Kota B, Apartemen Sakura, lantai 8, nomor 8, kediaman Seira.
Seira hanya tinggal berdua dengan sang kakak, Nazia Pradipta. Kakaknya berprofesi sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit ternama di kota B. Ia memilih ikut sang kakak semenjak sekolah SMA. Awalnya ia tinggal dengan ayah dan ibu tirinya di kota C. Namun karena alasan tertentu, ia memilih untuk ikut sang kakak saja. Meski semakin jauh berangkat sekolahnya sekalipun. Maklum, SMA N 1 itu ada di kota C.
"Wahai adikku, jika kau terus melamun, ikan pindang ini akan kakak habiskan!" Ujar Zia, panggilan Nazia, kakaknya Seira.
Ia melihat Seira sibuk melamun, terhitung dari semenjak ia menyempatkan untuk masak makan siang. Ia off hari ini karena kurang enak badan.
"Jangan, Kak! Itu kan punyaku! Jatah punya kakak ada sendiri!" Seira tidak ikhlas pindang gorengnya dimakan Zia.
"Makanya jangan melamun terus-menerus! Tidak baik. Lagian, apa yang kau lamunkan? Ada masalah?"
"T-Tidak, Kak... aku tidak sedang memiliki masalah. Hanya kepikiran soal tugas tadi saja yang agak sulit." Seira tidak ingin membuat sulit kakaknya. Ini bukan kebohongan, ia memang memikirkan tugas sekolah juga, tapi ini bukan alasan utama kenapa ia melamun seperti ini.
"Kau yakin? Ini sudah beberapa kali kau terlihat sering bengong seperti ini."
"Maafkan aku, Kak... Aku ini sudah kelas 12, mau lulusan, tugas semakin banyak. Jadi wajar jika aku kepikiran, kan?"
"Iya juga sih... tapi..." Sebagai seorang kakak, tentu tak mudah percaya begitu saja pada adiknya. Rasa khawatirnya masih besar.
"Kak, aku baik-baik saja..." Seira mencoba meyakinkan sang kakak lagi.
"Baiklah, kakak percaya... Seira, kita ini hidup berdua saja, meski ada orang tua kita, tapi kita tidak boleh mengandalkan mereka. Ayah sudah menikah lagi, sudah memiliki kehidupan sendiri dengan istrinya... Ayah tidak bisa seperti dulu... Di sini hanya ada kau dan kakak, jadi jika terjadi apa-apa, tolong jangan dipendam sendiri, ok?"
"Iya, Kak... aku mengerti."
Ayah yang sudah menikah lagi membuat adanya sekat di antara anak-anaknya. Tidak ingin melabeli ibu tiri tidak baik. Namun, yang jelas, semua tak lagi sama. Terlalu sulit untuk hidup bersama. Daripada menimbulkan masalah, hidup terpisah adalah pilihan terbaik.
"Bagaimana kepalamu? Masih sering pusing?"
"Masih, tapi hanya ketika aku mikir berat."
"Jangan memaksakan dirimu untuk menjadi pintar dalam segala hal. Kau boleh menjadi biasa saja. Ingat, kakak sudah senang hanya dengan melihatmu baik-baik saja."
Kecelakaan fatal sewaktu Seira masih kecil menimbulkan cidera serius di otaknya Seira dan sampai sekian tahun berlalu, cidera itu masih belum sembuh.
Tak hanya sering sakit kepala, jika mikir berlebihan, Seira bahkan bisa pingsan.
"Iya, iya, kakak jangan khawatir berlebihan. Aku sangat mengenal kondisi tubuhku. Aku akan berhenti jika merasa sakit."
Zia kemudian memeluk adik kandung satu-satunya itu. Hidup berdua tidaklah mudah. Selisih 11 tahun dengan adiknya menjadikan dirinya tak hanya sebagai seorang kakak, tapi seperti menggantikan peran ibu juga.
****
Malam harinya...
Selesai belajar, mengulas pelajaran yang tadi didapatkan di sekolah, Seira mulai lelah. Ia menguap beberapa kali. Melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 10 malam rupanya. Sudah waktunya untuk tidur. Jika tidak tidur, maka kakaknya akan mengomeli dirinya.
Tidak mau bertengkar dengan sang kakak, Seira memutuskan untuk istirahat. Toh hari ini, ia sudah mencapai batasnya juga. Manusiawi jika butuh istirahat.
"Kau mau kemana?" Tanya seorang laki-laki berambut raven. Ia terlihat membawa jimat kebesarannya, sebuah penggaris besi ukuran 30 cm.
"Aku..." Seira mencoba menghindar. Namun geraknya terhalang. Laki-laki berambut raven itu memojokkan tubuhnya ke tembok. Mengunci pergerakannya.
Kabedon?
Seira kaget bukan main karena tiba-tiba saja dikunci oleh laki-laki itu. Lebih menyeramkannya lagi, penggaris besi itu digunakan untuk membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
Rasanya seolah-olah siap menebas leher mulusnya kapan saja dengan penggaris besi miliknya itu.
Ya Tuhan, apa laki-laki setampan ini akan membunuhnya dengan sebuah penggaris besi?
Empat mata itu saling berpandangan. Sepasang mata terlihat tidak nyaman dan sepasang mata satunya lagi menatap penuh intimidasi.
"Kenapa kau terus menghindariku?"
"S-Sakti... A-Aku harus pergi." Pinta Seira gagu. Rasa takutnya membuat tubuhnya bergetar.
Ya, nama laki-laki pemilik rambut raven hitam pekat itu adalah Sakti. Ketua kelas yang selalu membuat Seira panas dingin.
"Tatap aku, Seira!" Pinta laki-laki tampan ini.
Bagaimana bisa menatap jika suara Sakti membuat otot-otot tubuhnya Seira melemah?
Dan lagi... dingin... lehernya terasa dingin ketika ujung samping penggaris besi itu menempel di lehernya Seira. Semakin membuat Seira tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
"Aku bilang, tatap aku!"
Sebenarnya takut untuk bertemu pandang dengan Sakti. Namun, entah mengapa, perintah dari Sakti ini terdengar mutlak di telinga Seira. Membuat dirinya tak bisa menghindar dan hanya bisa menurutinya.
"Ah, mata Sakti ternyata seindah ini. A-Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan dirinya... Dia menakutkan, tapi aku... tidak bisa melepaskan diri darinya..."
Mata yang saling berpandangan itu membawa Seira tenggelam dalam dalamnya mata onyx milik Sakti. Tenggelam semakin dalam dan tak berdasar.
Tangan Sakti bergerak untuk menyentuh dagunya Seira, memaksa gadis ayu ini untuk tidak mengalihkan pandangan dari dirinya.
"Kau adalah wanitaku, kau adalah milikku. Jangan pernah biarkan laki-laki lain menyentuh dirimu."
"Sa-Sakti..."
Seira tidak mengerti. Terlalu bingung untuk mencerna ucapan dari Sakti.
"Sttt..." Sakti menutup bibir Seira dengan jari telunjuknya. Membuat Seira tak bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan. "Aku tidak ingin mendengar apapun alasanmu."
"K-Kenapa?" Meski ada telunjuknya Sakti di bibirnya, tetapi Seira masih bisa bersuara.
"Karena aku adalah suamimu dan kau adalah istriku."
"Eh?"
"Itu kenyataan, Sayang. Kau tidak akan pernah bisa lari dariku."
Sakti mendekatkan bibirnya ke bibir Seira. Memangkas jarak antara dirinya dengan Seira. Hembusan nafas beradu. Terasa hangat di sekitar wajah.
Seira menggenggam erat rok sekolahnya. Bibir Sakti lama kelamaan semakin dekat saja. Hal ini membuatnya merona. Ini pengalaman pertama. Jantungnya berdetak semakin kencang. Debaran yang hebat dan begitu nyata. Ia yang tak kuasa, akhirnya memilih untuk memejamkan matanya. Ia merasa jika Sakti akan segera menciumnya.
Namun...
"Eh? Apa ini?"
Seira membuka matanya. Ia merasakan tubuhnya sangat berat. Ia menyentuh sesuatu yang membuat tubuhnya terasa berat itu.
Berbulu?
"Cherry?"
Cherry adalah nama kucingnya Seira yang kini sedang menjilati pipinya. Terlihat seperti sedang berusaha untuk membangunkan dirinya.
Membangunkan dirinya?
Dari tidur?
"Ah..."
Seira langsung bangun. Ia baru sadar dengan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya.
"Mimpi dia lagi?"
Seira menyentuh bibirnya. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi di dalam mimpinya.
"Aku adalah istrinya Sakti?"
Tidak, tidak, tidak!
Seira menggeleng cepat karena tahu itu sangat konyol. Namun, wajahnya sudah sangat memanas.
Sedikit lagi, tapi gagal berciuman.
Eh?