Cinta itu Penyakit

1248 Words
Cinta selalu bekerja seperti penyakit yang tidak kau ketahui kehadirannya hingga mencapai tahap kritis. Tahu-tahu penyakit tersebut sudah merusak beberapa organmu dan menyembuhkannya menjadi hal yang sulit, bahkan tidak mungkin. Kau hanya bisa berdiam diri dan membiarkan penyakit tersebut mengambil alih pikiran, tubuh, ataupun nyawamu. Entah ada angin apa. Hari ini, Wisnu menawarkan diri untuk mengantarkan Lestari pergi ke butiknya. Padahal, biasanya pria itu tak mau mengantar dengan alasan mereka tak sejalan. Jalanan di kota Jakarta yang macet hanya akan membuat dirinya terlambat, hingga Wisnu memaksa Lestari untuk mempekerjakan seorang supir karena khawatir istrinya itu lelah jika harus membawa mobil ke sana-ke mari sendirian. Hal sesederhana itu sudah cukup membuat Lestari bahagia. Meski tak bisa mengantarnya, pria itu selalu memperhatikannya dan membantunya mencari solusi. Entah sejak kapan, Lestari menjadi begitu bergantung pada Wisnu. “Bukankah kamu selalu takut terlambat kalau mengantarku dulu, Mas?” Lestari memulai percakapan di antara mereka. Sejak mobil meninggalkan rumah, hanya ada lagu pop yang mengalun dari pemutar musik yang menemani perjalanan mereka. Lestari terlalu sibuk menganalisa apa yang terjadi. Siapakah cinta lain di hati suaminya? Semuanya terasa ganjal. “Aku rindu berkendara denganmu. Biasanya, kita akan mendengarkan lagu kesukaanmu dan bercerita, tapi tampaknya pagi ini kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri, Sayang,” Wisnu mengarahkan pandangannya sekilas pada Lestari, “Apa yang kamu pikirkan? Kamu tahu kalau kamu bisa berbaghi segalanya denganku,” Pria itu memberikan senyum terbaiknya untuk Lestari, sedang perempuan itu tersenyum tipis. Ya, dulu memang itu yang Lestari pikirkan. Ia bisa berbagi segalanya pada Wisnu. Rahasia, beban di hati, dan juga permasalahan yang ia hadapi. Namun sayangnya pria itu tak mau melakukan hal yang sama. Cinta telah menghilang. “Banyak yang kupikirkan, tapi aku lebih penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiranmu, Mas?” Lestari mengarahkan pandangannya pada suaminya dan menatap pria itu penuh tanya, sedang Wisnu tersenyum kikuk, merasa tidak mengerti dengan pertanyaan Lestari dan bertanya apa yang perempuan itu maksudkan. Lestari tergelak pelan melihat kecanggungan pria itu. Sejak kecil ia belajar membaca ekspresi dan berbohong padanya adalah hal yang sulit. Wisnu mendadak cemas. Ia tersenyum kikuk untuk menutupi kekhawatiran yang mulai timbul dan menguasai setiap relung hatinya. Entah mengapa, dirinya merasa jika Lestari pasti mengetahui sesuatu atau sedang mempermainkan pikirannya. Entah karena rasa bersalah yang ditanggung hatinya atau rasa takut kehilangan yang membuat dirinya mudah parno. Entahlah. “Apa maksudmu, Sayang? Nggak begitu banyak yang ada di dalam pikiranku,” Wisnu menggenggam sebelah tangan Lestari dengan sebelah tangannya yang bebas, menatap perempuan itu sekilas, dan memberikan senyum lembutnya, “Aku hanya berpikir untuk menjemputmu sore nanti, kemudian ingin membawamu pergi kencan. Bagaimana menurutmu, Sayang? Sudah lama sekali kita tidak nonton bioskop dan makan di restoran yang bernuansa romantis. Dulu kita selalu melakukannya dua minggu sekali, tapi semenjak kamu mengembangkan bisnis dan aku yang sibuk membangun perusahaan, kita jadi melupakan rutinitas yang seharusnya nggak boleh hilang di antara kita. Kebiasaan-kebiasaan yang mulai berkurang ini adalah akar dari perasaan insecure-mu yang selalu merasa bersalah karena hampir nggak ada waktu untukku. Sekarang, aku juga bisa melihat jika ada rasa curiga di dalam hatimu,” Pria itu bisa dengan mudahnya balik menyerang Lestari dengan kesibukan yang selalu menjadi alasan perempuan itu merasa bersalah padanya. Dengan begitu, Lestari tak ‘kan mencurigainya dan Wisnu harus segera mengenyahkan rasa curiga di hati Lestari agar wanita itu tak was-was. Lestari tersenyum dan menghela napas panjang. “Ya, mungkin saja. Aku takut kalau alasan kesibukan ini akan membuatmu jenuh ataupun menjauh,” Lestari mengusap-usap punggung tangan suaminya yang menggenggam tangannya, “Apa lagi, kamu sekarang suka melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan. Namun kamu salah, Mas. Aku nggak merasa curiga sama sekali,” Lestari meneliti wajah suaminya yang mendadak terlihat pucat, seolah pria itu sadar jika ia telah salah bicara. Lestari tersenyum puas. Ia tahu jika Wisnu adalah pria yang cerdas, tapi Lestari tak kalah pintarnya dari pria itu. Toh, banyak ilmu yang diturunkannya pada suaminya itu yang dulu tak tahu apa pun tentang bisnis ataupun menganalisa sesuatu. Mana bisa kadal dikadali, bukan? “Oh ya, aku pikir kamu curiga,” Tawa kikuk diberikan Wisnu pada Lestari, “Nggak perlu ada yang kamu khawatirkan karena cintaku padamu nggak akan pernah berubah. Aku akan selalu ada untukmu dan nggak akan melirik yang lain. Aku akan menunggumu seumur hidupku, jadi lakukan apa pun yang membuatmu senang. Aku akan selalu mendukungmu, Tari,” Ujar Wisnu. Lestari tersenyum dan meletakkan kepalanya pada lengan suaminya. “Aku memang beruntung karena memilikimu, Mas. Terima kasih karena sudah setia menunggu dan terus mendukungku. Mimpi-mimpiku ini nggak mungkin terwujud jika kamu nggak mendukungku,” Lestari tak sepenuhnya berbohong karena pria itu yang membuatnya melihat keindahan hidup. Meski memang akhir-akhir ini, dirinya sadar jika ada yang salah di antara hubungan mereka. Kecurigaan Lestari bukannya tak beralaskan. Banyak bukti yang ia temukan. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Jika memang pria itu berkhianat, maka Wisnu akan sangat rugi. “Aku yang sangat beruntung karena memilikimu,” Ujar pria itu yang membuat Lestari tersenyum tipis. Entah mengapa, perkataan pria itu tak terdengar tulus seperti biasanya. “Oh ya, Mas,” Lestari menjauhkan kepalanya dari lengan Wisnu, “Aku berencana memasang cctv di rumah karena sekarang hanya ada Tina dan Mbok Darsi di rumah. Pak Sugi juga jarang ada di dalam rumah dan tugasnya memang sekadar mengurus kebun dan menjaga di pos satpam. Aku takut jika terjadi sesuatu karena akhir-akhir ini kejahatan sedang marak. Bagaimana jika Pak Sugi sedang sibuk dan ada orang yang menyelinap masuk,” Lestari memasang wajah khawatir yang membuat Wisnu kembali cemas. Rencana itu tak boleh dilanjutkan. Dirinya akan kesulitan dan bisa-bisa tertangkap basah saat sedang bersama Tina. “Kamu itu kebanyakan nonton berita kriminal, Sayang,” Wisnu mengusap puncak kepala istrinya, “Semuanya baik-baik saja. Kita tinggal di komplek perumahan elit dan penjagaannya saja sangat ketat. Bisa dikatakan, kita aman dan nggak perlu perlindungan ekstra. Di gerbang perumahan dan berbagai sudut jalan juga sudah dipasangi cctv, Sayang. Jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak,” Lanjut Wisnu seraya tersenyum manis dan berharap pemikiran aneh itu bisa menghilang dari benak istrinya. Ia tak ingin hubungan rahasianya bersama Tina terungkap. “Tapi aku baru sadar kalau aku kehilangan gelang tanganku, Mas. Inilah yang membuatku merasa jika ada orang yang menyelinap masuk ke dalam rumah. Mungkin saja, semua orang yang ada di rumah sedang sibuk dan nggak menyadari hal ini,” Lestari memasang wajah sedih. “Kenapa kamu baru bilang kalau ada barang yang hilang?” Pria itu menatap istrinya sekilas dan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tak tau jika ada penjahat yang bisa menyelinap masuk ke rumah. Pantas saja, Lestari berpikir untuk memasang cctv itu. “Aku baru sadar, Mas,” Lestari tersenyum lirih, “Tapi gelang yang hilang itu semula aku temukan di tas kerjamu. Aku pikir, itu adalah hadiah untukku, jadi aku diam-diam saja. Namun anehnya, benda itu tak kunjung kuterima,” Lestari memberikan senyum terbaiknya untuk Wisnu, sedang suaminya itu mendadak keringat dingin karena ungkapan Lestari barusan, “Sama seperti anting yang kutemukan pasangannya di kamar Tina. Aku sebenarnya yakin jika anting itu untukku, tapi anehnya kutemukan hanya sebelah saja. Tadinya aku mau diam saja seperti saat aku menemukan gelang yang kamu sembunyikan, tapi ternyata takdir yang mengungkapkan kebenaran tentang hadiah itu dan mengacaukan kejutanmu untukku. Aku juga takut kalau anting itu akan hilang juga seperti gelang yang akan menjadi kejutanmu, jadi aku menanyakannya langsung padamu,” Lanjut Lestari dengan senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya. Matanya tak bisa dibaca oleh Wisnu. Tatapan Lestari penuh arti dan membuat Wisnu semakin ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD