Bab 3

2664 Words
Raline benar-benar masih bingung dengan perkataan Adjie. Apa pemuda di depannya itu sudah gila? Seenaknya saja berbicara seperti itu kepadanya. "Beri aku waktu, kehamilanku ini benar-benar mengejutkan. Aku... Aku tidak bisa berpikir," jawab Raline pada akhirnya setelah beberapa menit dirinya bungkam akan pertanyaan Adjie. Adjie mengangguk menyetujui, karena dia pun merasa demikian. Bertemu dengan Raline membuat dirinya mendapatkan kejutan yang begitu mengagetkannya, sampai dirinya kesulitan untuk berpikir. "Dua hari, aku akan memberikanmu waktu dua hari. Setelah itu aku akan meminta janjimu, jika kau memilih menggugurkan kandungan. Aku bisa mengantarmu, kau tidak usah takut soal biaya dan dokter yang akan menanganimu, aku tahu dokter yang bisa membantu menggugurkan bayi itu." ucap Adjie panjang lebar yang membuat Raline semakin kaget saja. Pertama, Adjie yang dikenalnya irit bicara dan terkesan pura-pura bisu karena malas menanggapi semua ucapan yang menurutnya tidak penting. Sekarang pria itu berbicara banyak dan mendeteil, seperti bukan Adjie saja. Kedua, dia pikir Adjie tipikal yang menyukai anak-anak tapi mendengar penuturan Adjie soal mengugurkan kandungan. Membuat dirinya shock, benar-benar shock, tapi seharusnya dia juga mengerti jika berada di posisi Adjie. Adjie yang sudah bertunangan menghamili sahabat dari tunangannya sendiri, dan Adjie sudah pasti akan memilih Alanis---tunangannya, karena jelas Adjie mencintainya. Sedangkan dirinya? Sebuah kesalahan nikmat yang berbuah mala petaka. Seharusnya ia sudah sadar akan hal itu, namun tetap saja dirinya kaget. Dan tanpa kata lagi, setelah melihat keterkejutan di mata bening Raline. Adjie melenggang pergi begitu saja meninggalkan wanita itu sendirian. *** "APA!" teriak seorang pria yang kini menatap Adjie dengan horor. "Berhentilah untuk berteriak." "Kau gila! Bagaimana mungkin kau menghamili sahabat tunanganmu? Kau benar-benar sudah tidak waras meeenn..." "Itu kecelakaan," balas Adjie sambil mengangkat bahunya acuh. "Yeah kecelakaan nikmat yang membuatmu memiliki seorang bayi!" sarkas pria berambut cokelat jabrik. "Hah aku hanya membuang-buang waktu berbicara denganmu." seru Adjie malas menatap Andre. "Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?" Adjie menatap Andre dengan pandangan sulit di artikan. "Aku memberinya dua pilihan, menggugurkan atau hidup denganku." balasnya lagi tenang. "Kau gila! Kau benar-benar sudah tidak waras, Djie!" teriak Andre lagi kali ini sampai memekan telinga Adjie. Adjie yang kesal melihat reaksi berlebihan Andre seketika melayangkan tatapan tajamnya. "Sekali lagi kau berteriak, keluar dari ruanganku!" tandasnya final dengan mata tajamnya. Andre menelan ludahnya berat mendengar nada bentak dalam suara Adjie. Lagi pula jangan salahkan dia, bagaimana dirinya tidak kaget dan berteriak jika mendengar perkataan gila Adjie. Semua orang pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya, Adjie saja yang berlebihan. "Lagi pula... Mana mungkin dia bisa hamil? Kami melakukannya dua minggu lalu dan hanya dalam satu malam. Bagaimana mungkin dia bisa hamil secepat itu?!" "Bukankah kau yang memerawaninya? Dan sekarang kau meragukannya, di mana otak pintarmu itu, Djie? Jika kau hanya menidurinya sekali dalam satu malam, aku percaya dia tidak mungkin hamil. Tapi kau... Aku bahkan tidak sanggup membayangkan menjadi Raline. Wanita itu pasti tidak bisa berjalan, saat normal pun kau sering membuat Alanis tidak berdaya apalagi jika kau dalam keadaan mabuk dan meminum obat perangsang. Aku bahkan tidak sanggup berkata-kata jika kau sampai meragukan Raline yang mengandung anakmu." jelas Andre sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Adjie terdiam mendengar ucapan Andre. Dia benar-benar tidak berpikir ke arah sana, karena melihat Alanis selama ini tidak kunjung hamil juga, jadi dia berpikir hal yang sama. "Hah ini benar-benar membuatku gila!" decak Adjie frustrasi. "Tapi... Bukankah ini bagus? Kau bisa mengalahkan Angga secara telak." Adjie mengangguk setuju. "Maka dari itu aku harus memastikannya, jika dia memang mengandung anakku. Aku akan memilihnya untuk mengikutiku, sekalipun dia menolaknya." "Lalu... Bagaimana dengan Alanis?" Adjie menghela napasnya berat mendengar nama Alanis. Dia benar-benar merasa bersalah pada wanita yang sangat dicintainya itu, dia belum memikirkan harus menceritakan masalah ini atau tidak. Menyakiti Alanis adalah keinginan terakhirnya, bahkan dia tidak pernah berpikir untuk menyakiti Alanis. Melihat wanita itu menangis membuat hatinya sakit, dan sekarang jika ia menceritakan yang sesungguhnya mengenai ia yang menghalami Raline. Dia tidak tahu akan bereaksi seperti apa, wanitanya mungkin akan membencinya. "Aku... Tidak tahu, memikirkan Alanis yang mengetahui hal ini saja aku tidak sanggup membayangkannya." balasnya dengan nada lirih membuat Andre prihatin melihatnya. "Jika aku menjadi kau, mungkin aku sudah gila." decak Andre ikutan frustrasi. Baik Adjie dan Andre mereka sama-sama terdiam memikirkan jalan keluar untuk masalah baru nya itu. Tapi sampai beberapa menit kemudian mereka tidak mendapatkan jalan keluarnya, sampai mereka mendengar bahwa pintu ruangan Adjie di ketuk lalu terbuka menampilkan seorang wanita cantik nan anggun yang menatap Adjie dengan pandangan berbinar. Adjie segera membenarkan letak duduknya, menampilkan senyum tampannya ia menyapa sang kekasih hatinya. "Hallo sayang, apa aku mengganggu kalian?" tanya Alanis begitu dirinya berdiri di samping Adjie. Wanita yang mempunyai tubuh bak gitar Spanyol itu memandang Adjie dan Andre bergantian. Andre seketika menggeleng sambil tersenyum. "Ah tidak, meeting kami sudah selesai sebelum kau masuk." ujar Andre sambil menampilkan gigi putihnya. "Syukurlah, aku takut mengganggu kalian." ucap Alanis dengan nada tidak enak yang langsung di tepis oleh Adjie. "Tidak, si berisik itu akan pergi." seru Adjie sambil menyuruh Andre segera keluar dari ruangannya, membuat Andre pasrah dan mendecak sebal mendengar ucapan Adjie yang secara terang-terangan mengusirnya. Meskipun sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu dari sahabatnya, tetap saja membuat dirinya kesal. Sambil menggerutu dan tersenyum manis pada Alanis pria dengan rambut jabrik berwarna cokelat itu pun pergi meninggalkan ruangan Adjie. Adjie bangkit dari duduknya sambil menatap Alanis dengan pandangan yang sama, yaitu memuja. Selalu seperti ini, dirinya selalu terpesona pada kecantikan Alanis sang tunangan. Betapa beruntungnya ia bisa memiliki tunangan seperti Alanis. Cantik, modis, berbudi luhur, sopan, ramah, dan setara dengannya, ah jangan lupakan jika wanita itu tau bagaimana bisa memuaskannya di ranjang. Tipikal untuk menjadi istri idamab bukan? Maka dari itu ia beruntung bisa memiliki Alanis terlebih keluarga besarnya sudah tahu soal bibit, bebet, bobot keluarga Alanis yang membuatnya ia mengantongi restu untuk meminang sang kekasih tercinta. "Apa yang kau lamunkan?" tanya Alanis sambil mengusap d**a bidang Adjie denga pelan. Adjie tersenyum sambil memeluk pinggang sang kekasih dengan mesra. "Aku hanya berpikir, begitu beruntungnya aku bisa memilikimu." jawabnya sambil menampilkan senyum separuhnya, membuat pemuda itu menjadi jauh berlipat lebih tampan. Alanis menyikut pinggang Adjie dengan main-main. "Dasar penggoda, ayo kita makan. Aku sudah lapar," ajak Alanis sambil menarik Adjie untuk keluar dari ruangannya. "Tunggu, kau belum menciumku." ujar Adjie yang menahan lengan Alanis. Wanita yang kini memakai dress merah maroon itu tersenyum kemudian mengecup bibir pujaan hatinya itu lalu melepaskannya. Namun tentu saja Adjie tidak akan melepaskannya, bahkan sebelum Alanis menjauh dari tubuhnya. Adjie terlebih dahulu menarik pinggang wanitanya kuat, membuat Alanis tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Pasrah di cumbu habis-habisan oleh sang kekasih, dan sekarang yang terdengar dari ruangan Adjie hanya desahan Alanis. *** Dua hari ini Raline sudah memikirkan tawaran Adjie. Dan keputusannya, ia tidak akan memilih keduanya. Dia sudah gila jika mengugurkan kandungan, dan lebih gila lagi jika dirinya harus tinggal dengan Adjie. Mau bagaimana pun Adjie akan menjadi suami dari sahabatnya---Alanis mana mungkin dirinya tinggal dengan calon suami sahabatnya. Sudah tidak waras dirinya jika memilih hal itu, maka keputusan yang dia ambil. Ia akan memilih pergi dari kehidupan Adjie dan Alanis. Ia tidak mau sampai pernikahan mereka berdua batal karena dirinya, tidak dia tidak mau. Hanya karena dia hamil anak Adjie pernikahan yang sudah Alanis impikan gagal. Tidak ia tidak akan melakukan hal seperti itu, Alanis terlalu berharga baginya. Dia sahabat yang selalu menolongnya di saat apapun, dan sekarang yang ia lakukan bukannya membalas jasa Alanis ia malah tidur dengan calon suaminya. Mungkin Alanis akan jijik dan membencinya jika sahabatnya itu tahu. Maka dari itu lah sebelum kandungannya membesar dan sebelum Alanis mengetahuinya. Ia harus pergi dari kehidupan Adjie dan Alanis yah, harus. Baru saja Raline mengunci pintu apartementnya, seketika dirinya dikejutkan oleh seseorang. Membuat ia memegang dadanya shock. "Bagus, kau sudah memilihnya. Kalau begitu, ayo kita pergi." ajak Adjie yang seketika tangannya di genggam balik oleh Raline. "Tunggu, kau salah paham. Aku... Aku tidak bisa memilih." ujarnya dengan gugup dan takut. Perkataan Raline sukses membuat Adjie menatapnya dingin. "Kau harus memilih, tidak ada pilihan untuk kau menolaknya. Sekarang ikut denganku, kita akan memeriksanya bersama. Jika kau benar mengandung anakku, maka kau harus tinggal denganku. Tangan yang di genggam erat oleh Adjie seketika terlepas dengan kasar oleh Raline. Wanita itu jelas tersinggung, bagaimana mungkin Adjie berpikir jika dirinya berbohong. Apa dirinya semurahan itu? Padahap jelas-jelas pria itu yang menidurinya, mengambil keperawanannya dua minggu lalu. Dan sekarang Adjie berpikir jika dirinya mengada-ngada hamil anaknya? Tidak terima kasih, untuk apa dirinya mengaku-ngaku anak pria itu. Jika Adjie sendiri telah melihat hasil test pack nya dua hari lalu, benar-benar b******k pria itu. "Tidak perlu. Kau meragukannya dan itu sudah cukup kau tidak memercayaiku. Sekarang pergilah, anggap saja aku tidak mengandung anakmu seperti yang kau pikirkan. Dan aku berjanji akan menjauhi kalian berdua, kau tidak usah khawatir tentang reputasimu. Aku tidak akan membocorkan masalah ini pada siapapun, jadi sekarang sebaiknya kau pergi karena aku pun akan pergi." jelasnya panjang lebar dengan napas naik turun menahan amarah. Sialan, gara-gara dirinya hamil. Hormonnya menjadi naik turun seperti ini, kenapa pula dirinya harus marah-marah pada Adjie. Tapi jujur saja dirinya merasa kesal mendengar Adjie tidak memercayainya, untuk apa dia berbohong? Untuk merebut Adjie dari Alanis? Ck itu sungguh konyol, dia tidak tertarik lagi pada Adjie. Pria yang diketahuinya begitu b******k, dan ia bersyukur untuk tidak lagi menyukai calon suami sahabatnya tersebut. Adjie yang geram mendengar penolakan Raline segera menggendong tubuh wanita bertubuh mungil tersebut, meninggalkan koper si wanita yang masih berdiri di depan pintu. Membuat Raline memekik kaget kemudia meronta-ronta minta dilepaskan, namun bukan Adjie namanya jika menurutinya. Pria itu malah terus berjalan meninggalkan apartement Raline dan Raline yang berada di dalam gendongannya, terus meronta-ronta minta diturunkan membuat Adjie sedikit kewalahan akan tindakan Raline. Sampai akhirnya ia meremas p****t Raline sedikit kuat menyebabkan wanita itu terdiam dibuatnya tidak meronta-ronta lagi. Wajah Raline memerah ketika Adjie meremas pantatnya kuat, dan Adjie yang melihat sikap Raline menjadi diam membuat dirinya menyeringai. Sampai mereka berdua berada di dalam mobil dan menuju sebuah rumah sakit khusus kandungan. Sepanjang perjalanan itu Raline hanya diam memandang ke arah luar tanpa mau berbicara atau pun menoleh ke arah Adjie. Dan Adjie terlihat masa bodo melihat perubahan Raline yang menjadi penurut. Sesampainya di sana Adjie segera saja keluar dari dalam mobil berjalan lebih dahulu meninggalkan Raline yang berjalan menyusulnya di belakang. Sebenarnya ini kesempatan bagus baginya untuk lari dari Adjie tapi ia merasa sangat lelah. Akibat dirinya yang tadi meronta-ronta di gendongangan Adjie membuat tenaganya terkuras, maka dari itu lah dirinya hanya bisa pasrah mengukuti Adjie. Adjie yang memang sudah membuat janji dengan salah satu dokter kandungan di rumah sakit ini pun segera saja masuk ke dalam ruangan. Lagi dan lagi Raline hanya mengikutinya, Adjie benar-benar tidak menunggunya barang sebentar pun membuat dirinya semakin kesal saja. "Ini wanita yang ku ceritakan kemarin malam, tolong periksa dengan teliti." sahut Adjie begitu Raline baru saja masuk ke ruang praktik sang dokter. Raline tersenyum begitu menemukan dokter pria yang akan memeriksanya, dokter yang dia perkirakan seumuran dengan Adjie itu terlihat ramah kepadanya. Membuat dirinya yang awalnya merasa takut menjadi nyaman. Raline segera mengikuti intruksi yang diperintahkan oleh dokter yang bernama Petra tersebut. Adjie yang masih duduk di kursinya sedari tadi mata cokelat tajamnya mengawasi Raline. Dia mendengarkan apa yang Petra bicarkan, tentang Raline yang memang benar hamil setelah Petra meminta Raline untuk tes urine lalu kemudian memeriksa perut Raline. Petra kembali berbicara mengenai janin yang berada di dalam perut Raline. Tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada wanita yang sedang hamil muda. Sampai kemudian pertanyaan tak terduga Adjie membuat Raline ingin menampar pria itu. "Apakah kau bisa untuk mengetes DNA-nya?" Petra mengangkat alisnya tinggi mendengar pertanyaan aneh Adjie. "Untuk apa kau ingin mengetesnya?" "Jawab saja, tidak usah banyak bertanya." balas Adjie sengit membuat Raline menggelengkan kepalanya dan Petra mendengus. "Ck kau benar-benar tidak berubah yah." Dan Adjie hanya memutar bola matanya malas mendengar balasan Petra. "Untuk penentuan profil DNA dalam kandungan itu bisa diambil dari cairan amnion atau dari villi chorialis pada saat usia kandungan 10-12 minggu," terang Petra sambil menatap Raline dan Adjie bergantian. "Oke." balas Adjie kemudian bangkit berdiri diikuti Raline kemudian. "Jaga kandungannya, ingat tidak boleh stress dan kelelahan. Perhatikan juga asupan gizinya," peringat Petra pada Raline dan Adjie juga. Raline tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Terima kasih, apa ada obat khusus untuk menghilangkan rasa mual?" tanya Raline memandang Petra. "Kau sering mual?" tanya Adjie tiba-tiba. Raline mengangguk tanpa menatap Adjie. Dan Petra yang melihatnya hanya menggulum senyum. "Apa parah?" tanya Adjie lagi yang entah kenapa terlihat penasaran atau peduli? "Hmm entah lah, aku sering merasakannya ketika bangun tidur, mencium aroma sabun, parfume dan beberapa aroma masakan yang menyengat." jelasnya lagi yang kali ini memandang Adjie. "Apa sebegitu parahnya?" tanyanya lagi. Dan Raline hanya mengangkat bahunya cuek. Dan Petra benar-benar ingin tertawa melihat wajah Adjie yang menurutnya begitu lucu. "Aku sampe melupakan, aku akan memberikanmu vitamin. Untuk mengobati rasa mual, kau bisa meminum air jahe itu untuk meredakan rasa mualmu." Dan Raline hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan mereka berdua pun pergi dari ruangan Petra dengan ucapan terima kasih yang dilayangkan Raline kepada sang dokter tampan tersebut. *** Mobil mewah Adjie berhenti di depan sebuah rumah minamilis bergaya klasik. Ia turun kemudian diikuti Raline. Kali ini Adjie berjalan pelan menunggu Raline, kemudian membuka pintu rumah tersebut ketika Raline sudah berdiri di sampingnya. "Ini akan menjadi rumah sementara bagimu." Raline hanya diam memandang rumah yang akan ditempatinya mulai sekarang. Karena dia yang merasa lelah, padahal ia ingin melihat-lihat ruangan rumah di barunya tapi tubuhnya meminta dia untuk beristirahat. Yang akhirnya Raline memilih untuk duduk di sofa sambil menunggu Adjie yang masuk ke dalam kamar pria itu mungkin? Tak lama kemudian Adjie berjalan menghampirinya sambil membawa segelas air putih lalu meletakan di hadapan Raline. "Mari kita membuat kesepakatan." ujar Adjie setelah melihat Raline yang baru saja minum. Raline mengangguk, dia jelas setuju. Memang seharusnya mereka menbuat perjanjian untuk menghindari hal yang tidak diingkan kembali terjadi, dan jika mereka sudah membuat kesepakatan. Dia bisa menyiapkan segalanya dari dini. "Lalu, di mana surat kesepakatan itu? Bukan kah aku harus menandatanganinya?" "Ck berhentilah untuk menonton sinetron, kita tidak perlu melakukannya. Cukup ingat baik-baik apa yang menjadi kesepakatan kita." jelas Adjie sambil berdecak. "Baiklah, lalu apa yang perlu kita sepakati?" "Pertama, aku akan menunggu usia kandunganmu sampai 12 minggu untuk bisa mengikuti test--- jangan memotong ucapanku, aku hanya penasaran. Jika bayi yang berada di dalam kandunganmu memang terbukti bayiku, maka kau harus menuruti apapun keputusanku. Termasuk kau tinggal di sini!" "Tunggu dulu, kau meragukanku kan? Lalu untuk apa aku tinggal di sini, aku tidak perlu diam di sini. Kita hanya perlu bertemu sekali saat usia kandunganku berumur 12 minggu, lalu kau boleh menetapkan." "Tidak, aku tidak menerima penolakan darimu. Bisa saja kau kabur dan membawa---mungkin calon anakku." jelas Adjie lagi yang mendapat dengusan keras dari Raline. "Dan jika terbukti kau mengandung anakku, kau harus meninggalkan pekerjaanmu---jangan memotong lagi ucapanku. Kau tidak boleh bekerja, semua biaya akan kutanggung sampai anak itu lahir. Dan selama kau hamil, kau harus berada di sini, dan setelah anakku lahir kau harus memperbolehkan Alanis menjadi orang tuanya." "Apa kau gila! Dia anakku, aku yang mengandungnya, mana mungkin aku akan memberikan bayiku pada Alanis meskipun dia sahabat baikku. Aku tidak mau memberikan anakku pada kalian berdua!" tandasnya dengan napas memburu, dia benar-benar marah. "Dengarkan dulu, ini hanya di akta. Dan di depan publik ketika kami sudah menikah, lagi pula aku tidak akan memisahkan ibu dan anaknya." jelas Adjie lagi yang berharap Raline mengerti. "Pikirkan lah baik-baik, ini untuk masa depan kalian. Aku akan membiayai kalian berdua, kau tidak perlu mencemaskan apapun." Dan lagi-lagi Raline hanya diam tanpa menjawab perkataan Adjie yang menggores perasaannya. "Aku pergi, dan mungkin aku akan kembali pada saat usia kandunganmu 12 minggu. Kau tidak perlu cemas dan takut kesepian, aku sudah memperkerjakan seseorang yang akan menemanimu di sini." ujarnya lagi yang ditanggapi dengan keterdiaman Raline. Adjie berdiri dari duduknya, menatap wajah Raline lama yang terlihat lelah. Kemudian pria itu pergi begitu saja dari hadapan Raline meninggalkan wanita yang sedang hamil muda itu sibuk dengan pikirannya sendiri. *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD