You are My Wife
SEIRA'S POV
Namaku Seira Pradipta, aku sekat berusia 17 tahun, sudah kelas 12 SMA.
Saat itu, di ruang kelas yang kosong, aku duduk bermimpi sambil memegangi wajah manisku dengan tangan kiriku. Pikiranku ada di mana-mana, melayang tidak karuan.
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di sini sendirian. Aku duduk di bangkuku dan melihat sekeliling kelas.
Sepi...
Kelasku ini sangat sepi. Tidak ada seorang pun di sini.
Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu kelas dibuka dan seseorang muncul di baliknya.
Suara langkah dan derap kakinya begitu jelas di telinga.
Aku secara refleks berbalik ke arah pintu yang terbuka. Aku mulai melihat sosok yang baru saja membuka pintu. Perlahan sosok yang membuka pintu itu mulai memasuki kelas—seorang pemuda berambut hitam memasuki kelasku.
Eh?
Aku terkejut ketika dia mendekat. Pada saat yang sama, untuk beberapa alasan, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, seperti magnet yang kuat mengalihkan semua fokusku padanya. Aku tenggelam dalam pesonanya.
Ah benar, dia memang sangat tampan seperti kata teman-teman.
Tiba-tiba mata kami bertemu.
Matanya yang indah memaku mataku. Aku terpesona oleh matanya yang jernih seperti dalamnya langit. Tanpa disadari, dia mulai tersenyum nakal kepadaku.
Kenapa dia tersenyum nakal seperti itu? Aku menjadi…
Eh?
Apa ini?
Sebuah ledakan keras bergema di dadaku. Saat dia tersenyum, detak jantungku meningkat. Berdetak jauh lebih cepat.
Ini bukan sakit, tapi... indah...
Entah kenapa senyumnya begitu menawan dan berseri-seri. Mataku terasa silau seperti aku sedang menatap matahari.
Dia berjalan perlahan, memangkas jarak dengan diriku, membuat detak jantungku bergema lebih keras.
Lebih dekat, lebih dekat, lebih dekat dan dia berdiri tepat di depan mejaku.
Senyum nakalnya masih menggodaku.
Oh Tuhan, apa dia memang setampan ini?
Rambut hitamnya menari-nari tertiup angin yang masuk melalui jendela kelas. Sinar matahari yang masuk lewat celah bangunan menambah background ketampanannya.
Matanya tidak pernah lepas dari mataku sejak mata kami bertemu. Dia terlalu intens menatap diriku.
Dia menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan diriku yang sedang duduk.
Wajahnya tepat di depan wajahku.
Sangat dekat. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan nafasnya yang hangat.
Aku membeku di tempat.
Sepertinya wajahku mulai memerah. Dia tersenyum lagi, lalu mendekatkan bibirnya ke wajahku.
A-Apa dia be-berniat u-untuk me-menci-ci-cium bi-bir...ku?
Bohong, kan?
Ini pasti bohong! Tidak mungkin terjadi!
Namun apa ini? Astaga, bi-bibirnya semakin dekat saja. Huwaa, aku tak kuasa. Aku tak kuasa menahan pesona bibir tipis sexy miliknya!
Sial, wajahku memanas.
Aku memejamkan kedua mataku.
Bersiap untuk menerima ciuman dari dirinya.
Namun...
Loh?
Tidak datang?
Ciuman dari dirinya tidak datang? Tidak mendarat di bibirku.
Eh? Ada rasa hangat di sekitar telingaku.
Ah, rupanya dia tidak sedang berusaha untuk mencium bibirku. Aku hanya bisa melebarkan kedua mataku ketika dia berbisik dengan suara dalam yang menggoda.
Suara dalam, serak basah yang melemaskan otot-otot tubuhku.
"You are my wife."
A-Apa yang baru saja dia katakan? Aku adalah istrinya?
"Istriku, katakan sesuatu..." Ujar laki-laki tampan ini.
Apa yang harus aku katakan? Aku ini terlalu syok.
"Istriku..."
"Hm?"
"Saat sedang belajar di kelas, jangan melamun."
Hah? Apa ini? Apa barusan yang lewat? Eh?
****
"SEIRA PRADIPTA, PERHATIKAN GURUMU!"
Suara keras guru terdengar di dalam kelas. Membuat diriku sangat kaget dan segera terbangun dari mimpimpi indahku.
Aku masih kebingungan?
Mi-Mimpi?
"SEIRA, KAU TIDAK MENDENGARKAN UCAPAN GURUMU YA?"
Ah... benar, ini hanya mimpi. Guru Matematika di hadapanku memasang wajah marah kepada diriku.
Sial, apa-apaan ini?
"Setelah kelas selesai, temui Bapak di kantor!" Lanjut pak guru yang baru saja memarahiku.
"Ba-Baik, Pak..."
Pak guru kembali ke depan kelas dan mulai melanjutkan pelajaran hari ini.
Sialan!
Apa aku baru saja melamun? Tertidur di kelas? Bermimpi? Menyadarinya, membuatku sangat malu. Aku mencoba untuk mendapatkan kembali rasa tenang di dalam diriku. Semua teman di kelas mulai memperhatikan ke arahku.
Aku menjadi pusat perhatian.
Lihatlah tatapan mengejek dan tertawa mereka. Sumpah, ini sangat memalukan! Aku sama sekali tidak ingin mengulanginya!
Namun, jantungku masih berdetak kencang setiap kali mengingat dia yang muncul di lamunanku. Kemudian, aku melirik ke arah laki-laki yang hadir di dalam mimpiku. Dia terlihat fokus melihat ke depan. Memperhatikan papan tulis.
Dia tidak terganggu padahal semua sedang gaduh karena ulahku. Bisik-bisik teman-teman di kelas sama sekali tidak bisa membuat kupingnya gatal.
Ya, seorang laki-laki yang kini juga satu kelas denganku, laki-laki yang memilih diam saat aku dimarahi gur, laki-laki pemilik wajah tampan, ketua kelas, ketua OSIS, kapten basket sekolah, Sakti Ardhianto.
END OF SEIRA'S POV
****
Time skip...
Seira saat ini sedang berada di kantor guru, tepatnya kantor milik pak Bayu, guru matematikanya. Awalnya, dirinya berpikir akan dimarahi habis-habisan oleh guru matematika yang terkenal galak ini. Namun rupanya tidak, pak Bayu malah terlihat khawatir kepada dirinya.
"Bapak sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi kepada dirimu. Kau akhir-akhir ini menjadi sangat sering melamun di kelas. Jika kau sedang memiliki masalah berat, kau bisa bercerita pada Bapak. Jika itu sulit, maka cobalah cari teman yang bisa kau percaya untuk mendengarkan keluh kesahmu." Kata Pak Bayu.
"Saya sedang tidak memiliki masalah berat, Pak Bayu." Kata Seira.
"Jika kau sedang tidak memiliki masalah berat, lalu apa kau bosan dengan cara Bapak mengajar?"
"B-Bukan seperti itu. Maafkan saya, Pak Bayu... Bukan maksud saya kurang ajar karena sering melamun di kelas." Seira buru-buru minta maaf karena takut menyinggung perasaan dari guru matematikanya ini.
"Seira, kau merupakan salah satu siswa kebanggaan Bapak. Jika kau seperti ini terus, prestasimu di kelas akan menurun. Kau tidak khawatir jika itu terjadi? Kau sudah kelas 12, kurang dari setahun lagi, kau akan lulusan."
Benar, harusnya memang dirinya fokus belajar. Ujian Nasional tidak main-main sulitnya. Lagi pula, Seira sendiri bermimpi untuk bisa memasuki kampus elit di ibu kota.
"Maafkan saya, Pak Bayu. Sekali lagi saya minta maaf. Saya akan menjaga sikap saya. Saya masih ingin mempertahankan posisi ranking 2 milik saya. Saya juga masih berambisi untuk menggeser Sakti Ardhianto dari posisi pertama. Pak Bayu tidak perlu khawatir, saya akan baik-baik saja."
Seira terus meyakinkan guru matematika dan sekaligus guru wali kelasnya itu. Kemudian, mereka berbincang-bincang sekilas.
Tak lama kemudian, Seira pun kembali ke kelas dengan perasaan tak menentu.
"Pak Bayu sudah sangat mengkhawatirkan diriku dan aku berterima kasih untuk itu. Namun, Aku sama sekali tidak bisa menceritakan apa yang sedang terjadi kepada diriku... Tidak mungkin kan aku cerita pada pak Bayu jika ketua kelas anak didiknya bilang aku adalah istirnya?"