Theona menatap ibu mertuanya penasaran. "Apa tadi pagi mami membuat kesalahan?" Ia pikir, alasan Theona meminta pindah karena ia membuat kesalahan. "Tidak sama sekali," sahut Theona menggeleng cepat. "Lalu, apa yang membuatmu meminta pindah dari rumah ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD