"bang, mau kemana?" tanya Sea pada Rendy yang tengah memanaskan mobil.
"pusat kota Se"
Mata Sea membulat, seolah mendapat undian mobil mewah mendengar jawaban Rendy
"Sea ikut ya bang"
"mau apa? aku aga lama disana, keperluan panti banyak yang kosong"
"gapapa, mau lama banget juga gapapa, yang penting Sea ikut ya" mohon Sea, sebenarnya dia itu sedang menghindari seseorang, siapa lagi kalau bukan Aga, setelah obrolan didapur kemarin dan Aga ngotot bilang kalau Sea pacarnya, Sea benar-benar merasa terganggu, pergi kesana diikuti, pergi kesini diikuti, mau ini dia di ikuti mau itu dia juga di ikuti. mau pecah rasanya kepala Sea.
"bang Rendy, please" mohon Sea, rasanya pengen refresing banget diatuh, meskipun satu hari.
Rendy mengangguk "oke, sana siap-siap, dua puluh menit lagi berangkat"
"yessss!!! makasih bang Rendy" sorak Sea bahagia, dia langsung bergegas untuk bersiap diri.
***
"lah kok ada-"
"halo pacarnya Aga" Ucapan Sea langsung terpotong, atau lebih tepatnya karena Sea sendiri cukup terkejut melihat orang yang dia hindari sudah ada didalam mobil
"Sea gak mau masuk mobil? sini duduk samping Aga" Aga menepuk tempat disampingnya, kalau kursi depan tidak diisi Nadine, teman kampusnya mungkin Sea akan langsung berlari untuk berpindah tempat duduk, tapi sudah kepalang tanggung, dengan berat hati Sea masuk dan duduk disamping Aga yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"lebar banget itu senyum, gak sekalian dirobek itu bibir?" sindir Rendy yang melirik lewat spion
"Rendy gak boleh protes ya! mending nyupir aja, ayo berangkat" protes Aga
Rendy memutar bola matanya dan mulai menginjak gas. Sedangkan Sea tanpa bicara appapun langsung membuang pandangannya keluar.
"Sea kenapa? kok liat keluar terus, gak mau liat Aga?"
Sea masih memilih diam, tidak ingin merespon Aga, dia masih kesal! niat meloncat menghindari kobangan lumpur, malah jatoh di kongan lain. Menyebalkan!
"Sea"
Tubuh Sea tersentak, mendengar panggilan Aga dengan suara rendah dan tangannya yang tiba-tiba di genggam.
"jangan liat keluar terus, mending liat ke Aga aja sekarang, Aga mau lihat muka Sea yang cantik"
"gombal lo Ga!" sahut Rendy dari depan.
"sirik bilang om" balas Aga
"Sea" panggil Aga lagi pelan
"Sea, jangan li-"
"apa sih Ga! kamu berisik banget dari tadi. Terserah aku mau liat keluar atau ke langit sekalipun!" bentak Sea, sudah kepalang kesal, kenapa tidak sekalian marah saja, pikir Sea.
"kok Sea bentak pacar Sea sendiri, Aga kan cuma mau Sea liat ke Aga"
"ya kalau gue gak mau liat lo kenapa?! masalah?!"
"SEA! gak sopan ya sama pacar sendiri. Aga gak suka!"
"peduli setan sama lo! gue mau bilang apa juga terserah gue! lo siapa bos?" Amuk Sea
"SEA" geram Aga
Sea diam, entah kenapa Aga langsung terlihat berbeda, tidak seperti Aga yang terlihat menggemaskan dan polos, kali ini Aga benar-benar nampak seperti pria normal lainnya, tegas dan cukup menakutkan bagi Sea.
"jangan berbicara kasar!" Tegas Aga lagi. Sea menelan ludahnya karena tiba-tiba merasa takut dengan perubahan Aga, sungguh pria ini tidak bisa dia tebak.
"dengar, sekali lagi berbicara pada kasar pada pacar sendiri, Sea akan tanggung akibatnya" ancam Aga yang semakin menambah ketakutan pada diri Sea.
***
Sampai di tempat tujuan, Sea masih diam, setelah ancaman yang Aga berikan, Sea tidak mengeluarkan satu katapun, dia kembali memilih untuk menatap pemandangan luar selama perjalanan.
"Se, bang Rendy mau beli list belanjaan dapur, kamu mau ikut atau mau pergi sama-"
"aku ikut bang Rendy" jawab Sea langsung, tanpa menatap Aga yang baru keluar mobil, Sea langsung berdiri di samping Rendy, dia ogah jika harus berdekatan dengan Aga.
Rendy mengangguk "oke, kamu Din, mau ikut atau pergi kemana?"
