Seira berjalan kembali ke kelasnya. Di sana ia langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam kelas favorit itu. Ia berusaha berjalan setenang mungkin meskipun di dalam hati dirinya sudah merah padam menahan malu yang luar biasa.
Seira adalah tipe gadis yang tidak suka terlihat mencolok. Ia ingin menjalani kehidupan biasa saja tanpa harus memiliki banyak teman.
"Ada yang sedang lesu, sepertinya Pak Bayu marah besar kepada dirimu." Tanya Misha Aryanti, sahabat sekaligus teman satu bangku Seira.
"Ya begitulah, wajar saja karena aku memang tidak mengikuti pelajaran matematikanya dengan seksama." Seira yang merasa kakinya sangat lelah kemudian segera menjatuhkan pantatnya di kursi. Kemudian, ia meletakkan kepalanya di atas meja.
Rasanya hari ini sangat suram.
"Lagian kau malah sibuk melamun di dalam kelas. Memang apa yang sedang kau lamunkan? Suaramu sampai kedengaran sama anak-anak."
"Eh? Masak? Kau sedang tidak membohongi diriku, kan?"
"Kenapa aku harus membohongi dirimu? Memang apa untungnya untuk diriku?"
"..."
"Hei, Pak Bayu memintamu untuk mengerjakan soal matematika, tapi kau malah menjawab 'hm' ... semua anak yang ada di dalam kelas, mendengar ucapanmu itu. Kalau tidak percaya, silakan saja bertanya kepada mereka. Suaramu manja sekali!"
"Ya ampun, masak aku sampai sebegitunya sih? Sumpah, itu hal yang sangat memalukan!"
Seira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu bukan main. Ini kali pertama dirinya mempermalukan dirinya sendiri.
"Hei, katakan kepadaku apa yang sedang kau lamunkan sampai-sampai bisa membuatmu kehilangan fokus seperti ini... Ini bukanlah seperti dirimu yang biasanya." Misha merasa sangat penasaran dengan apa yang yang dilamunkan oleh Seira.
"Tch, itu bukan apa-apa, Misha. Tidak ada yang penting."
Masak iya harus diceritakan lamunannya mengenai Sakti Ardhianto yang mengatakan bahwa dirinya itu adalah istrinya Sakti?
Ih, itu sangat menggelikan!
"Mana mungkin itu tidak penting. Sahabatku yang cantik, kau melamun di kelas tidak hanya sekali dua kali saja, tetapi sudah berkali-kali! ... Jangan bilang kau sedang jatuh cinta?" Misha menebak.
"J-Jangan mengada-ada, Misha!"
Jatuh cinta? Siapa? Dirinya? Itu pemikiran yang tidak masuk akal!
"Tapi aku sangat yakin jika kau pasti sedang memikirkan seorang laki-laki!"
Itu benar, Sakti Ardhianto adalah seorang laki-laki. Namun, apa iya harus mengakuinya?
"Jangan menatapku penuh curiga! I-Itu bukan seperti yang kau pikirkan!"
Oh Tuhan, apa ini? Serangan terasa menusuk tepat di jantungnya. Seira terkenal sebagai siswi teladan di sekolah. Jauh dari rumor yang tidak baik. Maka dari itu, dirinya tidak mau ada orang yang tahu mengenai kebiasaan barunya akhir-akhir ini, yaitu menghayal.
Menghayal? Ya, menghayal.
Menghayal sebagai istrinya Sakti!
Kan, wajahnya jadi memanas lagi.
Sial, kipas mana, kipas mana?
Misha memicingkan pandangannya menatap kearah Seira. "Hmm, begitu ya?"
"Apaan sih? Su-Sudah sana kembali ke bangkumu. Pak Dion sudah masuk ke kelas."
"Dasar tidak ahli berbohong, nanti kau harus menceritakan semuanya kepadaku!"
Sebelum sempat menjawab omongan dari Misha, Misha sudah pergi kabur menuju tempat duduknya. Seira pun hanya bisa menghela nafas panjang. Ia dan teman-teman satu kelasnya kemudian mengikuti kelas fisika yang diampu oleh Pak Dion.
Kelas fisika pun dimulai. Seira terus berusaha untuk fokus mengikuti pelajaran fisika itu. Usai 1 jam pelajaran mendengarkan teori, kini Pak Dion membuat beberapa soal untuk dikerjakan.
"Ya Tuhan, aku sama sekali tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajarannya Pak Dion! Dari sekian banyak penjelasan yang kupingku terima, tak sampai 30% aku sanggup mencernanya. Otakku hanya fokus pada mimpi anehku itu. Jika aku terus-terusan seperti ini, maka benar apa yang dikatakan oleh Pak Bayu, prestasiku pasti akan menurun. Jika ini terjadi, tidak hanya aku tak bisa mengambil posisi satu dari Sakti, posisi keduaku saat ini pun bisa saja digeser oleh Rian yang juga obsesi ingin mengalahkanku dan Sakti... Arrghh, pusing, kepalaku sangat pusing!"
Seira ini terlalu sibuk perang dengan pikirannya sendiri. Benar-benar tidak bisa fokus mengikuti pelajaran.
"Seira, kau kerjakan nomor 1!" Pinta Pak Dion.
"E-Eh, saya, Pak?" Meski kaget, tapi Seira merasa beruntung karena mendengar ucapannya pak Dion.
"Iya, itu kau, memangnya ada Seira lainnya di kelas ini?"
"Ah, maafkan sa-saya..."
"Cepat maju ke depan!"
"Iya, Pak. Siap." Seira pasrah daripada kena omel. Lain kali harus berhati-hati!
"Lalu, Sakti kau kerjakan nomor 2!" Kata Pak Dion meminta siswa lain untuk ikutan mengerjakan tugasnya.
"EHH?" Seira ikutan kaget, tidak menyangka jika Sakti akan disebut namanya.
"Seira, ada masalah?" Tanya Pak Dion yang heran dengan tingkah Seira.
"A-Anu, ti-tidak, P-Pak..." Seira merutuki dirinya sendiri yang semakin aneh saja.
Dan ya, semua siswa kini kembali menatap ke arahnya. Dalam hati merasa sial karena lagi-lagi kembali harus menjadi pusat perhatian seperti yang tidak ia sukai.
"Sakti, kau kerjakan nomor 2!" Kata Pak Dion mengulangi ucapannya.
Seira dan Sakti maju ke depan kelas bersama. Meski beda lajur bangku, tapi mereka berdua akan satu papan tulis. Berdiri bersama, berjejer.
Si ranking 1 dan si ranking 2. Begitulah kiranya yang bisa dilihat oleh teman-teman kelas mereka. Berbeda dengan Misha, gadis ceria ini malah senyum-senyum tidak jelas.
"Hoho, ada sesuatu yang menarik hampir aku lewatkan..." Batin Misha.
Kini, dua siswa terpintar di sekolah sedang mengerjakan soal fisika di papan tulis. Spidol sudah ada di tangan masing-masing. Siap untuk menulis jawaban.
Seira sedang sibuk menganalisa formula yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Sementara Sakti terlihat mulai menggoreskan spidolnya ke papan tulis. Sudah menemukan jawabannya.
Seira memincingkan matanya, mengintip ke arah Sakti.
"Rambut poninya menutupi jidatnya. Hidungnya sangat mancung. Apa dia asli orang Indonesia? Kenapa mancung sekali? ... Dia sangat hebat karena berhasil menemukan jawaban secepat itu. Ya Tuhan, dia begitu menarik perhatianku... Apa yang dia tulis di papan tulis sudah tak penting lagi. Perhatianku kini sudah benar-benar teralihkan kepada dirinya... Apa Sakti semengagumkan ini? ... Tidak! Tidak! Hell no! Tidak boleh terbuai akan mimpi halusinasi gila itu lagi! Lamunan kurang kerjaan itu tidak boleh menguasaiku lagi! Aku harus fokus! Fokus! Fokus!"
Seira menepuk kedua pipinya. Ia tak sadar sudah melakukan hal yang menarik perhatian ini. Sakti sampai harus menoleh kepadanya.
Mereka bertemu pandang sekilas sebelum akhirnya Seira memilih untuk mengalihkan pandangannya. Sakti seperti tidak begitu tertarik dengan pola dan tingkah Seira. Buktinya ia kembali melanjutkan menjawab pertanyaan nomor 2.
"Sialan! Aku malu sekali. Ini bukan waktu yang tepat untuk berkhayal yang tidak-tidak! Aduh... pipiku memanas lagi... Apa sih maksudnya 'You are my wife' itu?"
Seira kepikiran lagi. Padahal sudah niat untuk fokus mengerjakan tugasnya. Sakti saja sudah selesai menjawabnya, sementara dirinya masih menulis formulanya saja.
"Seira, formula yang kau pakai sudah benar, cepat selesaikan!" Kata Pak Dion membangunkan lamunannya Seira.
Dan ya, siswa-siswi di kelas memandang ke arah Seira lagi. Kali ini dengan suara sedikit meledek.
"Ah? Iya, Pak... iya, saya akan menyelesaikannya."
"Jika kau tidak bisa menyelesaikannya, bapak akan meminta Rian untuk gantian mengerjakannya."
"S-Saya bisa mengerjakannya, Pak..."
"Ya sudah, cepat kerjakan!"
"B-Baik, Pak..."
Sambil menahan malu, Seira pun mengerjakan tugasnya.
"Hiks... aku banyak melakukan hal memalukan hari ini... Pengen pulang saja!"