"Kamu tuh budeg apa bagaimana sih? Aku panggil-panggil tapi tidak mendengar. Atau kamu pura-pura tidak dengar?"
Yasmin menoleh pada orang yang mengoceh di belakang punggungnya. Matanya kemudian berkedip seolah bingung dengan kedatangan Nia yang mengoceh. Aktingnya kali ini memang luar biasa. "Ya? Kenapa?"
Pertanyaan berlagak bodoh itu membuat Nia menggeram karena kesal. "Tidak mungkin kamu tidak mendengar aku berteriak memanggil-manggil nama kamu!"
"Oh, kamu memanggilku?" Yasmin meneruskan aktingnya. "Memangnya ada keperluan apa sampai memanggil-manggil aku?"
"Itu...." Nia menunjuk ke dalam rumah. "Aku dan Darius mau sarapan. Tapi kami tidak menemukan makanan sedikit pun di balik tudung saji. Makanya aku bertanya kamu kemanakan makanan untuk sarapan?"
Tak langsung menjawab pertanyaan Nia, Yasmin menengadahkan wajahnya menatap langit. "Matahari sudah nyaris di atas kepala, kamu mencari sarapan? Apa aku tidak salah dengar? Ya sudah habis dong makanannya."
Mata Nia membelalak mendengar itu. "Apa? Habis?"
"Iya."
"Terus aku dan Darius bagaimana?"
"Ya masak. Bahan-bahan makanan lengkap di lemari es. Tinggal pilih mau masak apa. Daging sapi, ayam, ikan, sayuran. Pokoknya lengkap."
Nia mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya sendiri. "Aku masak?"
"Iya. Siapa lagi? Kan kamu yang mau makan?"
"Aku dan Darius yang mau makan. Bukan aku saja."
"Mas Darius kan suami kamu? Kalau masak punya kamu ya sekalian saja masak untuk Mas Darius. Jadi masalahnya di mana?"
Kesepuluh jemari Nia mengepal. Dia kesal sekali menanggapi semua perkataan Yasmin. Dengan kaki yang dihentak-hentak, Nia pun berbalik masuk ke dalam rumah kembali. Dia mengadu pada Darius.
"Dar, istri kamu itu kurang ajar sekali sih? Dia menyuruh aku masak lho."
Kening Darius mengerut. "Masak sih?"
"Iya. Coba deh kamu yang bicara sana dia. Barangkali kalau kamu yang bicara, dia tidak seenaknya kepadaku."
"Oke. Aku coba bicara sama dia. Dia ada dimana?"
"Di halaman lagi siram bunga."
Darius beranjak dari duduknya menemui Yasmin di tempat yang ditunjukkan oleh Nia.
"Yas, kamu kok begitu sih?"
Yasmin menoleh. "Begitu apa, mas?" Dia pura-pura tidak tau.
"Kamu menyuruh Nia masak kan?"
"Iya. Tapi kan untuk makan dia bukan untuk orang lain. Terus masalahnya dimana?"
"Masalahnya mungkin tidak bisa masak."
"Kalau begitu masak telur atau mie saja yang mudah. Tidak perlu bisa masak dulu kalau masak yang dua jenis itu."
"Hhhft!" Darius menghela nafas berat. "Kenapa tidak kamu saja yang masak?"
"Memasakkan dia? Mas pikir aku ini pembantu dia apa?"
"Bukan begitu...."
"Mas janji sebelum nikah mau adil. Tapi nyatanya semua pekerjaan aku yang lakukan. Dari mulai masak, nyapu rumah, ngepel, nyapu halaman, dan semuanya. Lalu mas mau menjadikan aku sebagai pelayannya dia juga? Itu yang mas bilang adil? Sebenarnya mas menikahi aku itu untuk dijadikan pembantu atau istri sih?"
Darius tertegun. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Yasmin yang berdiri di hadapannya ini seperti bukan Yasmin yang dia kenal. Berubah total.
"Ya sudah. Kami akan pesan makanan saja." Darius berbalik dan masuk ke dalam rumah lagi.
"Bagaimana, Dar? Dia mau masak buat kita?"
Darius menggeleng. "Tidak. Dia tidak mau."
"Lha, kok? Jadi?"
"Kita pesan makanan saja." Darius mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan memesan makanan.
"Istri tuamu itu ternyata kurang ajar sekali ya, Dar. Apa yang membuatmu mau mempertahankan dia? Sudah tidak bisa memberikan anak, pembangkang pula.
Darius tak merespon. Dia tetap fokus memesan makanan. Tapi meskipun tidak ditanggapi, Nia terus berbicara menjelekkan Yasmin.
"Kamu tau, kalau aku jadi kamu, aku sudah menceraikan dia."
Sementara itu, selesai menyiram halaman, Yasmin ke tempat pencucian baju. Dia memasukkan pakaiannya yang ada di sebuah kerangka ke dalam mesin cuci. Baru memasukkan diterjen cair khusus mesin cuci, Desy datang dengan keranjang pakaian kotor yang penuh.
"Mbak, yang punyaku cuci sekarang ya. Soalnya ada baju aku di keranjang ini yang mau aku pakai kuliah besok." Setelah menaruh keranjang pakaian kotornya, Desy hendak pergi. Tapi suara Yasmin menghentikannya.
"Mulai sekarang, kamu sendirilah yang mencuci bajumu. Aku hanya mencuci pakaianku, Mas Darius, dan ibu. Yang lainnya bukan tanggung jawabku.
Desy terhenyak mendengar itu. "Apa? Aku harus mencuci baju sendiri?"
"Iya," jawab Yasmin dengan mudahnya. "Sekalian menyetrika baju sendiri juga."
Mata Desy membelalak. "Tadi disuruh cuci piring. Sekarang mencuci baju dan menyetrika."
"Ya tidak masalah. Tadi piring bekas kamu makan. Dan sekarang baju kamu sendiri bukan baju orang lain."
Desy geleng-geleng kepala. Jelas dia tidak terima diperlakukan seperti ini. "Awas ya! Aku adukan kamu sama Mas Darius."
Yasmin menggendikkan bahu. "Oh, silahkan."
Desy pun meninggalkan tempat cuci itu untuk menemui Darius yang baru saja makan makanan yang dipesannya.
"Mas, Mbak Yasmin tuh."
Darius menoleh. "Memangnya kenapa lagi dengan Yasmin?"
"Dia bilang kalau dia tidak mau lagi mencucikan dan menyetrikakan baju aku. Katanya dia hanya mau mencuci dan menyetrika baju dia, baju mas, dan baju ibu. Jadi baju aku dan Mbak Nia harus mengurus sendiri."
Nia menyeringai. "Benar-benar ya istri kamu itu. Tidak mau semua. Kalau semua dilakukan masing-masing, buat apa punya menantu?"
Darius yang sudah kesal dari pagi, jadi panas hati mendengar aduan Desy. Maka, dia pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan untuk menemui Yasmin di tempat pencucian baju.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Yas? Secara mendadak kamu tidak mau mengerjakan banyak hal."
Pandangan Yasmin menyipit. "Aku tidak mau mengerjakan banyak hal? Terus dari subuh aku melakukan apa? Tidur? Dari subuh sampai sekarang, aku itu bekerja, mas. Bahkan belum selesai. Dan sebentar lagi aku sudah harus masak untuk makan siang. Apa itu yang mas sebut dengan tidak melakukan apa-apa?"
"Ya oke aku mengakui kalau kamu memiliki banyak pekerjaan. Tapi bukan berarti kamu tidak mau mencuci baju dan menyetrika pakaian Desy. Aku memberimu uang setiap bulan adalah untuk melayani keluargaku."
Buk!
Yasmin membuang baju yang ada di tangannya ke lantai. "Duit yang mas kasih setiap bulan itu untuk memenuhi kebutuhan dapur sebagian besarnya, mas. Bukan untuk aku."
"Tapi masih ada sisa kan?"
"Beberapa ratus ribu saja?"
"Ya. Beberapa ratus ribu juga uang."
"Kalau mas memang menganggapku sebagai pembantu di rumah ini, harusnya mas memberi aku uang sesuai besaran gaji ART pada umumnya. Baru aku mau mengerjakan semuanya."
"Kalau kamu mau dibayar seperti ART, berarti kamu bukan istri tapi ART. Terus pengabdian kamu sebagai istri apa?"
Bahu Yasmin turun ke bawah. Lemas mendengar ucapan Darius barusan. "Mas bertanya soal pengabdianku sebagai seorang istri? Lalu apa arti pengorbananku selama ini di mata Mas? Dari subuh sampai malam, pekerjaanku hampir tidak ada berhentinya. Lalu dalam badan yang sangat capek, harus melayani nafsu mas juga. Kulakukan itu setiap hari. Masih kurang, mas juga menduakan aku. Masih mas sebut pengabdian seorang istri di depanku?"
Darius terdiam. Bukan karena menyesali kalimat yang sudah diucapkannya menyakiti perasaan Yasmin. Tapi dia terdiam karena masih belum menerima perubahan sikap Yasmin. Dia tidak merasa salah sedikit pun karena sudah merasa menjadi suami yang baik. Dia memenuhi kebutuhan Yasmin dan setiap bulan memegangi Yasmin uang. Menurutnya, Yasmin kurang bersyukur.
Bersambung.