bc

Tamia (The Captain Lover)

book_age16+
4.4K
FOLLOW
36.5K
READ
possessive
family
dominant
drama
sweet
bxg
pilot
like
intro-logo
Blurb

SEKUEL CERITA MARRIAGE A CAPTAIN

Hidup seorang pilot tampan bernama Daffa Zafrano Lukas yang dulunya aman, damai, tentram penuh kebahagiaan tiba-tiba dimasuki oleh seorang gadis cantik namun aneh yang sangat memujanya. Daffa yang selama ini selalu hanya berkutat dengan pekerjaan dan keluarganya tanpa tersentuh oleh perempuan manapun membuat ia mau tak mau cukup kualahan mengimbangi sikap agresif wanita bernama Tamia Karbela itu. Gadis yang lebih sering dipanggil dengan nama Mia itu bersumpah akan membuat pilot tampan itu jatuh hati padanya.

chap-preview
Free preview
Chapter 1

Satu demi satu lembaran majalah fashion dibuka membuat seulas senyuman terukir jelas di b ibir wanita cantik yang tengah melihatnya. Wanita cantik itu merasa bangga melihat hasil karyanya memenuhi majalah fashion ternama itu. Tidak sia-sia ternyata kerja kerasnya selama ini. Ily Latunadira, benar-benar sudah menjadi desainer tersohor di negeri ini, ya seperti cita-citanya sejak dulu. Istri dari seorang pilot yang namanya tak kalah terpandang di dunia penerbangan, Alian Zafrano Lukas itu bahkan disebut-sebut juga sebagai desainer nomer 1 di Asia. Mungkin sebentar lagi namanya juga dikenal luas di seluruh negara, mengingat beberapa tahun belakangan ini Ily sudah mulai menjangkau fashion dunia. Tentunya kesuksesannya saat ini tidak terlepas dari dukungan suami, anak-anak serta keluarganya.

Sudah sekitar 25 tahun pernikahan Alian dan Ily terjalin. Mereka hidup sebagai keluarga yang harmonis. Meskipun terkadang terjadi kesalah pahaman atau masalah kecil, namun keluarga ini tak pernah membiarkan masalah datang berlarut-larut. Anak-anak mereka juga tumbuh menjadi anak- anak yang cerdas. Daffa Zafrano Lukas, merupakan anak pertama mereka yang makin sukses dalam karir pilotnya. Ya, anak pertama mereka mengikuti jejak sang ayah, menjadi seorang pilot muda yang namanya sama harumnya dengan sang ayah di dunia penerbangan. Sementara Acha Aleta Lukas dan Icha Arleta Lukas si kembar yang selalu mendapat nilai maupun prestasi yang sangat baik di sekolahnya. Saat ini Acha dan Icha sudah menduduki kelas 2 SMA di salah satu sekolah terbaik di Jakarta.

“Mommy.....” suara pekikan kompak yang Ily yakini berasal dari kedua putri kembarnya itu membuatnya berhenti membolak balikkan majalah. Wanita yang sudah berumur tidak muda lagi namun masih terlihat sangat cantik dengan mata hazel coklat, hidung mancung, bibir tipis, kulih putih itu beralih melihat kedua putri cantiknya yang tampak berlari menuruni anak tangga dengan seragam sekolahnya, ah mereka bahkan sangat mirip seperti dirinya saat masih muda. Yang satu terlihat sangat cantik dengan rambut dikuncir kuda yang menjadi kesukaannya, sedangkan yang satunya lagi sama cantiknya dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah. Ya, Icha dan Acha memiliki selera yang agak berbeda mengenai penampilan. Jika dilihat-lihat, Icha lebih sedikit cuek dengan penampilannya sehingga ia lebih memilih untuk menguncir rambutnya bahkan terkadang terkesan asal. Namun meskipun begitu, wajah yang diturunkan dari perpaduan Alian dan Ily membuat kedua gadis kembar itu terlihat sangat cantik. Pipi chubby, alis mata yang tebal, mata hazel yang indah serta dihiasi bulu mata yang lentik. Ah benar-benar terlihat sempurna.

“Kenapa Sayang?” Tanya Ily lembut.

“Kak Daffa beneran pulang hari ini Mom?” Tanya Acha. Mata gadis itu terlihat berbinar memancarkan kebahagiannya mendengar kabar yang baru ia dapati pagi ini.

“Kok kak Daffa baru bilang tadi malam? Kan Icha sama Acha udah tidur,” sambung Icha.

“Iya, kak Daffa pulangnya hari ini. Kayaknya nanti sekitar jam 11 udah sampai.” Balasan Ily itu sukses membuat Acha dan Icha mengerucutkan bibirnya kesal.

Ily tersenyum geli melihat kedua putrinya itu. Sepertinya mereka sedang kesal. Lihatlah bagaimana lucunya mereka melipat kedua tangannya di depan d**a dengan bibir yang mengerucut lucu. Memang sudah hampir setahun Daffa pergi ke Australia karena mendapat panggilan kerja dan membantu pelatihan penerbangan disana. Mungkin kedua adiknya ini sudah sangat rindu.

“Mom, hari ini kami gak sekolah ya. Mau jemput kak Daffa,” Icha berkata dengan wajah memohon. 

“Benar tu Mom, boleh ya,” sambut Acha seolah memberi dukungan atas ucapan Icha. Ily menggeleng pelan melihat kedua putrinya ini. Ada-ada saja permintaannya. Mereka terlihat sedang sangat kompak mencari akan agar bisa menyambut kedatangan kakaknya itu, dasar si kembar yang cerdik, Ily terkekeh dalam hati.

“Enggak Sayang, kalian harus tetap sekolah. Lagian kakak kalian udah pesan ke mommy, kalau dia gak mau dijemput, dia bisa pulang sendiri katanya.” Icha dan Acha makin mengerucutkan bibirnya.

“Ada apa ni?”

Ily, Icha dan Acha sama-sama menoleh saat mendengar sebuah suara. Senyum mereka mengembang seketika terlebih Acha dan Icha saat melihat Alian datang. Alian menunduk untuk mencium dahi istri dan anak-anaknya satu persatu.

“Kenapa Sayang?” Tanya Alian lagi.

“Daddy, hari ini kan kak Daffa pulang, Icha sama Acha gak sekolah ya. Mau jemput kakak ke bandara. Boleh ya Dad,” kini Icha mencoba merayu ayahnya, dalam hati Alian terpana sepersekian detik, putri-putrinya ini mengingatkan ia saat dulu istrinya diawal-awal mereka menikah, menggemaskan. Ily menggeleng pelan sembari tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Selalu saja seperti itu, saat tidak mendapatkan yang mereka inginkan darinya, mereka akan mulai merayu Alian. Yang membuat Ily terkadang kesal adalah, Alian jarang sekali menolak permintaan putrinya dan sangat memanjakan mereka hingga mereka menjadi sangat manja.

“Sayang, kak Daffa kan udah bilang gak mau dijemput. Kalian tau sendiri kan kakak kalian gimana. Kalau dia bilang enggak ya berarti enggak. Lagian Daffa pasti bakal marah kalau dia tau kalian gak sekolah cuma buat jemput dia. Daddy tau kalian kangen, tapi kan bisa kangen-kangenan di rumah,” jelas Alian lembut.

Acha dan Icha tampak terdiam sejenak mendengar penjelasan daddynya. Sebenarnya yang Alian katakan ada benarnya. Daffa pasti akan marah jika tahu bahwa Acha dan Icha bolos sekolah untuknya. Sementara itu Ily melempar senyum lembut pada suaminya yang selalu bisa memberikan penjelasan yang baik kepada anak-anaknya.

“Benar juga ya, ya udah deh gak jadi,” ucap Acha akhirnya.

“Ya udah kita sarapan yuk, mommy udah siapin.” Ily bangkit dari duduknya diikuti yang lainnya.

“Kamu masak apa Sayang?” Tanya Alian sembari merangkul pinggang istrinya mesra mengirinya menuju meja makan.

“Masak nasi goreng kesukaan kamu.”

“Kalau kamu masaknya enak-enak terus, perut aku bisa buncit nih.”

“Yeeee kamu kan emang buncit,” ledek Ily sambil menepuk pelan perut suaminya membuat mereka sama-sama tertawa.

“Daddy... Mommy... jangan pacaran terusssss... laparrrrrrr...” Acha dan Icha sama-sama memekik melihat kedua orang tuanya yang selalu saja menyuguhkan keromantisan mereka sebagai hidangan pembuka. Sementara itu Alian dan Ily hanya tersenyum menanggapi sikap protes putri-putri mereka.

***

Sudah lama rasanya tidak menginjakkan kaki di tempat ini membuat lelaki tampan itu merasa sangat bahagia. Sesekali ia harus menghentikan langkahnya saat ada beberapa pilot atau awak kabin yang menyapa atau mengajaknya berbincang sejenak. Senyuman manis juga tidak pernah lepas dari wajahnya  saat  beberapa  orang  yang  melewatinya  tampak  melemparkan  senyuman  kekaguman untuknya.

“Aaaawwwww.....” tiba-tiba saja langkahnya terhenti bersamaan dengan suara pekikan seorang gadis. Gadis dihadapannya tampak meringis sembari memegang pundaknya. Pria tampan yang tak lain  adalah Daffa  itu  menatap  wanita  dihadapannya  khawatir.  Sepertinya  bahunya  sakit  karena bertabrakan dengan bahu Daffa. 

“Mbak gak papa?” Tanya Daffa khawatir.

“Gak papa gimana? Bahu gue sakit ni. Bahu lo terbuat dari apa sih? Keras banget, jalan yang bener dong,” omel gadis itu sembari mengelus-ngelus bahunya. Ditatapnya bahunya yang terbuka karena menggunakan dress dengan model sabrina. Sepertinya sedang memastikan bahwa bahunya tidak terluka. Sebenarnya tidak akan mungkin terluka hanya dengan bertabrakan, namun ia hanya sedang memastikan saja sembari membiarkan lelaki yang baru saja menabraknya tadi lebih merasa bersalah.

“Maaf Mbak, tapi tadi Mbak yang nabrak saya.” Daffa mencoba memberi penjelasan karena memang itulah yang terjadi.

Mendengar ucapan Daffa, gadis itu langsung mendongakkan wajahnya. Berbagai macam cacian sudah ia siapkan kepada orang di hadapannya ini. Namun saat mata agak kecoklatan miliknya bertemu dengan bola mata hitam legam milik Daffa, ia terdiam sesaat. Seolah menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang sangat indah di hadapannya. Oh Tuhan, apa dewa yunani itu benar-benar ada? Maksudnya, apakah masih ada diabad ini? Pria berbadan tinggi tegap, mata hitam legam yang teduh dihiasi bulu mata lentik, hidung mancung, bibir merah muda tipis, rahang tegas, sempurna! Tak ingin terlalu terbuai tak berapa lama ia langsung tersadar, harusnya ia memakinya bukan malah mengaguminya. Gadis itu langsung mengedipkan matanya berkali-kali untuk kembali memfokuskan dirinya.

“Kok lo jadi nyalahin gue? Bahu gue sakit ni. Kalau patah gimana? Lo gak tau apa kalau gue lagi buru-buru.” Daffa menggaruk tengkuknya yang tak gatal menerima makian bertubi-tubi dari gadis itu.

“Ya udah kita ke rumah sakit ya, biar bahu Mbak diperiksa.” “Berhenti panggil gue mbak! Gue bukan tukang jamu.” “Oke, aku antar kamu ke rumah sakit ya.”

“Gak usah!”

Daffa menghela nafas panjang mendengar balasan ketus dari gadis itu. Lagi-lagi ia harus menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rasanya ia tidak melakukan kesalahan apa pun kemarin, namun kenapa hari ini ia bertemu dengan seorang gadis seperti gadis di hadapannya ini.

“Ya udah kalau gitu aku permisi ya, sekali lagi aku minta maaf.”

“Ehhh... ehh... mau kemana lo?” Melihat Daffa yang mulai melangkah pergi, gadis itu segera menahannya.

“Lo jadi cowok gak bertanggung jawab banget ya.”

“Bukannya tadi aku udah mau bawa kamu ke rumah sakit, tapi kamunya gak mau,” jelas Daffa. Gadis itu tampak terdiam sejenak. Mungkin sedang membenarkan ucapan Daffa di dalam pikirannya. Namun sesaat kemudian ia kembali buka suara.

“Ya lo pikir tanggung jawab itu cuma dengan antar ke rumah sakit aja? Lo harus tanggung jawab dengan cara yang lain,” Daffa menautkan alisnya bingung mendengar ucapan gadis itu. Apa lagi ini, dalam pikirnya.

“Apa?”

“Lo ikut gue.” “Kemana?”

“Ntar lo juga bakal tau. Eh tapi sebelumnya gue mau tanya, kerjaan lo apa?” Tanya gadis itu.

Daffa makin menautkan alisnya bingung. Sebenarnya apa maksud gadis di hadapannya ini? Setelah memakinya, meminta pertanggung jawaban, dan kini bertanya tentang pekerjaannya. Benar- benar kesan perkenalan pertama yang cukup buruk.

“Sopir,” balas Daffa setelah beberapa saat berpikir.

Gadis itu tampak membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Yang benar saja, lelaki yang tadi sempat ia puja ini adalah sopir? Ingin rasanya Daffa tertawa keras melihat ekspresinya yang tampak sangat terkejut itu. Namun Daffa memilih untuk diam saja. Benar kata ayahnya, saat berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja pekerjaan sopir, maka ia akan mendapatkan reaksi yang lucu. Apa saat itu ibunya juga bereaksi seperti ini saat tau Alian, ayahnya menyebut dirinya seorang supir? Kalau iya, benar-benar lucu dan menggemaskan.

“Ckkkk... kenapa sopir sih, gak ada yang lain apa,” gadis itu berbisik pelan.

“Oke gak papa kalau lo sopir. Tapi nanti kalau ada yang tanya sama lo pekerjaan lo apa, lo jawab aja lo...” gadis itu berpikir sejenak mengetuk-ngetuk dahinya.

“Pilot, iyaaaa pilot.” Ia tersenyum sumringah setelah mendapatkan ide yang menurutnya sangat cemerlang.

“Pilot?” Daffa bertanya bingung.

“Iya. Bukannya gue menghina pekerjaan lo sebagai sopir, sopir pekerjaan yang bagus kok. Tapi saat ini lo seolah-olah naik kelas, pilot kan sopir juga. Tapi sopir pesawat,” jelas gadis itu.

“Mau ya? Gue bakal maafin lo karena lo udah nabrak gue.” “Tapi aku udah harus pulang,” balas Daffa.

“Please.....”   gadis   itu   memasang   wajah   memelasnya   dengan   menyatukannya   kedua tangannya di depan sebagai bentuk permohonan.

“Gue bakal bayar penghasilan lo narik selama sehari,” ucap gadis itu lagi memberi penawaran. Kali ini rasanya Daffa benar-benar ingin tertawa keras. Sebenarnya yang sedang ada di pikiran gadis ini Daffa sebagai sopir apa? Andai saja ia tahu berapa penghasilan Daffa selama sehari. Oh hitungnya tentu tidak perhari, melainkan perjam.

“Ya udah, aku mau. Ini sebagai bentuk pertanggung jawaban aku,” balas Daffa akhirnya membuat gadis itu menarik nafas lega.

“Thanks, oh iya kita belum kenalan. Gue Mia, Tamia Karbela,” ucap gadis yang bernama Mia itu memperkenalkan diri.

“Daffa Zafrano Lukas,” balas Daffa.

“Lo gak ketawa?” Tanya Mia yang terlihat heran.

“Ketawa buat apa?”

“Buat nama gue, setiap orang yang dengar pasti ketawa dan bilang kalau nama gue mirip mobil main-mainan,” ucap Mia yang kini sukses membuat Daffa melepaskan tawanya.

“Ketawa lo delay!”

“Sebenarnya tadi aku gak mau ketawa buat menghargai kamu, tapi kamunya malah mancing.

Sorry,” ucap Daffa sembari masih tertawa kecil.

Mia menatap Daffa kesal. Ia akui Daffa adalah sopir paling tampan yang pernah ia temui di dunia ini, namun secepat mungkin ia menepis pikirannya. Ia harus fokus pada rencananya saat ini. Rasanya ia ingin melompat-lompat girang karena akhirnya ia berhasil mendapatkan solusi dari masalah yang sudah menghatuinya bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di Jakarta.

“Sebelum kita pergi, lo punya baju lain yang lebih rapi atau formal gak? Kayak kemeja gitu? Kalau gak punya, biar kita beli dulu,” ucap Mia saat melihat penampilan Daffa yang hanya menggunakan baju kaos hitam polos dengan jaket abu-abu.

“Punya kok,” balas Daffa.

“Ya udah lo buruan ganti dulu, gue tunggu disini.”

Daffa pun akhirnya mengikuti dan langsung bergegas mengganti bajunya. Meskipun sedikit merepotkan, namun bagi Daffa tidak ada salahnya membantu gadis itu, ia senang membantu siapapun. Setidaknya itulah yang selalu kedua orang tuanya ajarkan.

“Sayang banget sopir, coba pilot beneran, udah minta dikawinin dah gue. Daffa... Daffa...” Mia menggeleng pelan menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Lost Love

read
507.0K
bc

SI BRENGSEK

read
169.7K
bc

Rise of Love

read
330.9K
bc

Symphony (Indonesia)

read
161.7K
bc

JODOH SPESIAL CEO JUDES

read
252.7K
bc

Suamiku Calon Mertuaku

read
1.4M
bc

Over Protective Doctor

read
429.0K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play