Sejak kejadian Angga mengetahui dirinya menyembunyikan Raline sejak saat itu juga dirinya kembali menghindari wanita yang tengah mengandung anaknya. Sebenarnya ancaman Angga kepadanya bisa saja terjadi, mengingat Angga yang menyukai calon istrinya sejak dulu. Maka dari itu lah dirinya kembali tidak mengunjungi Raline dan hanya memantau lewat asisten rumah tangganya tersebut.
Raline yang mengetahui jika Adjie tidak pernah kemari lagi membuat perasaannya senang, ia sesekali pergi dengan Choki. Dia pun menjelaskan alasan dirinya pindah rumah, pindah tempat bekerja dan susah dihubungi jika Choki meneleponnya. Meskipun Choki awalnya tidak mempercayainya tapi pria itu tidak bertanya lagi. Choki jelas curiga dengan perubahan tubuhnya yang berubah drastis, pipi Raline terlihat lebih chubby, lengannya berisi, p****t dan aset depannya yang jelas lebih menonjol membuat Raline jelas lebih menarik dari yang terakhir dia melihatnya.
Raline begitu asyik memakan makanan yang berada di depannya, bahkan wanita itu tak menyadari jika dirinya tengah diperhatikan sedari tadi oleh Choki.
"Kenapa?" tanya Raline setelah menelan makanannya.
Choki tersenyum memandang Raline yang bertanya seperti itu kepadanya, jemarinya menghapus saus yang berada disudut bibir Raline membuat wajah wanitanya itu merona.
"Tidak, aku hanya terpesona melihatmu. Sudah dua bulan kita tidak bertemu, dan kau benar-benar berbeda."
Mulutnya berhenti mengunyah, jantungnya seketika berdegup dengan cepat, apakah Choki tahu? Tahu jika kini dirinya sedang berbadan dua? Karena kekasihnya itu sedari tadi terus memandanginya.
"A-apa maksudmu?" tanya Raline dengan gugup, dia benar-benar ketakutan sekarang.
Choki malah tersenyum melihat wajah Raline yang terlihat tegang.
"Relax Oke, kenapa kau tegang begitu? Tubuhmu jauh lebih baik sekarang. Dulu kau terlihat kurus, meskipun kau tetap cantik. Tapi sekarang, jauh lebih baik. Aku senang melihatmu yang sekarang, sepertinya pekerjaan barumu membuat kau bahagia?"
Raline menampilkan senyum tipisnya begitu mendengar perkataan Choki. Kekasihnya tidak tahu saja jika dirinya bukan senang, tapi menderita. Tubuhnya berisi pun bukan karena bahagia, tapi karena dirinya hamil. Batinnya meringis.
"Kau benar," hanya itu kata-kata yang bisa ia keluarkan.
"Setelah ini kau ingin kita pergi ke mana?" tanya Choki setelah menyelesaikan minumannya.
"Sepertinya aku menginginkan es krim." balas Raline sambil menampilkan cengirannya.
Choki menarik kedua pipi berisi Raline sambil terkekeh. "Baiklah Tuan Putri, setelah ini kita akan makan es krim. Aku tahu kedai es krim yang enak di sini." jawabanya sambil mengedipkan salah satu matanya, setelah Choki menghentikan aksi mencubit pipi Raline membuat wanita yang tengah hamil muda itu mengerucutkan bibirnya sebal. Dan Choki yang melihat kekasihnya itu merajuk membuat dirinya semakin terkekeh.
Di lain tempat di waktu yang sama, di sebuah apartement mewah milik kedua pasangan yang akan menikah itu begitu panas. Panas bukan berarti ac apartment itu rusak atau mati, tapi karena kedua manusia yang sedang memadu kasih.
Sudah dua jam lamanya Adjie bercinta dengan Alanis. Peluh memebasahi tubuh mereka, jika Alanis sudah tidak kuat berbeda dengan Adjie yang masih semangat menyentuh wanitanya. Wanita yang berada di bawah tubuh Adjie terlihat kepayahan, dia merasa ingin pingsan saja. Adjie benar-benar menyentuhnya tanpa ampun, meskipun Adjie tidak kasar saat bercinta dengannya. Tapi jika berjam-jam bercinta tanpa makan atau pun tanpa istirahat, tetap saja dirinya tidak sanggup.
Begitu kesadarannya akan menghilang, Adjie baru menghentikan aktifitas menyenangkannya.
"Honey you oke?" tanya Adjie dengan napas yang masih terengah-engah.
Alanis hanya mengangguk sebagai jawaban, tenggorokannya benar-benar kering. Selama Adjie menyentuhnya selama itu pula mulutnya selalu berteriak, mau bagaimana lagi sentuhan Adjie pada tubuhnya selalu membuat Alanis menggila.
"Maafkan aku." ujar Adjie lagi sambil mengecupi wajah Alanis, dan wanita yang tengah diciumi wajahnya itu hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. Dia benar-benar lelah oke?
Adjie pun perlahan bangkit dari tubuh Alanis, kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping Alanis lalu membawa tubuh tunangannya itu ke dalam dekapannya. Yang tentu saja membuat Alanis senang, dia benar-benar bahagia memiliki calon suami seperti Adjie yang begitu memanjakannya.
"Istirahatlah." titah Adjie sambil mencium rambut panjang Alanis kedua tangannya begitu erat mendekap Alanis.
Tapi sepertinya titahan Adjie tak membuatnya ingin menuruti, justru sekarang matanya tidak ingin tertutup.
"Aku merindukan Raline," sahut Alanis tiba-tiba yang membuat mata Adjie yang awalnya tertutup jadi terbuka seketika.
"Belakangan ini Raline sulit dihubungi, apartemen yang di huni nya pun kosong. Aku tidak tahu dia sekarang tinggal di mana, aku takut terjadi sesuatu padanya." curhat Alanis pada Adjie.
Adjie hanya diam saja, dia lebih menyukai Alanis yang bercerita dari pada mengomentari wanitanya.
"Raline itu sahabatku dari SMA dia sangat tertutup, dia tidak pernah menceritakan apa yang dirasakannya. Dia selalu mengatakan tidak ingin merepotiku dengan masalah yang di alaminya, jika aku melihat dia melamun. Dia wanita yang mandiri selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, berbeda denganku yang selalu meminta bantuannya."
"Tapi aku lebih suka wanita sepertimu, jika kau mandiri. Lalu gunanya aku apa?" sahut Adjie sambil menjauhkan tubuhnya sedikit untuk menatap wajah wanitanya.
Wajah Alanis berbinar mendengar penuturan Adjie.
"Aku pikir kau menyukai wanita yang mandiri, tidak manja, dan tidak merepotkanmu." ujarnya lagi dengan mata yang memandang wajah tampan Adjie.
Kini mereka berdua saling berhadapan dengan tangan kekar Adjie yang menjadi bantal bagi kepala Alanis. Adjie bukannya membalas, pria itu malah memagut bibir Alanis dengan mesra yang membuat Alanis kembali terbuai akan ciuman tunangannya, kemudian mereka melepaskannya. Adjie menatap intens Alanis dengan jemari panjangnya yang membersihkan saliva pada bibir bawah tunangannya.
"Aku suka di repotkan olehmu, dan jangan pernah berpikiran macam-macam. Karena sejak dulu, sekarang dan mungkin sampai nanti aku akan tetap mencintaimu." ucap Adjie tulus sambil memandang wajah cantik Alanis membuat Alanis yang mendapatkan ungkapan cinta yang begitu dalam dari Adjie seketika memeluk tubuh tunangannya itu. Di dekapnya Adjie dengan erat sambil mengucapkan kata-kata yang sama, jika dirinya pun mencintai Adjie.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku?" sahutnya lagi sambil terus mendekap Adjie.
"Tidak akan pernah, aku tidak akan meninggalkanmu." balasnya tegas sarat akan janji sambil membalas dengan Alanis dengan sama eratnya.
Tuhan yang membolak-balikan hati umatnya. Jika hari ini dia mencintai wanitanya, bisa saja hari esok dia mencintai wanita lain.
***
Raline yang sedang asyik membaca majalah mengenai Ibu hamil sambil memakan camilan pedasnya itu seketika berhenti. Ponselnya bergetar tanda sebuah pesan masuk, awalnya ia malas untuk membalasnya tapi begitu melihat nama Ibu di layar ponselnya ia langsung membukanya.
IBU
Apa yang kau lakukan anak bodoh! Kau ingin membuat Ibu-mu terluntang-lantung di jalanan? Kenapa kau belum membayar sewa rumah?! Dasar anak tidak tahu diri!!!
Mata Raline seketika melotot dengan sempurna, dirinya seketika membalas pesan sang Ibu agar Ibu mya itu tidak mengamuk kepadanya. Ia benar-benar lupa untuk membayar uang sewa rumah keluarganya. Raline segera mengecek saldo tabungannya, ia berharap jika tabungannya cukup untuk membayar sewa. Tapi begitu ia melihatnya, ia berubah panik. Saldo di tabungannya hanya tersisa lima ratus ribu, sedangkan sewa rumah orang tuanya itu dua juta rupiah. Itu berarti dirinya masih kurang satu juta lima ratus lagi, dan uang sebanyak itu dia harus mencari kemana? Dia tidak mungkin meminjam kepada Alanis bukan dirinya malu, tapi dirinya sudah tidak punya harga diri. Akan sangat kejam baginya jika dia nekat meminjam pada Alanis karena secara tidak langsung, dia sudah menghancurkan hidup sahabatnya.
Raline tiba-tiba teringat jika Bu Ani pernah memberikannya kartu debit dan kredit milik Adjie. Selama dua bulam lebih dua minggu belum sekali pun menggunakan kartu tersebut, karena dia berpikir untuk apa dia memakainya? toh selama ini semua kebutuhannya terpenuhi. Jadi mungkin jika dirinya menggunakan beberapa lembar uang Adjie itu tidak masalah, dia akan mengembalikkannya. Lagi pula Adjie sudah lama tidak ke rumah, dirinya bisa mulai mencari pekerjaan di sekitaran sini. Karena tidak selamanya dia memakai uang Adjise.
Mas Frans
Kirimin gue duit hari ini lima juta.
Raline yang mendapat pesan masuk dari kakaknya itu tidak membalas, dia malah menghapusnya. Seolah tahu jika Raline tidak berniat membalas pesannya, kakaknya itu kembali mengiriminya pesan.
Mas Frans
Elo yakin nggak mau kasih gue duit? Gue bisa ngadu sama Ibu!
Pesan dari kakaknya itu membuat ia segera membalasnya. Dia tak ingin Ibu semakin membencinya, terlebih jika dirinya tidak menuruti permintaan Mas Frans. Karena sejak dari dulu, ia memang tidak di sukai sang Ibu seolah-olah jika dirinya bukan anak kandung. Seburuk apapun perlakuan Ibu kepadanya, tetap saja ia tidak bisa mengacuhkannya begitu saja.
Aku nggak punya uang, Mas...
Jawab Raline pada akhirnya. Dan tak lama kemudian pesan kembali datang dari Frans.
Mas Frans
Jangan bikin gue *nyanyi* ke orang-orang kalau elo sekarang jadi simpanan!
Raut wajah Raline mendadak pucat pasi begitu mendapat balasan dari kakaknya. Dari mana kakaknya itu tahu, kalau dirinya sekarang menjadi seorang simpanan? Tidak, Mas Frans pasti bercanda, tidak mungkin kakaknya itu tahu.
Apa yang Mas Frans bicarakan, uangku habis untuk membayar uang sewa rumah kalian.
Tak berapa lama pesan balasan dari Mas Frans pun masuk.
Mas Frans
Jangan membuatku tertawa, kau tinggal minta pada priamu. Tapiii jika kau tidak mau memberiku uang, tidak masalah. Aku tinggal membuka suaraku yang merdu ini untuk bernyanyi pada kekasihmu.
Kali ini Raline tidak bisa untuk tidak panik, Mas Frans tidak pernah main-main dengan perkataannya. Dan jika Mas Frans mengancamnya seperti ini, itu berarti kakaknya itu akan memberitahu pada Choki dan ia benar-benar tidak mau itu sampai terjadi. Raline kemudian mengetikan balasan untuk kakaknya, tapi pesan dari kakaknya itu kembali masuk ke dalam ponselnya.
Mas Frans
Jangan berpikir ini lelucon, kau tahu bukan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Taman Anggrek blok A no 5!
Bukan kah itu rumahmu sekarang? Atau kau masih belum yakin juga? Aku bisa mengirimkan foto rumahmu sekarang.
Tubuh Raline benar-benar membeku, bagaimana mungkin Mas Frans mengetahui rumahnya sekarang. Apa kakaknya itu memata-matainya? Jika iya, dirinya benar-benar sudah tidak aman dan tidak bisa menolak keinginan sang kakak. Dan itu jelas saja membuat dirinya dalam masalah, masalah yang tidak berujung. Mas Frans akan selalu meminta uang kepadanya secara terus-menerus sampai kakaknya itu puas. Tapi dia tahu, Mas Frans tidak akan pernah puas untuk memerasnya.
Raline yang kalut segera beranjak dari duduk santainya, ia mengambil kartu debit milik Adjie yang berada di dalam lemari bajunya. Ia benar-benar kalut dan bingung, di satu sisi ia tidak ingin memakai uang Adjie tapi di sisi lain uang Adjie akan membantunya dari teror Ibu dan kakaknya itu.
Raline melihat Bu Ani yang sedang menyapu di ruang tamu melihatnya sekilas sambil tersenyum.
"Bu, saya pergi keluar sebentar yah, mau beli camilan." sahut Raline dengan menunjukan cengirannya.
"Biae saya saja yang belikan, Bu." tawar Bu Ani pada Raline.
Wanita yang tengah hamil muda itu menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah, Bu. Saya sekalian pengen jalan-jalan. Kaki saya pegal sudah lama tidak jalan-jalan."
Bu Ani mengangguk. "Yasudah, saya panggilkan Pak Ikhsan yah, Bu untuk mengantar Ibu."
Dan lagi-lagi gelengan kepala yang menjadi jawaban Raline. Dirinya benar-benar tidak ingin orang lain tahu.
"Yasudaj kalau begitu, Ibu hati-hati kabari saya kalau terjadi sesuatu."
Raline tersenyum lebar, kemudian pamit kepada asisten rumah tangganya itu lalu pergi dengan langkah pelan meninggalkan rumah.
***
Setelah mengirimkan uang pada Ibu untuk membayar rumah, dan pada Mas Frans. Kini Raline melanjutkan acaranya untuk menemui Petra--dokter kandungannya selama ini. Awalnya ia menginginkan jika yang menjadi dokter kandungannya itu seorang wanita dan tidak bersangkutan dengan Adjie. Tapi sepertinya Adjie membaca gerak-geriknya yang tentu saja pria itu tidak mau, Adjie takut dia berbohong mengenai kehamilannya yang tentu saja itu hanya alasan saja.
Raline tengah berbaring di atas ranjang yang sudah di sediakan di sana. Benda untuk memeriksa bayinya kini tengah bermain-main di atas perutnya yang sekarang terlihat membuncit.
"Jantungnya berdetak dengan normal, apa kau bisa mendengarnya?" tanya Petra pada Raline.
Wanita yang tengah memandangi layar yang berisi bayinya itu mengangguk.
"Lihat ini, dia mempunyai hidung yang bagus seperti Adjie." ujar Petra sambil mengarahkan senter kecil pada layar di depannya.
Raline tersenyum haru melihat perkembangan bayinya yang berada di dalam perut. Dia benar-benar kesulitan untuk berbicara, di depannya itu terlihat bukti nyata jika dirinya tengah mengandung anak Adjie. Dan dirinya benar-benar takut kalau anaknya itu laki-laki.
"Apa kah aku boleh mengetahui jenis kelamin anakku?"
"Tentu, kau bisa melakukan USG. Tapi untuk saat ini, bayi-bayimu sepertinya malu. Mereka tidak ingin Ibu nya tahu." balas Petra sambil tersenyum bercanda.
Bayi-bayi? Apa maksudnya itu?
"Apa maksudmu dengan bayi-bayi?" tanya Raline dengan wajah yang sulit di jelaskan. Dirinya bangkit dari ranjang setelah membersihkan jel pada perutnya itu.
"Apa aku lupa memberitahumu?" tanya Petra yang terdengar pertanyaan itu ditujukan kepadanya bukan kepada Raline.
Raline menggeleng sebagai jawaban.
"Kau mengandung anak kembar, Line. Satu diantaranya mungkin perempuan, atau bisa jadi dua diantaranya perempuan tapi tidak menutup kemungkinan laki-laki." jelas Petra sambil menuliskan resep untuk Raline minum nanti.
"Kau yakin? Aku mempunyai anak kembar?"
Petra berhenti menulis, kemudian menatap wajah Raline yang terlihat shock.
Petra mengangguk, "iya, kembar 3." balasnya tenang yang sukses membuat tubuh Raline melemas.
Ini gila, benar-benar gila. Satu kali tidur dengan Adjie bisa menghasilkan tiga orang anak. Lalu apakabar jika dirinya seperti Alanis yang terus-menerus di gauli oleh Adjie? Anaknya mungkin akan lebih dari satu lusin? Ck sulit dipercaya. Tiba-tiba saja ketakutan itu muncul, bagaimana jika Adjie sudah tahu jika dirinya hamil bayi kembar? Tidak menutup kemungkinan bukan jika Petra memberitahu Adjie mengenai kehamilannya, mengingat Petra yang cukup dekat dengan Adjie.
"A-apa Adjie sudah tahu?"
Alis Petra terangkat sebelah mendengar pertanyaan Raline.
Petra menggeleng sebagai jawaban. "Tidak, aku tidak memberi tahunya. Kupikir kau sendiri yang akan memberitahukanya?"
Raline mengangguk semangat dengan perasaan yang lega. Dia hampir melahirkan mendadak jika Adjie sudah mengetahuinya.
"Terima kasih, aku sendiri yang akan memberitahukannya. Tapi bisa kah kau merahasiakannya juga? Jika Adjie meneleponmu tolong rahasiakan soal bayi kembarku, dan jangan memberitahukan tentang jenis kelaminnya jika dia bertanya."
Kening Petra semakin mengerut, mendengar keinginan Raline.
"Aku mohon, bukan kah kau seorang dokter? Jadi membantu seorang pasien Ibu hamil itu sudah menjadi tugasmu bukan?"
Dengan menghela napas berat Petra akhirnya mengangguk setuju, bukan apa-apa dia hanya takut jika Raline melakukan hal yang aneh-aneh mengingat kondisi kehamilannya yang pernah bermasalah. membuat Raline memberikan senyum terbaiknya.
"Terima kasih, Dok." balas Raline penuh dengan rasa haru.
"Tunggu, Dok. Apa masih wajar jika aku masih tidak mau makan nasi? Mencium harum nasi saja aku mual."
"Tidak apa-apa, asal kau masih bisa memakan kentang kukus untuk penambah karbohidrat. Jangan hanya memakan mie saja, tapi kau juga harus lihat asupan gizinya."
"Aku mengerti."
"Lalu apa kau masih sering mual?" tanya Petra lagi sambil memandang wajah Raline tanpa makeup yang tengah duduk di hadapannya.
"Masih, bahkan terkadang begitu parah. Apa tidak apa-apa?" tanya Raline yang terlihat khawatir.
Pertra mengangguk. "Tidak apa-apa tapi setidaknya kau harus mencoba makan nasi meskipun hanya satu atau dua sendok saja."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, Dok." ucap Raline sambil berdiri dari duduknya, kemudian menjabat tangan Petra.
Petra ikut berdiri sambil melihat punggung Raline yang telah keluar dari ruangannya, dengan pikirannya yang sibuk memikiran sesuatu.
***
Raline terusik dengan bunyi pintu kamarnya yang terbuka keras, baru saja dirinya tertidur beberapa menit lalu dirinya harus kembali bangun membuat kepalanya sedikit pening. Dia melihat Adjie yang datang menghampirinya dengan aura yang begitu gelap, Adjie terlihat marah dan dia tidak tahu Adjie kenapa. Raline yang baru saja bangkit dari tidurnya seketika harus terbaring kembali tatkala tubuh Adjie yang mendorongnya.
Belum sempat Raline mengeluarkan sepatah katanya untuk protes, bibirnya seketika dibungkam oleh bibir tebal milik Adjie. Raline seketika meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Adjie seakan tidak peduli dia malah semakin mencumbu bibir Raline dengan kasar. Tak lupa jemari tangan Adjie yang nakal menyentuh tubuh Raline dengan sensual, membuat Raline hanya bisa pasrah akan gairahnya.
Adjie menghentikan aksi ciumannya dengan napas terengah-engah, dia menjauhkan wajahnya menatap Raline yang terlihat begitu seksi di matanya. Rambut acak-acakkan, bibir mungil yang merah akibat cumbuannya, dengan piyama tidur berwarna putih yang begitu tipis membuat Raline begitu mempesona di matanya. Gairah Adjie seketika meletup-letup, dengan tak sabaran ia kembali memagut bibir mungil Raline yang dibalas dengan antusias salahkan hormon hamilnya yang membuat dirinya seperti wanita jalang. Seharusnya ia menolak atau mungkin menampar Adjie tapi yang dilakukannya malah membalas segala sentuhan Adjie. Seperti saat ini misalnya, dirinya malah mengerang keenakan di bawah tubuh Adjie akan aksi pria di atasnya itu yang tengah menikmati tubuh bagian atasnya.
Erangan serta desahan seketika memenuhi kamar Raline. Adjie kembali menyentuh Raline dengan gairah yang begitu besar, d**a Raline penuh dengan bercak merah. Dan jangan lupakan punggung Adjie pun yang terkena kuku tajam Raline terlihat memerah. Menambah kesan seksi bagi mereka berdua. Adjie yang sedang emosi di tambah pengaruh alkohol membuat kesatuan pas baginya untuk menyentuh Raline. Dan pada pelepasan terakhirnya Adjie mengucapkan kata-kata yang membuat kedua matanya menitikan air mata.
***
Tbc