Aku Tak Sebodoh Itu

1633 Words
Terkadang orang yang diam, bukan berarti dirinya tak mengetahui apa pun ataulah seorang bodoh yang bisa dipermainkan begitu saja. Diamnya seseorang itu tak selamanya karena mereka terbuai dalam permainanmu. Ada yang diam-diam mengamati, membuat jebakan, kemudian membuatmu tak lagi bisa lari dan tak sadar jika sekarang dirinya lah yang memimpin permainan. Tina menggeliatkan tubuhnya dan terperanjat begitu menemukan Lestari yang sudah ada di dalam kamarnya. Dengan terburu-buru perempuan itu bangkit berdiri. “Nyonya, ada apa ke sini? ada perlu?” Lestari membalikkan tubuhnya saat mendengarkan pertanyaan yang dilayangkan oleh Tina barusan. Lestari memperhatikan Tina dengan saksama, sedang Tina yang baru terbangun dari tidur berusaha keras untuk mendapatkan fokusnya. Semua ini salah Wisnu yang tengah malam masuk ke dalam kamarnya, membuatnya lembur dengan satu kali ronde, dan terbangun siang. Padahal, sudah setengah harian mereka memadu kasih, tapi pria itu seolah tak pernah puas menjelajahi tubuhnya. Meski memang Tina pun merasakan hal yang sama. Siapa yang merasa tak tersanjung dan ketagihan jika dirinya yang bukan siapa-siapa malah lebih dipilih untuk dinikmati, daripada seorang istri yang jelas-jelas sah bagi pria itu dan bisa disentuh kapanpun pria itu mau? Tina merasa besar kepala ketika Wisnu mengatakan jika hanya Tina yang bisa membuatnya b*******h. Tak heran jika Tina malah semakin senang untuk disetubuhi kapanpun itu. Mendapatkan pria kaya dan tampan seperti majikannya membuat Tina tak ingin melepaskan Wisnu. Ia rela memberikan semuanya agar pria itu bisa menetap di sisinya. “Maaf, Nya. Aku kesiangan. Tadi malam nggak bisa tidur karena sedang banyak pikiran, jadi …” Belum sempat Tina melanjutkan perkataannya, Lestari mengangkat tangannya dan menunjukkan anting yang ditemukannya tadi pada Tina. Perempuan muda itu memperhatikan anting yang ada di tangan Lestari dan mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Ia mendadak panas dingin. Tubuhnya bergetar ketakutan. Bodoh. Berulang kali Tina merutuki dirinya sendiri. “Itu, Nya. Aku bisa jelaskan,” Tina mencoba memutar otak untuk mencari alasan yang bisa diterima oleh majikan perempuannya itu, akan tetapi dirinya yang merasa tertangkap basah malah bergetar ketakutan. Tina mengigit bibir bawahnya dengan kuat dan berusaha untuk menghentikan getaran pada bibirnya itu. Ia harus tenang dan bersikap biasa saja. Tina terdiam, meski otaknya sibuk bekerja. Dirinya tak tahu apa yang sudah Wisnu ceritakan pada istrinya atau bagaimana perempuan itu mengetahui tentang anting itu. Begitu banyak tanya yang membuatnya semakin panik. Apa lagi kini Lestari menatapnya lekat, seolah mampu membuka satu per satu rahasia yang disembunyikannya dalam-dalam. Lestari semakin menatapnya tajam ketika Tina kesulitan untuk mengendalikan dirinya. Perempuan itu terlihat sedang mencurigai dirinya, sedang Tina takut menjawab. Jika salah menjawab, maka dirinya bisa hancur dan diusir dari rumah itu. Ia bisa kehilangan semua hasil kerja kerasnya. Seperti menjapatkan undian berhadiah. Tina merasa begitu beruntung ketika mendengar suara Wisnu yang memanggil Lestari. Perempuan itu bisa tersenyum lebar ketika Lestari mengarahkan pandangan ke sumber suara, juga langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Tina merasa lega dan berulang kali mengucapkan kata selamat di dalam hatinya. Selama ini, memang kekasih gelapnya itu yang paling tahu bagaimana cara menutupi aib mereka. Sebenarnya, Tina bukanlah seorang yang pintar berbohong. Dulunya, dirinya hanyalah gadis polos yang tak mempunyai banyak mimpi. Namun semua berubah ketika dirinya pindah ke kota dan melihat kehidupan majikannya, juga keharmonisan sepasang suami istri itu. “Sayang, kamu di sini,” Wisnu tersenyum