5. Berhenti Bermain Wanita

1025 Words
"Tapi, Bos." Lion sengaja menggantung kata-katanya karena ragu. "Tapi kenapa? Apa ada sesuatu yang terasa mengganjal?" tanya Ikosagon curiga. Pasalnya, tidak biasanya ia mendapati anak buahnya bersikap seperti itu. "Sedikit, Bos. Saya merasa ada yang aneh dalam penyelidikan ini." "Baiklah. Apa yang membuatmu merasa aneh?" "Semua rekaman kamera pengawas malam itu tidak ada, Bos. Bunglon sudah meretas rekaman kamera pengawas malam itu dan tidak ada sama sekali rekaman sejak pukul enam sore. Sepertinya ada yang sengaja mematikan kamera pengawas seluruh hotel malam itu." Seharusnya, Lion dan rekan-rekannya masih bisa memeriksa hasil rekaman kamera pengawas sebelum pemadaman listrik menyeluruh itu terjadi. Namun kenyataannya, sekeras apa pun usaha Bunglon untuk meretas, pria itu tetap tidak menemukan rekaman apa pun. "Apa menurutmu semua itu sudah ada yang merencanakannya?" Ia pikir, ada seseorang yang merencanakan hal itu. Bagaimana bisa kamera pengawas mati sebelum kedatangan wanita itu ke hotel. "Apa maksud, Bos, pria itu?" "Ya. Apa dia orangnya?" Ikosagon curiga bahwa dalang di balik matinya kamera pengawas malam itu adalah pria yang berusaha mencelakainya. Bisa jadi pria itu tidak ingin meninggalkan bukti apa pun agar rencananya berjalan mulus. "Bukan, Bos. Kami sudah menginterogasi pria itu dan ternyata bukan." "Apa kau yakin?" Tidak mungkin pria itu mau berkata jujur sedangkan dendamnya terhadap Ikosagon sangat besar. Hal itu membuat Ikosagon tidak yakin atas pengakuan Lion. "Sangat yakin, Bos. Kami menginterogasinya dengan cara menyiksanya. Jadi, jawabannya tidak bisa diragukan lagi. "Aku mengerti. Jadi, apa menurutmu semua ini hanya kebetulan?" Kekejaman Lion tidak bisa diragukan. Apa pun akan pria itu lakukan agar tawanannya mau berkata jujur. "Untuk sementara saya belum bisa menyimpulkan. Saat ini kami sedang berusaha mencari data pengunjung malam itu. Bahkan kami menggunakan peretas handal di organisasi kita, tapi sulit sekali ditembus. Jadi nanti setelah Bunglon berhasil, saya bisa menyimpulkannya." Organisasi keluarga Candramawa sekaligus Pentagon semakin berkembang pesat semenjak dipimpin oleh Lakeswara. Dulu yang hanya memiliki anak buah ribuan tak terkalahkan dan senjata rahasia. Kini, memiliki banyak orang-orang hebat di dalamnya. Baik itu ilmuan, dokter, ahli informatika, dan lain sebagainya. "Baiklah. Kabari aku secepatnya jika kau sudah bisa memastikan." "Baik, Bos." Ikosagon menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia meletakkan ponselnya di atas rak arloji miliknya. Kemudian, ia mencari pakaiannya di lemari. Pria itu mengambil kemeja biru langit dengan celana bahan putih. Pria itu tidak memiliki satu pakaian kasual pun. Jadi meskipun di rumah, ia selalu mengenakan pakaian formal. Kemudian, ia lekas memakainya dan keluar dari area ruang ganti. "Tunggu!" cegah Theona melihat Ikosagon hendak keluar. "Ada apa?" tanya Ikosagon dingin. Lirikan matanya pun terlihat sangat tajam, setajam silet. "Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Lebih tepatnya, sebuah pengakuan," jelas Theona serius. Selama Ikosagon sibuk di ruang ganti, Theona memutuskan untuk berkata jujur. Entah bagaimana tanggapan Ikosagon. Entah sang suami akan mempercayainya atau tidak. Ia sama sekali tidak peduli karena ia hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari. "Katakan!" Ikosagon melipat kedua tangannya di depan dan menatap Theona serius. "Se-sebenarnya ... Ak-aku ... Alasan selaput daraku robek karena aku diperkosa." Theona mencengkeram selimut kuat-kuat sambil menunduk. Wanita itu berusaha menyelesaikan kalimatnya secepat mungkin. Membayangkan kejadian buruk itu membuatnya sesak nafas. "Apa kau bilang? Diperkosa? Hahaha." Ikosagon bertanya dengan nada penasaran, tetapi justru ia tertawa terbahak-bahak, "Cih! Kau pikir aku akan percaya? Tidak, Theo. Sekali murahan tetap murahan. Bagaimana bisa kau mengarang cerita seperti itu?" geram Ikosagon sama sekali tidak mempercayai ucapan Theona. Meski sudah tahu jawaban apa yang akan ia dengar. Namun, tetap saja jantung Theona seperti dihempaskan dari ketinggian. Ia mengangkat kepalanya menatap Ikosagon kecewa. Akan tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa membujuk agar sang suami percaya dengan perkataannya. "Aku serius, Osa. Aku diperkosa dan aku bukan w************n seperti yang kau pikirkan," sanggah Theona menggebu. "Aku tahu betul tipe-tipe w************n sepertimu. Jadi sekeras apa pun kau menjelaskan, aku tetap tidak akan percaya," ujar Ikosagon sinis. Pria itu bergegas membalikkan tubuhnya dan keluar. Berjalan menuruni anak tangga sambil menatap tubuh ayahnya yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh. "Pi?" panggil Ikosagon di anak tangga terakhir. "Apa?" tanya Lakeswara ketus. "Osa ingin pindah rumah. Boleh?" Mengetahui kenyataan di mana Theona sudah tidak perawan lagi sebelum dijamah. Ikosagon mulai berpikir untuk tinggal di rumah yang berbeda dengan orang tuanya. Ia tidak ingin berpura-pura bersikap baik pada Theona di depan orang tuanya. "Buat apa? Kau tidak sedang berusaha menghindar dari pantauan papi 'kan, Osa? Kau tahu bukan, meski kau keluar dari rumah ini, bahkan meski kau bersembunyi di lubang semut sekalipun, kau tidak akan pernah bisa lepas dari pantauan papi," tanya Lakeswara curiga. "Papi apaan, sih. Bawaannya curigaan terus sama Osa." Pria itu menghempaskan tubuhnya kasar ke sofa. "Kalau tidak ingin papi curiga, lebih baik kau bertaubat sekarang. Berhenti bermain wanita dan fokus mencintai istrimu. Beri papi dan Mami cucu agar rumah ini tidak sepi lagi," ujar Lakeswara menggebu. Sejak Ikosagon dan Nonagon tumbuh besar. Sejak Lakeswara benar-benar berhenti mengurus perusahaan. Apalagi sejak Ikosagon mulai sibuk mengurus Polygon Groups dan Nonagon mengurus Candramawafood, rumah selalu terasa sepi. "Astaga, Papi! Bukankah Papi tahu alasan Osa bermain wanita?" tanya Ikosagon frustasi. "Papi tahu betul, tapi tidak seharusnya kau melakukan hal itu. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan selain bermain wanita," sergah Lakeswara. "Oke, Osa mengaku salah dan Osa janji tidak akan pernah melakukannya lagi," janji Ikosagon. "Memang sudah seharusnya seperti itu. Kau sudah menikah dan kau harus menjadi pria setia. Kau tahu bukan kalau papi paling benci penghianatan? Jadi, jangan coba-coba berkhianat dari Theo. Jika sampai kau melakukannya, maka kau sendiri yang menghapus namamu dari daftar keluarga ini," tegas Lakeswara agar sang putra tidak berani melakukan penghianatan suatu hari nanti. Ia tahu betul seperti apa rasanya dihianati. Jadi, ia tidak ingin putranya menyakiti hati Theona karena ia tidak tahu apakah Theona sanggup menjalani hidupnya setelah mengalami penghianatan. Bisa saja Theona melakukan hal yang sama seperti Della dulu dengan memotong urat nadinya. "Sial! Bagaimana bisa aku melupakan dia?" umpat Ikosagon dalam hati. Dia yang Ikosagon maksud adalah wanita yang ia perkosa di hotel malam itu. Bagaimana bisa ia melupakan wanita itu, sedangkan ia sudah memutuskan untuk bertanggungjawab dan mencintainya? "Kenapa kau diam saja? Apa jangan-jangan kau sudah berencana untuk menghianati Theo?" tuduh Lakeswara curiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD