Chapter Empat Belas

1271 Words
  Sea menghela nafas, mencoba melakukan kilas balik apa yang telah dia lakukan di panti ini, dimulai dari dia yang baru datang, bertemu Rendy yang merupakan pacar saudaranya, hingga bertemu dengan Aga. Otaknya kemudian memproses setiap interaksi dirinya bersama Aga. Pria tampan dengan sebuah kejutan karena sifatnya. Sea tidak pernah tahu atau bahkan tidak pernah memikirkan jika dihidupnya akan bertemu dengan sosok Aga, pria yang memiliki kelainan, pria berwajah dingin dan sikap seperti bocah. Terkadang menggemaskan tapi bisa begitu menyebalkan. Awalnya sangat sulit untuk dirinya bisa berdekatan dengan Aga, meskipun dirinya terbiasa berdekatan dengan anak-anak tetap saja, fisik Aga yang seorang pria matang tidak bisa dia singkirkan dan hanya melihat kelakuannya, itu sungguh canggung. Awalnya sulit, tapi ketika Rendy meminta bantuannya, mau tidak mau dia menekan dirinya agar terbiasa dengan Aga. Menghadapi Aga, membuat Sea merasa menjadi sosok manusia yang percaya diri akan masuk surga karena terlalu banyak bersabar. Tiap hari selalu saja ada kelakuan Aga yang menguji kesabarannya. Tapi entah mulai kapan, Sea benar-benar sudah bisa menerima dan terbiasa dengan apa yang Aga lakukan, meskipun dia juga sering marah, tapi wajar saja, anggap itu sebagai hukuman untuk Aga agar bisa lebih berpikir, bahkan anak-anak pun sudah dilatih dan diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, begitupun Aga seharusnya. Dan kejadian yang paling menyebalkan menurut Sea adalah saat Aga meminta s**u kepadanya selayaknya bayi yang baru lahir dan tidak meminum dari dot. Hell,  dia ini belum menikah, belum memiliki anak, mana mungkin bisa menghasilkan s**u, bahkan dijamahpun belum pernah. Biar suaminya saja yang nanti menjamah, tentunya sebelum mereka memiliki anak. "Apa yang Sea pikirkan?" Suara itu langsung membuat Sea tersadar dengan lamunannya "tidak ada" jawab Sea, dia mentap Aga yang kini duduk di sebelahnya "Apakah sulit hidup dengan Aga?" Kening Sea mengerut, menatap Aga dengan tatapan bingung dengan Aga yang nampak berbeda.  "jawab Se, apa sulit hidup dengan Aga?" Dengan ragu, Sea mengangguk "i-iya" gagapnya, rasanya ingin jawab tidak, tapi dia juga tidak boleh berbohong. Aga mengangguk, menghela nafasnya kasar lalu menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum pada Sea yang makin menatapnya dengan heran. "mau jalan? kita keliling desa saja" ajak Aga. Sea masih diam, masih ragu dan mencoba membaca apa yang ada di otak Aga sekarang ini. "ayo, kita cari udara segar" ajak Aga lagi sambil menglurkan tangannya, menunggu Sea menyambut. "i-iya" Dengan ragu, Sea menyambut tangan Aga dan mengangguk.  Aga tersenyum, mengeratkan genggamannya di tangan Sea.   *** Perjalanan mereka berdua sunyi, tidak ada yang bersuara baik itu Aga yang biasa cerewet maupun Sea, mereka hanya berjalan dalam diam. Merasakan angin segar pedesaan yang membelai wajah mereka, dan hamparan sawah di kedua sisi jalan yang mereka tapaki. Sebuah keadaan yang tidak mungkin mereka temui di tempat tinggal mereka. Aga mengalihkan pandangannya pada Sea yang ada disisinya, tersenyum melihat wajah Sea yang nampak santai dan senang, tidak seperti sebelumnya saat diam dan melamun. "suka?" tanya Aga membuat Sea langsung menatapnya "suka suasana disini?" tanya Aga lagi Sea tersenyum lalu mengangguk "iya, udaranya segar" "bagaimana kalau kita tinggal disini saja, jangan pulang" tawar Aga "tidak mau" tolak Sea langsung "kenapa?" "aku ingin menyelesaikan kuliahku" Aga tersenyum, mengacak rambut Sea, gemas. "bagaimana kalau setelah Sea lulus?" "tetap tidak mau" "kenapa?" "tidak mau saja" "mana bisa, semua harus ada alasannya" "tentu saja memang ada alasannya" "lalu" "lalu Sea memilih tidak mengatakannya" "mana bisa" "tentu bisa" Ditengah perdebatan mereka, Aga merasakan kehadiran orang lain, dia mengalihkan pandangannya dari Sea dan menemukan tiga orang laki-laki dengan tampang cukup menyeramkan dan lengan-lengan penuh tato. Sea ikut mengalihkan pandangannya, tangannya langsung mengerat pada Aga saat melihat orang-orang asing tersebut. "berdua saja?" tanya salah satu laki-laki pria bertopi dengan seringainya  Aga diam dan hanya menatap mereka, atau lebih tepatnya ingin tahu apa yang akan mereka lakukan. Pria tersebut meludah, semakin menyeringai saat pertanyaannya di abaikan Aga dan Sea. "kalian bisu, atau tengah ketakutan melihat kami?"  "kalian mau apa?" tanya Aga balik Laki-laki bertopi itu menatap mereka dengan pandangan meremehkan, membuka topinya, mengusap rambutnya lalu kembali memasangkan topi bututnya. "kalian ingin tahu mau kami? tidak salah? bisa memenuhi?" "katakan!" tegas Aga. Sea yang ketakutan semakin mendekatkan tubuhnya pada Aga. Laki-laki bertopi butut itu menatap Aga, dan detik berikutnya pandangannya turun kepada Sea, sebuah pandangan yang sangat Aga benci karena seolah merendahkan Sea. "kami ingin uang, dan perempuan manis itu"  Sea gemetar, kakinya bahkan terasa seperti jelly, hal yang bisa dia lakukan hanya mengeratkan pegangan pada lengan Aga. Aga membuang nafasnya dengan kasar. Untuk permintaan pertama, bisa dengan mudah Aga mengabulkannya, tapi rasanya dia tidak rela karena membuat dirinya seolah kalah, dan permintaan kedua, detik itu Aga merasa ingin segera merobek mulut laki-laki s****n itu. "bahkan dalam mimpipun, tidak akan aku biarkan kalian memiliki wanitaku" tegas Aga laki-laki menyeramkan itu langsung tertawa keras, menertawakan jawaban Aga yang menurut mereka lucu. "baik, lebih baik aku langsung membunuhmu dan membuktikan bahwa dengan mudah aku bisa memiliki wanita cantik itu" Sahutnya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Sea. "pergi ke sisi" bisik Aga pada Sea. Sea menatap Aga memohon, dia takut. Bagaimana jika saat dia berada ke sisi jalan laki-laki menakutkan itu menariknya. "percaya dan aku jamin tidak akan ada yang menyentuhmu" tegas Aga pada Sea. Pikiran Sea bertengkar, ada yang memintanya tetap berdiri disamping Aga dan tidak melepas genggaman tapi ada yang memintanya untuk menuruti permintaan Aga. "Se, percaya Aga" pinta Aga. Akhinya dengan ragu Sea mengangguk, melepaskan genggaman eratnya dan berjalan mundur untuk pergi ke sisi yang menurutnya aman. Dengan wajah pongahnya, ketiga laki-laki itu segera maju dan detik itu juga si laki-laki pria bertopi yang berani menyerang lebih dulu langsung tersungkur, tonjokan kencang langsung dia dapatkan di wajahnya, membuat si penerima tonjokan itu langsung merasakan gelap dikedua matanya. Pada laki-laki kedua Aga langsung melayangkan kaki jenjangnya pada s**********n si lawan, tentu saja tendangan mantan seorang atlet sepak bola saat kuliah masih cukup keras dan mematikan jika mendarat di s**********n. Menghadapi laki-laki ketiga Aga memilih untuk langsung menarik rambutnya, membuat laki-laki itu membungkuk kemudian menendang perutnya dengan lutut. laki-laki itu bisa melawan, memukul keras tangan Aga di rambutnya dan menendang Aga hingga tersungkur. Baru akan menerjang tubuh Aga, Aga kembali leyangkan tendangannya, membuat si laki-laki mundur beberapa langkah, Aga bangkit, kembali menerjang si laki-laki, memberikan tonjokan tepat di wajah dan mengenai mata si laki-laki hingga tersungkur. Dia akhiri dengan menginjak d**a si laki-laki hingga meminta ampun. "ini pertama dan terakhir saya lihat kalian" tegas Aga lalu meninggalkan mereka yang sudah tersungkur, menghampiri Sea yang begitu ketakutan. "jangan takut, sudah tidak apa-apa" ucap Aga, memeluk erat tubuh Sea yang bergetar ketakutan. Sea masih diam, balas memeluk Aga. "tidak apa-apa, ada aku" ucapan menenangkan terus Aga ucapkan sambil mengusap punggung Sea lembut. "ayo kita pulang" aja Aga, Sea mengangguk dalam pelukan Aga sebagai jawaban. Aga tersenyum pada Sea, merapihkan rambut Sea, menggenggam tangan perempuan manis itu dan melanjutkan langkah untuk pulang. Biar saja orang-orang lemah sok kuat itu tersungkur dijalanan.   ***  Aga meletakan teh hangat dihadapan Sea yang terlihat masih ketakutan. "minum, agar lebih tenang" suruh Aga. Sea menghela nafas, mencoba lebih tenang dan meminum teh yang dibuatkan Aga. "lebih baik?" tanya Aga dengan lembut saat Sea meletakan tehnya di meja. Sea mengangguk, lalu tersenyum kecil pada Aga yang duduk didepannya. "terima kasih"  Aga tersenyum, mengulurkan tangan, mengusap kepala Sea lembut "sudah tugasku" jawabnya. Sea kembali menghela nafas "Aku pikir Aga tidak bisa melawan" ucap Sea, berniat meledek Aga agar suasana lebih cair "berantem itu menyenangkan Se" jawab Aga dengan yakin "kau bisa memukul, menonjok bahkan menendang orang itu, itu sungguh menyenangkan" lanjut Aga dengan antusias "lagipula mereka itu orang lemah, payah! hanya bertingkah menjadi sok kuat, buktinya hanya dengan satu kali tonjokan mereka tidak melawan lagi, kalau bukan payah, apa namanya" sombong Aga membuat Sea hanya memutar bola matanya. Padahal saat awal, jantung Sea rasanya sudah terjun bebas dan takut karena meragukan Aga, pria dengan perawakan kekar tapi sifat anak-anak. Mana bisa bertarung, pikir Sea.tapi ternyata, dengan mudah tiga laki-laki jelek dan menakutkan itu tumbang oleh Aga. "GA! ke paviliun sekarang!" Ucap Alex yang baru datang dan langsung berusaha menarik Aga untuk bangkit dari duduknya "lho kak, ada apa?" bingung Sea "Beritanya bocor, ada yang muat kalau si Aga dokter gila yang ngizinin operasi" jawab Alex dan melanjutkan membawa Aga ke paviliun.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD