"Apa-apaan sih, ini? Ribut sampai terdengar ke kamar ibu?" tanya Asri yang kemudian disusul dengan kedatangan Nia dan Desy.
"Bagaimana tidak ribut? Mbak Yasmin tidak mau mencucikan pakaianku, bu," ucap Desy. "Bahkan dia juga nggak mau memasakkan Mas Darius makanan untuk sarapan. Makanya Mas Darius sampai membeli makanan delivery."
Mata Asri langsung melebar mendengar itu. Dia melangkah lebih dekat pada Yasmin dan mengacungkan jari telunjuknya sampai hampir mengenai ujung hidung. "Kamu itu sudah mandul semakin tidak tau diri saja! Berkaca! Kamu pikir siapa kamu ingin bermalas-malasan!"
Yasmin menatap Asri lekat. "Siapa yang malas-malasan, bu? Dari subuh aku belum berhenti mengerjakan pekerjaan rumah. Apakah aku pernah absen satu hari saja melakukan semua pekerjaanku? Tidak kan? Bahkan dalam keadaan sakit dan demam, aku tetap melakukan pekerjaan rumah. Kalau soal Desy yang aku minta cuci baju sendiri, apa salahnya? Toh, baju dia sendiri bukan baju orang. Dan soal aku yang tidak mau memasakkan sarapan buat Nia dan Mas Darius, itu karena salah mereka sendiri bangun kesiangan. Karena kenyataannya aku tidak pernah lalai dalam membuat sarapan. Lagian kan sekarang sudah ada Nia. Dia istri Mas Darius juga kan? Tak masalah kalau dia yang masak. Aku menantu di rumah ini. Begitu pun dengan Nia. Tapi kenapa aku mendapatkan perlakuan yang berbeda? Kenapa aku seperti dijadikan pembantu dan Nia dijadikan ratu? Inilah yang dijanjikan Mas Darius akan bersikap adil?"
Hening. Semua diam seribu bahasa. Tapi wajah mereka tidak menampakan penyesalan sedikit pun. Justru sebaliknya. Mata mereka tampak membara dengan api kemarahan. Mereka tidak terima dengan semua yang diucapkan Yasmin.
Hingga tiba-tiba, kesunyian itu pecah oleh suara tamparan yang kuat. Membuat semua orang tersentak kaget. Tak terkecuali Yasmin yang terkena tampar oleh Asri.
Yasmin menatap Asri kian tajam. "Kenapa ibu menamparku? Padahal aku tidak punya salah? Padahal selama ini aku melayani kalian semua dengan sepenuh hati! Baru kali ini saja aku tidak mau mencuci pakaian Desy, ibu menampar aku seolah aku sudah melakukan kesalahan berat?!"
Tapi anehnya, semua yang ada di sana, tetap terdiam tanpa kata.
"Baik. Kini aku mengerti fungsiku berada di sini. Hanya seorang pembantu. Tidak lebih. Kalian semua tidak pernah menganggapku keluarga. Itu kenyataannya."
Yasmin melangkah meninggalkan tempat mencuci baju. Membereskan pakaiannya di kamar. Dan kemudian pergi. Meskipun dia tidak tahu akan kemana, yang penting adalah meninggalkan rumah yang selama ini menyakiti hatinya.
Tapi baru langkahnya sampai di pintu pagar, seseorang menarik tangannya. "Yasmin! Jangan pergi!"
Yasmin menoleh dan mendapati suaminya, Darius.
"Jangan pergi. Aku mohon," ucap Darius lagi. "Maaf ibu tadi terbawa emosi. Atas nama ibu, aku minta maaf. Tapi tolong jangan pergi. Oke."
Yasmin menarik tangannya dan cengkraman Darius. "Kenapa aku tidak boleh pergi, mas? Kenapa? Takut kehilangan pembantu gratisan?"
"Bukan begitu, kamu kan istri aku. Makanya aku larang."
"Istri Mas bilang? Istri apa pembantu? Kalau mas menganggapku istri, tidak seharusnya Mas bersikap tidak adil seperti ini! Kalau aku membereskan rumah, harusnya Nia juga membereskan rumah!"
"Kamu dan Nia itu beda fungsi. Aku menikahi Nia untuk menghasilkan anak. Kalau dia juga membersihkan rumah seperti kamu, takutnya kecapekan dan akhirnya aku gagal lagi punya anak. Kalau Nia sudah melahirkan anak, kan kamu juga yang senang dipanggil ibu."
Yasmin menggeleng. "Tidak Mas. Aku tidak butuh dipanggil ibu sama anak Nia. Yang aku inginkan sekarang adalah aku bebas. Aku capek tinggal di rumah ini. Mas dan ibu cari pembantu saja."
Yasmin hendak melangkah ketika Darius kembali menarik tangannya. "Ayolah, Yas. Jangan keras kepala begitu. Atau begini saja, aku beri kamu libur selama seminggu. Dalam seminggu itu kamu bebas tugas pekerjaan rumah dan bisa berbelanja sepuas kamu. Anggaplah bayaran untuk keringatmu selama ini mengurus rumah dan kami."
Kening Yasmin mengerut. "Maksud Mas apa?"
Darius mengeluarkan kartu dari dompetnya. "Ini pegang olehmu dan bersenang-senanglah."
Yasmin menatap kartu yang berwarna golf. Sedikit pun dia tidak tertarik dengan kartu itu berapa pun isinya. Tapi entah dapat ilham darimana, Yasmin menerima kartu itu. "Oke. Kartu ini aku pegang. Tapi aku punya permintaan satu lagi sama mas. Selama seminggu itu pinjamkan aku mobil dan sopir yang akan menemaniku berbelanja. Bagaimana?"
Darius mengangguk tanpa memikirkannya lagi. "Ya, boleh. Tak masalah. Pakailah mobil dan bawakah Paul bersamamu."
Yasmin tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan jadi meninggalkan rumah ini. Sekarang aku mau bersiap-siap untuk belanja." Yasmin menoleh pada Paul yang baru muncul dari halaman samping. "Paul! Temani aku shopping!"
Paul langsung mengangguk dengan senyum yang lebar. "Ba-baik nona."
Maka 15 menit kemudian, dengan mengenakan outfit terbaiknya, Yasmin berangkat shopping dengan ditemani oleh Paul.
"Apa-apaan kamu, Dar? Kamu meminjamkan kartu kamu?" Nia tampak syok mendengar itu. Begitu pun dengan Asri dan Desy.
"Iya. Sepertinya kamu sudah gila memberikan Yasmin kartu itu." Asri ikut berkomentar.
"Sekali-kali tidak apa-apa lah bu, Nia. Selama ini dia juga belum pernah dimanjakan oleh aku. Daripada dia pergi dari rumah?"
"Tapi bukankah lebih baik dia pergi?" Nia tampak tak terima. Jelas saja. Dia pun mau dipegangi kartu itu. Ada beberapa barang impian dan perhiasan yang ingin dibelinya. "Toh, dia juga tidak bisa memberimu anak kan?"
"Tidak bisa begitu dong, Nia. Walaupun dia tidak bisa memberiku anak, dia adalah istriku. Aku masih membutuhkan dia. Setidaknya ada yang mengurus pakaianku. Dia kan tidak bilang tidak mau mengurus bajuku. Yang dia tidak mau adalah mengurus baju kamu dan Desy. Kalau soal nyuci baju, itu kan tidak berat. Kamu dan Desy bisa mengerjakannya sendiri."
Nia menghentakan kaki. Sungguh dia tidak mau mengerjakan hal sekecil apa pun di rumah ini. Dia ingin menjadi nyonya besar di rumah ini tanpa siapa pun bisa menghalangi.
Sementara itu di mobil, Yasmin menatap kartu yang dipinjamkan Darius padanya. Dia bingung mau belanja apa karena selama ini dia hidup dalam kesederhanaan. Menerima apa pun yang diberikan Darius tanpa protes.
Paul yang melihat Yasmin tampak berpikir keras, tersenyum. "Apa sih yang sedang nona pikirkan?"
Yasmin melirik Paul yang tampak belakang. "Kira-kira aku harus membeli apa dengan kartu ini, Paul?"
"Beli yang nona inginkan. Kira-kira nona mau apa?"
"Aku tak tau aku mau apa. Tapi yang pasti, aku ingin shopping. Ya... barangkali bisa melupakan perlakuan tidak baik orang-orang di rumah."
"Itu ide yang bagus. Aku bisa membantu nona."
Alis Yasmin terangkat ke atas. "Maksudnya?"
"Aku akan memberitahu nona di mana bisa membeli barang branded. Mulai dari pakaian, tas, sepatu, dan lainnya. Dan aku sarankan nona untuk membeli perhiasan juga."
"Memangnya kamu tau?" Yasmin tak begitu percaya akan ucapan Paul karena pria itu hanyalah seorang sopir yang menurutnya tak pernah bersentuhan dengan barang-batang branded.
"Tentu saja aku tau. Kalau nona percayalah padaku, hari ini nona akan pulang dengan tampilan yang berbeda."
Karena dia sendiri memang buta dengan fashion, akhirnya Yasmin mengangguk. "Baiklah. Aku percayakan ini padamu."
Tak berapa lama, mereka pun tiba di sebuah butik.
"Hanya wanita-wanita kaya yang berbelanja di butik ini. Karena nona adalah istri pria yang ya... cukup kaya, nona harus memiliki koleksi baju-bajunya."
"Bajunya mahal-mahal ya?" Ada rasa sungkan bagi Yasmin untuk masuk.
"Kalau untuk orang miskin sih iya. Tapi kalau untuk nona, harusnya sih standar. Ayo kita turun dan masuk nona."
Yasmin mengangguk mengiyakan. Membuat Paul tersenyum penuh arti. Dia akan membuat Yasmin berbeda hari ini sehingga wanita-wanita di rumah Darius menjadi iri.
Bersambung.