Bangkai Pasti Bisa Tercium

1751 Words
Bau bangkai yang menyengat membuat hal itu tak mungkin bisa disembunyikan untuk selama-lamanya. Pada akhirnya, baunya pasti akan terkuak ke permukaan dan tercium. Jadi, jangan pernah menyembunyikan bangkai jika ujung-ujungnya justru aromanya akan membuatmu tertangkap. Tak ada orang yang mampu melakukan kejahatan sempurna. Seperti apa yang dipercaya semua manusia di dunia ini. Putih akan mengalahkan hitam dan jahat akan selalu bisa dikalahkan dengan kebaikan. Oleh karena itu, kau tak bisa terus menyembunyikan kejahatanmu. “Aku tahu kalau aku telah menjadi orang parno yang mengenaskan.” Lestari tertawa kecil, menertawai dirinya yang tampak konyol. Dirinya pun tak menyangka jika cinta bisa membuatnya segila ini, hingga Lestari memainkan permainan detektif-detektifan seperti saat ini. “Kamu nggak mengenaskan. Kamu hanya sedang jatuh cinta, Tari.” Perkataan Vera tak juga bisa membuat Lestari merasa terhibur. “Aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan dan kita akan menangkap basah dirinya jika memang suamimu itu bermain api di belakangmu. Aku tahu kalau firasat seorang istri itu nggak boleh diabaikan, jadi kamu nggak salah karena mengikuti kata hatimu. Nothing to lose. Kalau nggak mendapatkan apa pun, berarti suamimu memang setia, tapi jika kita mendapatkan sesuatu, maka kamu harus menyiapkan dirimu.” Lestari tersenyum dan mengangguk pelan. “Terima kasih karena membuatku merasa tenang.” Lestari memeluk sahabatnya itu, “Tolong sambungkan semua kamera di sini ke laptopku. Aku ingin selalu mengawasinya. Aku yakin bisa mendapatkan semua yang kubutuhkan. Firasatku nggak pernah salah, Vera. Semakin hari, aku semakin kacau karena semua pemikiran buruk yang memenuhi kepalaku. Rasanya, aku butuh pembuktian jika apa yang kucurigai itu salah. Aku sudah mempersiapkan diri karena kamu tau benar jika aku nggak suka dibohongi dan lebih suka menghadapi rasa sakitku, daripada larut dalam luka yang berbalut keindahan.” Lestari menarik napas dan menghelanya perlahan, berusaha mengendalikan diri. “Ya, aku tahu kalau kamu itu kuat, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Nggak ada salahnya bergantung pada orang lain dan bersandar pada seseorang saat kamu lelah. Aku akan selalu ada untukmu. Apa pun hasilnya nanti, kamu bisa mengadu padaku dan kita akan mencari solusi bersama. Ingatlah kalau kamu nggak pernah sendirian di dunia ini, Tari.” Lestari tersenyum dan mengangguk. Perempuan itu mengucapkan terima kasih pada sahabatnya. Ya, perempuan itu memang seorang yatim piatu dan ditinggalkan dengan banyak warisan yang membuatnya merasa seperti memiliki segalanya, tapi tak banyak yang tahu jika Lestari kerap merasa sendirian. Beruntung, dirinya dikelilingi dengan banyak orang baik seperti Vera yang membuat Lestari mampu bertahan dan tumbuh menjadi wanita yang kuat. Selang beberapa saat kemudian, semua alat yang diperlukan sudah dipasang dengan baik. Lestari memberitahukan Vera tentang apa yang diinginkannya dan meminta asistennya itu untuk mulai mengutus seseorang untuk mengikuti suaminya. Lestari tak ingin melakukan semua ini, tapi perempuan itu tak ingin cinta membuatnya menjadi orang bodoh yang mengenaskan. “Mbak Lestari nggak kembali ke kantor?” Pertanyaan Mbok Darsi membuyarkan lamunan Lestari yang larut dalam foto-foto kebahagiaannya bersama dengan Wisnu. Gambar yang meyakinkannya jika memang mereka hidup bahagia bersama, tapi kenapa semua berubah? “Aku minta izin hari ini, Mbok.” Perempuan paruh baya itu meletakkan secangkir teh hijau kesukaan Lestari dengan biskuit untuk menemani teh tersebut. “Diminum dulu, Mbak,” ujar Mbok Darsi dengan ramah, “Sebenarnya, ada hal yang ingin Mbok sampaikan. Namun merasa takut ataupun nggak pantas. Mbok …” Ada keraguan yang terdengar dari suara perempuan paruh baya itu, membuat Lestari semakin penasaran apa yang ingin disampaikan oleh perempuan itu. Lestari menatap perempuan itu lekat dan mengangguk pelan, berusaha memberitahu perempuan itu jika ia siap mendengarkan apa pun yang akan disampaikan oleh perempuan paruh baya itu. “Jangan takut, Mbok. Katakan apa pun yang ingin Mbok sampaikan.” “Saya menemukan ini.” Perempuan paruh baya itu mengeluarkan pakaian berbahan satin dari saku celananya dan menyerahkannya pada Lestari. Sedang Lestari mengambilnya dengan tangan bergetar. Perempuan itu menempatkan pakaian tersebut di depanny dan ia tahu benar jika lingerie hitam berbahan satin dengan bagian bolong di tengah d**a dan kedua sisi pinggang itu bukanlah miliknya. Lestari yang sudah puas mengamati pakaian tersebut kembali mengarahkan pandangannya pada Mbok Darsi yang tersenyum canggung ke arahnya. Tampak khawatir. “Mbok tahu kalau ini bukanlah pakaian Mbak Tari. Tadi, saat Tina izin pulang, saya memasuki kamarnya karena ingin memastikan dia mematikan semua aliran listrik. Mbok takut ada masalah karena kamar itu nggak ditempati dan Mbok menemukan pakaian itu di kasurnya.” Lestari mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir perempuan paruh baya itu. Rasa curiga kembali hadir dan menguasai benaknya. Sebenarnya, Lestari memang mencurigai gadis manis itu, tapi saat bersama, Wisnu malah kerap menundukkan pandangannya, seolah tak mau melihat Si gadis manis yang tampak polos. Namun setiap bukti yang ditemukan Lestari, selalu mengarahkannya pada gadis tersebut. Lestari menggenggam kuat pakain tipis itu. “Ada kertas juga di atas baju tersebut, tapi saya pikir, baju itu sengaja di tempatkan di sana. Sepertinya, Tina memang ingin menyampaikan sesuatu.” Perempuan itu mengeluarkan secarik kertas yang ditemukannya pada Lestari, sedang Lestari dengan cepat mengambil kertas tersebut. ‘Pakailah ini nanti malam, Sayang. Aku kecanduan dengan tubuhmu.’ Hanya kalimat singkat itu yang tertulis di sana, tapi Lestari tahu benar siapa penulis dari pesan bernada m***m itu. Tulisan tangan suaminya sendiri, Wisnu. Lestari tak mampu mencegah rasa sakit yang menjalar ke penjuru hatinya, menyebabkan dadanya sesak bukan main. Ternyata, mereka berdua bermain api di belakangnya. Siapa sangka, perselingkuhan itu terjadi tepat di depan matanya. “Saya pikir, Mas Wisnu dan Tina memiliki hubungan khusus.” Mbok Darsi seolah hendak memperjelas segala kecurigaan Lestari. “Mbok juga tahu benar, jika Tina sengaja mau mempamerkan hubungan mereka untuk membuat Mbak Tari terluka. Dia bermaksud jahat.” Lestari tercengang sesaat, kemudian tawanya pecah begitu saja, membuat Mbok Darsi menatapnya bingung. Namun Lestari tak peduli dan malah semakin menguatkan volume tawanya. Kini, tawanya itu dihiasi dengan air mata yang tak lagi bisa ia cegah. Lestari tahu jika kini dirinya pasti terlihat seperti seorang yang tidak waras. Mungkin Tina sengaja memperlihatkan semua bukti itu untuk diakui keberadaannya. Lestari meremas-remas secarik kertas yang tadi ada di dalam genggamannya begitu menghentikan tawanya dan membuangnya ke lantai. Lestari menatap tajam ke depannya. Amarah, luka, dan kecewa terlihat begitu jelas. “Kamu baik-baik saja, Mbak?” Tanya Mbok Darsi mencengkram pundak Lestari. “Aku baik-baik saja, Mbok.” Lestari menunjukkan senyum terbaiknya, “Aku tahu maksud hatinya menunjukkan hubungan mereka. Aku akan membuat mereka tahu kalau mereka telah mempermainkan orang yang salah.” Lestari tak mampu menghentikan air mata yang terus mengalir dan membasahi pipin. Rasanya begitu menyakitkan. Mengetahui perselingkuhan suaminya dan curiga yang menjadi kenyataan, telah menghancurkan hatinya. “Apa Mbak Tari akan mengusir Tina?” Tanya bernada penasaran itu tak mampu ditahan Mbok Darsi. Sejujurnya, Mbok Darsi pun tak menyangka jika perempuan yang terlihat polos itu bisa bersikap berani dan bermain api dengan majikannya sendiri. Padahal, Lestari sudah sangat baik dengan mempekerjakannya. Tampaknya, memang dunia ini dipenuhi dengan orang jahat dan tak tahu terima kasih. Orang baik sudah langka di dunia yang fana ini. “Mbok pikir, dia sudah sangat kelewatan, Mbak. Dia dengan terang-terangan meninggalkan semua petunjuk. Dia pasti besar kepala dan berpikir bisa menjadi tuan rumah di sini.” Mbok Darsi tak mampu menyembunyikan amarah yang menjalar ke penjuru hatinya. “Aku nggak akan mengusirnya, tapi aku ada rencana untuknya.” Lestari menatap ke depannya dengan tatapan tajam, “Nggak semudah itu untuk pergi dariku setelah mengahancurkan hatiku. Aku akan memberikan pelajaran untuk mereka yang berkhianat.” Mbok Lestari merasa ngeri melihat tatapan Lestari dan juga kesungguhan dari perkataan perempuan itu, tapi Mbok Darsi merasa pantas jika Tina mendapatkan pelajaran. “Pantas saja sikapnya mulai berubah beberapa bulan ini. Dia selalu marah-marah dan malas-malasan. Bukannya Si Mbok mau mengadu, tapi Mbok selalu membersihkan lantai atas karena pekerjaannya tidak benar. Maaf jika Mbok terkesan menjadi pengadu,” lanjut perempuan paruh baya itu dengan nada tak enak, sedang Lestari tersenyum menenangkan. Tak ada yang perlu dimaafkan karena memang Lestari sudah bisa mencium keanehan dari gadis manis itu. Hanya saja, Lestari mencoba menepis semua hal yang ada di depan matanya. Rasa cintanya yang begitu besar pada Wisnu, membuatnya mencoba berpikir positif. Mungkin memang hanya kesibukan yang membuat mereka menjauh dan lain sebagainya. Namun semakin ia menepis, semakin banyak pula bukti yang ditemukannya. Menegaskan jika memang tak ada bangkai yang bisa disembunyikan untuk selama-lamanya. Bau busuknya pasti akan tercium juga. “Aku malah berterima kasih karena Mbok mau jujur dan membuat mataku terbuka lebar.” Lestari menghapus sisa-sisa air matanya, “Akan kupastikan mereka menyesali apa yang mereka lakukan padaku. Ini adalah rumahku dan dia harus tahu siapa penguasa di sini.” Perempuan itu tampak berapi-api, “Aku minta bantuan Mbok untuk terlihat biasa saja. Biarkan dia menganggapku nggak mengetahui apa pun. Aku butuh bukti dan akan kuhancurkan mereka.” Lestari menggenggam tangannya kuat-kuat. “Aku akan memberikan rasa sakit berjuta kali lebih sakit dari apa yang mereka berikan padaku saat ini. Aku mohon, bantuan dari Mbok.” Perempuan paruh baya itu tersenyum dan mengangguk, membuat Lestari merasa lega. Setidaknya, ada orang yang akan mendukung dan juga membantunya. Lestari tak mungkin bisa sekuat ini jika dirinya sendirian saja masuk ke medan perang. Dia akan membuat mereka menyesal. Ada begitu banyak rencana yang mulai memenuhi pikirannya, menunggu dieksekusi. “Tolong letakkan kembali pakaian itu ke tempatnya semula. Aku akan segera pergi dari rumah sampai Tina kembali agar dia nggak tahu kalau aku sudah melihat petunjuknya. Mbok bisa mengaku pada Tina jika Mbok masuk ke kamarnya dan membuka jendela, kemudian lupa menutupnya dan letakkan kertas menjijikkan itu di bawah kolong tempat tidurnya. Biarkan jendela tetap terbuka sampai dia kembali dan beritahu aku bagaimana responnya.” Lestari terlihat serius, “Jika dia bertanya tentang pendapat Mbok atau pura-pura ketakutan dengan pakaian di ranjang. Mbok bisa pura-pura polos dan nggak mengerti. Bilang itu privasinya dan Mbok nggak berani mengusik. Mulai besok, jangan kerjakan pekerjaannya yang tidak benar karena aku ingin membuat neraka untuknya di rumah ini.” Lestari mengepalkan tangannya. Mbok Darsi seolah melihat orang yang berbeda. Tak pernah sekalipun, Mbok Darsi melihat Lestari semarah ini. Saat kedua orang tua Lestari meninggal, perempuan itu tak menangis, hanya menatap kosong ke depannya, tampak seperti robot tak bernyata dan Mbok Darsi bisa melihat jika Lestari akan kembali menjadi seperti robot yang mengerikan. “Mbok akan melakukan semua keinginan, Mbak Tari.” Perempuan itu tersenyum, “Mbak Tari bisa bersandar pada Mbok jika merasa lelah. Jangan pernah merasa sendirian. Mbok akan membantu dan melakukan apa pun yang Mbak Tari inginkan.” Perempuan itu terlihat tulus, membuat Lestari tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lestari akan menjatuhkan mereka yang menyakiti hatinya begitu dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD