"Temen Sea lama banget sih, gak datang-datang" gerutu Aga yang sudah mulai kesal
"coba kamu telpon temen kamu Se, takutnya ada apa-apa" suruh Rendy
"udah bang, tapi gak di angkat"
"sebelum kesini dia gak bilang mau beli apa atau kemana gitu sama kamu?"
"engga bang, aku tahu dia ikut aja pas baru masuk mobil"
"udah mau dua jam lho kita nunggu dia"
"iya, Aga udah kesel" rengek Aga
Rendy hanya memutar bola matanya mendengar rengekan Aga. Kalau gak bantu, diem! dumel Rendy pada Aga.
"gini deh, lima belas menit lagi dia gak nongol, kita cari"
"oke bang, Sea setuju"
"Aga ikut Sea aja"
"gak ada yang nanya lo, Ga. sumpah"
"Rendy jahat terus sama Aga! penghuni neraka jalur VVIP pastinya!"
"Sebelum gue, lo duluan yang nyemplung ke neraka!"
"Bang Ren, berantem mulu sama Aga, Sea panas dengernya"
"oke, yang sehat ngalah"
"maksud Rendy, Aga itu sakit? IYA?!"
"se-nyadar lo aja Ga"
"udah bang, daripada ribut mending cari Nadine aja sekarang" ajak Sea
"boleh, ayok Sea, Aga udah males nih liatin muka Rendy yang gak ganteng"
"AGA" geram Rendy
"kamu juga diem! jangan ngomong mulu, pusing kepala aku!" tegas Sea pada Aga. Kalau selalu berada di kondisi seperti ini, mungkin Sea benar-benar akan mati muda. Semoga saja tidak! Karena Sea juga tidak mau. Nikah juga belum, produksi anak apalagi, masa udah mati aja. Ogah!
"tuh, itu Nadine!" Seru Rendy.
Sea langsung menurunkan kaca mobil, memastikan orang yang ditunjuk Rendy adalah temannya, Nadine.
"bener temen Sea?" tanya Aga
"iya, itu Nadine"
"akhirnya muncul juga, Aga kira dia mau nginep disini"
"maaf nunggu lama" Nadine memasuki mobil mentap tidak enak pada Rendy dan yang lain.
"gapapa Din, takutnya kamu kenapa-kenapa" jawab Sea
"lagian lama banget sih" sindir Aga yang langsung mendapat cubitan di paha dari Sea
"sakit Se! kok cubit Aga!" protesnya
Sea mantap tajam Aga, berharap pria dengan otak error tersebut bisa mengontrol ucapannya. Hal itu karena Sea tahu bahwa Nadine bukanlah sosok yang bisa diajak bercanda, gampang sakit hati dan mudah dendam, meskipun dia punya sisi baik juga sih, sedikit.
"maaf, next aku gak akan ikut bareng kalian lagi, biar gak bikin repot kalian" ucap Nadine. See, dia marah.
"yaudah, mending kita langsung pulang sekarang, nanti kesorean"
"makan dulu dong Ren, Aga lapar" sahut Aga
"iya"
***
Sampai di panti, Sea langsung kedapur, menyusun semua belanjaan dengan diekori Aga.
"bisa diem ga?" tegas Sea yang sudah mulai risih.
Aga menatap Sea dengan tatapan polosnya "Aga diem kok, bahkan Aga gak ngomong apa-apa" jelasnya
Sea menghela nafas, mencoba membuat dirinya tenang "Diem itu duduk Ga, sejak tadi kamu ngekorin aku mulu, risih Ga, mending kamu duduk aja"
"tapi Aga jaga-jaga takut Sea butuh bantuan Aga"
"aku akan bilang kalau butuh bantuan, jadi lebih baik kamu duduk biar kerjaan aku juga cepet selesai"
"oke, tapi abis itu bikinin Aga s**u coklat ya?"
"iya"
Sea langsung melanjutkan pekerjaannya setelah Aga duduk manis. Dia menata semua barang sesuai tempatnya, melakukan refill pada beberapa item, sepeti gula, kopi bahkan garam. Dia suka melakukan itu, merapihkan barang-barang belanjaan dari super market menurutnya sangat menyenangkan sambil sesekali matanya melirik ke arah Aga, memantau apa yang pria itu lakukan.
Beberapa menit berlalu, Sea menatap senang susunan rapih hasil pekerjaanya, dia melanjutkan langkahnya ke arah rak, mengambil gelas tinggi dan s**u coklat yang biasa Aga minum. Bukan s**u coklat khas anak-anak, tapi s**u yang memang biasa orang dewasa minu, maklum saja, yang anak-anak itu adalah otaknya saja, kalau tubunya sudah jelas matang.
"terima kasih" Ucap Aga semangat saat Sea meletakan segelas s**u coklat miliknya
"habiskan"
"tentu"
Aga langsung meminum susunya, sedangkan duduk dihadapn Aga menatap pria yang mengklaim dirinya sebagai pacar. sepertinya Sea memang harus mulai menerima itu, lagipula sejengkelnya dia pada Aga, dia tidak merasa keberatan, entah apa yang dia rasakan, mungkin kata "terbiasa" bisa mewakilinya.
"sudah?"
"sudah, ini sudah habis" Aga mengacungkan gelas kosong kehadapan Sea
Sea mengangguk, meraih gelas kosong itu untuk segera dia cuci.
"ayo ke pavilliun" ajak Sea selanjutnya
"mau apa?"
"kamu harus mandi sebelum makan malam Ga"
"Se mau mandiin Aga?" tanya Ada dengan polosnya, matanya beberapa kali mengerjap
"tidak! kamu mandi sendiri! Ayo cepat bangun!" Tegas Sea
***
"lho, kenapa bang? kok kusut banget mukanya"
"eh Sea, masuk dulu" tawar Rendy pada Sea yang mengantarkan Aga ke paviliun
Sea mengangguk, masuk kedalam paviliun
"duduk dulu Se, Aga mandinya nanti aja" pinta Aga sambil menepuk tempat di sebelahnya
"Bang, ada masalah?" tanya Sea lagi pada Rendy yang ada dihadapannya
"masalah di perusahaan Se, makin kacau"
"maksud abang?"
"inget masalah rumah sakit yang akan dituntut karena malpraktek?"
"iya, tapi Sea belum ngerti banget bang, emang detail nya gimana?"
"jadi ada pasien yang harus di oprasi, setelah dioprasi keadaan pasien memburuk, dan diketahui kalau dokter yang pimpin oprasi itu adalah dokter magang, katanya dia dapet izin langsung dari Aga buat oprasi itu. Tapi pas kita selidiki lagi, itu dokter magang udah ilang dan ternyata hari itu adalah jadwal dokter Julian yang oprasi, berarti yang kasih perintah anak magang itu kemungkinan dokter Algata mengatas namakan Aga."
"terus gimana bang?"
"bang Zion lagi usaha cari anak magang itu, dia juga lagi maksa agar dokter Algata segera pulang dari Singapur"
"lalu Aga?"
"dia harus tetap sembunyi, orang-orang mengira bahwa dia yang salah dan memerintah dokter magang itu buat oprasi dan kalau sampai orang-orang tahu kondisi Aga yang seperti ini, semua akan makin kacau. Bayangkan saja, diotak orang-orang adalah seorang dokter gila memerintahkan seorang magang melakukan operasi sendiri"
"jadi aku mohon, kamu bisa ikut mengawasi teman-teman kamu, abang takut ada temen kamu yang mengenali siapa Aga yang sebenarnya dan melaporkan ke media" lanjut Rendy
Sea mengangguk "aku gak jamin bisa berbuat banyak, tapi aku akan usaha buat lakuin yang terbaik"
Aga langsung memeluk Sea, membuat perempuan itu terkejut karena sebuah pelukan tiba-tiba sedangkan Rendy yang disodorkan adegan seperti drama korea tersebut hanya memutar bola matanya
"Sea baik banget, selamanya Aga gak akan lupain kebaikan Sea" ucap Aga, membuat bibir Sea membuat sebuah lengkungan manis.
"kamu juga cepet sembuh, segera bantu bang Zion"
"Emang Aga sakit ya?" polos Aga yang masih memluk Sea
"iya, Aga sakit. Jadi setiap minggu pas dokter kesini, Aga harus sungguh-sungguh, biar cepet sembuh"
Aga menghela nafas, meletakan kepalanya di pundak Sea "Aga sih ngerasanya kalau Aga sehat"lirihnya
"orang gila mana ada ngaku gila" bisik Rendy yang sengaja lebih keras
"gak usah bisik-bisik kalau kenceng gitu!" protes Aga sambil menatap tajam Rendy
"lagian Ga, mau sampai kapan kaya gini, gue aja yang ngurus lo capek. cepet normal kenapa" Ucap Rendy lalu bangun, meninggalkan Aga dan Sea.
"Rendy kenapa sih Se?"
"gak tahu, mungkin bang Rendy capek, makanya kamu jangan tambah-tambah kerjaan bang Rendy, kasian sampe gak punya waktu urus pacarnya"
"iya, iya. Aga kan sekarang punya Sea, jadi Aga gak akan bikin repot Rendy, Aga mau repoin Sea aja"
mampus gue! umpat Sea dalam hati.
***