Sudah tiga minggu ini dirinya berada di rumah Adjie. Dia mulai merasa betah tinggal di sini, rumahnya begitu nyaman, tenang dan asri cocok untuk ibu hamil seperti dirinya. Jelas saja rumah di kawasan Dago begitu sejuk sepanjang jalan banyak pohon rindang, daerah yang jaraknya tidak jauh dari kawasan Lembang itu pasti akan membuatnya betah.
Setelah dirinya mengirimi Choki pesan, sedetiknya Raline langsung menghapusnya. Dia belum berani untuk bertemu Choki kekasihnya itu seperti cenayang, terkadang tahu apa yang dia pikirkan. Dan jelas saja itu tidak baik untuknya, bagaimana jika Choki tahu jika dirinya hamil. Dan yang lebih parah hamil oleh pria lain, karena jelas saja ia tidak mungkin hamil anak Choki. Mereka selalu berpacaran secara sehat paling nakal sekedar berciuman, dan itu hanya saling menempelkan bibir tanpa hisapan, atau saling menggigit. Jika dirinya yang biasa-biasa saja dalam berpacaran, lain lagi dengan Alanis dan Adjie. Sahabatnya itu lebih nakal darinya, ia sering menemukan kiss mark pada leher Alanis. Bahkan terkadang ia melihat cara jalan sahabatnya itu yang tidak seperti biasanya, Alanis kadang mengernyitkan karena menahan sakit. Jelas saja itu atas perbuatan Adjie yang menidurinya, ia pernah merasakannya. Dan mengingat jika Alanis sering tidur dengan Adjie membuat perutnya tiba-tiba bergejolak hebat.
Raline segera mengalihkan pikirannya ke arah lain untuk tidak mengingat hal-hal yang membuatnya merasa mual. Dia benar-benar bingung, mengapa dirinya mual hanya karena mengingat Alanis tidur dengan Adjie hal itu wajar bukan, wajar dilakukan untuk pasangan kekasih. Apalagi sebentar lagi mereka berdua akan menikah.
Raline mengelus perutnya yang mulai membaik, rasa mualnya perlahan menghilang ketika dirinya memikirkan tentang masakan yang akan ia masak untuk makan siangnya nanti.
Raline berjalan meninggalkan kamar menuju dapur, ia melihat seorang wanita paru baya yang sedang menyapu lantai. Ia membatalkan niatan untuk ke dapur dan memilih mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu melihat Bu Dewi selaku asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
Semenjak dirinya tinggal di sini semenjak itu pula dirinya menjadi pengangguran. Yah dia keluar dari tempatnya bekerja, dia sebenarnya tidak mau tapi Adjie yang memaksa. Dia bilang jika dirinya masih bekerja besar kemungkinan jika Alanis akan tahu tentang kehamilannya, belum lagi Choki yang pasti akan mengetahui. Terlebih Adjie selalu mengatakan jika terjadi sesuatu dengan bayinya, ia tidak akan membantunya. Yang mau tidak mau Raline akhirnya pasrah dan menurut.
"Bu mau saya buatkan teh atau camilan?" tanya Bu Ani asisten rumah tangga yang membantu Raline selama di sini.
"Ada strawberry nggak, Bu? Kok saya pengen minum yang asem-asem yah?" tanya Raline balik yang heran dengan sendirinya. Pasalnya ia tidak menyukai buah asam seperti strawberry, ia lebih menyukai buah-buahan yang manis.
Bu Ani tersenyum maklum mendengar jawaban Raline.
"Wajar kok, Bu. Kan Ibu lagi hamil. Strawberry masih mending, Bu dari pada mangga."
Raline mangut-mangut membenarkan.
"Dede bayinya pasti mirip Pak Adjie. Pak Adjie suka banget sama Strawberry soalnya." sahut Bu Ani lagi yang membuat Raline mengerutkan keningnya bingung.
"Adjie suka strawberry, Bu serius?"
Bu Ani mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Pantesan aja wajahnya kayak gitu, asam!"
Bu Ani malah terkekeh mendengarnya.
"Jadi mau saya buatkan jus strawberry-nya, Bu?"
"Iya tapi gulanya sesendok aja,"
Bu Ani mengangguk kemudian pergi meninggalkan Raline. Wanita berumur dua puluh empat tahun itu mengusap-usap perutnya yang terasa membuncit. Entah kenapa ia merasa perutnya itu besar, padahal ia yakin jika dirinya hamil baru satu bulan. Apa ada masalah dengan kandungannya? Ia mulai mengingat-ingat kapan dirinya harus mengecek kandungannya.
Tak berapa lama Bu Ani datang sambil membawa nampan yang berisikan satu gelas jus strawberry yang terlihat segar di mata Raline.
"Ini, Bu jus strawberry-nya." Bu Ani menaruh gelas yang berisikan jus itu di hadapan Raline membuat wanita muda yang tengah hamil itu tersenyum lebar.
"Makasih, Bu."
Bu Ani hanya tersenyum mendengar Raline mengucapkan terima kasih kepadanya. Sebelum wanita paru baya itu kembali untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Raline kembali memanggilnya membuat Bu Ani menghentikan langkahnya.
"Ngomong-ngomong, Bu. Menurut Ibu perut aku normal nggak sih, kok kelihatannya kayak yang besar yah?" tanya Raline sambil menatap Bu Ani.
Wanita yang sering membantunya membereskan rumahnya itu langsung memandang perut Raline yang memang terlihat besar.
"Iya, Bu besar. Kandungan Bu Raline beneran dua bulan?"
Raline mengangguk dengan pasti.
"Tapi kok aneh yah, aku ngerasa gede loh, Bu."
Lagi dan lagi Bu Ani tersenyum.
"Wajar kok, Bu. Dulu saat saya hamil anak saya yang pertama juga kayak gitu, ngerasa besar tapi normal kok."
"Jadi nggak apa-apa nih?" tanya Raline lagi yang terasa sekali jika dirinya mencemaskan kandungannya.
"Kalau kata saya sih nggak apa-apa, Bu. Tapi kalau Ibu penasaran, Ibu bisa langsung tanyain aja nanti ke dokter pas cek-up."
Raline mangut-mangut mengiyakan.
"Ngomong-ngomong, Bu. Boleh buatkan lagi jus-nya aku kok ketagihan yah, hehe."
Bu Ani tersenyum mendengar keinginan majikannya, dengan senang hati wanita paru baya itu mengangguk kemudian pamit untuk kembali membuatkan jus yang Raline inginkan.
***
Rumah begitu gelap tatkala Adjie membuka pintu rumah yang di huni oleh wanita yang mengaku sedang mengandung anaknya tersebut. Sudah tiga minggu dirinya tidak mendatangi rumah ini, dia sengaja tidak menemui Raline belakangan ini. Bukan karena dia takut ketahuan oleh Alanis bukan, bukan karena itu. Melainkan dirinya bingung, untuk apa dirinya menemui Raline. Toh dirinya sudah memberikan fasilitas untuk wanita bertubuh mungil itu, jika dia menginginkan sesuatu dia bisa membelinya karena kartu kredit yang dia titipkan ada pada Bu Ani. Tapi sejauh ini dia tidak mendengarkan keinginan wanita itu, Bu Ani selalu melapor padanya apa yang Raline lakukan selama di rumah dan dirinya harus bernapas dengan lega karena Raline selama tiga minggu ini tidak berbuat ulah dengan kabur-kaburan lagi.
Rumah yang menjadi tempat Raline bersembunyi adalah salah satu properti miliknya. Rumah sederhana dengan bangunan klasik itu terlihat nyaman baginya. Rumah sederhana dengan 3 kamar tidur dengan di masing-masing kamarnya memiliki kamar mandi tersendiri. Dapur sederhana namun terlihat nyaman dan ruang tamu yang tidak terlalu besar.
Dua kamar utama yang tak jauh berada dengan dapur, sedangkan satunya lagi dekat ruang tamu. Karena Raline yang tengah hamil dan selalu merasa lapar, wanita itu memilih kamar yang dekat dengan dapur dan Bu Ani menempati kamar yang berdekatan dengan ruang tamu. Agar sewaktu-waktu ketika dirinya sedang berada di kamar dan ada tamu dirinya tidak perlu berlari untuk membuka pintu.
Adjie berjalan menuju pintu kamar yang masih kosong di sebelah kamar Raline. Dia yakin jika Raline saat ini sudah tidur, begitu dirinya akan membuka pintu. Pintu di sebelahnya terbuka menampakan Raline yang sepertinya baru saja terbangun dari tidurnya. Karena ia bisa melihat rambut wanita itu yang tergerai acak-acakkan, lalu piyama tidur pendek berwarna putih dengan motif bunga mawar terlihat kusut. Raline seketika berjengkit kaget melihat Adjie yang berada di samping pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Raline ketika kini dirinya telah keluar dari kamarnya.
Setelah tiga minggu tidak bertemu, wanita di sampingnya itu bertanya hal seperti itu? Ck sulit dipercaya.
"Apa kau lupa? Ini rumahku." balasnya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas terlihat mengejek di mata Raline.
"Ah kau benar," balas Raline sambil dirinya berjalan meninggalkan Adjie menuju dapur.
Adjie awalnya masa bodoh tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Raline di dapur sana. Tapi dia penasaran juga, alih-alih masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat Adjie malah pergi menyusul Raline. Netra cokelat gelap milik Adjie memerhatikan Raline yang tengah berdiri memungginya. Wanita bertubuh mungil itu tengah melihat-lihat isi lemari es. Apa yang dilakukan wanita itu di depan kulkas di jam seperti ini.
Raline yang menyadari jika Adjie tengah memerhatikannya dari arah belakang tidak memedulikan cowok itu. Dirinya malah asyik mengambil beberapa buat strawberry dan juga cokelat. Entah kenapa dirinya menginginkan strawberry yang dibalut dengan cokelat, mungkin rasanya akan nikmat. Rasa asam dari strawberry dipadukan dengan rasa manis dari cokelat pasti akan sangat nikmat. Membayangkan rasa dingin, asam dan manis memenuhi indera pencecapnya membuatnya ngiler.
Dengan senyum yang berkembang dibibirnya, Raline membawa dua bahan yang akan ia nikmati sedangkan Adjie sedari tadi terus menatap Raline dengan pandangan yang sulit di jelaskan.
Raline benar-benar tidak peduli dengan Adjie yang sedari tadi terus menerus menatapnya. Ia malah dengan cueknya berjalan menuju salah satu kursi makan menaruh buah berukuran kecil berwarna merah dan juga satu toples cokelat berukuran sedang.
Membuka penutup cokelat kemudian memasukkan strawberry ke dalam toples yang berisikan cokelat, dengan mata berbinar ia memakan strawberry yang terbalut cokelat tersebut. Matanya menyipit merasakan rasa asam, manis dan segar di dalam mulutnya. Dan netra Adjie tak pernah lepas untuk memerhatikan Raline membuat dirinya berjalan menghampiri wanita itu.
"Kenapa kau memakan buah asam itu di jam seperti ini?" tanya Adjie pada akhirnya yang gatal ingin bertanya sedari tadi.
Raline menghentikan aksi memakannya, ia menatap Adjie dengan bingung.
"Kenapa? Kau mau?" Raline malah balik bertanya.
"Ck apa kau sudah konsultasi ke dokter? Apa wanita hamil muda boleh memakan makanan yang asam di jam seperti ini?"
Raline mengangkat bahunya cuek.
"Aku tidak tahu, heh dan kenapa kau peduli?" tanyanya lagi sambil kembali memakan buah merah yang menggiurkan.
Wajah Adjie mengeras mendengar jawaban Raline. Wanita bertubuh mungil itu ternyata benar-benar sulit di percaya, dia tidak memikirkan jika Raline selalu bisa membalikkan ucapannya. Pertama kali melihatnya ia pikir wanita itu jenis wanita penurut karena terlihat lugu dan polos, tapi mengetahui fakta Raline sekarang dia benar-benar kaget.
"Kau tidak boleh makan sembarangan, kau harus ingat kau sedang mengandung penerusku!"
Kali ini Raline benar-benar berhenti memakan buahnya, ucapan Adjie membuatnya tergelitik.
"Bukankah kau meragukan bayi yang berada di kandunganku? Dan kenapa sekarang kau mengakuinya sebagai penerusmu?" balasnya mantap sambil menatap Adjie.
Adjie terdiam mendengar balasan Raline yang benar-benar sialan wanita hamil itu!
"Bisa saja jika bayi ini memang bukan bayimu?" seru Raline lagi yang membuat Adjie menatapnya tajam.
"Ck kau benar-benar wanita yang menyebalkan!" dengusnya yang masih menatapnya tajam.
"Percaya diri sekali jika bayi ini laki-laki? Bagaimana jika dia seorang perempuan?"
"Aku yakin dia laki-laki,"
"Yah, yah terserah kau saja." balas Raline malas.
"Kapan kau akan periksa kandungan?"
"Kenapa? Kau ingin ikut?" lagi dan lagi Raline membalikkan pertanyaannya membuat Adjie sedikit frustrasi.
Adjie terdiam sebentar, kemudian membalas ucapan Raline.
"Ck dalam mimpimu, aku tidak mempunyai waktu untuk pergi ke tempat seperti itu!" tandasnya dengan remeh.
Ucapan Adjie yang seperti itu tentu saja membuat hatinya terasa tercubit, mau bagaimana pun juga bayi yang berada di dalam kandungannya darah daging pria itu.
"A-apa jika Alanis yang berada di posisi sama sepertiku kau akan menemaninya?"
"Tentu saja, dia wanitaku. Sudah seharusnya aku menemaninya."
Seharusnya ia tidak bertanya, karena sudah pasti jawaban Adjie seperti itu. Dasar bodoh, apa sih yang ada di otaknya semenjak ia hamil dirinya selalu berpikiran konyol. Memalukan.
"Sebaiknya kau tidur, ini sudah malam tidak baik Ibu hamil tidur larut." nasihat Adjie yang membuat Raline mendengus.
"Kau tenang saja, bayimu baik-baik saja. Aku tidak akan apa-apa jika tidur dini hari pun." balasnya dengan senyum sinis.
"Apa maksudmu? Kau sering begadang?" tanyanya lagi dengan nada tinggi tak lupa sorot matanya yang kembali menajam.
"Ck ayolah, kau tidak usah kaget begitu."
"Aku tidak mau terjadi sesuatu pada penerusku. Kau harus ingat, kau sedang mengandung calon pewaris Daniswara. Seharusnya kau tahu itu, dan mulai memperbaiki asupan gizimu!"
Raline melengos mendengar perkataan Adjie. Laki-laki itu membuatnya kesal setengah mati.
"Sudah berapa lama?" tanya Adjie lagi yang tidak mendapati Raline membalas ucapannya.
"Entah lah, mungkin dua minggu ini." balasnya acuh tak acuh.
"Apa! Selama itu?"
Raline hanya mengangguk sebagai jawaban, ia benar-benar tidak berselera lagi dengan camilan asam, manis itu.
"Aku akan berbicara dengan Petra apa yang harus kau makan dan tidak kau makan. Suka atau tidak kau harus menurutinya."
Raline mendengus mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan Adjie kepadanya. Dirinya lantas berdiri kemudian membereskan sisa kekacauan yang dia perbuat, dan berjalan meninggalkan dapur juga Adjie yang terdiam melihat Raline pergi begitu saja, tanpa ucapan salam? Apa yang kau pikirkan bodoh! Untuk apa wanita itu mengucapkan hal-hal seperti itu, mereka berdua tidak mempunyai hubungan apa-apa, apalagi sebagai pasangan. Dirinya dan Raline hanya terjebak dalam suatu hubungan rumit, karena Raline tengah mengandung anaknya. Jika Raline memilih mengugurkan mungkin ia dan sahabat tunangannya itu tidak akan sepusing ini, mereka bisa melanjutkan kehidupannya tanpa perlu mencampuri urasan masing-masing. Tapi Raline memilih untuk membesarkan bayi itu, dan otomatis dirinya pun harus ikut berpartisipasi. Bisa saja dirinya meninggalkan Raline dan tidak mengakui bayinya, tapi dirinya tidak seperti itu. Mau bagaimana pun juga Raline mengandung anaknya, darah dagingnya pewaris Daniswara selanjutnya.
***

Adjie menatap Andre yang tengah menjelaskan tentang keuntungan minggu ini dalam penjualan properti di salah satu daerah kota Bogor. Wajah Adjie terlihat memperhatikan, tapi tidak dengan isi kepalanya yang entah sedang berada di mana. Tadi pagi saat dirinya sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, dia mendengar suara yang tidak enak di dengar dari kamar sebelah tepatnya kamar Raline.
Wanita bertubuh mungil itu mengeluarkan suara seperti muntah, ia pikir hanya sekali atau dua kali Raline muntah. Tapi ternyata hingga beberapa menit lamanya, Raline terus mengeluarkan suara muntahan. Membuat dirinya seketika bangun dan tidak melanjutkan kembali tidurnya. Pada saat sarapan pun, dia tidak melihat Raline di dapur. Bu Ani malah bilang jika Raline tidak pernah sarapan pagi, Raline terbiasa sarapan jam sepuluh. Jika Raline memaksa untuk makan, wanita yang tengah mendung itu selalu memuntahkan makanannya. Yang membuat Raline tidak makan apa-apa, hanya sereal dan juga s**u hamil. Meskipun begitu tetap saja tidak baik bagi bayinya, harus ada kaebohidrat yang masuk ke dalam tubuh Raline. Tapi melihat Raline yang keras kepala, membuat dia kesulitan untuk menyuruhnya. Dan yang menjadi pertanyaan, sudah berapa lama Raline mengalami hal seperti itu? Dan apakah itu baik-baik saja bagi janinnya?
Adjie yang memikirkan kondisi calon penerusnya tidak menyadari jika rapat telah usai. Pria beralis tebal itu seketika tersentak mendengar ketukan di meja, membuat Adjie menghentikan lamunannya dan menatap dingin sipelaku.
Kini di ruangan meeting itu hanya tersisa dirinya dan pria yang paling dia benci.
"Well, aku tidak percaya kau ternyata... Nakal juga." seru Angga dengan seringai yang memuakan di mata Adjie.
Adjie mendengus sambil melemparkan tatapan tajamnya.
"Kupikir kau setia, tapiiii---" Angga menghentikan ucapannya, membiarkannya menggantung kemudian bersiul."Kau menyimpan seorang wanita di sebuah rumah? Who is she?" lanjutnya sambil terus menampilkan seringai.
Perkataan Angga jelas saja membuat Adjie tersentak kaget, tapi beruntunglah dirinya mempunyai wajah sedatar tembok. Jadi Angga tidak mengetahui ekspresi kagetnya saat ini. Adjie jelas kaget dengan ucapan Angga yang mengetahui perihal Raline, apa selama ini dia mematai-matainya? Dan jawabannya sudah jelas jika Angga memang mematai-matainya. Tidak mungkin dia tahu sendiri tanpa melakukan sesuatu, dan itu benar-benar membuatnya marah. Apa jangan-jangan dia juga tahu jika Raline hamil? Tidak, Angga tidak mungkin mengetahuinya. Dan sebelum Angga mengetahui rahasinya, dia harus segera bertindak.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Adjie tanpa mau membalas pertanyaan Angga.
"Bagaimana jika aku memberitahu Alanis?" Angga malah balik menantang Adjie.
Dan seketika itu juga tubuh Angga terjungkal kebelakang setelah mendapat tinjuan maut dari Adjie.
***
Tbc