Chapter Lima Belas

1450 Words
Aga, Rendy, Alex dan Tian hanya diam, pikiran mereka seding sibuk masing-masing memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Alex menghela nafas, menggelengkan kepala seolah tidak bisa menemukan sebuah jawaban atas apa yang terjadi "gue pusing, otak gue gak ada bayangan" jelas Axel "kalau menurut gue, jelas ini kerjaan orang dalem" ucap Tian dengan yakin Tian memutar bola matanya, kesal dengan otak Alex yang berjalan lambat "maksud gue, yang nyebarin berita ini orang di panti ini juga" "serius lo?!"  "serius lah, lo pikir siapa lagi. jelas itu di artikel dia bahas kondisi si Aga, cuma orang yang ada di panti ini yang tahu banget kelakuan si b*****t" "Gak boleh jelek-jelekin Aga!" Geram Aga yang dibalas juluran lidah oleh Tian. Dalam diam Rendy mengangguk, setuju dengan apa yang dijelaskan Tian. Tidak mungkin orang luar akan tahu dengan jelas bagaimana kondisi Aga, mengingat Aga hampir tidak pernah keluar dari lingkungan panti. Rendy yakin, kalau orang yang memberi tahu wartawan mengenai Aga, mulai dari keberadaannya hingga kondisinya pastilah orang yang ada di panti. "lo gimana Ren?" Tanya Alex "gue setuju sama Tian, orang itu jelas ada disini, gak mungkin orang luar. Jelas di artikel itu dia bisa menjabarkan apa yang Aga alamin" "lo ada curiga sama satu orang?" tanya Tian "jangan-janga-" Alex menghentikan ucapnnya, dia langsung menatap ke arah Tian. "g****k, gak mungkin Sea lah!" bentak Tian Alex hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal "hehehe, bercanda bos" Rendy menghela nafas, matanya langsung menatap tajam pada Alex. Bisa-bisanya dikondisi seperti ini bocah itu masih bercanda. Rendy tahu jika selain mereka bertiga, Sea adalah orang yang termasuk sangat dekat dengan Aga, tapi Rendy juga yakin bahka Sea tidak mungkin melakukan hal seperti ini. Dia percaya perempuan itu. "terus siapa dong?" tanya Alex lagi Tian kembali menghela nafas, rasanya batas sabar yang dia miliki semakin hari berkurang dan rasanya tangannya segera melayang pada kepala Alex setelah bertanya hal bodoh seperti itu. "kalau udah tahu orangnya, gak mungkin kita mikir begini. b**o!"  "sewot mulu lo!" kesal Alex "ribut mulu ih Tian sama Alex, dasar jomblo!" ledek Aga yang langsung dilempar bantalan sofa oleh Tian "bacot sekali anda. diam!" "tian jahat" rajuk Aga. Rendy memijit pelipisnya, sepertinya setelah semua selesai, dia akan langsung mengajukan waktu liburan kepada perusahaan. Dia ingin menenangkan otaknya, selalu dihadapkan dengan kondisi dan tingkah ajaib Tian, Alex dan Aga benar-benar membuat dia gila.  "gak usah pada ribut" ucapan Rendy langsung menghentikan perdebatan orang-orang konyol tersebut. "kepala gue pusing" lanjut Rendy. Sejak berita itu keluar, Rendy memang langsung mendapat tugas baru, ayah dari Aga dan Zion. "tapi lo udah ada bayangan kira-kira siapa orangnya?" tanya Tian Rendy mengangguk, meskipun belum yakin "salah satu temen Sea" jelas Rendy membuat Alex dan Tian cukup terkejut mendengarnya. "kok, lo bisa mikir gitu Ren?" tanya Alex "gak mungkin pengurus panti. Mereka kerja untuk papa Aga dan buakn baru satu atau dua tahun, tapi udah belasan tahun. anak panti? mereka bahkan masih kecil yang cuma tahu main, makan dan nangis, berarti siapa lagi kalau bukan anak volunteer itu" Jelas Rendy "wah, gokil. pinter banget otak lo! tapi waktu itu mereka katanya gak ada yang tahu Aga itu siapa, okelah Aga bukan artis yang selalu terpampang didepan layar kaca, tapi status dia yang anak konglomerat seharusnya wajar kalau banyak yang kenal" lanjut Alex "mulut bisa bohong Lex, lo harusnya lebih tahu itu" jawab Rendy "secara lo tukang bohongin cewe" sindir Tian yang langsung ditatap sinis Alex Sialan, kenapa selalu dia yang kena bully.  Kesal Alex, setiap yang buruk-buruk pasti dia yang selalu kena, susah memang kalau menjadi yang paling tampan. Banyak yang iri. "ngelamun jorok lo!" ucap Tian sambil memukul kepala Alex "gila lo emang! biadab!" amuk Alex. Tian hanya mengangkat bahu seolah tidak perduli. *** "DOKTER YANG MEMBERIKAN IZIN OPERASAI DIKETAHUI MENGIDAP GANGGUAN KEJIWAAN"  Mata Sea langsung membulat saat melihat poto Aga tepat dibawah judul berita tersebut. Dengan teliti matanya membaca setiap kalimat yang ditulis, tangannya terus melakukan scroll pada halaman berita hingga akhir. Menghela nafas adalah hal yang pertama Sea lakukan setelah selesai membaca berita online tersebut. Dia sangat terkejut dengan apa yang dituliskan dan tidak habis pikir dari mana mereka mendapatkan semua itu. Jelas narasumber itu sepertinya sangat tahu kondisi Aga saat ini, dia menjelaskan dengan detail kondisi Aga dan apa saja yang Aga lakukan sehari-harinya. Bukankah seperti narasumber itu adalah orang yang dekat dengan mereka? tapi siapa?  Otaknya berpikir, menerka siapa yang telah menjadi narasumber ini, apa mungkin salah satu temannya, tapi siapa? seingatnya mereka semua tidak ada yang terlihat mencolok saat berinteraksi dengan Aga, semua nampak biasa. Ponsel Sea bergetar, sebuah pesan masuk yang langsung Sea baca. Bang Rendy Se, ke pavi sebentar Menyimpan ponselnya kembali, Sea segara bangkit, dia merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan karena sejak tadi dia ada di posisi rebahan. "duh, hampir lupa!" Sea memukul keningnya saat teringat jika ponselnya hampir lupa dia bawa. Segera dia meraih ponselnya dan berjalan ke paviliun sesuai perintah sang calon sodara. *** "Kenapa bang?" Tanya Sea langsung "Duduk dulu sih Se, baru datang juga" ucap Alex Sea tersenyum canggung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa dia terlalu semangat kali ini? "Sini, duduk samping Aga" aga menepuk tempat kosong di sebelahnya. Tanpa berpikir, Sea langsung berjalan, mendaratkan bokongnya disamping Aga. "Abang mau minta bantuan Se" ucap Rendy Sea mengerutkan keningnya "bantuan? Bantu apa bang?" Tanya Sea "Gini Se, sebelumnya kamu udah tahu beritanya?" Sea mengangguk sebagai jawaban untuk Rendy. "Jadi, abang tuh curiga kalau yang jadi narasumber alias orang yang laporin tentang kondisi Aga itu salah satu dari temen kamu" "Kok bisa mikir gitu bang?" "Maaf Se sebelumnya, tapi coba deh dipikirin, gak mungkin orang-orang panti, mereka udah kerja sama orangtuanya Aga cukup lama, dan gak mungkin juga anak-anak panti yang masih kecil itu ngelaporin ke wartawan, kemungkinan ya memang temen kamu yang lakuin" Sea mengangguk, penjelasan dari Rendy cukup masuk akal. Tidak mungkin juga orang diluar panti, karena Aga sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan dalam panti. Tapi siapa kira-kira temannya yang berbohong, mengaku tidak mengenal Aga tapi diam-diam menusuk dari belakang. "terus bang Rendy mau minta bantuan apa?" "bantu cari tahu Se" "maksudnya?" "diem-diem kamu caritahu siapa temen kamu yang ngelaporin ini ke wartawan. Apalagi untuk temen-temen yang cewe semua satu kamar, kamu pasti bisa lebih mudah nyari tahu, dibandingkan kita" jelas Rendy Sea mengangguk, dia mengerti. Otaknya juga langsung bergerak memikirkan cara apa yang akan dia lakukan agar teman-temnnya ini tidak curiga dengan apa yang akan dia lakukan. Bisa-bisa malah menjadi masalah baru jika si orang tukang khianat itu tahu apa yang dilakukan Sea. "oke, Sea bantu" "bagus, bang Zion juga sekarang lagi minta bantuan temennya yang wartawan buat nyari tahu siapa narasumbernya" "bang Zion?" bingung Alex "Bang Zion kan wartawan juga" "eh iya, gue lupa. ya moga aja deh cepet ketahuan" "iya. Terus respon buat berita itu gimana dari pihak kita sendiri?" tanya Tian "masih dibicarain sama bang Zion dan pak Julian. Soalnya dokter yang ngoprasi si korban juga udah ketemu dan lagi dijemput" Jelas Rendy "wihhh, bagus itu" "iya, jadi bantu penyelidikan. Untungnya, korban masih mau menaruh kepercayaan ke kita, dia mau kerjasama dan bantu untuk menangkap si pelaku yang sebenarnya" "ya itukan karena kita juga langsung tanggung jawab" balas Alex "memang harus seperti itu" "terus kondisi korban nya sekarang gimana bang?" tanya Sea "udah lebih baik, udah kita kasih pengobatan dan pelayanan terbaik" "bagus deh, soalnya ini tentang nyawa juga" sahut Tian "betul" Singkat rendy "bentar, Sea tuh masih gak ngerti, kok bisa disebut malpraktek gitu kak? apa karena gagal oprasinya?"  "buset dah, kalau itu gue gak berani jawab. Kudu dokter sendiri yang jawab, coba noh tanya si Aga" ucap Alex sambil menunjuk Aga yang sedari tadi hanya memakan cemilannya "macem nanya sama tokek kalau nanya si Aga sekarang" balas Tian "jadi kenapa Ga?" tanya Rendy "Yah, malah nanya beneran. Mending nanya tokek Ren" Alex menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Rendy "dicoba dulu, siapa tahu ada ilmunya dikit yang nempel. Dikit banget juga gak apa apa" jawab Sea  sambil menunjuk ujung jari telunjuknya, menggambarkan kata sedikit. "iya dah, coba. siapa tahu yakan, ada malaikat lewat" seru Tian Rendy menghela nafas, kembali menggelengkan kepalanya dengan kelakuan para sahabatnya ini. Iya, untung saja mereka sahabat. Kalau bukan, sudah Rendy racun sedari dulu. "Jadi Ga, dalam kasus ini, apa yang terjadi?" "dikasus ini, jelas karena dokternya gak jago kaya Aga" jawab Aga dengan santai dan lanjut memakan cemilannya. "ckckck. nanti aja ya Se kalau mau tanya-tanya. nunggu Aga sembuh, atau kamu googling dulu" saran Alex yang diangguki Tian. Suasana langsung sunyi saat tiba-tiba pesan masuk ke ponsel Rendy. "siapa Ren?" tanya Alex penasaran "bang Zion" "gimana? udah tahu siapa yang jadi narsumnya?"  "belum Lex" "terus bang Zion chat apaan?" "suruh siap-siap. kalau memang terpaksa Aga harus balik dan kasih penjelasan di konferensi pers"  "seriusan lo? dengan kondisi Aga yang gini? bunuh diri!!!" Ucap Alex terkejut. Rendy menghela nafas, menatap semua orang disana "maua gimana lagi. kita cukup lakuian apa yang diperintah, gue percaya bang Zion bisa atasi ini" yakin Rendy "betul, ah setan! itu dokter cepet ketemu aja sih biar si Aga gak usah kesana!" kesal Alex sambil mengacak rambutnya "dokter mana? yang oprasi jelas udah ketemu, berdoa aja itu dokter jujur dan jelasin apa yang sebenarnya terjadi dan bisa meluruskan fitnah yang selama ini nyerang Aga" jelas Tian "iya, semoga aja. kalau gak jujur, tangan gue siap bikin gigi dia rontok" ucap Alex sambil mengepalkan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD