Begitu ia tersadar dari lamunannya, Raline segera beranjak dari sofa yang ia duduki. Ia harus pergi dari sini secepatnya sebelum suruhan Adjie datang kemari. Dengan langkah cepat ia segera berjalan sedikit berlari untuk meninggalkan rumah Adjie. Namun ketika dirinya tengah berlari dia mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya. Raline menoleh ke belakang melihat dua orang pria bertubuh gemuk tengah mengejarnya. Raline tersentak kaget kemudian ia kembali berlari dengan tenaga yang dimilikinya, namun tiba-tiba saja laju larinya mendadak berhenti. Dia tiba-tiba saja merasakan perutnya sakit membuat dua orang suruhan Adjie sampai di mana tempatnya berada.
Raline memegang perutnya yang terasa nyeri seketika pikiran negatif bermunculan di kepalanya. Tidak, ia tidak ingin kehilangan bayinya, apapun yang terjadi ia harus memertahankan bayinya. Sampai kemudian ia merasa jika kesadarannya menghilang dan tubuhnya terasa lebih ringan.
Adjie yang mendengar jika Raline berada di rumah sakit dari orang suruhannya seketika berdiri bangkit dari duduknya, membuat beberapa orang yang mempunyai jabatan tinggi yang tentunya masih berada di bawahnya itu seketika bingung dan heran melihat atasannya. Apalagi wajah atasannya kali ini terlihat keruh, Andre yang sedang prensetasi di depan sama kaget dan bingung melihat Adjie yang tiba-tiba saja berdiri.
Netra gelap itu memandang Andre dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku ada urusan penting, kita bisa atur ulang rapatnya." sahut Adjie sambil berjalan meninggalkan ruangan rapat tersebut, membuat karyawannya itu semakin bingun atas sikap bos nya yang tidak seperti biasa.
Andre pun demikian, ia menutup presentasinya kemudian berjalan pergi menyusul Adjie. Namun saat ia membuka kantor Adjie ia tidak mendapatkan sang atasan di sana, baru saja ia akan menelepon Adjie. Atasannya itu telah lebih dulu meneleponnya.
"Jika Alanis datang ke kantor, beri tahu dia kalau aku ada meeting di luar."
"Baiklah, kau ada di mana?"
"Rumah sakit, Raline berada di sana."
"Astaga, apa yang terjadi? Lalu bagaimana dengan bayi kalian?"
Adjie seketika termenung di ujung sana, sampai Andre berpikir jika Adjie sudah menutup panggilannya. Begitu dia akan menutup teleponnya, suara Adjie kembali terdengar.
"Mana aku tahu!" sentaknya kasar yang langsung menutup panggilannya dengan Andre membuat pemuda yang menjabat sebagai sahabatnya itu mengelus dadanya.
Adjie benar-benar menyeramkan, namun Andre tiba-tiba tersenyum penuh arti melihat perubahan Adjie. Sahabatnya itu pasti mengkhawatirkan Raline dan bayi nya kan? Melihat Adjie yang tidak pernah membatalkan semua rapat di kantornya, baik itu rapat yang menyangkut keuntungannya jutaan tau miliaran sekalipun Adjie tidak pernah seperti tadi. Menunda rapat atau meninggalkannya begitu saja, maka kesimpulannya bahwa Adjie mulai memiliki hati untuk Raline dan bayi nya.
Adjie berjalan dengan langkah lebar, wajahnya tetap datar seperti tembok tapi entah dengan hatinya.
"Bagaimaa?" tanya Adjie pada Petra begitu masuk ke ruangan rawat Raline.
Di sana ia melihat Raline yang masih tertidur, guratan kelelahan terlihat jelas pada wajahnya.
"Beruntung lah bayi kalian tidak apa-apa. Dia ternyataa kuat, tapi jika dalam waktu dekat ibu nya yang seperti itu lagi, aku tidak bisa menjamin bayi kalian akan selamat. Demi Tuhan bayi kalian baru saja terbentuk, aku sudah ingatkan jika wanitamu tidak boleh stress dan kelelahan."
Adjie hanya diam memandang Raline tanpa mau menyela ucapan Petra.
"Apa yang membuat dia stress?"
Apa yang membuat dia stress?
Pertanyaan Petra menari-nari di kepalanya. Mungkinkah perjanjian itu? Sehingga Raline seperti ini, karena dia pun mendengar dari orang suruhannya jika Raline kabur dari rumah dan tiba-tiba pingsan.
"Jika kau ingin anak dan ibunya selamat, dengarkan ucapanku."
"Hn." hanya deheman sebagai balasan Adjie. Dan Petra yang sudah kebal dengan teman masa kuliahnya dulu hanya bisa mendengus.
Tanpa berkata-kata lagi Petra pergi meninggalkan Raline dan Adjie.
Adjie sedari tadi terus menatap Raline yang belum sadarkan juga, dia tidak tahu kenapa dia bisa sepanik ini mendengar Raline yang pingsan. Tubuh dan otaknya benar-benar tidak sinkron, seharusnya dia biasa saja mendengar kabar Raline bukan malah pergi meninggalkan rapat. Tapi tubuhnya tiba-tiba saja berdiri dan memilih untuk pergi menemui Raline. Benar-benar aneh menurutnya.
Tak berapa lama perlahan kelopak mata Raline bergerak-gerak kemudian terbuka. Wanita mungil itu mengedarkan matanya kesekitar ruangan tempat dirinya berada, netra jernihnya seketika bertatapan dengan netra cokelat gelap milik Adjie membuat dirinya tersentak kaget. Adjie sendiri semakin mendekatkan tubuhnya hingga kini tubuhnya berada di samping ranjang Raline.
"Bayimu baik-baik saja." ucap Adjie yang seakan tahu jika Raline mencemaskan bayi yang berada di dalam kandungannya.
Bayimu? Bukan bayi kita.
Raline mendengus dalam hati, apa sih yang dipikirannya, jelas Adjie tidak akan mengakui bayinya sebagai darah dagingnya sendiri. Karena pria b******k itu masih meragukan janinnya, dasar Raline bodoh. Untuk apa dirinya merasa sakit hati dengan ucapan Adjie. Apa sih yang dia harapkan? Adjie tidak akan mengakui anaknya sebelum dia melakukan test DNA. Maka sampai saatnya itu tiba, ia harus menyiapkan hatinya dengan perkataan Adjie yang tak kurangnya selalu menyakitinya secara tak langsung.
Raline yang mendengar perkataan Adjie jika bayi nya baik-baik saja membuat wanita yang masih berbaring tersebut menghela napasnya lega.
"Dokter bilang kandunganmu kuat tapi tidak menutup kemungkinan jika kau akan kehilangan bayimu jika kau mengulangi hal yang sama, stress dan kelelahan itu pemicunya."
Tangan kanan Raline segera memegangi perutnya yang masih terlihat datar, dan sikap Raline yang seolah-olah melindungi bayi nya itu tak luput dari netra gelap Adjie.
"Jika salah satu pemicu dari stress mu itu karena ucapanku tadi, aku akan merubahnya perjanjian kita."
Ucapan Adjie kali ini membuat Raline menatap wajahnya. Sedangkan Adjie sendiri sedari tadi tak melepaskan tatapannya pada mata Raline.
"Aku akan merubah perjanjiannya, aku tidak akan melakukan test DNA. Aku akan menunggunya sampai bayi itu lahir, jika bayi itu laki-laki kau harus menuruti keinginanku yang pertama untuk mencantumkan nama Alanis sebagai Ibu nya di akta. Dan jika bayi itu perempuan, aku akan melepaskan kalian berdua. Tapi kau jangan khawatir, meskipun bayi itu perempuan dan aku membebaskan kalian aku tetap akan membiayai kehidupan kalian. Dan untuk itu, kau harus mau tinggal bersamaku sampai bayi itu lahir." jelas Adjie panjang lebar.
Dan yang dilakukan Raline hanya diam mencerna setiap perkataan yang dilontarkan Adjie mengenai perjanjian mereka.
"Jika aku menolak?" tantang Raline entah dirinya mendapat keberanian dari mana bisa berbicara seperti itu kepada Adjie.
Jujur saja Adjie kaget mendengar balasan Raline dia pikir wanita yang tengah mengandung yang 'katanya' anaknya itu akan menurut saja. Tapi ternyata dugaannya salah, Raline justru beberapa kali melawannya. Terbukti saat tadi pagi ketika dirinya ke apartement Raline dan wanita bertubuh mungil tersebut berniat kabur darinya, lalu saat dirinya meminta untuk ke dokter kandungan pun Raline tidak mau, dan terakhir saat dirinya pergi ke perusahaannya untuk urusan rapat lagi dan lagi Raline melawannya. Wanita itu malah lari meninggalkan rumahnya, yang mengakibatkan dia berakhir di sini.
Adjie menundukan tubuhnya sehingga kini tubuhnya condong ke depan ke arah Raline dengan wajah yang begitu dekat. Adjie memakukan tatapannya pada netra cokelat jernih milik Raline membuat Raline menahan napasnya untuk beberapa saat. Sudut bibir Adjie terangkat melihat Raline yang terlihat tegang, dan itu membuatnya tergelitik ingin semakin menjahilinya.
"Coba saja, dan aku pastikan kau tidak akan bisa bekerja di perusahaan mana pun. Kau bahkan tidak akan mampu untuk membiayai dirimu sendiri, terlebih sekarang ini kau sedang mengandung. Dan kau pasti membutuhkan uang yang banyak untuk biaya persalinanmu nanti, kau tidak mungkin bukan untuk kembali kepada kedua orang tuamu?"
Ucapan Adjie yang benar adanya membuat dirinya marah, marah akan kebenaran di setiap perkataan Adjie.
