“Ini kenapa banyak sekali masakan di atas meja?” tanya Riga dalam hati dengan keheranan.
Pria itu memang sangat heran dengan banyaknya makanan yang tersaji di atas meja makan. Ia tidak tahu jika semua itu atas perintah mamanya sendiri.
“Apa akan ada keluarga yang akan datang?” batinnya kembali.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu hanya bisa menebak-nebak saja sebagai jawaban yang ia cari untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Malam ini, seluruh anggota keluarga Rahardja telah berkumpul di meja makan untuk melakukan makan malam. Tampak berbagai hidangan lezat tertata rapi di atas meja. Tadi Nita memang sengaja meminta kepada pelayannya untuk memasak masakan lebih banyak karena ingin merayakan kepulangan menantu kesayangannya. Ia ingin merayakan kepulangan Vara yang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawatnya.
Padahal sebelum perempuan cantik dengan segala kecerdasannya itu pulang, Nita juga sudah memasak banyak makanan dan membagi-bagikannya serta memberikan santunan kepada anak-anak yatim. Apa yang dia lakukan tak lain dari bentuk rasa syukurnya. Dengan Vara kembali ke tengah-tengah keluarganya dia sudah sangat bersyukur sekali karena mengingat kecelakaan yang sangat mengerikan itu.
“Ada acara apa, Ma? Kok banyak sekali makanan yang tersaji?” tanya Riga dengan keheranan.
Akhirnya pria itu pun bertanya kepada perempuan yang telah melahirkannya. Jika tadi dia tidak menemukan siapa pun yang bisa dia tanyai. Namun, begitu matanya menangkap sosok Nita, ia pun langsung membuka suaranya.
“Mama emang sengaja minta pelayan masak banyak untuk Vara,” jawab Nita dengan santainya.
Perempuan itu menjawab pertanyaan Riga sambil tersenyum ke arah menantunya, dan tampak Vara membalas senyuman dari mama mertuanya tersebut.
“Tapi bukannya ini terlalu berlebihan, Ma? Lagi pula Vara juga nggak mungkin bisa makan sebanyak ini,” ucap Riga mencoba memprotes sikap yang telah dilakukan oleh mamanya.
Vara tahu jika yang dilakukan oleh Nita merupakan salah satu bentuk rasa syukur karena kesembuhan dirinya. Namun, ketika mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut lelaki yang mengaku sebagai suaminya, entah kenapa hatinya merasa tidak suka.
“Siapa bilang aku nggak bisa makan banyak?” tanya Vara dengan tiba-tiba sambil melirik sekilas ke arah Riga.
Ia memang sengaja berbicara dengan nada santai karena ada orang tua Riga yang saat ini sedang duduk bersamanya. Tentu aja akan merasa aneh dan janggal jika sepasang suami istri akan berbicara dengan menggunakan bahasa formal dan terkesan kaku.
“Kamu baru keluar dari rumah sakit, jadi nggak mungkin kamu bisa memakan semua ini,” ucap Riga yang juga membalas dengan menggunakan bahasa santai agar tidak membuat kedua orang tuanya merasa curiga.
“Kamu salah, Mas! Justru sekarang aku butuh makan yang banyak untuk mengisi penuh tenaga aku yang sempat terkuras habis di rumah sakit,” jawab Vara sambil menggelengkan kepalanya.
Entah kenapa Riga merasa ada sebuah pesan yang tersirat di dalam perkataan istrinya tersebut. Ia pun hanya menatap ke arah sang istri dalam diam karena ingin mencerna maksud yang baru saja diucapkan oleh wanita yang duduk di sebelahnya.
“Makasih untuk semuanya ya, Ma,” lanjut Vara beralih menatap ke arah mama mertuanya sambil tersenyum tulus.
“Yang penting menantu Mama senang,” jawab Nita sambil menatap hangat ke arah manik mata Vara sambil membalas senyum manis menantunya dengan lebih lebar.
Bukan tanpa alasan Nita sangat menyukai menantunya tersebut. Selain cantik, menantunya itu juga teramat sangat pintar, berwibawa, memiliki wawasan yang sangat luas, dan juga berdedikasi tinggi. Segala kriteria menantu idaman ada di dalam diri seorang Isvara Jennitra. Oleh karena itulah, kenapa Nita sangat ingin menjodohkan Riga dengan Vara karena ingin putra semata wayangnya itu memiliki istri yang bermartabat.
Jelas saja bobot, bibit, dan bebet perempuan itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Siapa sekarang yang tidak mengenal seorang Hansa Wardana, salah satu pengusaha sukses yang ada di negeri ini. Keluarga besannya juga merupakan dari kalangan yang berpendidikan tinggi. Di samping itu manner di dalam keluarga Wardana sangat dijunjung tinggi. Oleh karena itu, kenapa etika yang dimiliki keluarga Wardana tidak perlu diragukan lagi.
Meskipun awalnya Riga sempat menolak karena menurutnya pernikahan itu tidak akan berhasil karena kedua belah pihak tidak saling mencintai. Namun, Nita berkali-kali meyakinkan putranya jika Vara adalah sosok istri yang cocok dan tepat untuk mendampinginya.
Bahkan, Nita juga terus mendesak serta memaksa Riga agar bersedia menerima perjodohan dan menikah dengan Vara. Menurut Nita, hanya Vara lah satu-satunya perempuan yang pantas menikah dengan putranya serta menjadi menantu keluarga Rahardja yang terpandang. Anggaplah Nita menginginkan keluarga yang harmonis di dalam rumah tangga putranya dan ia ingin keharomisan itu akan menjadi teladan bagi siapa saja.
Tampak semuanya berdoa terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai menyantap makan malam mereka. Nita mengambilkan makanan untuk suaminya dan kemudian disusul ia mengambilkan makanan untuk menantunya. Lalu Vara pun segera menyantap hidangan yang baru saja diambilkan oleh perempuan paruh baya tersebut.
“Keysha! Apa yang kamu lakukan?” tanya Nita bernada tegas.
Perempuan paruh baya itu tampak terkejut ketika melihat Keysha mengambilkan makanan untuk Riga seperti layaknya seorang istri yang sedang melayani suaminya. Gadis itu juga tidak segan melakukannya dihadapan Vara yang berstatus sebagai istri sah Riga. Tentu saja Nita tidak suka melihat itu karena menurutnya anak angkatnya itu sudah lancang dan bertindak di luar batas.
Keysha tampak terkesiap. Gadis itu tampak kaget dengan teguran keras dari mama angkatnya. Berbeda dengan Vara yang mendengar bentakan dari mama mertuanya seketika langsung menolehkan kepalanya ke arah Keysha dan menatap perempuan itu tanpa ekspresi.
Vara dapat melihat wajah Keysha yang tampak merah padam seakan sedang menahan malu. Ia juga dapat melihat raut wajah tidak suka yang ditunjukkan oleh Nita dengan apa yang sudah Keysha lakukan.
“Ma … maaf, Ma. Aku hanya ingin membantu Mbak Vara aja. Karena Mbak Vara baru pulang dari rumah sakit dan nggak boleh melakukan terlalu banyak aktifitas,” jawab Keysha dengan gugup.
Gadis itu mencoba memberikan alasannya yang sebenarnya tidak ada seorang pun yang ingin mendengarkannya. Bahkan, Keysha tampak langsung menundukkan kepalanya sambil meremas jemari tangannya.
“Tapi nggak harus segitunya juga, kan? Lagi pula Riga juga memiliki tangan yang masih berfungsi dengan sangat baik buat ambil makanannya sendiri. Meskipun hubungan kalian berdua memang dekat sebagai kakak beradik, tapi tetap harus ada batasannya. Apalagi kalian bukan saudara kandung, dan Riga juga telah memiliki istri yang berhak sepenuhnya atas dia. Jadi jaga sikap kamu!” ucap Nita memperingatkan Keysha dengan panjang lebar.
Entah kenapa sudah lama Nita merasa jika perhatian Keysa kepada Riga tidak seperti seorang adik kepada kakaknya. Ia lebih melihat perhatian Keysha layaknya seorang wanita kepada pria. Tentu saja dia harus bisa memutus perhatian tersebut agar tidak sampai terjadi skandal di dalam keluarganya.
“I … iya, Ma. Maafin aku,” sahut Keysha dengan suara pelannya masih dengan kepala tertunduk tidak berani menatap ke arah lawan bicaranya.
Riga juga sebenarnya kaget dengan reaksi mamanya. Namun, ia tidak berani membuka suaranya untuk membela Keysha karena tidak ingin membuat masalah ini semakin panjang. Ia tahu mamanya seperti apa. Perempuan yang telah melahirkannya itu tidak akan pernah berhenti jika di dalam hatinya masih ada yang mengganjal.
Melihat adik angkatnya masih tertunduk dan tampak ketakutan, tentu saja membuat Riga tidak sampai hati. Menurutnya masalah ini sangat sepele, tapi entah kenapa mamanya membuatnya menjadi besar.
“Mama kenapa jadi sensitif gini, sih? Lagipula Keysha cuma mau bantu ambilin makanan aja, kok. Kenapa malah Mama permasalahin,” tanya Riga.
Akhirnya pria itu pun memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya. Ia tidak ingin mamanya terlalu menekan Keysha yang nantinya malah membuat hubungan keduanya menjadi canggung.
“Karena itu bukan tugas dia!” jawab Nita bernada tegas.
Tentu saja Riga sangat tidak suka mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan oleh mamanya. Entah kenapa di sini hanya Keysha yang dipojokkan oleh sang mama.
“Kalau itu memang bukan tugasnya Keysha, lalu tugasnya siapa? Tugasnya dia? Dia aja malah diam tanpa mau melayani suaminya,” ucap Riga sambil melirik ke arah Vara dengan sinis.
Mendengar ada yang sedang berusaha menyindirnya, membuat Vara pun langsung menolehkan kepalanya ke arah suaminya.
“Ah … aku kira suami ku bukan laki-laki manja. Jadi aku pikir kamu bisa ambil makanan sendiri, tapi kalau memang suami ku ingin diambilkan. Baiklah, akan aku ambilkan,” ucap Vara dengan lembut, tapi terdengar penuh penekanan.
Detik kemudian perempuan bermata almond itu pun langsung mengambilkan makanan dan meletakkannya di piring yang baru. Perempuan itu seakan tidak memiliki beban sama sekali ketika sedang melayani suaminya tersebut.
“Makan yang banyak ya, Mas!” ucap Vara disertai dengan senyum manisnya sambil menatap manik mata Riga.
Tak lupa perempuan itu berbicara sambil menyentuh lengan Riga dengan lembut. Namun, entah kenapa Riga merasa ada yang janggal dengan senyuman Vara yang tidak seperti biasanya. Semenjak terbangun dari koma, sikap dan tingkah laku Vara tampak aneh dan berbeda dari Vara yang dulu dia kenal.
Keysha yang melihat sikap lembut Vara terhadap Riga lebih memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. Perempuan itu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga ekspresinya agar tetap terlihat biasa-biasa saja meskipun hatinya sedang berdenyut nyeri menyaksikan itu semua. Tentu saja di dalam hati perempuan itu merasa tidak suka melihat perlakuan manis Vara terhadap Riga.
Setelah pertengkaran kecil itu, suasana pun menjadi hening. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang mengiringi santap malam mereka.
Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan meja makan. Di mulai dari Keysha yang meminta izin terlebih dahulu untuk kembali ke kamar, karena dia harus memeriksa hasil ujian anak didiknya yang memang sengaja dia bawa pulang. Kemudian di susul oleh Vara yang juga langsung masuk ke dalam kamar.
“Perlakukan istrimu dengan baik!” pinta Nita kepada putra semata wayangnya dengan raut wajah yang serius setelah melihat Riga hendak beranjak dari meja makan.
Mendapatkan peringatkan seperti itu dari mamanya, membuat Riga langsung menghembuskan napas panjangnya. Rasanya ia sudah jengah mendengar peringatan dari mamanya tersebut secara berulang-ulang.
“Aku mengerti, Ma,” jawab Riga dengan jengah.
Pria itu kemudian membuka pintu kamar dan mendapati Vara tengah duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.
“Mama bilang kamu harus istirahat di rumah dan jangan masuk kerja dulu untuk beberapa hari,” ucap Riga bernada datar ketika melangkah memasuki kamar.
“Hemm …,” jawab Vara dengan malas.
Perempuan itu memang sengaja menjawab singkat karena tidak ingin terlibat pembicaraan yang lebih panjang lagi dengan suaminya.
Vara tampak tidak peduli dengan kedatangan suaminya. Sama seperti Riga, pria itu juga tampak berjalan melewati Vara begitu saja menuju kamar mandi yang berada di sudut ruangan. Entah rumah tangga macam apa yang sedang mereka jalani.
Setelah keluar dari kamar mandi Riga tampak berjalan ke sofa untuk mengambil laptopnya sebelum naik ke atas ranjang.
“Besok aku akan tetap masuk kerja,” ucap Riga singkat sambil fokus dengan layar laptopnya.
“Nggak ada yang ngelarang,” sahut Vara acuh tanpa menolehkan kepalanya.
Tangan Riga yang tengah mengetik, tiba-tiba saja langsung terhenti saat mendengar jawaban Vara yang terlalu santai. Ia seperti sedang berhadapan dengan sosok yang berbeda. Selama ini istrinya tidak pernah mengabaikannya. Namun, sekarang apa? Kehadirannya saja seperti tidak diinginkan oleh istrinya sendiri.