"aku mau arah sana bang, lagi mau cari sesuatu" tunjuk Nadine ke sebrang jalan
"okedeh, ntar ketemu disini aja ya, atau chat " pesan Rendy
"siap bang"
"yuk bang" ajak Sea, dia sudah tidak nyaman karena Aga terus melihat kearahnya.
"yuk" Rendy melangkah yang langsung diikuuti Sea yang berjalan disampingnya, sedangkan Aga mengikuti keduanya dibelakang dengan mata yang terus memperhatikan Sea.
"Se, kamu ambil cemilan ya buat anak-anak panti" suruh Rendy
Sea mengangguk, mendorong troli kearah cemilan, sedangkan Rendy yang sedari tadi sibuk di tempat beras melanjutkan aksinya entah ke bagian mana.
"buat kamu"
Sea yang sedang memilih snack langsung menghentikan aktivitasnya, menatap bingung pada permen dihadapnnya yang disodorkan seseorang.
Sea diam, menatap bingung pada Aga "aku kasih permen supaya kamu berhenti ngambek" jelas Aga
Sea menghela nafas, daripada ngambek, mungkin lebih pas kalau dibilang Sea takut, dia takut karena tiba-tiba aura dominan Aga muncul, Aga seolah bukanlah seorang laki-laki yang selama ini Sea kenal, sosok laki-laki lucu dengan tingkah polos tidak berbeda dengan anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Aga minta maaf" lanjut Aga karena Sea masih diam belum menerima permen yang dia berikan.
"Sea masih akan tetap marah pada Aga?" lanjut Aga lagi, entah kenapa suara Aga kini terdengar lebih lembut seolah Aga sudah kembali pada Aga yang Sea kenal.
"Aga mau minta maaf, Aga marahin Sea pas dimobil, maaf ya"
Sea akhrinya menerima permen yang Aga sodorkan sambil mengangguk, tanda dia menerima permintaan maaf dari Aga.
"jadi Aga dimaafin?"
Sea kembali mengangguk, jawaban untuk pertanyaan Aga
"jangan ada marah-marah lagi ya Se, Aga gak mau marahan sama pacar Aga sendiri" lirih Aga
Sea menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya harus ada yang diluruskan disini. "Kamu ngerti pacar itu apa?" tanya Sea
"ngerti" jawabnya sambil mengangguk
"kamu ngerti peran seorang pacar itu apa?"
"ngerti"
"kamu ngerti kalau menjadi pacar itu harus punya perasaan cinta?"
"ngerti, Aga cinta sama Sea"
"kamu ngerti tentang cinta?"
"ngerti, Aga ngerti semuanya dan Aga serius sama ucapan Aga kalau Sea itu pacar Aga, Sea jangan ragu apalagi membantah, Aga gak terima penolakan, Aga serius buat jadiin Sea pacar Aga, terserah Sea mau pikir apa yang pasti Sea pacar Aga sejak kemarin. ingat ya Sea, Aga serius lho" Jelas Aga panjang lebar, membuat Sea terdiam. Ini benar-benar seriusan? laki-laki dewasa dengan otak anak TK memaksa Sea untuk menjadi pacarnya? oh god, semoga Aga benar-benar mengerti apa itu arti pacar yang sesungguhnya, jangan sampai Aga berpikir bahwa pacar adalah sosok yang serupa dengan babysitter.
***
"banyak banget cemilannya Se" ucap Rendy
"ini Aga yang masuk-masukin ke troli bang" jelas Sea, meraka berjalan menuju kasir, semua yang diperlukan untuk kebutuhan panti sudah sselesai mereka temukan.
"anak di panti kan banyak, Rendy jangan pelit" sahut Aga
"ya terserah, asal lo yang bayar" balas Rendy sambil memutar bola matanya
"uang Aga banyak" sombong Aga
"iya aja deh, iya. Yang waras ngalah"
"jangan di dengar ya Se, Rendy emang gila" bisik Aga pada Sea yang hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan keduanya.
Selesai mengantri dan membayar seluruh belanjaan, Mereka kembali ke mobil, menunggu Nadine yang belum terlihat tanda-tanda kedatangannya.
"mau es gak Se?" tawar Rendy
"boleh bang, lumayan panas juga nih" terima Sea
"eitsss, Rendy kok nawarin Sea aja, ini Aga gak ditawarin. Rendy mau coba-coba jadi pepaor ya?!" protes Aga
"apa lagi itu pepaor Ga, makin aneh lo!"
"perebut pacar orang! Rendy modus sama Sea ih, Aga gak suka"
"serah deh! karepmu dewek! cape gue ladenin lo!"
Lagi-lagi rasanya Sea mau ngelus d**a aja liat kelakuan mereka berdua, membayangkan kedepannya setelah menjadi pacar sosok seorang Aga juga membuat tubuhnya semakin lemas, sepertinya dia harus membeli stok kesabaran yang cukup banyak jika tidak ingin mati muda.
***