Kedua tangannya mengepal dengan kuat, wajahnya memerah karena amarah. Ingin sekali dirinya menampar pria yang menghamilinya itu, tapi tubuhnya masih lemah jadi yang dia lakukan hanya memalingkan wajah ke arah lain.
Dan Adjie yang mengetahui jika perkataannya benar dan bisa memengaruhi Raline membuat dirinya menyeringai. Menyeringai karena kemenangan dan pada akhirnya Raline pasrah akan keputusan Adjie.
***
Kali ini Adjie membawanya pada sebuah rumah sederhana yang berbeda dengan rumah sebelumnya. Kali ini rumah itu terletak di perumahan yang jauh dari tempatnya tinggal, masih di daerah Bandung. Hanya saja letaknya kali ini lebih jauh, namun dirinya merasa akan betah jika tinggal di sini.
"Apa kau menyukai rumahnya?" tanya Adjie ketika melihat Raline yang sedang melihat-lihat rumah barunya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Ini rumahmu bukan rumahku, jadi pendapatku tidak penting bukan?" tanya Raline balik dengan tubuh yang menghadap Adjie.
Untuk beberapa saat Adjie terdiam mendengar balasan Raline. Wanita bertubuh mungil itu ternyata pintar berbicara, dia benar-benar merasa surprise dengan Raline.
"Lupakan." balas Adjie yang sedikit kesal lalu berjalan meninggalkan Raline di ruang tamu. Sementara Raline yang melihat calon suami Alanis---ayah bayi yang dikandungnya itu terlihat berbeda hanya mengangkat bahunya cuek.
Raline kemudian berjalan ke arah dapur, ia ingin melihat bagaimana dapur di rumah ini. Ternyata di sana ia melihat Adjie yang sedang membuka lemari es.
"Kau bisa memasak?" tanya Adjie yang merasakan kehadiran Raline di belakang tubuhnya.
"Hm, tidak terlalu mahir."
Adjie mengangguk kemudian membalikan tubuhnya jadi menghadapa Raline.
"Bagus, kau bisa memasak apapun yang kau mau. Aku sudah menyiapkan berbagai jenis bahan masakan dan buah-buahan selama kau tinggal di sini." terang Adjie sambil menunjuk lemari es di sampingnya.
Raline hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa- eng apakah kau akan selalu kemari?" tanya Raline dengan gugup.
Pertanyaan tidak terduga Raline membuat Adjie tersentak, namun seketika sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Kenapa? Kau takut tinggal di sini sendirian? Tenang saja aku sudah menyuruh asisten rumah tangga untuk menemanimu di sini."
"Bukan itu, aku tidak masalah jika aku tinggal sendiri."
"Lalu?"
"Aku takut jika Alanis mengatahui aku berada di sini. Ini masih daerah Bandung dan bagaimana jika kau bertemu dengan seseorang yang mengenalimu dan Alanis dan mereka memergokimu yang mengunjungiku."
Adjie tersenyum aneh mendengar ucapan Raline.
"Ck kau percaya diri sekali aku akan mengunjungimu setiap hari."
Balasan Adjie membuat bibir Raline tarkatup rapat. Benar-benar b******k!
"Dengar, kau harus ingat. Meskipun kau mengandung anakku, aku tidak akan menikahimu entah itu untuk menikahimu secara siri atau menjadikanmu istri kedua sekalipun. Aku hanya akan menikahi Alanis. Dan kedua, jangan pernah mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kau tidak boleh mencampuri urusanku, dan aku pun tidak akan mencampuri urusanmu. Kau mengerti?"
Mengembuskan napasnya kasar Raline mengangguk setuju. Cih dasar menyebalkan! Batin Raline kesal.
Tiba-tiba saja ponsel Adjie berdering, pria yang masih menatapnya itu seketika mengalihkan tatapannya pada ponsel yanh berada di saku celana denimnya. Wajah Adjie berubah cerah melihat nama yang meneleponnya. Segera saja dia angkat, dan Raline yang melihat Adjie yang tengah menerima telepon dari Alanis seketika undur diri.
Entah kenapa dirinya tiba-tiba menjadi kesal, seharusnya ia tidak boleh begini bukan? Raline yang sedang berjalan-berjalan melihat tiap sudut rumah yang akan ditinggalinya selama sembilan bulan kedepan itu seketika menghentikan langkahnya. Ponsel yang sedang dirinya pegang tiba-tiba bergetar, ia melihat nama Choki yang memberinya pesan.
Dirinya merasa bersalah pada Choki, cepat atau lambat ia harus menceritakan semuanya. Dan jika Choki mau memaafkan dan mau menerima dirinya dengan anak yang dia kandung, dia akan pergi dari sini. Masa bodoh dengan Adjie selama ada Choki yang masih menerimanya ia akan memilih Choki bukan Adjie.
Ada yang mau aku bicarakan, bisa kita bertemu?
***
Tbc