dan segera membawa istrinya ke dalam dekapannya, semantara ia memberikan kedipan genit pada Tina yang berkata ‘gawat’ tanpa suara, membuat senyum yang semula menghiasi wajah Wisnu mendadak menghilang begitu saja. Wisnu pun segera melepaskan pelukan mereka setelah berusaha bersikap tenang. Ia tak tahu hal gawat apa yang harus dihadapinya pagi ini. Tak ada tanda-tanda kursial tadi malam. Semuanya berjalan dengan baik. Ia menyenangkan istrinya, kemudian mencari kehangatan pada pembantunya yang manis dan bertubuh polos itu, “Apa yang kamu lakukan di kamar Tina pagi-pagi seperti ini, Sayang? Aku mencari-carimu dan Mbok Darsi bilang kamu ada di sini.” Lestari menatap suaminya dengan tatapan meneliti, membuat pria itu menelan ludah dengan susah payah meski senyum menghiasi wajah tampannya. Pria itu meneliti wajah Lestari dan mencoba mencari tahu permasalahan apa yang harus diselesaikannya pagi ini. Wisnu sudah memastikan jika istrinya itu sudah tertidur pulas begitu ia pergi ke kamar Tina, jadi tak mungkin jika perempuan itu terbangun dan memergokinya. Jika memang seperti itu ceritanya, bukankah harusnya Lestari membangunkannya dengan berteriak dan juga memarahinya habis-habisan. Ah tidak. Lestari tak mungkin menunggu sampai pagi. Jika memang kepergiannya secara diam-diam itu diketahui oleh Lestari, maka perempuan itu langsung mengrebek mereka. Memarahi keduanya dan mungkin memukuli mereka. Ya, Lestari pasti tak mengetahui kejadian kemarin malam. Lalu permasalahan apa? Keheningan di antara mereka membuat Wisnu semakin tegang dan tak mampu berhenti memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi saat ini. “Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Wisnu bertanya dengan nada bingung, sebisa mungkin membuat wajahnya setenang mungkin. Dirinya tak boleh menunjukkan wajah bersalah ataupun takutnya karena Lestari adalah wanita yang pintar. Apa lagi, wanita itu mulai menujukkan kecurigaannya. Wisnu tak boleh gentar sebelum ada bukti yang ditunjukkan. Lestari mengangkat tangannya ke udara dan menunjukkan benda yang ditemukannya pada Wisnu. Pria itu tercengang sesaat, kemudian dengan cepat mengubah raut wajahnya meski memang dirinya bertanya-tanya, bagaimana Lestari mendapatkan anting yang diberikannya untuk Tina. Apa lagi, tatapan istrinya itu begitu tajam seolah mengetahui sesuatu yang dirahasiakannya. Wisnu segera mengambil anting tersebut dari tangan Lestari dan menatapnya dengan saksama ketika Lestari tak mengatakan apa pun, membuat Wisnu harus bisa segera mengarang cerita penuh kebohongan yang kerap disajikannya untuk Lestari. Bersandiwara. “Dari mana kamu menemukan anting ini, Sayang?” Lestari menaikkan sebelah alisnya saat mendengarkan pertanyaan suaminya itu. Ia masih diam dan menanti kelanjutan cerita dari suaminya, “Tadinya, aku mau memberikan ini sebagai hadiah untukmu, tapi kamu sudah menemukannya lebih dulu,” Pria itu menunjukkan wajah kecewa yang membuat wajah Lestari melembut. Wanita itu tersenyum dan ber-oh-ria, meski memang masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal. Mengapa bisa sebelah anting tersebut ada di dalam kamar Tina? “Maaf, Tuan. Aku menemukan sebelah anting itu saat membantu Mbok Darsi mencuci pakaian kemarin. Aku lupa memberitahunya pada Tuan. Aku meletakkannya di kamar dan berniat mau memberikannya hari ini,” Tina berkata dengan nada penuh rasa bersalah. Wanita itu bisa dengan cepat melanjutkan cerita yang Wisnu sajikan, “Maaf, Nyonya. Aku nggak bermaksud mencuri dan setiap menemukan barang pasti akan dikembalikan, tapi karena kemarin aku keseleo dan sudah sudah bergerak, jadi Aku melupaka hal penting ini,” Lanjut Tina. Wajah perempuan itu tampak sedih, sedang Lestari membalikkan tubuhnya dan tersenyum tidak enak ketika melihat wajah perempuan muda itu. Ia sudah salah paham pada Tina. Lestari segera berjalan mendekat dan menggenggam tangan Tina. Ia tersenyum pada Tina. “Maaf, aku nggak bermaksud menuduhmu mencuri. Aku hanya bingung kenapa pasangan dari anting yang kutemukan di jas suamiku ada padamu,” Lestari berkata dengan nada bersalah, “Maaf karena sudah merasa salah paham. Suamiku juga nggak mengatakan apa pun.” “Nggak pa-pa, Nya. Itu adalah hal yang wajar. Aku yang seharusnya minta maaf.” Lestari mengusap lengan Tina dan menggeleng. “Nggak perlu minta maaf,” Perempuan itu berkata dengan lembut, “Oh ya, aku sudah minta Mbok Darsi untuk memanggil tukang urut. Seharian ini kamu istirahat saja dan jangan menolak diurut agar nggak bengkak dan tambah parah. Perempuan kalau habis jatuh memang sebaiknya diurut,” Lanjut Lestari dengan senyum lembut yang menghiasi wajah cantiknya. Kebaikan perempuan itu dibalas dengan kata baik dan terima kasih dari Tina. Lestari pun kembali mengarahkan pandangannya pada suaminya. Ia mengeluarkan pasangan dari anting yang ditemukannya di jas suaminya dan mengulurkannya pada Wisnu. “Jika memang ini adalah hadiah untukku. Harusnya kamu mengenakannya padaku,” Senyum Lestari terlihat begitu indah, sedang Wisnu mengangguk dan tersenyum kikuk. Dirinya tak bisa melakukan apa pun. Pada akhirnya, ia harus meminta kekasih gelapnya untuk bersabar dan menerima jika hadiah untuknya harus diberikan pada istrinya. “Tentu saja itu untukmu. Untuk siapa lagi aku membeli hadiah,” Wisnu berkata dengan girang, “Mendekatlah dan akan kubantu kenakan. Anting ini pasti sangat cantik untukmu, Sayang. Aku sudah membayangkannya saat membelikan perhiasan ini untukmu,” Pria itu mengambil pasangan anting yang ditemukan Lestari itu. Kemudian Wisnu mengenakan anting tersebut pada telinga istrinya. Pria itu melirik ke arah Tina yang tampak sangat kecewa dan mengerucutkan bibirnya, sedang Wisnu hanya bisa berkata maaf tanpa suara. Pria itu sudah bersikap was-was dan meminta Tina untuk tak mengenakan anting tersebut di rumah. Walau bagaimanapun, itu adalah anting berlian dan Lestari pasti curiga saat melihat Tina mengenakannya. Namun siapa sangka, sekarang malah takdir yang seolah ingin membuatnya mengembalikan hadiah yang seharusnya ia berikan pada istrinya, bukan kekasih gelapnya. “Terima kasih, Mas,” Lestari tersenyum senang dan memeluk suaminya begitu Wisnu sudah selesai memasangkan anting tersebut ke telinganya, “Aku senang sekali. Sudah lama sekali kamu nggak pernah memberikanku hadiah. Aku sangaat bahagia, Mas,” Senyum Lestari menghilang ketika ia memeluk pria itu dan Wisnu tak bisa melihat raut wajahnya sekarang. Lestari menggertakkan giginya. Amarah menguasai setiap relung hatinya, tapi Lestari mencoba tenang dan mengikuti permainan pria itu. Ia ingin melihat, seberapa banyak lagi kebohongan yang suaminya itu sembunyikan darinya. Firasat Lestari tak mungkin salah. Ada yang terjadi. Lestari tak bodoh. Dirinya tahu ada yang salah dan Lestari akan mencari tahu apa yang disembunyikan pria itu. Wisnu harusnya tahu benar jika Lestari tak bisa mengenakan anting-anting model tusuk seperti ini karena telinganya sensitive dan entah mengapa setiap mengenakan anting berbentuk seperti ini, telinganya akan terluka. Pada awal perkenalan mereka, Lestari sudah memberitahukan Wisnu dan setiap ingin membeli perhiasan, Wisnu yang akan mengingatkan Lestari untuk tak mengambil anting seperti itu. Tak mungkin mendadak Wisnu menjadi pelupa, bukan? Lestari tahu, anting itu bukan untuknya. Hadiah itu untuk wanita lain. Yang tak Lestari ketahui adalah siapa wanita itu? Tak mungkin Tina, bukan? Lestari akan mencari tahu dan tak ‘kan membiarkan pria itu membodohinya. Wisnu harus diingatkan siapa yang seharusnya pria itu cintai dan juga jaga dengan sepenuh hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD