Permainan Cinta

1413 Words
Cinta itu adalah hal yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Kata indah sekalipun, tak mampu membuatmu mengerti definisi cinta. Pada intinya, rasa itu kerap membuat hati maupun pikiran seseorang menjadi kacau. Cinta bisa menjadi hal yang indah dan juga mengerikan. Kau tak pernah bisa menduga apa yang akan diberikan cinta bagi hidupmu. Yang awalnya indah, tak selamanya akan berakhir dengan cara yang sama. Cinta itu membingungkan. Untuk menentramkan hati, Lestari memutuskan untuk menempati villa tempat di mana dirinya bertemu pertama kalinya dengan Wisnu. Perempuan mana yang tak sakit hatinya saat tahu cintanya diduakan. Pada akhirnya, sekuat apa pun Lestari, dirinya bisa hancur juga dan ia tak mungkin bisa terus-terusan berlagak tegar, meski hatinya hancur lebur. Lestari butuh waktu sendirian untuk memilah hati. Kebencian dan juga amarah, sudah memenuhi setiap relung hatinya. Namun rasa terbesar yang menempati hatinya saat ini adalah kecewa. Bagaimana bisa seorang yang memberikannya cinta dan membuatnya kembali melihat keindahan dunia, berakhir menjadi seorang yang juga menghancurkan semua yang diberikannya pada Lestari. Perempuan itu yang dulu tak berani mempercayai orang lain, menaruh kepercayaan penuh pada pria yang pada akhirnya berkhianat dan menghancurkan semua yang ada dalam dirinya. Bayangan masa depan yang tadi terlihat indah, mendadak sirna. Wisnu yang menghancurkan semua yang mereka bangun bersama dan Lestari tak ‘kan memberikan maaf. “Seharusnya, kamu nggak bersembunyi seperti ini.” Vera yang turut serta ke dalam perjalanan Lestari menatap atasan sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan iba. Lestari sudah menceritakan semuanya pada sahabatnya itu dan meminta Vera ikut bersamanya. “Aku nggak bersembunyi. Aku butuh waktu sendirian, tapi aku juga takut kalau otakku yang terkontaminasi cinta ini bisa mendadak gagal fungsi dan membuatku melakukan hal mengerikan. Oleh karena itu, aku perlu kamu yang bisa kugunakan sebagai tuas pengamanku.” Lestari tersenyum lirih, “Hanya kamu yang kuizinkan untuk melihatku yang terlihat lemah seperti ini. Walau bagaimanapun, aku butuh waktu untuk menyendiri meski banyak rencana yang sudah memenuhi pikiranku. Begitu sulit menerima kenyataan ini, Vera. Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti ini? Padahal, dia yang mengajariku tentang cinta.” “Manusia memang nggak bisa diprediksi, Tari. Semua orang pasti berubah. Apalagi perasaan.” Vera menghela napas panjang, “Kamu jatuh begitu dalam dan nggak harus begitu.” Vera yang selalu berpikiran dengan logikanya memang tak begitu paham bagaimana cara cinta bekerja. Awalnya, dia sudah memperingati Lestari ketika perempuan itu jatuh cinta pada Wisnu yang sederhana. Bukan karena merasa Wisnu tak pantas untuknya, tapi Lestari tampak begitu jatuh cinta, hingga membutakan mata dan menulikan telinganya. Vera takut jika Lestari menjadi lemah dan diperalat oleh Wisnu. Hal yang sekarang sudah terbukti kebenarannya. Lestari tersenyum lirih. “Kamu pikir, aku bisa mengendalikan rasa ini?” Lestari menghela napas panjang dan menghelanya perlahan, “Jika bisa, maka aku lebih baik nggak pernah jatuh cinta. Aku sudah lama nggak mendapatkan kehangatan dan kasih sayang, lalu dia datang dan membawa segudang mimpi yang ditawarkannya untukku. Rasa yang kupikir akan abadi.” Lestari menyandarkan punggung di sandaran kursi dan memejamkan matanya. Ia berusaha untuk menentramkan rasa sakit yang menjalar perlahan dan menyesakkan dadanya. Siapa sangka, cinta yang dulu terasa begitu indah, bisa berakhir dengan air mata. Andai saja bisa mencegah hati untuk tak jatuh pada seseorang, maka tak mungkin ada rasa sakit yang mendera hatinya kini. Lestari mengingat-ingat semua keindahan yang pernah dilaluinya bersama dengan Wisnu. Rasanya tak mungkin jika semua kebahagiaan itu berakhir hanya karena orang ketiga. Bagaimana bisa dalam sekejap semua keindahan itu musnah begitu saja? Tidak adil. “Sama seperti untuk dan malang. Jatuh cinta itu bukanlah sebuah pilihan, terkadang kita jatuh begitu saja. Tanpa direncanakan.” Lestari menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, “Aku ingin dia merasakan sakit yang kutanggung ini. Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya dikhianati dan aku nggak akan melepaskan mereka semudah itu. Aku dipenuhi kebencian. Kekecewaan yang memenuhi hati, membuatku ingin melihat mereka menangis sepertiku.” Perempuan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bibir bagian bawahnya bergetar hebat dan air matanya jatuh dengan begitu derasnya. Dadanya sesak bukan main. Ia memukul-mukul pelan d**a, berusaha untuk menghalau rasa sesak yang mendominasi sanubarinya. “Aku … sakit banget, Vera. Sakit bukan main. Nggak ada udara di sekitarku. Rasanya, begitu sulit bernapas.” Lestari sesegukan. Pecah sudah pertahanannya. Lestari tak lagi bisa memasang topeng penuh kepalsuan yang dikenakannya sejak kemarin. Dirinya tak lagi bisa menyembunyikan kehancuran diri. Lestari juga tak bisa menyembunyikan tangis dari hatinya yang patah. Begitu menyakitkan. Rasanya, seperti mau mati saja. Sementara itu, Vera segera bangkit berdiri dari tempatnya duduk dan memeluk sahabatnya erat-erat. Vera mengusap-usap punggung Lestari yang bergetar hebat dan berusaha untuk meredakan air mata perempuan itu. Pada akhirnya, Lestari menangis terisak di dalam dekapan sahabatnya. Hanya untuk hari ini. Lestari merasa perlu mengeluarkan semua tangis itu agar hatinya bisa terasa lebih ringan. Mungkin saja, esok air mata itu tak ‘kan jatuh lagi. “Menangislah sepuasmu, Tari. Menangis dan meraung. Keluarkan semua rasa sakitmu, tapi berjanjilah kalau kamu menangis segila ini hanya untuk hari ini saja karena esok, nggak ada air mata yang boleh keluar dari matamu. Kamu harus membuat mereka yang menangis dan meraung kesakitan. Balaskan dendammu dan beritahu mereka jika kamu bergitu berharga.” Vera menatap tajam ke depannya. Melihat sahabatnya yang menangis tersedu-sedu dan terluka membuat hatinya sakit bukan main. Tak pernah sekalipun Vera melihat perempuan itu menangis sekeras ini. Pada saat kedua orang tua Lestari meninggal, perempuan itu hanya menangis tanpa suara setelah kembali ke kamarnya. Perempuan itu hanya menatap kosong ke depan dan menangis. Namun kini, Lestari terliha seperti seorang anak kecil yang terluka. Lestari yang malang. Selang beberapa saat kemudian, Lestari terbangun dari tidurnya. Ia menatap kosong ke depan. Dirinya menangis terisak di dalam dekapan Vera dan dituntun untuk masuk ke dalam kamar, setelah itu Lestari menangis hingga tertidur. Rasanya, Lestari tak ingin terbangun, tapi tak bisa memejamkan matanya lagi. Kenyataan pahit yang ada di depannya sangat menyakitkan. Dering ponsel yang berbunyi menyadarkan Lestari dari lamunan panjangnya. Perempuan itu segera meraih ponsel dan tersenyum tipis saat melihat nama suaminya yang terpampang di sana. Pria itu tak berubah dingin. Sejujurnya, Wisnu masih bersikap seperti seorang suami yang peduli. Selalu menghubunginya untuk bertanya jam berapa dirinya pulang, kegiatan, atau berapa hari menginap di luar kota. Kini, Lestari tahu jika pertanyaan yang dilayangkan Wisnu bukanlah bentuk perhatian, tapi untuk mengamankan hubungannya bersama dengan Tina. Semua pertanyaan yang diberikan Wisnu bukan karena pria itu masih peduli padanya. Ia ditipu. Lestari beringsut duduk. Dia segera menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, kemudian berdehem beberapa kali untuk memastikan suaranya tidak menunjukkan luka yang dirasakannya saat ini. Lestari tak boleh ketahuan jika dirinya tengah menderita. Rasa tenang akan membuat seseorang malah semakin ceroboh dan menunjukkan banyak kesalahan yang bisa dijadikan Lestari sebagai senjata untuk membuat orang yang berkhianat itu menderita sepertinya. “Kamu nggak ada di rumah. Ke mana, Sayang? Kapan pergi dan kenapa nggak memberitahuku?” Rentetan pertanyaan itu dilayangkan oelh Wisnu begitu Lestari mengucapkan satu kata ‘halo’. Sedang Lestari tersenyum miring mendengarkan sikap sok perhatian suaminya. “Maaf, Mas. Mendadak aku harus ke Bandung untuk beberapa hari. Aku nggak sempat mengabarimu karena terlalu sibuk. Aku tertidur setelah menyelesaikan masalah di outlet dan berniat mau menghubungimu,” dusta Lestari. Perempuan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha terlihat setenang mungkin dan tak meledak begitu saja. Ingin rasanya mencaci maki, berteriak bagai orang gila, dan marah. Namun ia tak bolah lepas kendali untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar. Oleh karena itu, Lestari harus sedikit bersabar dan menahan diri. “Nggak pa-pa kalau begitu. Aku takut ada apa-apa. Rencana tinggal berapa lama di Bandung?” Pria itu ingin memastikan berapa lama waktu bebas yang dimilikinya, sedang Lestari yang tahu niat pria itu rasanya ingin tertawa. Ia memberikan waktu bebas dan akan mengamati. “Mungkin dua harian, Mas. Maaf karena aku semakin sibuk.” Lestari pura-pura merasa bersalah, sedang dengan cepat Wisnu mengatakan jika semua itu bukanlah masalah dan minta Lestari fokus saja pada bisnisnya dan mengambil waktu sebanyak yang ia butuhkan. Wisnu menenangkannya seperti biasa, tapi kali ini Lestari tahu jika penenangan itu hanyalah rayuan agar Wisnu mempunyai banyak waktu untuk menggauli asisten rumah tangga mereka. Menjijikkan. Mengingat semua itu membuat Lestari semakin marah. Beruntung panggilan sudah berakhir. Lestari sendiri pun tak ingin berlama-lama bercakap-cakap dengan pria palsu itu. Lestari segera membuka laptopnya setelah panggilan mereka terputus untuk mengamati suaminya. Lestari membuka aplikasi untuk melihat cctv yang terpasang di penjuru rumah. Sesuai dugaannya, pria itu tampak sangat bahagia. Tertawa dan meloncat kegirangan. Kemudian, Wisnu menghubungi seseorang melalui ponselnya. Lestari yakin jika pria itu menghubungi Tina. Keduanya pasti ingin merayakan kebebasan itu bersama. Mereka sangat menjijikkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD